Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 102 - Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Di hall besar itu, di salah satu hotel mewah, suasana meriah. Dekorasi yang indah dengan tatanan ruang yang apik membuat decak kagum setiap orang yang hadir. Pegawai EO yang mengatur seluruh acara bersiap di posisi masing-masing. Hari ini mereka harapkan akan jadi hari luar biasa untuk pasangan yang akan melangsungkan hari besar mereka.


Keluarga Edgar tiba di tempat itu dengan senyum cerah. Azka dan Adista serta kedua anak mereka masalah sudah duluan. Beberapa anggota keluarga yang lain juga mulai berdatangan.


"Selamat siang, Om, Tante." Tirta dan Erika menoleh mendengar panggilan itu.


"Hai... Dewi..." Erika dengan ramah menyapa Dewi. Tidak canggung dia peluk dan cium kedua pipi Dewi.


Lalu menoleh pada kedua orang tua di sebelah Dewi.


"Pak Karno, Bu Nanik. Terima kasih sudah mau datang buat Elvan." Sekarang Erika mengalami Pak Karno lalu Bu Nanik, Memeluk dan mencium pipinya. Pelukan hangat buat Bu Nanik.


"Kami yang terima kasih diundang di acara ini. Penghormatan buat kami bisa ikut melihat Bagus, eh, Elvan menikah," kata Pak Karno.


"Panggil saja Bagus, Pak. Tidak apa-apa." Tirta tersenyum sambil merangkul Pak Karno.


"Kenapa tidak mau tinggal di rumah kami? Kami sudah siapkan kamar buat Pak Karno sama Bu Nanik," kata Erika.


"Saya yang mau bawa ibu sama bapak ke Surabaya dulu. Mereka belum pernah menjenguk saya. Jadi agak saya paksa, Tante. Maaf, ya..." Ujar Dewi.


"Ya, sudahlah. Tapi nanti selesai harus mampir ke rumah ya, loo..." tandas Erika. Wajahnya nampak memohon.


"Iya, nanti kami mampir," kata Bu Nanik dengan senyum khasnya.


Azka mendekat dan menyalami Pak Karno dan Bu Nanik. Azka masih ingat Pak Karno, yang menyembunyikan Elvan waktu itu. Dia berhadapan langsung dengannya di depan rumahnya, dan melihat foto Elvan di tangannya. Tapi dengan jelas dia berkata tidak tahu soal Elvan.


Pak Karno juga melihat ke arah Azka. Dia tidak begitu ingat, yang jelas dia yakin pria gagah ini masih keluarga Elvan.


"Selamat bertemu lagi, Pak. Saya Azka, kakak Elvan," ucap Azka. Dia mengulurkan tangan menyalami Pak Karno.


Pak Karno memandang Azka. Mendengar kata-kata Azka, Pak Karno langsung ingat hari itu, hari di mana Azka mencari adiknya ke rumahnya.


"Ehh... saya... minta maaf untuk hari itu..." Pak Karno menatap mata Azka lurus.


"Ya, Pak. Saya tahu." Azka menyahut. "Terus terang saya sangat marah ketika tahu kenyataannya. Elvan yang meyakinkan saya Bapak tidak berniat buruk padanya. Dan saya percaya apa yang Elvan katakan pasti benar."


"Terima kasih. Terima kasih sekali bahwa saya masih mendapat maaf untuk yang sudah saya lakukan." Pak Karno mengangguk tanda terima kasih.


"Ini istri saya, Pak. Adista. Dan putri saya Ilona. Yang kecil masih bayi, putra saya Irvan." Azka memperkenalkan istri dan anaknya.


Adista tersenyum ramah. "Pak, selamat berjumpa."


"Ya, trimaksih," kata Pak Karno sambil tersenyum, kikuk.

__ADS_1


"Anaknya cantik dan ganteng, seperti ayah ibunya." Bu Nanik mengusap kepala Ilona. Gadis kecil itu berdiri di sebelah ibunya. Lalu Bu Nanik mencium kening Irvan yang ada di gendongan Adista.


Azka dan Adista juga menyalami Bu Nanik. Kemudian mereka mengambil tempat duduk yang disediakan untuk keluarga. Azka memangku putrinya. Adista duduk di sebelahnya. Tirta dan Erika mengajak Pak Karno dan Bu Nanik duduk di sebelah mereka.


Sementara keluarga Adinata juga nampak datang. Melati langsung dibawa ke ruang tunggu, bukan ke gedung utama. Lily yang menemani Melati di sana. Dia akan menunggu sampai Elvan datang baru mereka akan masuk ke gedung bersama. Gilang dan Sekar serta adik-adiknya menempati tempat duduk mereka.


Di antara keluarga yang datang, nampak Alfaro dan Ranita hadir. Senyum mereka cerah. Terlihat mereka bahagia. Ranita tak sabar melihat Melati dan Elvan akhirnya meresmikan hubungan mereka.


Lidya, Harun, pengurus yayasan, pelatih anak-anak dan semua anak-anak binaan mereka sudah datang juga. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, acara akan dimulai.


Pendeta yang akan menikahkan Elvan dan Melati juga sudah siap. Dia sedang berbicara dengan pemimpin ibadah memastikan semua sudah ok.


Tiba-tiba HP Azka berbunyi. Dia mengangkatnya karena dia lihat dari Hasan.


"Halo, ya... kenapa, Hasan?" tanya Azka.


"Kak, maaf, kami belum bisa datang... ini... kecelakaan... jadi... harus ke rumah sakit... nanti aku telpon lagi..." Terdengar suara Hasan panik.


"Apa? Kecelakaan? Hasan? Di mana?" ujar Azka kaget. Hasan sudah menutup telpon.


Mendengar suara Azka, orang-orang di sekelilingnya menoleh.


Tirta terlonjak dan mendekati Azka. "Siapa kecelakaan?" tanya Tirta bingung campur panik.


"Maksud kamu Elvan kecelakaan?" tegas Tirta.


"Sepertinya begitu..." kata Azka pelan.


"Tidak. Tidak mungkin." Erika langsung berdiri.


Gilang, Sekar, Ranita, Alfaro, Pak Karno, Bu Nanik dan semua yang ada di ruang itu saling berpandangan.


Apa lagi ini? Elvan kecelakaan tepat pada hari pernikahannya?


"Telpon Elvan. Pastikan apa yang terjadi!?" kata Tirta. Dia memegang dadanya. Azka memeluk papanya yang mulai limbung dan mengajaknya duduk. Erika bergegas menghampiri Tirta dan duduk di sebelahnya.


Seluruh yang hadir ikut panik. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Suara bisik-bisik datang dari beberapa orang. Gilang melangkah ke arah Tirta dan Erika.


"Mas, tetap tenang. Kita tunggu kabar dari Elvan dan Hasan." Gilang mencoba menenangkan Tirta yang sebenarnya juga berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Sekarang juga menyusul dan duduk di sebelah Erika. Rasanya tak percaya yang barusan dia dengar.


"Kita berdoa Elvan dan Hasan baik-baik saja," kata Sekar. Erika mengangguk, sementara jantungnya berdebar tidak karuan.

__ADS_1


"Azka, gimana? Elvan jawab telponmu?" tanya Gilang.


"Tidak diangkat, Om. Saya coba telepon Hasan balik juga sama saja," ujar Azka. Wajahnya kelihatan sangat panik.


Pendeta Santosa pun menghampiri kedua orang tua Melati dan Elvan. Dia memastikan situasi dan bagaimana selanjutnya.


"Kita tetap tunggu saja. Dan terus berusaha melakukan komunikasi. Yakinlah, Tuhan beserta Elvan dan Hasan," kata Pendeta Santosa.


"Iya, kami juga hanya bisa berdoa," ujar Tirta lirih.


"Bu, Kak Elvan belum datang? Kak Melati telpon ke Kak Elvan beberapa kali ga diangkat-angkat." Lily masuk ruang itu dan mendekati ibunya.


"Iya, Nak. Belum," kata Sekar sambil melihat Lily. Lily agak heran dengan tatapan ibunya. Ada kecemasan di sana. Dia lihat ke wajah lain di sekitarnya. Semua nampak tegang tidak ada yang tersenyum.


"Bu, ada apa ini?" tanya Lily.


"Kita temui kakak kamu," kata Sekar. Dia berdiri dan berjalan keluar ruangan besar itu dan menuju ruang di sebelah yang lebih kecil. Lily cepat-cepat mengikuti langkah ibunya.


Di ruang itu Melati duduk sendirian. Begitu ibunya masuk dia memandang dengan wajah penuh tanya.


"Ibu..." kata Melati.


Sekar duduk di sebelah putrinya itu. Dia meraih kedua tangan putrinya. Tangan Sekar dingin dan sedikit gemetar. Dia menatap Melati.


"Ibu, ada apa?" tanya Melati bingung.


"Kami dapat kabar kurang baik. Hasan tadi telpon ke Azka, dia bilang... kecelakaan... dan sedang ke rumah sakit..."


"Mas Elvan, Bu? Bagaimana sekarang? Di rumah sakit mana? Bu..." Melati langsung berdiri dengan sangat cemas. Seketika jantung berdebaran dan tubuhnya terasa lemas.


"Mel..." Sekar menarik Melati untuk duduk lagi. "Kami terus hubungi, tapi tidak ada balasan baik Elvan maupun Hasan. Jadi tidak tahu juga mereka ada di rumah sakit mana," kata Sekar.


Melati melepaskan tangan ibunya dan berlari ke gedung utama. Begitu dia masuk, semua yang di ruangan itu menoleh ke arahnya. Melati mendekati Gilang dan Tirta. Mempelai yang cantik yang seharusnya tersenyum bahagia itu nampak panik. Wajahnya sedikit pucat.


"Ayah... Om Tirta..." katanya dengan suara lirih hampir menangis.


"Sayang..." Gilang memeluk putrinya dan mengajaknya duduk. "Tenang... kita sedang berusaha mencari tahu Elvan dan Hasan ada di mana," kata Gilang.


Azka, Damar, Farel, dan Alfaro dari tadi sibuk menelpon ke banyak rumah sakit. Mereka mencari pasien korban kecelakaan atas nama Hasan dan Elvan.


"Bagaimana, Pak? ... Iya, kecelakaan... kira-kira satu jam lalu," kata Farel. "Ada?! Parah?!"


Semua menoleh pada Farel yang berteriak panik.

__ADS_1


__ADS_2