
Kembali ke Malang Melati mulai sibuk membantu ayahnya. Bersyukur usaha ayah makin berkembang. Mengelola lahan yang cukup luas untuk tempat wisata. Dengan latar belakang taman dengan banyak ragam tanaman bunga yang cantik dan aneka warna. Di setiap area ada tema tersendiri yang menarik. Spot foto bertebaran di sekeliling area. Dilengkapi dengan fasilitas playground dan kafe menjadi daya tarik tersendiri.
Karena dasarnya Melati suka bunga, biasa diajak merawat bunga di rumah sama ibu dan ayah, dia langsung menikmati pekerjaannya. Dia memikirkan bagaimana mengembangkan lokasi agar lebih menarik. Lalu bagaimana pemasarannya agar selalu ada yang baru yang membuat orang ingin datang. Karena kota Malang itu relatif tidak luas, tetapi kabupatennya yang sangat luas.
Dan ayah memilih lokasi di kabupaten tetapi tidak terlalu jauh dari kota sehingga masih bisa mudah dijangkau masyarakat yang ingin berwisata, refreshing dengan keluarga saat weekend atau libur tanpa harus pergi ke tempat yang jauh di luar kota.
Dan Elvan kembali berkutat dengan kuliahnya. Masih dua tahun lagi baru akan selesai. Sedang urusan kantor terus jalan. Untuk rencana mengerjakan musik dia masih harus tata dengan rapi. Perlu waktu memikirkannya dan meyakinkan Melati cita-citanya menjadi penyanyi bisa terwujud.
"Kak Elvan, ikut dong... bareng pulang..." Lily berlari ke arah Elvan yang sudah di atas motor di parkiran.
"Lha, biasanya sama pacar kesayangan kamu itu. Si.. Terrence.. Mana dia?" tanya Elvan.
"Masih rapat buat program setahun ke depan. Malas aku nungguin. Biasanya sampai dua jam kadang lebih malah," jawab Lily.
"Aku ga pulang ini. Mau ke tempat Melati," kata Elvan.
"Hmmm... gimana, yaa..." Lily mikir. "Ayo deh, aku kerja tugas di sana aja." Lily ambil helm di tangan Elvan, memakainya dan naik di belakang Elvan.
Motor berjalan menuju gerbang kampus. Sementara jalan Elvan melihat Fara di kejauhan, dia sedang berjalan sendirian. Sepertinya juga akan pulang.
"Kamu sama Fara masih bicara?" tanya Elvan.
"Jarang sih, Kak. Dia menghindari aku. Ga tau, yaa... benci kali karena aku adik Kak Melati," ucap Lily sekenanya.
"Kasihan dia..." ujar Elvan.
"Kenapa kasihan? Dia jahat gitu..." Lily menjawab ketus.
"Ya... dia tahu dia salah. Dia jadi kikuk kalau ketemu kamu, aku... jadi ga bisa bebas, canggung," jelas Elvan. Dia berbelok ke kiri.
"Iya juga, yaa..." timpal Lily. "Ntar aku coba dekati la.. gimana perasaannya?"
"Aku mau dia tahu kalau aku ga benci sama dia. Tapi aku masih mikir juga kalau aku ajak ketemuan takutnya muncul masalah baru lagi," kata Elvan.
"Itulah..." sahut Lily.
Perjalanan mereka hampir satu jam. Jam 2 siang lewat sedikit mereka sampai. Di depan area terpajang papan besar bertuliskan "Florian Park". Elvan memarkir motor lalu menyusul Lily yang duluan masuk area. Lily menuju ke kantor dari taman wisata ini. Ada lobby yang tidak terlalu besar di kantor bagian depan. Melati dan ayahnya berkantor di sebelah lobby.
"Kak..." sapa Lily. Dia masuk dan duduk di kursi di depan meja kakaknya.
"Hai... tumben ke sini?" Melati menengok adiknya lalu dia meneruskan pekerjaannya di laptop.
"Tuh, Kak Elvan. Dia ke sini aku ikut aja," jawab Lily Elvan sudah masuk juga ke ruangan itu.
__ADS_1
"Heii... sebentar, ya..." kata Melati. Dia tersenyum pada Elvan lalu melanjutkan pekerjaannya. Tanggung dikit lagi.
Elvan duduk di sebelah Lily. "Ly, kok kita kayak orang lagi mau pesan bunga untuk dekorasi pengantin, yaa..." ucap Elvan.
Lily ngakak mendengar kalimat Elvan. "Bunga bank aku mau..." Lily ngakak lagi. Elvan jadi nyengir. Melati itu tertawa.
"Kalian sudah makan?" tanya Melati.
"Maunya makan bareng. Tapi ini udah jam segini. Kamu pasti uda makan duluan," sahut Elvan.
"Hmm, tadi makan bareng Ayah. Ayah lagi cek taman belakang. Ada penanaman baru di sana," kata Melati. Melati mendekati Elvan dan Lily. "Aku temani. Aku mau minum es biar segar."
"Yuk..." Elvan berdiri. Lily juga. Mereka bertiga menuju ke kafe di lokasi ini. Dengan berbagai bunga cantik sebagai dekorasi menjadikan kafe terasa sejuk, segar dan alami. Design interiornya cantik dengan furniture bahan kayu, bambu, dan rotan dipadukan begitu apik.
Lumayan ramai pengunjung. Terlihat di area taman orang-orang yang datang berfoto, di taman, di dekat kolam ikan, di area foto booth dan sekitarnya.
"Mel, pekerjaanmu berjalan baik, yaa.. Kapan bisa atur untuk kita mulai progam musik kita?" tanya Elvan.
Melati meneguk es leci. Dia lihat Elvan. "Aku enjoy banget di sini. Ternyata menyenangkan menikmati tanaman yang cantik tiap hari," kata Melati.
"Jadi masih belum pingin mulai nyanyi?" Elvan menyendok makanan di piringnya.
"Mau laa... planningmu memang seperti apa, El?" tanya Melati.
"Misterius banget, deh," ujar Melati.
"Biasa Kak Elvan selalu aja kasih surprise," tukas Lily. Dia sudah hafal kelakuan calon kakak iparnya itu.
Elvan terkekeh. Melati cuma senyum tipis. Tapi Lily benar. Itulah Elvan. Beruntung sekali Melati dicintai pria seperti ini. Yang ga kehabisan akal membuatnya terkejut dan takjub.
"Sabtu boleh, deh. Kamu kan ga kuliah. Aku juga ga wajib kerja kalau Sabtu. Gimana?" Melati mengikat rambutnya dengan tali yang ada di pergelangan tangannya.
"Deal. Jam 9 aku jemput, ya," kata Elvan. Melati mengangguk.
Lily asyik belajar dengan laptopnya di tempatnya. Melati berjalan keliling taman dengan Elvan sambil memperhatikan beberapa spot baru yang perlu dicek berkala.
"Ga pernah bosan ke sini. Kalau lihat bunga yang indah pikiran fresh." Elvan berkata sambil memandang hamparan taman bunga mawar yang beraneka warna.
"Iya. Itu betul." Melati manggut-manggut.
"Apalagi kalau bunganya bunga hatiku, bunga cintaku ini..." Elvan melirik Melati.
"Bisa, yaa... ayo lanjutkan..." ujar Melati.
__ADS_1
"Haa... haa..." Elvan tertawa. "Dulu malu-malu. Sekarang ketagihan digodain... haaa..."
Melati ikut tertawa meski ada sedikit makin juga, he...hee...
Jam 4 sore, mereka pulang. Lily akhirnya bareng ayahnya. Melati ikut naik motor dengan Elvan. Sementara di jalan Elvan teringat sesuatu.
"Melati, kita mampir ke Gramedia bentar, ya," kata Elvan.
"Ada apa?" Melati mendekatkan wajahnya ke arah Elvan.
"Mau beli tali gitar, ada yang putus di rumah," jawab Elvan.
"Oke," sahut Melati.
Akhirnya Elvan berbelok ke arah alun-alun kota, karena dekat dengan Gramedia. Mereka langsung menuju ke tempat penjualan alat musik. Dan Elvan menanyakan senar gitar sesuai merk yang dia perlukan.
Setelah memilih mereka ke kasir untuk membayar. Dengan ramah pelayan menyapa dan melayani. Baru selesai pembayaran, tiba-tiba Melati bersenggolan dengan seseorang di sebelahnya yang juga antri untuk melakukan pembayaran.
"Maaf, Mbak, tidak sengaja," kata Melati. Elvan menoleh mendengar kata-kata Melati. Melihat apa yang terjadi.
Gadis di depannya itu menatap Melati dan Elvan yang di sebelahnya. Matanya melebar karena terkejut dan cepat membalikkan badan.
"Fara..." Elvan memanggilnya. Gadis itu yang ternyata Fara tidak memperhatikannya. Dia terus saja berjalan.
"Fara... kita harus bicara," kata Elvan melangkah lebih cepat dan menjajari Fara.
"Untuk apa? Kita sudah tidak ada urusan," sahut Fara cepat.
Dari jauh Melati melihat keduanya. Pelan dia melangkah ke arah mereka berdua.
"Sudahlah, El. Semua sudah selesai. Aku ga mau ketemu kamu." Fara menolak dan ingin cepat pergi.
"Fara, beri waktu aku 10 menit saja," sergah Elvan.
Fara menghentikan langkahnya.
"Sepuluh menit, lalu jika memang kamu ingin seterusnya kita seperti musuh, itu hakmu," ucap Elvan.
Melati kini berdiri empat langkah jauhnya dari Elvan dan Fara. Fara menoleh ke arah Melati dan juga Elvan. Dia melihat tidak ada wajah benci pada kedua orang di depannya ini.
"Baiklah, 10 menit," kata Fara akhirnya.
Mereka menyeberang jalan. Elvan mengajak mereka ke McDonald yang memang berseberangan dengan Gramedia. Elvan memilih duduk di kursi paling pojok. Melati duduk di samping kiri Elvan dan Fara di depannya.
__ADS_1
Fara kelihatan gugup dan tidak nyaman. Dia hampir tidak berani memandang Elvan dan Melati. Elvan tenang sekali dan tersenyum melihat ke arah Fara.