
Operasi Tirta berjalan lancar. Dokter menangani semua dengan sangat baik. Dalam waktu beberapa hari Tirta sudah terlihat lebih cerah. Kondisinya jauh lebih baik.
Melati dan Evan setiap hari menengok ke rumah sakit. Gilang dan Sekar, Mateo, Diko, dan keluarga yang lain juga mengunjunginya, memberi semangat kepada Tirta.
Setelah satu minggu akhirnya Tirta diijinkan pulang. Erika sangat lega. Dia benar-benar menjaga suaminya itu. Dia tidak mau meninggalkan Tirta sama sekali. Dia cancel semua jadwalnya atau digantikan orang lain yang bisa mengurus.
Sambil menunggu saat wisuda, mulai full kerja di kantor, Elvan juga terus mengerjakan beberapa proyek untuk Rumah Garuda. Dengan Melati sudah ada beberapa planning yang direncanakannya. Yang terdekat adalah membuat pagelaran untuk perayaan kemerdekaan disusul Natal dan Tahun Baru. Mereka melobi beberapa tempat untuk bersedia dipakai acara-acara yang mereka telah rencanakan.
Hari itu Elvan menjemput Melati di rumah keluarga Adinata. Dia akan mengajak Melati menemui beberapa General Manager di beberapa mall yang mungkin bisa bekerja sama dengan mereka.
"Siap? Kita jalan." Elvan tersenyum. Dia menggandeng Melati dan mengajaknya masuk ke mobil.
Hubungan mereka sudah baik lagi. Setiap hari kirim chat, telpon atau vidcall. Senyum keduanya selalu ceria. Tidak ada lagi marah, kecewa, atau pikiran yang tidak semestinya.
Sepanjang hari itu mereka keluar masuk mall untuk menawarkan proposal pagelaran yang mereka akan buat. Ada yang langsung menolak, ada yang mau mempertimbangkan, ada yang setuju tetapi perlu berapat dengan jajaran pimpinan.
Elvan santai sekali menghadapi para pimpinan mall itu. Melati saja masih deg degan gimana bicara dengan mereka supaya bisa diterima baik. Tapi sepertinya Elvan tidak ada beban sama sekali. Melati bisa melihat diri Tirta papanya muncul dalam situasi ini pada Elvan. Berwibawa dan berkharisma. Dia makin bangga sama Elvan, calon suaminya itu.
"Mas hebat sekali. Masih sangat muda, tapi bisa menghadapi para pimpinan yang sudah lama jadi pebisnis. Apa kuliah kemarin diajarin, ya?" tanya Melati. Mereka sedang makan siang di Malang Town Square. Sudah telat sebenarnya jam makan. Sudah lebih jam 2 siang.
Elvan melirik Melati, lalu mengaduk makanannya. "Sering lihat Papa yang pertama, lalu Kak Azka. Dan sejak ikut kerja di kantor mau ga mau aku berhadapan banyak pimpinan perusahaan yang kerjasama dengan kantor. Jadi mulai biasa, Mel."
"Aku belajar banyak tadi. Nanti aku juga harus bisa jika diperlukan," kata Melati. Dia menuang kuah sup iga ke piringnya.
"Iyalah. Aku pingin kamu handle acara besar Rumah Garuda. Kamu sudah tau caranya, kan? Kamu pernah kerja kerja di Sunny TV, jadi ilmunya sudah ada," ucap Elvan.
"Hmmm, benar." Melati mengangguk.
Kira-kira lima belas menit berikutnya mereka sudah selesai makan.
"Mas, jalan dulu yuk, keliling mall?" ajak Melati.
"Hmm? Mau beli sesuatu?" tanya Elvan.
"Ga tau juga. Mau jalan aja," tandas Melati.
"Oke. Kita masih cukup waktu kok. Latihan sama anak-anak masih nanti sore, kan?" Elvan setuju.
Lalu keduanya mulai menyusuri toko-toko yang ada di mall. Melati hanya melihat-lihat saja. Elvan nguntit Melati sambil sesekali menggodanya atau menggandeng tangan Melati.
__ADS_1
"Eh, tunggu... itu bagus..." Melati mendekati toko yang menjual topi. Dia melihat satu topi warna hitam dan mengambilnya. Agak terkejut dia melihat huruf yang tertera di sana. E & M. Dia tersenyum.
Melati menoleh pada Elvan dan memakaikannya di kepala Elvan. Lalu tersenyum lebar sambil bertepuk tangan tanpa bunyi.
"So cute..." ucapnya dengan senyum lebar.
Elvan tersenyum. Ganteng sekali. Dia melepas topi itu lalu ganti memakaikannya pada kepala Melati. Dia masukkan dalam sampai mata Melati tertutup bagian depan topi, lalu dia tertawa.
"Ihh... godain terus..." Melati cemberut. "Aku beli topi ini, ya.. dua." Lalu dia tersenyum.
Elvan memperhatikan topi itu dan tersenyum. Lalu mengangguk.
Melati mengambil satu lagi dan membawanya ke kasir. Waktu Elvan mau membayar Melati menolak.
"Aku yang bayar. Ini hadiah buat kamu," kata Melati. Dan Melati membayar topi itu. Lalu dia pakai topinya dan Elvan pakai yang satu lagi.
Kebetulan atau tidak tapi keduanya jadi makin serasi. Melati mengenakan kaos hitam dengan celana putih dan sepatu kets putih. Sedang Elvan mengenakan kaos putih dengan celana hitam dan sepatu putih. Dengan topi hitam makin kece saja mereka.
Mereka lanjut lagi menyusuri toko yang lain.
"Kenapa beli hadiah segala? Aku lagi ga ultah. Wisuda juga belum," kata Elvan.
Elvan tersenyum. Dia raih tangan Melati dan menggenggamnya erat.
"Thank you, yaa..." bisiknya lembut.
Melati mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. Berdua mereka meninggalkan mall menuju tempat parkir.
"Asyik juga ternyata kencan tak sengaja," kata Elvan lagi.
Melati menoleh dan tersenyum. "Hee... hee... iya... tujuannya mau mengajukan proposal. Eh, kok malah jadi jalan-jalan."
"Memang menyenangkan sih, kerja bareng pacar langsung sekalian kencan," timpal Elvan. "Maaf, masih belum bisa ngajak piknik. Padahal aku sudah janji."
"Tidak apa-apa. Kita bisa sering sama-sama aku sudah senang. Aku akan kendalikan diri ga mau manja-manja lagi." Melati memandang Elvan. Kepalanya mendongak karena memastikan bisa melihat mata Elvan. "Kamu punya tanggung jawab besar untuk banyak hal, aku jadi malu gangguin karena urusan kecil."
"Hei..." Elvan menarik Melati ke dekatnya. "Coba bilang? Kalau kamu kangen aku dan aku nggak ngerti itu bukan hal kecil. Bisa jadi masalah besar. Jadi mesti kasih tau kalau aku keasyikan dengan macam-macam dan lupa beri waktu buat sayangku ini."
Lagi, Elvan dekat sekali di depan Melati. Hanya beberapa senti saja. Mata coklatnya, dengan alis tebal dan rapi, bibir tipisnya. Dia tatap wajah Melati yang sudah bersemu merah. Elvan tersenyum. Melati dapat merasakan nafas Elvan di dekatnya. Jantung Melati makin berdegup tak beraturan.
__ADS_1
"Jalan, yuk..." Elvan menggenggam tangan Melati dan mengajaknya jalan lagi. Mereka sudah di parkiran. Melati jadi gugup. Kenapa tiba-tiba menariknya tiba-tiba juga melepasnya? Padahal Melati pikir Elvan akan menciumnya.
"Aku harus bilang Papa cepat melamar secara resmi ke rumah orang tuamu," ujar Elvan.
"Kenapa?" tanya Melati.
"Mel, aku sudah dewasa sekarang. Takut ga bisa nahan diri. Lihat bibirmu... ah... sudah, ayo masuk mobil." Elvan melepas tangan Melati dan membuka pintu mobil.
Melati menelan ludahnya. Jadi? Elvan berpikiran sama dengannya. Melati tambah malu jadinya. Dia juga masuk mobil dan Elvan menjalankan kendaraannya meninggalkan area parkir mall.
Baru saja meluncur di jalan raya, seseorang menelpon Elvan. Sambil menyetir Elvan menerima telpon itu.
"Hmmm... oke. Ya... baiklah... oke, kita ketemu sekarang... hmm, lima belas menit aku sampai," kata Elvan. Telpon selesai.
"Mel, kita tunda ke Rumah Garuda. Hubungi Melinda dan Deni biar mereka tangani latihan anak-anak. Kita masih harus ketemu seseorang." Elvan bicara tetap memandang jalanan.
"Seseorang?" Melati bingung ada apa.
"Ini mengenai Bondan." Elvan menjelaskan singkat.
"Oke." Melati langsung mengerti. Dia menelpon Melinda dan Deni pelatih anak-anak. Dia minta tolong untuk bantu anak-anak sore itu atur juga dengan pelatih yang lain.
Elvan membawa mobilnya ke sebuah kafe yang arahnya juga menuju ke Rumah Garuda. Sampai di sana seorang lelaki muda kira-kira 25-an usianya menunggu mereka.
"Hai, Delvin. Terima kasih kamu minta langsung ketemu," kata Elvan.
"Iya, Pak. Saya kira lebih cepat lebih baik," balas Delvin.
"Ibu Melati." Delvin menyapa Melati.
"Halo..." Melati menjawab. Melati ingat Delvin salah satu karyawan andalan di kantor Elvan. Dia pernah bertemu waktu ke kantor Elvan beberapa waktu lalu.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?" tanya Elvan.
Mereka duduk dan mulai bicara. Delvin memang Elvan tugaskan mengawasi Bondan dan Harun. Dia menyamar jadi orang jualan keliling. Dia sudah mendapat bukti cukup untuk Elvan bisa menyelesaikan masalah Bondan.
"Ini saya akan tunjukkan beberapa foto dan video. Pak Elvan dan Ibu Melati bisa lihat sendiri," kata Delvin.
Delvin menyalakan laptopnya dan mulai menunjukkan hasil kerjanya. Elvan dan Melati memelototi laptop di depan mereka.
__ADS_1
Mereka terperangah melihat yang terpampang di depan mereka!