
Hari yang dinanti tiba. Hari puncak dari perjuangkan sebagai mahasiswa. Melati akan wisuda. Ranita dan Alfaro juga. Kebahagiaan terpancar di wajah Melati. Ayah, ibu dan ketiga adiknya juga sangat gembira. Mereka berangkat bersama ke Depok untuk menghadiri acara istimewa itu.
Elvan pun datang. Farel minta ikut. Anak itu sekarang sangat akrab dengan Damar dan Lily. Kalau ada waktu pasti mereka akan main sama-sama. Kadang di rumah keluarga Edgar, kadang di keluarga Adinata, atau mereka yang out bareng.
Dari jam 6 pagi Melati dan Ranita sudah mempersiapkan diri. Acara akan mulai jam 9 pagi. Ibu dan Lily membantu mereka berdandan. Pakai kebaya dan disanggul kecil. Make up simple saja tapi membuat mereka kelihatan anggun dan cantik.
"Cantik sekali putri-putri ini. Gimana coba pangeran-pangeran tampan tidak bertekuk lutut?" Sekar menggoda Melati dan Ranita.
"Tante bisa saja, deh... ini juga Tante yang dandani kan?" kata Ranita sambil tertawa.
"Nanti pangeran Kak Mela dan Kak Rani pasti terpana melihatnya... beda banget..." Lily bertepuk tangan girang melihat kedua gadis cantik di depannya.
Melati dan Ranita terkekeh.
"Sayang pangeranku ga ikut..." Lily manyun.
"Pangeran kodok?" timpal Ranita.
"Lhaa... ga percaya... kasih tau, Kak Mela, biar begini aku pacarnya ketua BEM kampus," sahut Lily. Dia memang baru jadian belum. sebulan dengan Ketua BEM kampusnya. Namanya Terrence Sanders.
"Iya, deh... Lily uda dewasa, kan? Boleh boleh..." Ranita tertawa.
Sepuluh menit kemudian mereka berangkat menuju lokasi acara. Acara berjalan lancar. Semua yang hadir ikut merasakan kegembiraan para wisudawan setelah menguras pikiran dan tenaga menyelesaikan semua tuntutan akademik hingga dapat dinyatakan lulus. Keluarga Adinata duduk bersama Elvan dan Farel.
Tak jauh dari mereka hanya beda dia lajur tempat duduk nampak orang tua Ranita di sana. Arnita juga datang dengan suami dan anaknya. Menurut Ranita sekarang Kak Arni sudah balik di Malang. Suaminya membantu papanya di perusahaan. Sedang Arnita mulai lagi kuliahnya.
Selesai acara ucapan selamat datang dari teman-teman dan keluarga. Apalagi Melati sekalipun bukan jadi mahasiswa terbaik, tapi prestasinya membawa harum nama kampus baik di seluruh kampus maupun di mata media karena peristiwa magang dulu. Dan sempat disebut namanya saat ada ucapan selamat dan terima kasih dari pimpinan kampus. Juga selama kuliah Melati memiliki nilai akademik Cumlaude dan berpartisipasi di berbagai kegiatan kampus. Tentu saja keluarga bangga dengan pencapaian Melati.
"Kakakku gitu lo... hebat, kan..." kata Jati sambil memeluk Melati. Melati tersenyum lebar. Dia elus rambut Jati dengan sayang.
"Sekali lagi selamat, ya.. Siap meraih impian sekarang," kata Gilang.
Mereka makan bersama setelah acara di sebuah resto di sekitar kampus.
"Jadi kamu sudah putuskan akan bekerja di mana, Mel?" tanya Sekar.
"Ada beberapa tawaran kerja di Jakarta, Bu. Tapi kontraknya sampai dua atau tiga tahun," kata Melati.
"Kerja sama Ayah saja, Mel. Usaha Ayah berkembang sekarang. Ayah senang sekali kalau kamu bisa bantu." Gilang memandang Melati.
"Iya, Kak... Ayah kan kerja di Malang, kenapa Kakak malah yang jauh? Kasihan Kak Elvan, ditinggal terus..." Lily nyahut.
__ADS_1
"Haa... haa... Lily... langsung jleb tuhh..." Farel ngakak mendengar ucapan Lily.
Elvan dan Melati saling memandang.
"Betul itu.. Kalian lama loo, LDR... uda waktunya bersama biar bisa menata ke depan berdua gimana," kata Sekar.
"Iya, Bu..." ucap Melati pelan.
Puas menikmati makan bersama, mereka balik ke tempat menginap masing-masing. Sore hari Elvan mengajak Melati jalan ke Monas. Dia ingin bicara berdua dengan Melati.
"Mel, kamu masih mikir mau pulang atau tidak?" kata Elvan.
"Kamu tahu cita-citaku, El." Melati memandang Elvan. "Dan aku tahu dengan ada di Jakarta semua akan mudah diraih. Tapi juga lelah berjauhan dengan kamu. Maunya tiap hari dekat, ketemu."
"Aku punya planning untuk kita," kata Elvan. "Tapi harus disiapkan baik-baik. Ini ada hubungannya dengan musik untukku dan kerinduan kamu jadi penyanyi."
"Benarkah?" Melati menatap Elvan. Rasa penuh tanya dan penasaran muncul di sana.
"Hmm..." Elvan mengangguk. "Aku masih memikirkannya. Dan aku mau kamu ikut memikirkannya juga."
"Aku tidak mengira. Karena kamu bilang akan fokus dengan usaha Om Tirta, jadi kamu tidak mau urus musik lagi," ujar Melati.
"Setelah aku gabung di band yang lalu justru muncul keinginan lebih kuat untuk bermusik. Tapi aku akan tetap urus pekerjaan di kantor," kata Elvan.
"Kurang..." Elvan menatap mata Melati yang berbinar.
"Kurang? Apanya?" Melati bingung dengan kata-kata Elvan.
"Udah pegang tangan, ciumnya mana?" Elvan tersenyum.
"Iihhh..." Melati mau melepaskan pegangannya, Elvan justru menariknya mendekat ke dadanya.
"Tanggung jawab. Sudah menggoda mau kabur." Elvan mencium pipi Melati. Membuat gadis manis itu kaget dan tersipu malu.
"El, dilihat orang." Dia mendorong Elvan. Elvan tertawa, senang sekali lihat muka merona itu.
"Cuma, aku uda janji sama tim di Sunny TV aku mau tampil lagi di acara infotainment itu," kata Melati, melanjutkan pembicaraan soal cita-cita menyanyinya.
"Janji gimana? Mau kontrak sama mereka?" ujar Elvan.
"Mereka maunya begitu. Tapi aku belum mengiyakan. Hanya aku perlu bertemu koordinator di sana untuk memberi kepastian," jawab Melati.
__ADS_1
"Sekarang, kamu mau jawab apa sama mereka?" tanya Elvan lagi. Nada suaranya sedikit sinis.
"Aku bilang saja aku sudah ada yang kontrak." Melati jawab dengan cepat.
"Kok bisa?" Elvan mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Cowok keren dan ganteng ini yang sudah kontrak aku. Dan aku ga bisa nolak," bisik Melati
"Heeiii.... pintar merayu sekarang... menggoda lagi... tanggung jawab..." ujar Elvan sambil mendekatkan wajahnya ke depan Melati.
Melati langung mundur beberapa langkah sambil menutup wajahnya. Elvan tertawa melihat tingkah pacarnya itu.
"Oke. Aku temani ya ke Sunny TV. Kapan mau ke sana?" tanya Elvan lagi.
"Dua hari lagi," jawab Melati. "Bukan kamu dan Farel akan pulang besok?"
"Aku minta Farel pulang bareng Om Gilang dan Tante Sekar ga apa, kan?" kata Elvan sembari merapikan rambutnya.
"Pasti Ayah dan Ibu mau. Nanti tinggal bilang saja," ucap Melati. Dia menatap puncak Monas yang cantik dengan lampu hias memunculkan warna warni indah.
"Oke. Setelah itu kita pulang, ya..." sahut Elvan.
"Iya. Kamu harus kuliah juga, kan? Ntar tinggal kelas, ga kelar-kelar, jadi mahasiswa abadi," gurau Melati.
"Kamu yang kasihan kalau aku ga cepat lulus," tukas Elvan sambil nyengir.
"Mana ada? Aku uda lulus duluan," balas Melati.
"Ga nikah-nikah. Nungguin aku. Hee...hee..." Elvan tertawa.
"Ahh... kan gangguin lagi..." Melati cemberut.
"Duh, sayangku ini gampang ngambek banget, sih..." Elvan tergelak.
"Terus... usilin terus..." Melati memukul lengan Elvan.
"Aduh... aduh... malah mukul. Awas, yaa..." Elvan menangkap tangan Melati.
Malam semakin larut. Keduanya pun meninggalkan monumen bersejarah yang jadi ikon ibukota dan juga Indonesia itu.
Di jalan, sementara Elvan menyetir mobil, Melati sesekali meliriknya. "Aku tahu aku harus mengejar impianku dan menggapainya. Tapi hidupku sekarang bukan hanya untukku. Ada kamu yang menjadi bagian terpenting buatku. Jika aku meraih impianku tapi kamu tidak di sana, tidak ada artinya, El. Karena sebenarnya impianku dan kamu itu sejalan. Kita raih bersama, kita pasti bisa," batin Melati.
__ADS_1
Jalanan cukup lengang, meski lampu kota masih terang menandai ibukota memang tak pernah redup.