
**
Tertuang di hatiku
Tertoreh di sukmaku
Nada kasih yang tiada akhir
Menari di jiwaku
Melagu di batinku
Untaian cinta yang akan selalu ada
Untukmu.... hanya untukmu...
Padamu... hanya padamu
Kisah ini tertulis
Kasih ini terlukis
Tentangmu tentang kita....
**
Melati menonton video di youtube. Single yang Elvan buat untuknya, akhirnya dirilis. Elvan buat YouTube Channel untuk Melati. Ternyata hasilnya bagus sekali. Dalam waktu beberapa minggu viewers sudah lumayan.
Ingat waktu pertama kali Melati ditunjukkan syair lagu 'Tentang Kita' dia hampir tak bisa menahan air matanya. Manis sekali nadanya. Kata demi kata di lagu itu mengharu biru buat hati Melati. Elvan menyanyikannya dengan memainkan keyboardnya. Keren banget....
"Itu isi hatiku, Mel. Kuharap isi hatimu juga, hee..." kata Elvan sambil tertawa kecil.
"It is so sweet. Thank you so much..." Melati benar terharu. "Kapan kamu buat lagunya?"
"Hari-hari waktu kita hampir bubar karena tragedi hotel. Beberapa hari sebelum hari pertunangan itu. Aku sering mengurung diri di kamar dan studio," jawab Elvan.
"Oh, my God... kalau galau bisa buat karya sebagus itu, yaa..." Melati membelalak dan menggeleng.
"Mmm... ga usah minta aku galau terus... sesak dadaku. Sudah hampir ga yakin aku masih bisa sama kamu waktu itu. Makanya aku pilih kabur aja," ucap Elvan.
"Nggak laa... aku juga ga mau. Hari-hari itu aku merasa malang sekali nasibku. Pacaran sama kamu hasil jebakan, uda rela buka hati, eh... mau ditinggal kayak gitu ceritanya..." sahut Melati.
"Tapi justru hati kita makin kuat, kan..." Elvan tersenyum manis. Dia mengedipkan mata beberapa kali.
__ADS_1
Melati tertawa.
Dan sekarang masih terkagum Melati menatap video yang hampir selesai menampilkan single 'Tentang Kita.' Lily yang membantu buat video dan edit hingga jadi begitu manis.
"Siap melaju babak berikutnya?" tanya Elvan. Melati meng-klik stop video dan menoleh pada Elvan.
"Besok kita rapat untuk memastikan kapan pusat pelatihan seni anak-anak akan kita buka," lanjut Elvan.
"Oya?" Mata Melati melebar. "Oke. Aku ikut, yaa.."
"Iya. Kita rapat sore kok, jam 6 jadi sepulang kamu kerja," jawab Elvan.
"Yess... thank you."
"Iya." Elvan mengelus rambut Melati. "Kita latihan, ya... setelah makan. Pengenalan lagu kedua. Nanti aku atur latihan dengan Farel dan Damar."
"Kalau kamu ikut nyanyi juga gimana?" pinta Elvan.
"Aku? Maksudnya duet sama kamu?" tanya Elvan.
"Hmmm..." Melati mengangguk.
"Aku ni penyanyi rumahan, bukan untuk dilihat orang banyak," sanggah Elvan.
"Pikirkan lagi, yaa... aku juga mau sayangku dikenal yang lain. Suaramu juga bagus, kan? Apa boleh kalau aku duet sama orang lain saja?" Melati mulai merayu.
"Hmm... oke... aku pikirkan dulu... setuju?" kata Elvan.
"Baiklah..." Melati mengiyakan akhirnya.
Esok harinya sepulang kerja Melati bersama Elvan ke yayasan anak untuk melakukan rapat bersama semua yang akan terlibat ikut dalam rapat. Setelah berkumpul banyak juga yang bersedia bekerja untuk tim ini. Setidaknya 15 orang akan mendukung dan aktif bersama.
Elvan memimpin rapat dengan tenang, tapi jelas adalah semangat besar dari sikapnya. Melati baru sadar Elvan memang punya jiwa kepemimpinan yang besar. Ya, bukankah itu muncul sejak dia di SMA jadi wakil ketua OSIS? Dia membagi semua personil pada job des masing-masing, lalu target dan sasaran setiap tugas yang harus dikerjakan.
Pusat Pelatihan ini sepakat dinamakan Rumah Garuda. Falsafah yang muncul di balik nama itu menurut Elvan, setiap anak yang masuk di pelatihan ini akan dibina agar punya jiwa tangguh seperti Garuda. Dia juga dapat menemukan keluarga di tempat pelatihan, saling menguatkan untuk terus berkembang sesuai potensi dirinya. Semua makin semangat dengan nama yang mereka punya sekarang.
Anak-anak yang datang memang tidak datang gratis. Mereka boleh beri nominal uang seberapapun. Itu disebut tabungan bersama. Bukan untuk bayar pelatih, tapi uang akan digunakan menyediakan snack dan minum mereka latihan. Dengan begitu anak-anak lebih menghargai perjuangannya karena dia punya andil biaya untuk kemajuannya.
"Alright, Team... let's do it..." Selesai rapat Elvan berdiri mengulurkan tangan ke depan mengajak toss bersama.
Semua yang hadir ikut mengulurkan tangan, menyatukan tangan dan mereka berseru bersama, "Rumah Garuda Rumah Kita!!!"
"Terima kasih banyak, Nak Elvan. Tak terpikir sama sekali kalau yayasan kecil ini akan menjadi wadah untuk anak-anak muda seperti ini." Hadi menyalami Elvan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Terima kasih kembali. Saya juga senang bisa sedikit berbuat sesuatu untuk anak-anak. Dengan dukungan banyak pihak pasti akan berjalan baik," kata Elvan.
Sementara Melati bicara dengan Lidya. "Anak-anak punya kemampuan, Bu. Dengan ada kesempatan belajar mereka akan bisa mencapai hal yang lebih besar," kata Melati. Dia memperhatikan dua anak yang sedang bermain di halaman gedung ini. Dua anak perempuan.
"Benar, Melati. Seperti dua anak itu. Ayahnya tidak tahu ke mana. Ibunya ditinggal saat hamil yang kecil dan meninggal waktu melahirkannya. Mereka diantar ke sini oleh bibinya yang tidak sanggup mengurus. Sudah hampir empat tahun di sini. Anak yang cerdas, ceria, dan penuh semangat. Lira dan Sila. Lira waktu itu empat tahun dan Sila hampir satu tahun," cerita Lidya. Dia tahu Melati sedang melihat ke arah dua anak itu.
Melati menoleh ke arah Lidya menyimak cerita yang didengarnya.
"Ada lagi yang hampir dijual pamannya sendiri untuk jadi PSK, karena memang dari bayi susah tidak punya orang tua. Ayah ibunya kecelakaan dan meninggal. Padahal usianya belum genap 11 tahun waktu pamannya akan menjualnya. Tetangganya yang membawanya pergi dan diserahkan pada kami. Namanya Julia. Sekarang dia sudah kelas 8. Anaknya manis dan lembut. Dia suka sekali membantu adik-adiknya di asrama," lanjut Lidya.
Hati Melati ikut teriris mendengar kisah-kisah itu. Begitu banyak anak yang tidak mendapatkan hidup yang semestinya. Sekarang bersama Elvan, dan yayasan anak ini, dia mendapat kesempatan berbuat sesuatu untuk mereka. Dia akan lakukan sepenuh hatinya. Itu janji Melati.
"Bagaimana Fandi, Bu? Apa dia baik-baik di sini?" Melati menanyakan anak Irwan pegawai ayahnya yang dititipkan di yayasan.
"Ah... dia juga anak yang baik. Dia rajin sekali. Dia mau mencoba belajar apa saja. Tidak malu bertanya. Dan yang lebih membuat dia senang, setiap minggu dapat kunjungan dari ayah dan ibunya. Ayahnya juga makin pulih, ya... Saya ikut gembira," jawab Lidya sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah." Melati ikut tersenyum.
"Mel, kita pulang, yuk..." Elvan mendekati Melati. "Sudah malam juga."
"Ya, baiklah. Bu, kami permisi." Melati pamitan pada Lidya.
"Terima kasih banyak, Bu. Kami pamit," ujar Elvan.
"Iya, baik. Hati-hati di jalan." Lidya mengantar mereka hingga ke depan gedung.
Elvan dan Melati naik motor meninggalkan yayasan. Hari sudah jam setengah 10 malam.
"Ini sudah lewat jam 9, Mel. Kamu sudah kabari orang rumah?" Elvan masih ingat jam malam Melati. Jam 9 harus sampai rumah.
"Sudah, Mas. Lagian sekarang aku sudah wanita karir. Ayah dan ibu tidak terlalu kuatir lagi. Ada Mas juga yang jaga aku," kata Melati.
"Ya, baiklah... Tinggal kapan melamar kamu ini, kan?" Elvan terkekeh.
"Ujian Skripsi dulu. Wisuda dulu. Baru lamar anak orang," sahut Melati.
"Haa.... haaa... takut banget aku ga lulus. Aku ini kan cerdas," gurau Elvan.
"Percaya. Makanya skripsi jangan lambat," tukas Melati.
"Siap, Nona Manis. Tunggu saja tanggal mainnya. Tahun ini pasti bisa wisuda," tandas Elvan santai.
Melati merapatkan jaketnya yang tidak begitu tebal. Angin malam lumayan terasa menusuk kulitnya. Dia melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Elvan. Elvan menangkupnya dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Dingin? Dikit lagi sampai, kok," ujar Elvan.
Malam terus melaju. Tidak menunggu dua insan yang sedang menggapai asa itu sampai di tujuan.