
Jam dua siang tepat, Melati dan Ranita sampai di rumah keluarga Gilang Adinata. Hari itu panas sekali. Haus dan lapar seperti bergantian berteriak dari dalam perut dua gadis cantik itu.
"Ayo langsung ke ruang makan saja, aku sudah kelaparan," ajak Melati.
Begitu masuk rumah, dia melihat Jati sedang bermain robot dengan...
"Ayah?" Melati kaget. Ayah pulang!
Ya, ayah tersenyum senang melihat putri sulungnya itu. Melati langsung berlari memeluk ayahnya. Air mata sudah tak bisa ditahannya. Tapi dia berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jadi banjir.
"Heii, putri cantik ayah, bagaimana ujian?" tanya ayah. Senyum cerah masih menghias bibir ayah.
"Bersyukur, Yah. Semua lancar. Ada sih yang agak susah tapi secara umum lancar, kok," kata Melati sambil duduk di sisi ayah.
"Selamat siang, Om Gilang." Ranita menyapa. Gadis itu masih berdiri saja belum masuk dalam rumah.
"Ya ampunn... Aku sampai lupa tadi pulang sama kamu..." Melati merasa konyol. Terlalu senang ayah pulang sampai lupa Ranita bengong menunggu di depan pintu.
"Siang, Rani. Ayo masuk. Kalian pasti lapar. Ayah tadi beli makanan kesukaanmu. Ayam bakar," kata ayah.
"My father is the best. Thank you." Melati memeluk ayah lagi.
"Makan yang banyak, Kak, tadi aku sampai nambah lo..." kata Jati. "Kak... Lihat, robotku keren, kan? Dari ayah." Jati menunjukkan mainan barunya.
__ADS_1
"Iya, bagus. Kakak makan dulu ya, sudah lapar banget," ujar Melati. Lalu dia mengajak Ranita ke ruang makan. Dengan lahap keduanya menikmati makanan yang memang lezat itu. Apalagi dengan kondisi perut yang meronta-ronta. Wah, mantap benar rasanya.
Setelah makan, mereka ke kamar ibu. Ibu duduk di tempat tidur bersandar pada kepala ranjang. Melihat Melati dan Ranita ibu tersenyum.
"Ibu pasti cepat sembuh, karena ayah pulang," kata Melati.
"Iya dong. Obat spesial Ibu datang." Ibu membalas gurauan Melati. Melati dan Ranita terkekeh.
"Rani, apa kabar? Lama tidak ke sini," sapa ibu pada Ranita.
"Yaaa, Tante Sekar... Mestinya aku yang tanya kabar. Kok kebalik, ya?" Ranita menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Lha, Tante sudah sehat, kok. Hanya malas turun. Asyik juga dilayani anak-anak. Ternyata mereka bisa lo, urus semua sendiri. Tapi kalau tante turun nanti mereka akan cari alasan biar tante yang repot," kata ibu.
"Aduh, Tante Sekar lucu juga, ya..." Lagi-lagi Ranita ngakak. Melati juga ikut tertawa dengan gurauan ibu.
Melati duduk lagi dengan ayah di ruang depan.
"Kok ayah bisa pulang? Jadwalnya kan dua minggu lagi?" tanya Melati.
"Ayah minta ijin pulangnya maju. Ayah ingin bisa jaga ibu sama-sama kalian," kata Ayah. "Lumayan, Ayah ijin seminggu. Biar sampai ibu benar-benar sehat."
"Senangnya ayah bisa agak lama di rumah." Melati tersenyum lebar. Ayah mengusap kepala Melati dengan lembut. Anak sulungnya ini sudah masuk usia dewasa ternyata. Waktu berjalan sangat cepat. Anak yang lucu dan imut waktu kecil itu kini sudah hampir kuliah.
__ADS_1
"Ayah jadi pergi beli HP sama Damar?" tanya Melati.
"Besok kami akan pergi. Sudah janjian," jawab ayah. Sambil ayah membantu Jati memasang mainan robotnya.
"Ooo..." ujar Melati. Dia manggut-manggut.
"Kamu sudah mendaftar ke universitas pilihanmu, kan? Tinggal tunggu kabar. Jangan lupa berdoa," kata ayah.
"Iya, Yah. Mudah-mudahan lolos dengan nilai jadi bisa dapat beasiswa yang lumayan besar. Lalu untuk biayanya gimana, Yah?" Melati memandang ayahnya. Hitam manis, gagah, dengan rambut cepaknya, masih kelihatan seperti orang kuliahan. Padahal umur ayah sudah di atas 40 tahun.
"Jangan kuatir, pada waktunya pasti Tuhan kirim berkat. Dana yang Ayah punya memang tidak mencukupi semua. Tapi kita akan lihat jalan keajaiban selalu datang untuk orang yang berjuang tanpa menyerah." Dengan mantap ayah menjawab. Membuat hati Melati yakin apa yang dia perjuangkan tidak akan sia-sia.
"Selama ini kamu berjuang sangat keras. Sejak masih sekolah dasar Ayah tahu kamu selalu serius dengan studimu. Hasilnya selalu memuaskan. Tuhan akan memperhitungkan semua itu," lanjut ayah.
Melati mengangguk-angguk. Dia selalu senang mendengar pesan ayah dan ibu. Apa yang mereka ajarkan menolong dia kuat menghargai hidup yang semakin hari ga semakin mudah. Dia bangga punya ayah yang pekerja keras, penyayang, yang sering buat suprise bagi keluarganya, sekalipun hanya hal sederhana. Tapi buat Melati dan adik-adiknya itu tanda cinta ayah yang besar buat mereka.
*
*
Setiap kehidupan memiliki perjalanannya masing-masing.
Setiap anak manusia memiliki perjuangannya masing-masing.
__ADS_1
Berapa kadar sulit dan beratnya, Sang Pemberi Hidup tahu dengan tepat...
Dia akan menakar dan menimbang... hingga mengijinkan ujian yang menghampiri tak akan melebihi kekuatan si pelaku kehidupan...