
Di rumah keluarga Edgar semua kalang kabut. Pagi itu waktu makan pagi, Elvan tidak muncul. Bi Wanti melihat ke kamarnya. Ternyata kamarnya rapi, tapi kosong.
"Ndak ada, Bu, kamar Mas Elvan kosong," kata Bi Wanti.
"Di mana anak itu? Coba lihat di kamar main, Rel." Erika ganti menyuruh Farel. Dan Farel pun pergi ke ruang musik, tidak ada. Ke ruang serba guna, ke teras samping, belakang, sampai semua ruangan di masuki. Kosong! Jangan jangan, Elvan...
Farel cepat-cepat balik ke ruang makan. "Ma, di ruang mana pun Kak Elvan ga ada," kata Farel.
"Kamu yakin?" Erika meletakkan sendok di tangannya. Aduh, di mana Elvan?
"Lihat ke garasi, motornya ada atau tidak?" kata Erika.
"Ah, ya... garasi aku belum cek." Farel lari kecil ke garasi. Yup! Motor Elvan tidak ada di sana! Wajah Farel makin tegang. Perkiraannya benar, kakaknya itu pasti kabur.
"Motornya ga ada, Ma," ujar Farel setelah kembali ke ruang makan.
Tirta muncul. Dia baru selesai mandi dan nyusul untuk sarapan. "Apa? Kenapa mukamu pucat, Rel?" tanya Tirta. Lalu dia lihat istrinya juga kelihatan tegang dan bingung.
"Elvan..." ujarnya. Yang dia kuatirkan jantung Tirta.
"Kenapa lagi Elvan?" Tirta duduk di sebelah Erika.
"Dia pergi. Dia bawa motornya," jawab Erika.
"Apa??!!!" Secepat kilat Tirta berdiri dan berteriak. Dia mendekap dadanya.
Erika langsung bangun dari duduknya dan mendekati suaminya. "Mas, tenang... Tenang dulu, Mas... kita cari lagi. Mungkin dia pergi ke rumah temannya. Atau dia ke Azka..." Erika menenangkan Tirta.
Tirta menarik nafas panjang beberapa kali. Erika mengambilkannya minum. Setelah beberapa menit Tirta mulai sedikit tenang. Tapi tubuhnya masih agak gemetar. Dia tidak menyangka putra keduanya semakin saja membuat ulah.
__ADS_1
Erika mengambil HP dan mencoba telpon nomor Elvan. Beberapa kali. Masuk, tapi tidak diangkat. Mungkin sekali anak itu masih di atas motornya.
"Dia tidak angkat telponnya," kata Erika. Dia berpikir ke mana kira-kira anak itu.
"Aku telpon Azka, Mas." Erika pun mengambil HP lagi dan menelpon Azka. Sama saja. Azka sama terkejutnya dengan orang tuanya. Elvan sama sekali tidak menghubungi dia.
"Ma, apa ga mungkin Kak Elvan ke rumah Kak Melati?" tanya Farel.
"Entahlah. Coba kau telpon Lily atau Damar," jawab Erika. Perasaan wanita itu campur aduk. Apa yang terjadi dengan Elvan. Dulu anak itu penurut, besar pengertiannya. Berjiwa besar dan hatinya luas menerima apapun. Tapi sekarang dia berubah begitu jauh.
Farel menelpon Damar. Dan... "Ga ada, Ma. Kak Elvan ga pergi ke sana. Mereka malah jadi kaget karena aku telpon," kata Farel.
"Ya Tuhan... Di mana Elvan? Bawa dia balik, Tuhan. Bisa jadi masalah besar kalau nanti sore dia tidak ada," ujar Erika makin panik.
"Kita harus bagaimana, Mas?" Erika menoleh pada Tirta yang dari tadi diam, masih menenangkan hatinya.
"Coba terus hubungi HP Elvan. Pasti satu kali dia lihat HP. Dan tetap bersiap untuk nanti sore. Aku harap sebelum acara Elvan sudah kembali," kata Tirta. Terdengar suaranya sedih bercampur marah dan kecewa.
"Azka, kau tahu sesuatu tentang Elvan? Kalian sangat dekat selama ini. Mungkin ada yang dia katakan padamu. Supaya papa bisa mengerti mengapa dia memberontak seperti ini." Tirta memandang Azka yang sibuk dengan HP-nya.
Azka meletakkan HP di meja. Dia melihat ke arah papanya. Adista, Erika, dan Farel juga ada di situ. Sebaiknya dia katakan saja, perkiraan Elvan tentang rekayasa Fara yang langsung dianggap mengada-ada oleh Tirta sebelum sempat Elvan jelaskan.
Tirta, Erika, Adista, dan Farel mendengar dengan cermat apa yang Azka ceritakan. Mereka tidak mau menyela sampai benar tuntas Azka berbicara.
"Elvan sangat yakin dia tidak melakukan apapun. Tidak ada yang dia ingat sama sekali. Memang ga masuk akal menuduh Fara senekad itu menjebak Elvan. Tapi, aku masih yakin Elvan jujur," tutup Azka mengakhiri ceritanya.
"Karena itu dia memilih pergi. Karena dia tidak mau harus menanggung apa yang dia tidak lakukan," tambah Tirta.
Dia mendesah, mengetuk meja dengan jarinya beberapa kali. Di sisi lain, rasa kecewa dan marah di hatinya pelan mulai pudar. Mungkin Elvan memang tidak salah. Mungkin dia menuruti emosi dan langsung menilai anaknya itu sudah berubah begitu buruk.
__ADS_1
*
Sementara di rumah Melati.
Setelah Damar mendapat telpon dari Farel kalau Elvan kabur dari rumah, Melati jadi panik. Apa yang terjadi pada Elvan? Kenapa dia justru memilih pergi dan makin membuat kacau.
Dengan cemas Melati duduk di ruang tengah. Di sisinya ada Lily dan Ranita. Melati tidak bermaksud cerita pada Ranita tentang apa yang terjadi, terlalu sulit, tapi temannya itu pagi ini tiba-tiba muncul. Mau tak mau dia cerita juga pada Ranita. Sahabatnya itu baru berhenti menangis waktu Damar dapat telpon dari Farel.
"Mel, kamu pasti tahu kira-kira Elvan ke mana," kata Ranita.
Melati menggeleng. Sejak pagi di taman waktu itu Melati memilih tidak menghubungi Elvan. Dan Elvan juga tidak mengirim pesan apapun padanya. Dia tahu Elvan kecewa karena tidak mempercayainya. Melati ingat Elvan minta dia berdoa untuk keajaiban.
"Tuhan, apakah karena keajaiban tidak Kau hadirkan, Elvan memilih pergi? Jika aku minta sekarang berikan keajaiban-Mu, bolehkah?" batin Melati.
"Coba kamu telpon dia. Mungkin kalau kamu yang menghubungi dia mau balas," kata Ranita lagi.
Melati memang beberapa kali chat ke Azka tanya soal Elvan tapi masih sama, tidak ada kabar dari Elvan. Tapi Melati masih takut dan ragu menghubunginya.
"Kak, aku yakin Kak Elvan sengaja pergi karena dia tidak bersalah. Dia tidak ingin diposisikan sebagai tersangka padahal dia korban," ujar Lily.
"Ah, kayak cerita pembunuhan saja. Korban, tersangka." Damar muncul.
"Ehmm, ikut komen. Emang kamu ngerti?" Lily menimpali.
"Ngerti laa..." jawab Damar santai.
"Kalau ngerti, menurutmu apa yang Kak Elvan lakukan?" tanya Lily lagi.
"Dia mau berjuang sampai titik darah penghabisan, dia tidak berbuat hal bodoh itu," jawab Damar lagi. "Kak Mel, percaya Kak Elvan tuh sayang banget sama Kakak."
__ADS_1
Melati menoleh pada Damar. Tak dia sangka Damar yang selama ini nampak cuek bisa berpikir sejauh itu. Melati tersenyum tipis. Ada yang tersendat rasanya di tenggorokannya.
"Benarkah kamu masih berjuang, El? Memperjuangkan hatimu untukku? Sementara aku sudah pasrah dan mau melepas kamu. Meski hatiku sangat sakit. El... kamu di mana?" bisik hati Melati.