
Selama perjalanan pulang Elvan banyak cerita dan tertawa. Dadanya sudah ploongg... Hatinya sudah lega... Farel yang duduk di boncengan ikutan gembira. Kakaknya sudah kembali. Banyak senyum dan ceria.
Sudah jam 7 malam keluarga Edgar kembali ke kediamannya. Elvan masih bicara dengan Hasan di teras.
"Hasan, aku tidak tahu harus bagaimana berterimakasih sama kamu. Kamu penyelamat hidupku. Aku sudah hampir kehilangan harapan, cinta, dan masa depan. Terima kasih banyak, Sobat." Elvan memeluk Hasan.
"Semua seperti kebetulan, El. Aku juga tidak menyangka bahwa hal sepele itu berdampak besar buat hidupmu. Bertemu saat kamu mabuk, lalu hampir tabrakan motor. Aah... Sutradara hidup manusia memang selalu penuh kejutan." Hasan membalas pelukan Elvan sambil tersenyum senang.
"Aku juga lega, akhirnya pikiran salah tentang kamu terjawab. Serius, sejak melihatmu malam itu masih kadang muncul di otakku, ada apa dengan Elvan? Kenapa bisa jadi tukang mabuk, hee..." lanjut Hasan.
Elvan ikut tertawa.
"Elvan..." Tirta memanggil Elvan.
Elvan menoleh dan berjalan ke arah papanya. Tirta membuka kedua tangannya, Elvan maju dan menerima pelukan papanya. "Maafkan Papa, Nak. Maafkan... Papa tidak mau mendengar kamu. Seharusnya Papa sangat kenal siapa Elvan. Karena kamu anak Papa. Maafkan Papa."
"Pa... aku mengerti. Semua sudah selesai." Elvan tersenyum.
"Adikku yang satu ini paling bisa bikin orang spot jantung, yaa..." Azka muncul dan mengacak rambut Elvan.
"Aihhh..." ujar Elvan. "Kak Azka masih hutang permintaan maaf padaku."
"Apaan?" tanya Azka.
"Hmmm..." Elvan menunjuk pipinya. "Sakit juga tonjokan Kakak, tau," kata Elvan.
"Aduh... Adikku sayang, maafkan... ahh..." Azka memeluk Elvan.
"Apa?" Erika muncul. "Kamu pukul Elvan? Tega, yaa..." Erika ganti nyentil dahi Azka sampai dia teriak karena kaget.
"Sudah, ayo makan. Pasti semua lapar," ajak Erika.
"Nak Hasan, mari ikut sekalian. Sebagai tanda terima kasih kami," ajak Tirta.
"Baik, Om," sahut Hasan.
Dengan senyum senang mereka mulai makan malam bersama. Tidak lupa didahului doa sebagai rasa syukur atas semua yang sudah dilewati.
Jam 6 pagi, Elvan sudah ada di atas motor menuju rumah Melati. Wajahnya segar, senyumnya cerah. Dia mengenakan kaos olahraga dan training. Dia mau ajak Melati jalan-jalan pagi. Sampai di rumah keluarga Adinata Elvan disambut Damar yang asyik main bola di depan rumah dengan Jati.
"Pagi..." sapa Elvan.
"Hai, Kak Elvan," balas Jati. "Ayo, main bola..." kata Jati dengan mata berbinar.
"Ayo, siapa takut?" ujar Elvan. Akhirnya mereka bertiga seru sekali bermain bersama. Terdengar teriakan, sorakan, dan tawa bersahutan.
__ADS_1
Lalu muncul di depan pintu, ayah Melati. Elvan menyerahkan bola ke Jati dan menghampiri Gilang.
"Om..." Elvan menyalami Gilang dan mencium punggung tangannya.
"Apa kabar, Elvan?" kata Gilang. Senyuman manis itu muncul untuk Elvan.
"Sangat baik, Om," ucap Elvan sambil tersenyum.
"Papamu tadi malam menelpon Om," kata Gilang. "Om sampai bingung mau bilang apa. Masuklah, Melati ada di dalam. Biasa bantu ibunya menyiapkan sarapan."
"Eh, boleh tidak saya ajak Melati jalan-jalan, Om?" Tanya Elvan.
"Tentu. Om tahu laa... kalian pasti saling kangen, hee..." Gilang terkekeh.
"Hee... iya..." Elvan jadi salting. Dia masuk ke dalam dan terus ke ruang makan. Melati sedang menata piring dan gelas. Lily yang menyiapkan makanannya. Sedang Sekar masih membereskan sampah bekas memasak.
"Boleh aku bantu?" tanya Elvan.
Melati menghentikan tangannya. Dia menoleh pada Elvan. Degupan di dadanya langsung bekerja lebih cepat. Matanya mulai mengumpulkan titik air di pelupuknya. Ingin sekali dia memeluk kekasihnya ini.
"Kak Elvan!" Lily yang menyapa. Ceria seperti biasa.
"Elvan... ikut sarapan, yaa..." Sekar juga menyambutnya riang.
"Kebetulan, Bu. Memang belum sarapan." Elvan tersenyum.
"Siap, Ibuku yang cantik." Lily menjawab lalu pergi ke depan memanggil Gilang, Damar dan Jati.
Elvan mendekati Melati. "Hei..." Elvan tersenyum.
Melati mengusap matanya. "Haaiii..." Melati takut dia menangis. Malu ada ibunya. Tapi dalam hatinya meluap rasa rindu yang dalam.
Beberapa menit kemudian acara sarapan mulai. Sambil makan mulai Damar dan Lily kayak reporter memberi banyak pertanyaan soal kejadian kemarin saat Elvan kabur.
"Wah, niatnya kabur malah ketemu dewa penolong, Kak," kata Damar.
"Itulah keajaiban yang aku tunggu. Hanya caranya yang tidak aku duga." Elvan menimpali sambil memotong tahu dan memasukkan dalam mulutnya.
"Ya, selalu ada cara Tuhan menolong umat-Nya. Asal kita yakin," kata Gilang.
"Sayangnya Melati ga yakin sama saya, Om." Elvan melirik Melati.
"Apa, sih..." Melati tersipu. Ada rasa bersalah muncul di hati Melati waktu Elvan mengatakan itu.
"Yang penting semua kembali baik. Bersyukur saja untuk apa yang sudah terjadi," kata Sekar.
__ADS_1
Benar. Hanya ucapan syukur yang bisa dikatakan setelah mengalami guncangan sehebat itu dan terlepas dengan tiba-tiba.
Selesai makan pagi, Elvan mengajak Melati ke Pasar Minggu Pagi di area sekitar Stadion Gajayana dan Jalan Ijen. Ada yang bilang juga Car Free Day. Di sana banyak sekali penjual jajanan, macam-macam jenisnya. Ada juga yang berjualan pakaian murah, aksesoris, suvenir dan banyak lagi. Ramai sekali pengunjungnya. Karena orang pada libur sekolah dan kerja, kesempatan mereka bisa menikmati hari libur dengan keluarga. Bisa juga langsung masuk stadion untuk berolahraga.
Mereka berjalan berkeliling melihat-lihat. Lalu Elvan membeli jajan tradisional onde-onde dan lemper, sekaligus beli minum es jeruk. Elvan mengajak Melati masuk ke stadion, duduk di tribun yang sepi dan menikmati jajanan itu.
"El, maafkan aku," kata Melati.
Elvan memandang Melati. Dia melingkarkan lengannya dari belakang memeluk Melati. Melati menangkupkan wajahnya di dada Elvan. Dia menangis di sana. Melepaskan rasa bersalah yang masih menggelayut di hatinya. Elvan membiarkan kekasihnya itu menangis. Sesekali dia kecup puncak kepala Melati.
Setelah puas menangis Melati mengangkat wajahnya dan membersihkannya dengan tisu. Dia masih malu menatap mata Elvan.
"Sudah nangisnya?" tanya Elvan lembut.
"Maafkan aku, El," kata Melati. "Seharusnya aku percaya padamu. Kamu pernah mengatakan itu. Apapun yang terjadi harus tetap percaya. Kali ini aku gagal."
"It is ok." Elvan memegang dagu Melati. Wajahnya sekarang mengarah pada Elvan. "Semua sudah selesai."
"Aku harus katakan, biar hatiku lega," kata Melati.
"Baiklah..." ujar Elvan.
"Aku percaya kamu sayang aku. Aku percaya kamu hanya ingin bersamaku. Yang aku masih ragu, karena kamu mabuk. Dan saat mabuk apa saja bisa terjadi, sekalipun kamu tidak ingat, tapi..."
"Fara sadar dan ada yang terjadi menurut dia," lanjut Elvan.
Melati mengangguk. "Dan yang aku pikirkan, Fara sudah kehilangan harta dirinya yang paling berharga sebagai wanita, pasti dia terluka. Dia sungguh gadis malang... Aku tidak bisa membiarkan diriku bahagia sementara dia... diabaikan hanya karena tidak dicintai," jelas Melati.
"Kamu memang terlalu baik, Mel. Kamu pikirkan orang lain, sampai kamu lupa kamu pantas berjuang untuk kebahagiaanmu," ujar Elvan. Dia menarik wajah Melati ke dekatnya ditempelkannya hidung Melati ke hidungnya.
Melati jadi sangat gugup. Elvan masih di posisi sama. Lalu dia kecup kening Melati.
"Sudah, ga boleh lebih. Nanti malah minta aneh-aneh." Elvan tersenyum. Dia memindahkan tangannya yang tadi memegang kedua pundak Melati lalu menggenggam jari-jari gadis itu.
"Hee..." Melati ikut tersenyum. Melati mengalihkan pandangan ke lapangan yang luas. Terlihat sekelompok anak remaja berseragam pakaian bola masuk ke lapangan. Sepertinya mereka akan latihan.
"Kamu tahu kenapa aku mau kabur?" kata Elvan. Melati menoleh. "Karena hatiku untukmu. Menikah itu satu kali sampai akhir hidup. Jika aku setuju dengan pertunangan dengan Fara, artinya aku berjanji akan menikahinya. Dan aku tidak mungkin ingkar. Aku tidak bisa melakukannya. Menjalani pernikahan dengan alasan yang salah. Hidup dengan orang yang tidak aku cintai. Justru yang akan terluka bukan hanya aku, tapi juga Fara," jelas Elvan.
Melati mendengarkan. Dia sangat mengerti yang Elvan katakan.
"Jika nanti berdiri di altar, dan aku mengucapkan janji, itu harus aku lakukan dengan sadar, komitmen, dan cinta yang penuh untuk pendampingku. Dan aku mau itu kamu," lanjutnya. Elvan merapikan poni di kening Melati.
Melati tersenyum. "Iya. Aku tahu," kata Melati. Elvan tersenyum.
"I love you..." kata Melati pelan.
__ADS_1
"Coba katakan lagi..." sahut Elvan. Melati menggeleng-geleng. Masih canggung juga bicara love, padahal uda lama pacaran, yaa... Melati... Melati...