Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 42 - Elvan Pasti Pulang


__ADS_3

Azka masih terus mencari Elvan dengan bantuan Tim SAR dan penjaga hutan. Ini hari terakhir mereka mencari di hutan. Sebagian mencoba mencari ke pemukiman yang tidak terlalu jauh dari hutan.


Kira-kira jam 10 pagi Azka dan beberapa orang menyusuri area dekat hutan. Ada beberapa rumah yang letaknya berjauhan di daerah itu. Rumah-rumah yang mereka datangi mengatakan tidak tahu soal pemuda yang mereka cari.


Rumah itu tidak terlalu besar. Dikelilingi pagar bambu yang agak tinggi. Salah satu penjaga hutan mendekati rumah itu.


"Pak Karno!!" panggil penjaga hutan itu. "Pak Karno!! Apa di rumah?! Bu Nanik?!" Penjaga hutan itu masuk ke pekarangan yang cukup luas. Ada beberapa macam sayuran ditanam di sana.


Seorang lelaki tua keluar dari rumah dan menghampiri mereka.


"Eh, Pak Rahmat. Kok ramai-ramai ke sini? Ada masalah, Pak?" tanya Pak Karno pada penjaga hutan itu. Yang sebenarnya masih bisa disebut anak oleh Pak Karno.


"Pak, apa kemarin pergi ke hutan? Kami mencari anak ini?" Rahmat meminta gambar Elvan dari tangan Azka.


Pak Karno memandang Azka lalu ke gambar yang sudah pindah tangan di tangan Rahmat. "Hmm, hilang? Kasihan. Itu saudara kamu?" tanya Pak Karno pada Azka.


"Benar, Pak. Adik saya," jawab Azka. "Saya Azka. Dan adik saya namanya Elvan."


Pak Karno menatap Azka. "Kemarin aku ndak ke mana-mana, Pak. Tidak tahu ada kejadian," kata Pak Karno.


"Kalau sampeyan tahu, kasih kabar ya, Pak. Kasihan orang tuanya," ujar Rahmat.


"Ya, ya..." ucap Pak Karno pendek. Sambil masih memandang Azka.


"Kalau begitu kami permisi." Rahmat pamit. Azka mengangguk kepada Pak Karno. Lalu mereka meninggalkan rumah itu. Azka masih menoleh lagi pada Pak Karno beberapa saat kemudian meneruskan langkahnya.


Setelah mereka pergi, Pak Karno kembali ke dalam rumah. Untung istrinya sedang di halaman belakang rumah, memberi makan ternak mereka. Kalau tadi istrinya yang bertemu mereka bisa jadi sudah ketahuan anak ganteng itu ada di sini. Namanya juga bagus, Elvan. Elvan. Ah, Bagus nama yang lebih pantas buat dia, batin Pak Karno.


"Orang tuanya tidak akan lama-lama sedih kehilangan anaknya. Mereka masih punya kakaknya. Aku hanya punya satu anak laki-laki. Dan dia sudah pergi. Elvan, bukan, Bagus, dia penggantinya," gumam Pak Karno pada diri sendiri.


Pak Karno menuju kamar Elvan. Elvan sedang duduk di pinggir tempat tidur. Memang benar anak itu punya malaikat pelindung. Hari ini dia sudah kelihatan segar. Dia bahkan sudah bisa bangun dan ke kamar mandi. Sudah bisa makan sendiri. Hanya belum ingat apa-apa.


*****


Lima hari sudah, pencarian tidak ada hasil. Dan pencarian dihentikan. Azka harus pulang dan mengurus pekerjaannya dan kantor papa. Tidak mungkin ditinggal terlalu lama. Akhirnya Azka membuat laporan kehilangan ke kantor polisi.

__ADS_1


Azka baru masuk rumah. HP-nya berbunyi. Ada nomor tak dikenal.


"Halo..." sapanya.


"Halo, Kak Azka. Ini Melati." Melati yang menghubunginya. Azka menarik nafas panjang.


"Ya, Mel," kata Azka.


"Aku hubungi Elvan dari dua hari lalu tidak bisa, Kak. Apa dia baik-baik?" Melati bertanya dengan nada suara sedikit cemas.


"Mel, kamu bisa ke rumah?" Azka tidak menjawab justru meminta Melati datang.


"Sekarang, Kak? Apa Elvan sakit?" tanya Melati.


"Datang dulu nanti aku jelaskan," kata Azka.


Telpon selesai. Azka pergi ke kamarnya. Dia mandi agar terasa lebih segar. Lalu dia mengambil HP dan melakukan kontak dengan beberapa orang untuk cek pekerjaan.


Tidak sampai sejam Melati sudah datang. Azka mengajak Melati ke ruang tengah.


"Duduklah," kata Azka. Melati bingung dengan sambutan Azka yang kaku, tidak ramah seperti biasanya. Melati duduk di sofa, Azka duduk di sebelahnya.


Azka memutar tubuhnya menghadap Melati. "Mel, aku minta maaf, harus mengabarkan sesuatu yang sangat tidak baik." Azka menarik nafas lagi. "Kami kehilangan Elvan."


"Kenapa, Kak?" Melati tidak mengerti.


"Elvan... jatuh ke jurang... dan kami tidak bisa... menemukan dia..." Tersendat Azka berkata. Wajahnya memerah. Matanya berkaca-kaca.


Melati membesarkan matanya. Dia tidak salah dengar, kan? Dia menatap Azka, tajam, tak berkedip dan meminta penjelasan.


"Kami sudah mencarinya. Berkali-kali menjelajah hutan. Kami mencari di daerah sekitar bertanya pada semua rumah, yang mungkin melihat atau malah menemukannya. Nihil." Air mata Azka sudah menetes.


Dada Melati langsung sesak. Tangisnya meledak. Apakah ini nyata? Ini bukan mimpi, kan? Belum seminggu dia mengatakan mencintai pemuda itu. Elvan yang selalu penuh kejutan. Tidak, tidak mungkin.


Azka memeluk Melati. Dia ikut menangis. Hatinya juga hancur. Dia orang terakhir yang bersama Elvan. Dia seharusnya bisa mencegah kejadian itu. Tapi dia bahkan tidak merasakan sesuatu apapun.

__ADS_1


"Kak, aku yakin Elvan masih hidup.... Dia pasti pulang..." kata Melati di tengah tangisnya yang perlahan mereda.


"Aku juga meyakinkan diriku begitu. Sebelum kita menemukan jasadnya aku tetap yakin Elvan masih hidup. Aku sudah melakukan laporan ke kepolisian. Selanjutnya mereka akan menanganinya." Azka melepas pelukannya. Dia mengusap matanya. "Kita harus terus berharap. Tak boleh berhenti mencari dan berdoa."


"Kak Azka..." Seseorang memanggilnya.


Azka mengangkat wajahnya. Adista di sana. Memandang Azka dengan wajah pilu. Azka langsung menghambur ke pelukan Adista. Tangisannya makin kuat. Jika dengan Melati dia mencoba menahan emosinya, di dekapan Adista, dia luapkan semua perasaannya.


"Kamu dari rumah sakit?" tanya Azka, setelah tangisnya reda.


"Iya, Kak," jawab Adista.


"Bagaimana Papa?" tanya Azka lagi.


"Hari ini akan pulang. Aku datang ke sini untuk pastikan rumah sudah rapi," kata Adista.


"Om Tirta di rumah sakit?" Melati menyahut.


"Ya, Mel. Papa langsung drop," ujar Azka. Dia sudah lebih tenang sekarang.


Melati bisa mengerti jika Tirta langsung jatuh sakit. Ini goncangan sangat besar buatnya. Anaknya hilang di depan matanya.


"Kakak sudah makan?" tanya Adista sambil melihat Azka.


"Makanan seperti tidak bisa masuk," ucap Azka.


"Aku temani, ya... Kakak tidak boleh sakit. Kakak harus kuat dan tetap sehat." Adista mengusap pundak Azka.


Adista memang wanita luar biasa. Dia tetap tenang meski terlihat juga kesedihan yang dalam di wajahnya. Adista ke dapur. Bi Wanti baru selesai memasak. Adista mengajak Azka dan Melati makan. Azka benar, rasanya makanan seperti tersendat di kerongkongan.


Agak sore, Tirta dan Erika datang. Hampir bersamaan dengan Farel pulang dari sekolah. Farel sebenarnya belum mau sekolah. Tapi mamanya menyuruh dia tetap masuk, supaya tidak larut dalam kesedihan.


Tirta kelihatan sangat sedih. Begitu juga Erika. Tapi mereka pasrah. Tirta berbaring di kamarnya. Azka, Adista, Melati, Farel dan Erika ikut menemaninya.


"Kita tidak tahu apa maksud Tuhan dengan semua ini. Rasanya tidak adil. Elvan anak yang baik. Dia baru selesai sekolahnya dan siap mengejar cita-citanya. Kenapa tiba-tiba harus mengalami ini?" Tirta menatap satu per satu anak istri dan kedua kekasih putranya itu.

__ADS_1


"Tuhan kadang tidak bisa kita pahami. Tapi jika Dia ijinkan pasti pada akhirnya kita tahu hal baik di balik semua ini. Selama tubuh Elvan belum ditemukan, dia masih hidup. Pasti ada seseorang yang menolongnya. Pada saatnya dia akan pulang," lanjut Tirta.


Tidak seorangpun di ruangan itu bicara. Mereka berharap hal yang sama. Elvan pasti pulang. Lalu Tirta memimpin mereka berdoa menyerahkan Elvan pada Tuhan.


__ADS_2