
You have promised me... That this love will never end...
I have promised you... whatever, my heart will be only for you...
*
Rumah itu lebih ceria sejak ada Elvan di sana. Dia sudah benar-benar sehat secara fisik. Pak Karno masih tak percaya, anak muda itu kulitnya bisa kembali bersih dan seperti tidak ada luka bekas dia jatuh waktu itu.
Sudah lebih enam bulan dia di rumahnya. Elvan nampak senang hidup ala kadarnya di rumahnya ini. Dia tidak pernah mengeluh membantunya dan Bu Nanik mengurus pekarangan yang luas. Juga tidak enggan bersentuhan dengan ternak di belakang rumah. Sapi, kambing, dan ayam. Anak itu justru kelihatan gembira melakukannya.
"Sudah selesai, Gus. Ayo, bersihkan badanmu. Setelah itu kita makan," kata Pak Karno. Mereka baru saja memberi makan ternak.
"Baik, Pak." Elvan meletakkan setumpuk rumput di tangannya kembali ke penyimpanan. Lalu dia pergi mandi dan berganti baju.
Sedang Bu Nanik setia melayani Pak Karno dan Elvan. Makanan tidak pernah telat. Semua diambil dari hasil pekarangan. Pak Karno juga punya sawah jauh dari rumah. Ada orang yang mengerjakan sawahnya. Makanya dia jarang pergi ke sawah. Bagaimanapun Bu Nanik senang karena ada Elvan. Betul apa kata suaminya, anaknya seperti ditemukan lagi. Jaka dulu juga rajin seperti Elvan. Kadang tetap hatinya merasa bersalah karena dia tahu Elvan pasti dicari keluarganya. Hanya saja suaminya ini menyembunyikan anak itu.
Belum pernah Pak Karno mengijinkan Elvan keluar dari pekarangan. Dia hanya tinggal di rumah saja. Kalau dia minta ijin pergi keluar, Pak Karno selalu bilang nanti kamu tersesat. Semua kebutuhan di rumah sudah tercukupi tidak perlu ke mana-mana lagi. Sejauh ini Elvan menurut.
Sampai tiga bulan lalu, anak perempuan mereka pulang. Dewi, adik Jaka. Dia tinggal di Surabaya karena bekerja di sana. Dia jarang sekali pulang. Sejak sekolah di kota dia tidak suka lagi kehidupan desa. Dia memilih hidup dengan caranya. Pulang juga semaunya.
"Bu, siapa pemuda itu? Gantengnya, ya ampun..." Dewi waktu itu kaget melihat Elvan di rumah.
Bu Nanik menceritakan semua pada Dewi. Mata Dewi berbinar senang melihat Elvan. Dia langsung jatuh hati pada cowok itu. Akhirnya Dewi jadi rajin pulang. Setiap bulan dia datang, karena Elvan.
Dewi langsung mendekati Elvan. Dengan gayanya yang riang dan cukup agresif dia tidak malu-malu menyatakan rasa sukanya pada Elvan.
"Mas Bagus beneran ganteng, ya... Dewi suka sama Mas Bagus," katanya dengan tertawa lepas. Elvan hanya tersenyum.
"Mas Bagus suka makan apa? Nanti kalau aku pulang lagi dari kota aku bawakan, deh," kata Dewi lagi.
"Apa, ya? Memang di kota ada makanan apa? Di sini juga Ibu tiap hari masak makanan yang enak," ujar Elvan.
"Hmm, banyak laa... Mas Bagus belum pernah ke kota?" tanya Dewi.
"Sejak di sini aku belum pernah ke mana-mana. Bapak takut aku tersesat," jawab Elvan.
Dewi memandang Elvan. Aduh, matanya itu... Dewi tahu, itu alasan saja Pak Karno melarang Elvan keluar. Dia takut orang luar tahu Pak Karno menyembunyikan Elvan di sini.
__ADS_1
"Rambut Mas Bagus panjang ya, tapi keren." Dewi memperhatikan rambut Elvan yang sudah hampir sebahu. Sejak di rumah ini dia belum pernah cukur rambut. Elvan juga tidak berpikir soal rambutnya.
Elvan tersenyum. "Mas, Dewi kerja di salon. Jadi Dewi pintar potong rambut. Mau Dewi cukur rambutnya?" tanya Dewi.
"Iya deh, kalau kerja bantu Bapak sama Ibu rambutku suka ke depan-depan, agak mengganggu juga," jawab Elvan.
Dewi pun mengambil gunting dan sisir. Dia mulai beroperasi di kepala Elvan. Ya ampun, rambutnya halus, warnanya kecoklatan keren... Kok ada manusia seindah ini, ya... Deg degan juga jadinya si Dewi. Padahal dia sudah ratusan kali memotong rambut orang. Tapi dengan Elvan beda, kayak baru pertama cukur rambut orang.
"Dewi sudah lama di kota?" tanya Elvan sementara Dewi masih sibuk dengan rambutnya.
"Dari sejak SMK. Di kota Malang sih, awalnya. Lalu dapat kerjanya di salon lumayan gede di Surabaya. Salonnya ga cuma buat cukur rambut. Facial, make up, sampai rias pengantin," jelas Dewi.
"Hebat juga ya, Dewi," ujar Elvan.
Lalu Dewi bercerita suka dukanya di salon. Pelanggan yang cerewet, yang banyak maunya, yang seenaknya, minta macam-macam tapi maunya diskon, ada saja. Elvan sesekali tertawa mendengar Dewi cerita dengan panjang lebar.
"Yang paling malas tuh Mas, kalau dandan pengantin Jawa. Uda ribet, pakai sanggul, belum lagi melukis di dahi, dan mesti hati-hati pasang bunga melati, soalnya gampang banget rontok," lanjut Dewi.
"Tapi bunga melati itu wajib, Mas. Katanya kan melati harum mewangi bunga nan suci..."
"Sudah, Mas. Lihat ini... Aduh Gusti, rontok hatiku..." Dewi selesai juga mencukur rambut Elvan. Elvan memperhatikan dirinya di kaca. Ya, lebih bagus rambutnya pendek. Apa dulu dia selalu begini?
Sejak hari itu Elvan sering mengatakan kalimat tadi, melati harum mewangi bunga nan suci... di hatinya. Dan selalu muncul wajah gadis manis itu. Ada rasa rindu di sana. Seperti ingin bertemu dengannya.
Sedang Dewi terang-terangan bilang sama Pak Karno dia suka dengan Elvan. "Pak, aku suka sama Mas Bagus."
"Suka? Maksudmu cinta?' tanya Pak Karno. Dia sedang menikmati kopi buatan istrinya.
" Iya, Pak. Ganteng banget. Orangnya juga baik. Aku mau Pak, kawin sama Mas Bagus," kata Dewi.
"Jangan aneh-aneh," ujar Bapaknya.
"Eh, kok aneh-aneh. Aku kan sudah dewasa. Mas Bagus juga. Lha, salahnya di mana?" Dewi mulai mendesak.
Pak Karno memikirkan perkataan Dewi. Sebenarnya justru bagus juga kalau Dewi nikah sama Elvan. Cowok itu bisa jadi mantunya. Beneran jadi anaknya dan tidak akan bisa balik sama keluarganya. Tapi dia harus memastikan Dewi benar suka sama Elvan. Anak itu kadang plin plan. Sudah beberapa kali bilang pacaran, ada yang serius sama dia, eh, nyatanya bubar semua.
Sore itu, Elvan termenung di halaman rumah. Dia berdiri di dekat pagar dan melihat keluar. Sejauh yang dia bisa lihat dari sela-sela pagar bambu itu, hanya ada hutan dan padang luas di dekat rumah ini. Sepertinya rumah ini yang paling jauh dari perumahan lainnya. Dia sering berpikir bagaimana caranya dia bisa keluar dan melihat sisi lain tempat tinggalnya yang baru ini. Dan rasa rindu pada gadis sawo matang itu membuat dia makin berpikir untuk bisa pergi.
__ADS_1
"Kamu lihat apa, Gus?" Bu Nanik sudah ada di sebelahnya.
"Bu, aku sering mikir, apa aku punya keluarga di luar sana? Aku... sedikit ingat sesuatu, Bu..." kata Elvan sambil menoleh pada Bu Nanik.
"Ingat? Apa yang kamu ingat?" tanya Bu Nanik. Dia agak kaget juga Elvan mengatakan ini.
"Pernah aku bermimpi terguling dari atas ke bawah. Apa itu kejadian aku jatuh itu ya, Bu?" kata Elvan. "Dan akhir-akhir ini, selalu muncul di pikiranku wajah seorang gadis, aku panggil dia Mel.. Mel.. tapi... entahlah..." Elvan mengusap kepalanya dengan kedua tangannya.
Bu Nanik mengelus pundak Elvan. "Berdoa saja ya, biar Gusti Allah bantu kamu ingat semuanya. Sabar ya, Nak," kata Bu Nanik.
Bu Nanik semakin rasa iba pada Elvan. Dia tidak boleh membiarkan terus begini. Walaupun suaminya baik dan sayang Elvan, tapi ini salah. Dia menawan anak orang. Dia harus cari cara menolong Elvan. Sayangnya dia tidak pernah ke mana-mana juga. Kakinya bermasalah kalau dia pergi jauh-jauh. Dan kalau kelelahan dia rasa sesak nafas. Jadi karena itu bertahun-tahun Bu Nanik memilih di rumah saja.
Sementara Pak Karno akhirnya dia setuju menikahkan Dewi dengan Elvan. "Kalau kamu bisa memenuhi syarat Bapak, kamu boleh kawin sama Bagus," kata Pak Karno.
"Apa, Pak?" Wajah Dewi langsung berbinar.
"Kamu berhenti kerja di kota. Tinggal di sini sama Bapak." Pak Karno memberikan syaratnya yang membuat Dewi terperangah.
"Ya, kok gitu... aku kan kerja di kota? Aku sudah nyaman di sana, Pak," bantah Dewi. Dia tidak mengira itu syarat bapaknya.
"Pikir lagi. Kamu serius ndak, mau kawin sama Bagus?" tanya bapaknya lagi. "Kalau iya, lalu kamu tetap di kota, apa gunanya kawin? Lha, bapakmu sama ibumu sudah tambah tua. Siapa yang mau urus rumah, sawah, kalau semua pergi?" Pak Karno memberikan alasan. Masuk akal sebenarnya, tapi tetap saja Dewi tahu itu akal-akalan bapaknya.
Dewi duduk dengan kesal. Padahal kalau nanti jadi nikah lalu dia bawa Elvan ke Surabaya, dia bisa banggakan kegantengan cowok itu pada teman-temannya.
"Terserah kamu, Wi. Kalau keberatan ya, ga usah saja. Masih ada cowok lain yang pasti mau sama kamu. Orang kamu ya lumayan ayu, bisa cari duit," ujar Pak Karno. Lagi dia seruput kopinya.
Hmmm, kenapa tidak diiyakan saja? Nanti kalau sudah beneran nikah bapak sudah tidak bisa ikut campur urusannya sama Elvan, kan?
"Ya udah, Pak. Dewi mau," katanya mengalah.
"Kamu yakin? Jangan kamu main-main sama Bapak." Pak Karno masih belum yakin denhan anaknya itu. "Rela kamu ngurus sapi sama kambing, lalu repot sama tanam-tanaman di pekarangan itu?"
"Iya, Pak. Pasti bisalah... kan aku aja selama ini ga mau belajar," kata Dewi meyakinkan Bapaknya.
"Baik. Kalau begitu nanti Bapak bicara sama Bagus." Pak Karno menghabiskan sisa kopi di gelasnya.
Dewi tersenyum senang.
__ADS_1