Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 85 - Menemui Bondan


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Elvan mengurangi waktunya ikut melatih anak-anak. Melati yang lebih fokus dibantu Hasan. Elvan konsentrasi untuk skripsinya. Tak lama lagi dia harus sidang skripsi. Melati yang mendesak dia untuk fokus. Sebenarnya Elvan santai saja menghadapi urusan sidang skripsinya.


"Biar hasilnya maksimal. Bukan asal lulus. Please..." pinta Melati.


"Ya... ya, calon Nyonya Elvan." Elvan mengacak rambut Melati.


"Iihh... tangan kondisikan, ya..." Melati cemberut.


Elvan terkekeh.


"Anak-anak biar aku dan Hasan yang urus. Masih ada Bu Lidya dan Pak Hadi juga. Guru yang lain kan pasti bisa bantu, to..." kata Melati.


"Skripsiku ini tentang Rumah Garuda, justru harus sering ke sana." Elvan coba membela diri.


"Nggak. Interview dan data yang diperlukan sudah lengkap. Jadi penulisannya dimaksimalkan. Cek lagi, edit lagi. Biar bagus, ga muncul banyak pertanyaan waktu diuji," ujar Melati.


"Okee..." Elvan mengalah. Jadi Elvan pun memaksa diri fokus mengerjakan tugas skripsinya. Dia lebih sering di kampus.


Hari itu Melati seperti biasa datang ke Rumah Garuda. Berlatih bersama anak-anak. Bondan tidak datang lagi. Minggu ini dia hanya sekali datang. Ada apa ya? Melati putuskan seusai latihan dia akan cari Bondan.


Jam lima lewat, Melati sudah di jalan menuju rumah Bondan. Dia masih ingat gang rumah Bondan waktu diantarnya malam itu. Dengan mengendarai motor, Melati pergi ke sana.


Masuk gang kecil itu Melati bertanya rumah Bondan pada ibu-ibu yang duduk ngobrol di depan teras sebuah rumah. Mereka menunjukkan arah rumah Bondan. Bapaknya namanya Harun. Ternyata agak jauh juga masuknya. Masih belok beberapa kali. Di jalan tertentu Melati harus menuntut motor karena ada larangan menaiki motor, banyak anak kecil.


Rumahnya katanya tembok warna putih cat pintu dan jendela coklat gelap. Melati melihat ke sana sini, dan... ah... itu sepertinya.


"Mana hasil ngamen hari ini? Cuma segini? Mana cukup buat makan! Kamu niat nggak sih, kerja??!!" Seorang bapak sedang memarahi anak laki-laki yang berdiri di depannya.


Itu Bondan? Pelan Melati mendekati mereka. Dia memarkir motor di depan rumah itu.


"Besok kalau ga bisa dapat dua kali dari ini, jangan tidur di rumah. Ngerti?" Bapak itu menonjok kepala Bondan. Melati kaget melihatnya. Dia memberanikan diri menyapa.


"Selamat sore, Pak," sapa Melati.


Mendengar itu bapak yang kira-kira 40 tahun itu menoleh. Dengan wajah marah dia melihat Melati. Tatapannya sedikit berubah ada tanda tanya siapa wanita muda di depannya ini. Bondan juga menoleh pada Melati. Dia sangat terkejut melihat Melati datang ke rumahnya.


"Ada apa?" tanya bapak itu kasar. Nyali Melati agak menciut juga.

__ADS_1


"Saya mau ketemu Bondan," jawab Melati.


"Ada urusan apa sama anakku?" tanya bapak itu yang adalah ayahnya Bondan, Harun, makin heran. Bagaimana anaknya bisa kenal wanita cantik ini.


Bondan langsung menunduk. Dia melipat kedua tangannya berharap bapaknya tidak makin marah.


"Saya Melati. Saya mengajak Bondan berlatih musik beberapa waktu ini di Rumah Garuda. Dan karena Bondan tidak datang jadi saya mau jenguk dia," jawab Melati hati-hati.


"Latihan apa? Musik? Rumah apalagi? Memang dia tidak punya rumah?!" Amarah Harun mulai meninggi.


Melati ketir-ketir. Tapi dia harus berani menghadapi ini. Bondan makin ketakutan. Dia menahan agar tidak menangis.


"Saya dan teman-teman mengajari anak-anak untuk mengembangkan bakatnya supaya mereka..."


"Alaaahhh... hal-hal ga penting itu... buang waktu saja.. Lebih bagus dia cari duit.. Kami bukan orang kaya macam kamu yang ga mikir besok mau makan pakai duit dari mana... Jangan buat macam-macam sama anakku. Tahu??!!" Harun yang sedari tadi duduk sekarang berdiri dan mendekati Melati.


"Kalau aku lihat kamu dekat-dekat anakku lagi, awas kamu!!" Harun mengangkat tangannya, dengan telunjuk dia menekan dahi Melati.


Dag dig dug juga Melati menghadapi sikap kasar Harun. Tapi dia berusaha setenang mungkin.


"Mana uangnya? Aku ga bisa nunggu lagi untuk hal ga jelas kayak gini." Harun dengan kasar mengambil tas di pundak Bondan. Dia keluarkan semua yang di sana. Lalu dilemparnya tas ke dekat kaki Bondan dan pergi.


"Bondan..." Melati sedikit berjongkok menghadap Bondan. Dia pegang kedua pundak anak lelaki itu. Hatinya seperti teriris melihat apa yang Bondan alami.


"Aku... aku takut, Kak..." katanya pelan sambil terisak.


Melati meletakkan lutut di tanah, meraih baju Bondan dan dipeluknya anak itu. Bondan menangis sejadinya di dada Melati. Ya, Melati juga menitikkan air matanya. Seberat apa hidup yang kamu lalui selama ini, batin Melati.


"Bondan, kita ke dalam, ya..." ajak Melati. Mereka masuk dalam rumah. Rumah kecil dan berantakan. Jelas rumah ini tidak terurus. Mungkin sudah berhari-hari tidak disapu. Ada barang berserakan di sana sini.


"Mana ibu kamu?" tanya Melati.


Bondan menggeleng. Dia menangis lagi.


"Ibu tidak ada?" Melati duduk di kursi. Dia tarik tangan Bondan agar duduk di sebelahnya.


"Ibu pergi, Kak. Bapak sering pukuli Ibu.... Pernah sampai berdarah, sampai pingsan... Ibu ga berani... bawa aku. Takut... sama Bapak," kata Bondan pilu.

__ADS_1


"Ya Tuhan..." gumam Melati. Ingin dia menjerit mendengar ini. Betapa kejam ayahnya. Berarti Bondan juga dapat perlakuan yang sama.


"Sejak kapan Ibu pergi?" tanya Melati dengan suara agak bergetar.


"Aku kelas dua. Jadi sudah mau tiga tahun," ucap Bondan. Diusap matanya yang basah.


Melati sungguh terenyuh. Dia harus lakukan sesuatu. Bondan tidak mungkin dibiarkan seperti ini.


"Bondan, kamu ikut Kakak, yaa..." Melati memegang tangan Bondan.


"Aku takut, Kak. Bapak nanti akan marah sekali," kata Bondan.


"Tapi kamu janji akan datang latihan..." ujar Melati. "Kamu jangan berhenti belajar. Jiwa kamu ada di musik, Bondan. Kamu akan berhasil jika menekuninya."


"Aku tidak tahu, Kak..." ucap Bondan lirih.


"Kamu sudah makan?" tanya Melati. Dia sadar ini susah lewat jam 7 malam. Bondan menggeleng.


Melati pesan makanan online. Dia belikan ayam crispy dan susu buat Bondan. Tak lama pesanan datang.


"Ayo, kita makan," kata Melati. Dia rapikan meja lalu menaruh makanan di sana. Dengan lahap Bondan makan nasi dan ayam di depannya. Dia pasti jarang makan dengan layak, bahkan mungkin perutnya jarang terisi penuh.


Melati tersenyum campur sedih melihatnya. Rasa makanannya sendiri susah masuk di kerongkongannya.


Selesai mereka makan, Melati pamit. Bondan menutup pintu dan Melati berangkat pulang. Sepanjang jalan Melati memikirkan Bondan. Apa yang bisa dia lakukan untuk membawa anak itu dari rumahnya? Dia harus bicara dengan Harun. Tidak ada pilihan lain.


*


kita tak pernah bisa memilih hidup kita sendiri... kita hanya diberi waktu dan kesempatan untuk hidup... jadi lebih baik atau tidak adalah keputusan kita menjalani dengan hati, dengan kasih....


*


*


*


*

__ADS_1


*


❤ thank you sudah baca... kasih komen, like, vote yaa... 🙏☺❤❤


__ADS_2