
Di apartemen Melati menunggu dengan cemas. Tadi Alfaro kirim chat padanya kalau Ranita ada di dalam club dengan Teddy dan teman-temannya. Dia bilang berdoa saja sepertinya akan terjadi sesuatu. Tentu saja chat itu membuat Melati makin tidak tenang. Dan sampai sekarang sudah hampir jam 11 malam Alfaro belum kasih kabar lagi.
"Tuhan, lindungi Ranita. Tolong Alfaro. Kumohon..." doa Melati.
Dia memberanikan kirim chat pada Alfaro. Tapi tidak dibalas, dibaca saja tidak. Aduh, apa terjadi sesuatu? Apakah mereka dalam bahaya? Melati benar-benar tidak bisa tenang.
Hampir setiap menit Melati menengok jam di dinding. Sebentar-sebentar dia pindah posisi. Semua seperti tidak nyaman rasanya.
Melati ingat kejadian saat Ranita marah padanya malam itu. Dia bahkan tidak mau Melati ada di apartemennya. Ingat itu Melati sangat sedih. Tapi dia tidak bisa membiarkan Ranita bertindak bodoh.
Perkataan ayah terbukti. Ayah berpesan, apapun yang terjadi Melati harus tetap di sisi Ranita. Tidak apa dibenci, asalkan mau membawanya tetap di jalur yang benar. Itu jadi kenyataan sekarang. Ranita marah dan membencinya. Karena memang sejak malam dia marah, mereka jarang bicara. Ranita makin menghindarinya.
Alfaro sudah memarkir mobilnya di parkiran apartemen. Dia menengok ke arah Ranita. Gadis itu masih terdiam.
"Ran, ayo..." kata Alfaro.
"Aku takut, Al. Melati pasti membenciku. Aku melakukan hal yang bodoh. Iya, aku memang bodoh," kata Ranita.
"Kamu lebih kenal Melati dari aku," ujar Alfaro.
Ranita menangis. "Melati selalu mengingatkan aku agar hati-hati. Aku justru marah padanya. Aku merasa dia terlalu ikut campur urusanku. Kenapa aku bisa begitu buta?" Ranita terisak.
Alfaro menggenggam tangan Ranita. Bahu gadis itu berguncang menahan agar tangisnya jangan keluar keras. Alfaro menarik kepala Ranita ke dadanya. Membiarkan gadis itu menangis sampai puas.
"Sudahlah... Kamu sudah di rumah sekarang. Aku temani kamu," kata Alfaro. Ranita diam saja. Tapi tangisannya mulai reda.
Lagi dia mengernyitkan dahinya, menahan pusing yang mendera lagi.
"Ayo, kamu harus cepat istirahat." Alfaro melepaskan pelukannya pada Ranita. Dia turun dari mobil. Ranita ikut turun, tapi tubuhnya oleng waktu dia mulai berjalan. Alfaro memapahnya.
Mereka sampai di depan apartemen. Tubuh Ranita makin limbung. Alfaro memeluknya menjaganya agar jangan jatuh. Alfaro mengetuk pintu.
Dari dalam pintu dibuka. Melati terkejut melihat pemandangan di depannya. Alfaro memegangi Ranita yang hampir pingsan. Segera Alfaro menggendong Ranita. Melati menunjukkan kamar Ranita dan Alfaro membaringkan Ranita di ranjang. Ranita sudah tidak sanggup membuka matanya. Kepalanya terasa berputar, pusing, dan sakit sekali.
"Apa yang terjadi?" tanya Melati.
"Buatkan dia jahe madu." Alfaro berkata, tidak menjawab pertanyaan Melati. Langsung Melati ke dapur membuat minuman untuk Ranita.
__ADS_1
Alfaro duduk di dekat Ranita dan memandang Ranita yang berbaring lemah. Melihat Ranita dia ingat adiknya, Atika. Sama Seperti Atika, Ranita gadis yang periang dan ceria. Selalu saja tertawa dan bercanda. Pelan Alfaro mengusap kepala Ranita.
Ada rasa ingin melindungi gadis ini di hatinya. Waktu melihat Teddy tadi hampir merenggut gadis itu, dia benar-benar marah.
"Al, terima kasih. Kalau kamu tidak ada, entahlah aku akan jadi seperti apa. Pasti sudah hancur hidupku," kata Ranita.
"Melati yang memintaku mengikutimu," ucap Alfaro. "Dia sangat kuatir terjadi sesuatu denganmu."
"Melati?" kata Ranita lirih.
"Ya. Selama hampir dua minggu aku mengikuti kamu. Melati meminta aku melakukannya di waktu yang tepat. Semisal terlambat beberapa hari, entahlah." Alfaro menarik nafas panjang.
"Aku memang bodoh." Lagi-lagi Ranita mengutuki dirinya. Dia benar-benar menyesal tidak mendengar peringatan sahabatnya itu.
"Sudahlah. Semua sudah selesai." Alfaro menenangkan Ranita.
"Kalau dia mengejarku?" ujar Ranita. Maksud Ranita jika Teddy akan mencarinya lagi.
"Aku akan melindungimu," sahut Alfaro.
"Sungguh? Kamu janji?" tanya Ranita sambil memandang Alfaro. Dia memegang tangan Alfaro.
Di depan pintu kamar, Melati melihat semuanya. Semua perkataan Alfaro dan Ranita. Ada rasa lega mengalir di dadanya. Alfaro ternyata dapat diandalkan.
"Al..." Melati memanggil. Alfaro menoleh. Melati mendekat dengan segelas jahe madu hangat.
"Minum dulu, Ran." Alfaro menerima gelas itu dan membantu Ranita minum. "Sekarang istirahatlah. Pusing di kepalamu akan hilang besok."
Ranita diam saja. Dia belum berani menghadapi Melati. Dia tidak tahu harus bicara apa.
"Aku pulang." Alfaro bangun dan keluar kamar. Melati mengikuti cowok itu.
"Al, aku sungguh-sungguh berterimakasih. Kamu menepati janjimu. Sebagai teman, kamu menjaga kami," kata Melati.
"Terima kasih kamu mau percaya padaku." Alfaro tersenyum.
Alfaro meninggalkan apartemen. Melati mengunci pintu dan kembali ke kamar Ranita. Gadis itu berusaha bangun.
__ADS_1
"Mau apa, Ran?" tanya Melati.
"Ke kamar mandi," jawab Ranita. Melati membantu Ranita. Dia mengambil baju ganti Ranita. Dia bantu temannya itu membersihkan badan. Setelah itu dia bantu Ranita kembali berbaring di ranjangnya.
"Mel..." Ranita memanggilnya. Melati memandang Ranita. "Maafkan aku."
Melati memeluk Ranita dan mencium kening sahabatnya itu.
"Temani aku, ya..." kata Ranita. Melati mengangguk.
Malam itu mereka tidur sekamar. Beberapa kali Ranita terbangun kaget karena mimpi buruk. Kejadian semalam masih begitu lekat dan masih membuatnya merasa takut. Setiap Ranita terbangun dia menangis dan Melati memeluknya erat menenangkannya.
Sampai beberapa hari kemudian Melati masih tidur menemani Ranita. Untuk ke kampus, Alfaro bersedia antar jemput. Kadang Melati juga ikut jika bisa barengan.
Dengan seringnya bersama Ranita dan Alfaro makin akrab. Melati justru senang. Bukan tidak mungkin jika mereka bisa menjalin hubungan yang lebih. Karena kejadian malam itu membuat Ranita sangat aman dengan Alfaro. Dan sikap melindungi Alfaro begitu kuat pada keduanya, baik Ranita maupun Melati.
"Aku senang Ranita sudah baik-baik sekarang," kata Melati. Saat itu Melati dan Alfaro ada di perpustakaan. Mereka menunggu Ranita selesai urusan kuliahnya.
"Ya, baguslah," kata Alfaro.
"Kalian makin dekat, ya..." Melati merapikan buku di rak. Alfaro membantunya.
"Maksud kamu dekat bagaimana?" Alfaro bertanya, melirik Melati dan meneruskan menata buku.
"Kamu pasti tahu maksudku," kata Melati.
"Apa kami saling jatuh cinta?" tanya Alfaro lagi. "Mel, kamu ini. Aku sukanya sama kamu, kamu malah tanya begini." Alfaro menggaruk kepalanya.
"Aku sudah ga jomblo, Al." Senyum Melati lebar. "Ranita itu rapuh. Dia perlu pria kuat seperti kamu. Tapi lembut dan melindungi."
"Hmm... sayang, karakteristik itu tidak memenuhi syaratmu," ujar Alfaro.
Melati tersenyum tipis. Alfaro mengikuti Melati ke rak berikutnya. "Aku juga tidak tahu. Sejak kejadian itu aku ingat Atika. Ranita mirip adikku itu. Rasanya aku ingin menjaganya selalu."
"Bisa jadi itu awal yang baik, Al," kata Melati.
"Entahlah." Alfaro menatap Melati.
__ADS_1
Dalam hati kekagumannya terhadap Melati belum berkurang. Bagaimana bisa dia mudah melupakan perasaannya mengetahui gadis berhati mulia begini? Siapa yang tidak akan berharap dia bisa memilikinya? Tapi, Alfaro juga tidak ingin menyakiti hatinya. Jika dia paksa mengejarnya yang ada hanya akan merusak hubungan mereka. Susah payah dia berhasil membuat Melati mau berteman baik dan bisa dekat sekarang.