
Baru saja Melati selesai mengerjakan laporan akhir bulan, ada telpon masuk di HP-nya. Dari Krista. Krista?
Melati cepat-cepat menerima panggilan itu.
"Halo, Mbak Krista. Apa kabar?" sapa Melati riang. Dia jarang komunikasi dengan Krista. Itu pun biasanya via sosmed.
"Sangat baik, Mel. Kamu apa kabar?" Krista balik tanya. Terdengar suara Krista renyah.
"Gitu, deh. Sibuk," ujar Melati sambil tersenyum lepas.
"Bikin single sama urus Rumah Garuda, yaa..." kata Krista.
"Iya, Mbak." Melati tersenyum.
"Kamu hebat, Mel. Calon suami kamu memang tahu harus bagaimana mewujudkan mimpi kalian." Krista memuji tulus.
"Iya, Mbak. Elvan memang punya visi besar. Dan dia bekerja keras untuk itu," kata Melati.
"Mel, Sunny TV tertarik dengan apa yang kamu dan Elvan kerjakan. Kami mau mengundang Rumah Garuda untuk jadi tamu di Sandy Talk Show." Krista menjelaskan tujuannya menelpon Melati.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Melati. Dia ingin memastikan dia tidak salah dengar.
"Mel, Rumah Garuda ini sesuatu yang hebat lo. Ga banyak anak muda punya pikiran dan hati seperti kamu dan Elvan. Kamu mungkin ga perhatikan kalau sudah makin meluas dampaknya. Makanya Sunny TV mau perkenalkan Rumah Garuda ke seluruh masyarakat, agar jadi inspirasi buat lebih banyak orang," jelas Krista.
"Ini serius, Mbak?" tanya Melati setengah tidak percaya.
"Menurut kamu, aku akan bercanda untuk hal seperti ini, Mel?" tanya Krista balik.
"Maaf, Mbak. Bukan itu maksudku. Hanya rasanya ga percaya saja, Mbak. Diundang di acara Sandy Talk Show. Mimpi saja nggak, Mbak," kata Melati.
"Haa..." Krista tertawa. Krista melanjutkan, "Kamu ingat yang aku pernah bilang, kamu akan punya kesempatan untuk menunjukkan siapa dirimu?"
"Iya, ingat. Itu malam Mbak minta saya gantikan Sisilia," ujar Melati.
"Ternyata malam itu, jadi malam pertama kamu tunjukkan kualitas dirimu. Dan sekarang terbuka satu kesempatan lagi, bukan hanya kamu. Kamu bawa banyak anak yang lain juga. Kamu lebih dari yang aku pikir, Mel."
"Jujur, ga kepikir, Mbak."
"Baiklah, kamu bicarakan dulu dengan Elvan. Nanti kabari kami dan akan kami atur waktunya untuk kalian datang ke Jakarta," tutup Krista.
"Siap, Mbak. Segera aku kabari lagi. Terima kasih banyak untuk kesempatan ini," ucap Melati. Telpon selesai.
Melati melonjak girang. Ga percaya rasanya. Ke Jakarta dengan Elvan dan anak-anak. Ya ampun... mimpi apa semalam bisa dapat kabar ini?!!
__ADS_1
Segera Melati menghubungi Elvan.
"Halo, Mel. Ada yang penting?" Suara Elvan.
"Maaf, Mas lagi sibuk ka?" Melati bertanya.
"Sebentar mau ketemu orang. Uda janjian," jawab Elvan.
"Mbak Krista telpon."
"Mbak Krista?"
"Sunny TV."
"Sunny TV?"
"Rumah Garuda diundang jadi tamu di acara Sandy Talk Show."
"Mel... ga bercanda, kan?"
"Aku juga kayak ga percaya ini."
"Wooww... Oke. Deal, it is a good opportunity. Kita bisa pergi bulan depan."
"Oke. Aku kabari Mbak Krista, ya..."
Telpon selesai. Melati ganti kontak Krista dan sepakati waktu untuk anak-anak akan datang ke Sunny TV.
Sore sepulang kerja, Melati dan Elvan ke Rumah Garuda. Mereka sampaikan kabar ini. Anak-anak itu melonjak, berpelukan, nangis, dan macam-macam reaksinya.
"Cuma, aku ga bisa bawa semua, ya... aku akan pilih perwakilan dari masing-masing tim. Tiga dari tim musik, tiga dari tim vokal, dan lima dari tim dance. Untuk pelatih dua orang, aku, dan Kak Melati," jelas Elvan.
"Nah, untuk syukuran bersama.... Sabtu depan kita akan jalan-jalan ke pantai!" lanjut Elvan. Anak-anak itu pun bersorak girang. Semua gembira dengan berita itu.
Jumlah anak yang belajar di Rumah Garuda terus bertambah. Sekarang sudah hampir 50 anak yang ikut belajar. Tidak terkira bisa cepat juga perkembangannya.
Sabtunya mereka semua piknik ke pantai. Mereka begitu senang dan gembira. Bermain di air, buat istana pasir, berjemur, atau hanya sekedar duduk di pinggir pantai. Sepanjang hari mereka bermain sampai puas.
Waktu-waktu ke depan mungkin akan jarang bisa main bareng gini. Mumpung masih ada kesempatan, makanya Elvan mengajak mereka bersenang-senang.
*
Dan minggu berikutnya di sela persiapan pernikahan, Melati dan Elvan memenuhi undangan hadir di Sandy Talk Show. Sandy masih ingat Melati. Dia gembira bertemu Melati lagi.
__ADS_1
"Hai, Anak Magang... siapa sangka kamu jadi bintang tamu hari ini!" seru Sandy gembira. "Mana lelaki hebat yang membuatmu maki bersinar itu?"
"Halo... saya Elvan." Elvan menyapa dan menyalami Sandy.
"Wow... charming... kalian serasi sekali. Welcome, ya.. Mari kita atur sebentar buat acara nanti sore," kata Sandy.
Mereka pun mendapat arahan dari Krista bersama kru lainnya, seperti apa dan segmen apa saja di acara nanti. Mengatur dengan anak-anak juga. Apa yang mereka mau tampilkan dan sebagainya.
Anak-anak cukup tegang. Tapi kru TV yang bersikap santai membuat anak-anak lebih tenang. Ketika acara hampir mulai, Melati melihat Sisilia datang. Wajah Sisilia terlihat tidak ramah. Dan dia masih tetap jadi singer di acara ini.
"Hai, Mbak. Apa kabar?" sapa Melati. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Hai. Ya gitu deh. Maaf, aku hampir telat." Sisilia menjabat tangan Melati kilat dan cepat-cepat pergi menemui tim musik.
"Santai saja. Sisilia masih seperti dulu, ketus," ujar Krista yang melihat itu.
Melati menoleh pada Krista. "Kamu bersiap saja. Dua menit lagi mulai," lanjut Krista.
"Iya, Mbak." Melati mengangguk. Dia mendekati Elvan dan anak-anak, menunggu saat dia akan dipanggil ke panggung.
Malam itu, menjadi satu malam bersejarah untuk Rumah Garuda. Mereka memperkenalkan sebuah pusat pelatihan, sebuah wadah anak muda untuk berkarya dalam seni musik dan lagu. Tidak perduli layar belakangnya mereka disatukan dalam nyanyian, tarian, dan musik.
Studio begitu meriah malam ini. Karena anak-anak yang diundang bercerita tentang asal mereka. Bagaimana mereka bisa ada di Rumah Garuda. Kisah-kisah pedih mereka diungkap, tetapi dibalut bahagia karena sekarang punya keluarga baru di Yayasan Kasih Lidya dan Rumah Garuda. Lira bercerita, Anton bercerita, Bondan bercerita.
Banyak air mata menetes melihat perjuangan anak-anak itu bertahan di tengah sulitnya hidup yang mereka hadapi. Tidak terbayang anak sekecil itu harus berulang kali menelan pil pahit yang bukan menyembuhkannya, tetapi justru meracuni hidup mereka.
"Aku senang tinggal di asrama. Banyak saudara. Dan bisa belajar banyak hal juga. Dulu setiap hari aku nangis, takut, tapi sekarang tertawa terus. Hee..." kata Anton.
"Kalau Bondan, apa yang diinginkan sekarang?" tanya Sandy pada Bondan.
Bondan menoleh pada Melati. Melati mengusap kepalanya dengan sayang. Dia membisikkan sesuatu di telinga Bondan, katakan apa saja.
"Aku... pingin ketemu Ibu..." kata Bondan pelan. Melati terkejut, ternyata Bondan masih memikirkan ibunya yang lebih tiga tahun tidak pernah muncul. Elvan juga agak kaget dengan kata-kata Bondan.
"Aku dan Bapak baik-baik. Aku ga tau.. Ibu di mana..." katanya. Hati Melati meletup. Seorang anak bagaimanapun pasti menginginkan kasih sayang utuh ayah dan ibunya.
"Hmmm... baiklah... Bondan..." Sandy menatap hari pada anak 10 tahun itu. Rasanya dia ingin menangis mendengar Bondan bicara. "Ibu Bondan, di manapun kalau melihat Bondan, pulang ya, Bu... Bondan kangen sama Ibu..." Sandy melihat ke kamera. Hatinya sedikit pilu mendengar kerinduan anak lelaki kecil itu.
Penonton yang hadir pun terharu. Di antara mereka ada yang menitikkan air mata. Mereka sudah mendengar kisah masing-masing anak yang hadir. Itu hanya sebagian kisah. Masih banyak anak lainnya yang juga memiliki kisah hidup sendiri. Tapi kini anak-anak itu diyakinkan bahwa hari esok mereka tidak sepilu hari-hari yang mereka sudah lalui.
"Baiklah... sebagai penutup, kita akan dihibur oleh sepasang sejoli luar biasa ini. Elvan dan Melati, yang tidak lama lagi akan meresmikan hubungannya, ya... ke pernikahan.. Semoga semua lancar dan happy ever after..." Sandy berdiri. "Mari kita sambut Elvan dan Melati... Selalu di Hatiku..."
Melati dan Elvan berdiri. Diiringi musik yang syahdu yang dimainkan anak-anak, mereka menyanyikan single kedua Melati, lagu Elvan untuk Melati.
__ADS_1
Sementara menyanyi Elvan ingat dia pernah cemburu pada Rainer karena berduet dengan Melati di Sunny TV waktu itu. Sekarang dia yang berdiri di sisi Melati, bernyanyi dengan gadis kesayangannya itu, membawakan lagunya sendiri. Tak canggung Elvan memegang tangan Melati. Melati menyambutnya dengan senyum paling manis.
Dari jauh, Krista, Daniel, Harsa dan kru Sunny TV terlihat bangga dan puas. Mereka ikut bahagia melihat Melati yang dulu hanya anak magang, tapi sekarang bisa hadir sebagai tamu istimewa di acara ini.