Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 22 - Alfaro?


__ADS_3

Elvan benar. Begitu kuliah dimulai, kesibukan langsung berderet-deret. Minggu awal pengenalan kampus dan penjelasan silabus. Disusul langsung deadline tugas dan jadwal-jadwal yang harus dituntaskan. Kuliah beda banget dengan sekolah. Melati rasanya terengah-engah menyesuaikan diri. Tapi dia menikmati semuanya.


Selain kuliah, ada juga kegiatan lain yang perlu diikutinya yang menunjang kelulusannya nanti. Melati memilih ikut band dan jurnalistik. Dia mau mengembangkan hobi menyanyi dan menulisnya. Sedang Ranita dia memilih ikut club renang. Dia memang suka sekali berenang.


Siang itu, sepulang kuliah Melati ke perpustakaan. Sudah janjian sama Ranita akan pulang bareng. Ranita masih satu jam lagi selesai. Lumayan menunggu sambil belajar. Dia memilih duduk di deretan pojok dekat jendela. Perpustakaan jam segini memang tidak begitu banyak pengunjungnya.


Melati sedang mencari beberapa buku di rak, tanpa memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba ketika akan mengambil sebuah buku tangannya bertemu dengan tangan yang mengambil buku tepat berjajar dengan buku pilihannya.


"Maaf, saya tidak sengaja. Silakan," kata Melati. Ketika dia menoleh dia terpana melihat orang itu.


"Melati? Melati, kan? Ini benar kamu?" cowok itu membelalak. Hampir dia bersuara keras karena terkejut melihat Melati di depannya.


Melati juga tak kalah terkejutnya melihat cowok itu. "Alfaro?" ucapnya pelan. Dia tidak menyangka bertemu Alfaro di sini. Tak pernah terpikir bahkan jika dia akan bertemu cowok itu lagi.


"Apa kabar?" Alfaro mengulurkan tangan. Lalu senyumnya mengembang.


"Aku... baik," ujar Melati agak gugup.


"Dua tahun kita berpisah. Kamu sudah beda sekarang. Cantik." kata Alfaro. Melati tersenyum. "Ayo kita ke kantin, kita ngobrol di sana," ajak Alfaro.


"Ah, aku sebenarnya..."


"Alfa, kok lama? Mana bukunya?" Seorang gadis mendekati mereka. Tanpa memperhatikan Melati dia menarik tangan Alfaro. "Buruan. Kita sudah ditunggu di rumah."


Alfaro tampak tidak menolak perlakuan gadis itu. "Sampai jumpa, yaa..." kata Alfaro tanpa bersuara. Lalu dia menjajari langkah gadis itu. Tinggi dan cantik. Penampilannya jelas anak metropolitan. Sepertinya itu pacarnya.


Melati membalikkan badan, mencari buku yang dia mau ambil tadi. Sebaiknya cepat saja, sebelum nanti malah Ranita yang menunggunya. Selesai itu Melati meninggalkan perpustakaan. Baru sampai di luar gedung perpustakaan dia melihat Alfaro dengan cewek tadi. Gadis itu nampak tertawa riang sambil menggelayut manja pada Alfaro. Sedang Alfaro tersenyum tipis di sisinya. Alfaro menyadari Melati tak jauh darinya dan mengangguk menyapa. Melati juga menarik bibirnya sedikit. Sepertinya dia akan sering bertemu cowok itu.


Dan benar saja, mereka masuk di kegiatan yang sama, bergabung di band. Meski berbeda tim. Setidaknya mereka bertemu sekali seminggu waktu kegiatan band. Alfaro memang lumayan jadi main drum dan semakin berkembang sekarang.


"Mel, pulang aku antar, yuk..." Alfaro mendekati Melati. Mereka masih break latihan hari itu.


"Tidak usah, tempat tinggalku ga jauh, kok," tolak Melati.


"Justru itu, aku ga repot ngantar jauh-jauh," bujuk Alfaro.


"Kamu ga buru-buru?" Melati masih cari cara menolaknya.

__ADS_1


"Ga laa... deal, ya... aku antar," kata Alfaro. Wajahnya terlihat senang.


"Hei, tapi..." Melati tak melanjutkan kalimatnya. Alfaro sudah pergi balik ke timnya.


Akhirnya sejam kemudian Melati sudah di atas motor di belakang Alfaro yang mengantarnya pulang ke apartemen. Begitu sampai Alfaro agak kaget.


"Wow... kamu tinggal di sini?" tanya Alfaro.


"Aku tinggal dengan Ranita. Kamu ingat dia?" jelas Melati.


"Ooo... ya, aku ingat. Si centil itu." Alfaro tertawa. Yang dia ingat Ranita memang centil dan selalu tertawa.


Mereka naik sampai lantai 9, lalu tiba di apartemen tempat Melati dan Ranita tinggal. Melati membuka pintu dan mempersilakan Alfaro masuk. Melati sebenarnya tidak mau terlalu berurusan dengan Alfaro, tetapi dia juga tidak bisa menghindari terus. Dan dia juga tidak mau menyembunyikan apa-apa dari Ranita. Lebih baik dia tahu soal cowok ini.


"Kamu...." Ranita terperangah menatap Alfaro ada di apartemennya. "Ya ammpunnnn... Kamu bisa ada di sini?" Wajah Ranita langsung ceria. Dia memukuli lengan Alfaro.


"Aduh... sambutan yang menyebalkan. Aduh..." Alfaro menangkis tangan Ranita yang tak mau berhenti memukulinya.


"Ayo, duduk. Cerita dong, gimana bisa bareng Melati?" Ranita mengajak Alfaro duduk di sofa di ruang depan. Begitu keduanya mulai ngobrol, Melati masuk kamar. Dia menaruh tasnya, lalu ke dapur membuat minuman dan membawa kue untuk Alfaro.


Ranita dan Alfaro langsung nampak akrab. Melati ikut duduk dan bergabung. Akhirnya mereka saling bercerita pengalaman SMA sampai bisa kuliah sekarang. Rupanya Alfaro memang ingin kuliah juga di UI karena dulu ayahnya kuliah di situ. Siapa yang menyangka kini ketiga teman itu bisa bersama lagi.


"Kenapa ga cerita kalau ketemu Alfaro?" tanya Ranita.


"Belum saja. Aku ga merasa terlalu penting juga. Tapi ga mungkin juga aku diam lama-lama karena nanti akan sering ketemu," jawab Melati.


"Gimana rasanya ketemu Alfaro lagi?" Ranita memandang Melati.


"Gimana apanya?" tanya Melati balik.


"Jangan polos-polos dong, Mela... Kamu tuh, secara pernah suka Alfaro. Hampir dekat malah. Dan dia kurasa tahu kamu suka dia waktu itu. Ga ada rasa gimana di hatimu?" jelas Ranita. Dia mengambil sepotong roti di meja.


"Sedikit," ujar Melati. "Pasti ada ya, mulai muncul kenangan dengan Alfaro. Tapi aku ga mau pikirin. Aku ga mau terganggu."


"Karena Elvan?" tanya Ranita.


Melati mengangguk. Akhirnya Melati cerita kejadian di malam ultah pernikahan papa mama Elvan yang lalu.

__ADS_1


"Jadi? Elvan sudah naksir kamu dari kelas 10, Mel? Pintar dia nyimpan rasa. Ga ada jejak, ga kebaca. Tapi dalam sampai ke dasar langsung." Ranita menggeleng. "Dan kamu tidak tersentuh?"


"Aku juga punya hati, Ranita. Hatiku meleleh tahu nggak? Rasanya ga percaya Elvan menyimpan selama itu perasaannya buatku," kata Melati.


"Terus? Kamu mau buka hatimu? Mau terima Elvan?" desak Ranita.


"Ga tau deh... Sekarang ini kami kan, jauhan. Aku sibuk kuliah, dia sibuk persiapan ujian akhirnya. Dan pasti juga persiapan mau kuliah. Waktu sekitar aja jarang komunikasi, apalagi sekarang," kata Melati. Ya, beberapa minggu terakhir Melati makin jarang chat sama Elvan, apalagi telpon atau vidcall. Sama-sama sibuk dan fokus tugas masing-masing.


"Ya... kalau Alfaro ternyata nanti suka kamu? Atau perasaanmu balik? Kan kamu dekat Alfaro lagi?" Ranita menatap lurus ke wajah sahabatnya itu.


"Alfaro sudah punya pacar. Hari pertama aku ketemu dia, dia sama pacarnya," tandas Melati.


"Oo..." Ranita manggut-manggut.


HP Ranita berbunyi. Dia buka chat yang masuk.


"Oh my God.... So cute..." Suaranya terdengar begitu girang.


"Ada apa?" tanya Melati.


Ranita menyodorkan HP nya. Ada foto bayi imut di sana. "Baby Kak Arni," kata Ranita.


"Ihhh... lucunya. Kapan lahiran Kak Arni?" Melati ikut senang melihatnya.


"Tadi jam 11-an. Lahir normal, ibu dan anak sehat," jawab Ranita.


"Syukurlah... Lega, yaa..." Melati masih menatap wajah imut bayi itu.


"Ivander Carel Hardani," gumam Ranita.


"Namanya bagus, ya... gagah, cocok sama baby yang ganteng." Melati tersenyum, ikut membaca nama bayi Arnita.


"Iya. Kak Arni bilang dia ingin anaknya jadi orang yang kuat dan bijaksana. Sekalipun sejak lahir hidupnya sudah sulit dia akan tau bagaimana menjalani hidupnya nanti." Ranita menjelaskan arti nama bayi itu.


"Kamu sudah jadi tante, yaa..." Melati tersenyum.


"Eh, bener. Aku tante-tante dong. Aihhh... boleh ga dia panggil aku kakak aja." Ranita manyun.

__ADS_1


"Haa... haaa... tante centil..." Melati meledeknya.


"Ih... enak aja," sahut Ranita. Dia gelitikin Melati karena sebel.


__ADS_2