Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 34 - Maafkan Aku


__ADS_3

Dua hari setelah itu, Alfaro berhasil mengatur pertemuan Arthur dengan Melati. Dia meminta salah satu temannya yang ikut kegiatan Jurnalistik menemui Melati dengan alasan ada topik bagus yang dia minta Melati buat untuk majalah online kampus. Pertemuan itu selesai Melati menjaga perpustakaan, kira-kira jam 5 sore. Tempat yang dipilih adalah di salah satu kafe jauh dari kampus. Kafe itu juga lebih dekat ke apartemen.


Setelah berbicara beberapa lama dengan Lani, nama gadis itu, Lani permisi ke toilet. Dan tepat saat itulah Alfaro datang.


"Mel..." panggil Alfaro. Melati agak terkejut melihat Alfaro di situ.


"Hai..." kata Melati pelan. Dia mulai gelisah.


"Aku minta waktu sebentar. Ada yang penting." Alfaro duduk di seberang Melati. Melati tidak berkomentar. Dia hanya melihat Alfaro datar.


"Ada yang ingin minta maaf sama kamu," ujar Alfaro. Melati semakin tidak mengerti.


Arthur muncul. Melati sangat terkejut. Kontan dia berdiri, mundur beberapa langkah, merapatkan jaketnya, melipat tangan di dadanya melindungi diri.


"Mel, tenang. Ada aku di sini," kata Alfaro. Dia meyakinkan Melati tidak akan terjadi apa-apa.


"Kenapa dia datang?" Mata Melati melihat ke Alfaro dan Arthur bergantian. Wajahnya terlihat ketakutan, tatapannya penuh amarah dan benci.


"Aku mau minta maaf." Arthur mengumpulkan keberanian mengatakan itu. Dia berdiri di tempatnya tak bergerak. Dia takut Melati akan bereaksi lebih.


"Duduklah, Mel," ujar Alfaro. Melati dia, tak bergeming.


"Aku berdosa besar atas apa yang aku lakukan. Aku sedang mabuk malam itu. Aku stress karena putus dengan pacarku. Dia selingkuh dan membuat aku merasa kacau." Arthur mulai menjelaskan apa yang terjadi. "Aku sudah lama tidak minum. Tapi malam itu aku tak terkendali. Ketika melihatmu, aku ingin meluapkan marah dan kecewaku. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu."


"Kamu pantas membenci aku. Aku juga sangat malu bertemu denganmu. Tapi bagaimanapun aku harus menyelesaikan ini. Maafkan aku... Maafkan aku," kata Arthur.


Melati masih tak bergerak. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia belum siap dengan semua ini. Mata Melati menatap nanar. Titik bening sudah bertengger di pelupuk matanya.


"Mel, setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Itu yang terjadi pada Bang Ar. Kita kenal dia seperti apa selama ini. Dia berjuang maksimal buat tim. Dia yang memotivasi kita terus sampai kita sukses sejauh ini. Tidak mungkin dia sengaja menghancurkan apa yang sudah dia buat. Dari penjelasannya kamu tahu, dia benar-benar khilaf." Alfaro menegaskan perkataan Arthur.


Semua perkataan Alfaro, Melati cerna. Alfaro ada benarnya. Sejak kejadian itu juga Arthur tidak pernah muncul di hadapannya. Bahkan di group dia satu-satunya juga yang tidak banyak komen. Dia seperti menahan sesuatu.


"Mel, aku mohon. Maafkan aku," kata Arthur lagi. "Setelah ini aku tidak akan pernah muncul lagi. Aku akan tinggalkan tim. Aku tidak pantas menjadi kakak kalian lagi."


Melati memberanikan diri memandang Arthur. Meski takut dan ragu, dia merasa ada kejujuran di wajah Arthur.


"Iya, Bang." Melati berucap pelan. "Lupakan saja semuanya. Hanya saja, aku tetap tidak bisa kembali. Maaf." Cepat-cepat Melati keluar dari kafe itu. Jarak dengan apartemen hanya lima menit. Dia berjalan tanpa menoleh ke belakang sampai tiba di apartemen.


Air matanya pecah. Melati terduduk di ruang depan apartemen. Dia menangis sambil bersandar pada sofa. Air matanya deras meluber di wajahnya. Dia ingat ibu. Dia ingin dipeluk lama-lama jika sedang seperti ini. Tapi dia tidak berani mengatakan semuanya. Tidak mungkin telpon dalam kondisi begini. Ibu akan bertanya banyak hal yang membuat Melati tidak mungkin tidak cerita.


"Tuhan, kuatkan aku... kumohon... berat sekali dadaku... Aku tidak sanggup rasanya...." bisik hatinya. Sementara tangannya sibuk mengusap wajahnya yang basah dengan tisu.


Pintu kamar Ranita terbuka. "Mel..." Ranita mendekati Melati.


Melati menoleh. Dia kembali mengusap matanya. Dia tidak tahu Ranita sudah pulang. Jam segini biasanya dia belum balik.


"Ada apa?" Ranita duduk di sebelah Melati. Sahabatnya ini orang yang kuat. Kalau sampai dia menangis begini banyak, situasinya berarti benar-benar berat.


Melati memeluk Ranita. Dia tidak mampu bicara. Dia menangis lagi. Ranita menepuk-nepuk pundak Melati. Membiarkan gadis itu puas menangis.


Akhirnya tangisan Melati reda. Ranita mengambilkannya air hangat supaya Melati lebih tenang.

__ADS_1


"Cerita, dong... kenapa kamu simpan sendiri?" kata Ranita. "Kita lalui semua sama-sama. Iya, kan?"


Melati mengangguk. Mengusap lagi matanya yang basah. "Maaf, ya... berat sekali untuk bilang." Suara Melati parau dan sengau, terlalu banyak menangis.


"Kamu bukan putus sama Elvan, kan?" tebak Ranita. Melati menggeleng.


"Aku keluar dari Red Sky," kata Melati.


"Lho? Kamu serius?" Ranita tak percaya.


Melati mengangguk. "Apa yang terjadi? Kalian ribut?" Ranita makin penasaran. "Red Sky sedang naik daun. Dan ini jalan kamu mencapai mimpimu, Mel."


Melati menggeleng lagi. "Aku... hmmm... aku..." Ranita mengelus pundak Melati, mencoba memberi ketenangan, agar Melati bisa mengumpulkan keberanian mengatakannya.


"Bang Arthur hampir menodaiku." Pelan Melati berucap, tangisnya pecah lagi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"What?" Ranita membelalak. Kok dia merasa seperti ada petir halilintar dan badai sekaligus menerjangnya.


Lalu Melati menceritakan semua yang terjadi sampai dia putuskan keluar dari band dan mencari cara agar teman band-nya bisa terima. Dada Ranita ikut sesak mendengar semua itu. Dia tak pernah berpikir sahabatnya mengalami hal yang begitu buruk. Ranita sementara terdiam dan tidak tahu harus bilang apa.


"Terima kasih... lebih lega rasanya sekarang," kata Melati. Suaranya terdengar lebih tenang.


"Kita kan sahabat, no, saudara. Jadi jangan simpan semua sendiri, ya..." Ranita memegang pipi Melati dengan kedua tangannya. Melati mencoba tersenyum sambil mengangguk.


"Jadi kamu memaafkannya?" tanya Ranita.


"Ya... meski berat sekali," jawab Melati. "Aku tidak mau menyimpan borok di hatiku. Semua sudah terjadi. Tidak bisa diulang. Aku harus bisa melepaskannya supaya aku tidak ada dendam dan marah kepada siapapun."


"Aku masak, ya... Bikin mie instant saja biar cepat," kata Ranita. Melati mengangguk sambil tersenyum. Ranita menuju dapur mulai memasak.


Melati mengambil HP dari tasnya. Ada beberapa kali panggilan dari Alfaro dan Elvan. Dia pilih menelpon balik Alfaro.


"Hai, Mel..." Suara Alfaro di sana. Kelihatan dia cemas. "Are you okay?"


"Ya... uda baikan," kata Melati.


"Kamu pergi begitu saja," ujar Alfaro.


"Maaf, masih sulit bertemu Bang Arthur. Tapi aku maafkan dia." Melati harus tuntaskan ini. "Katakan padanya untuk tetap di tim. Dia leader yang baik. Teman-teman masih butuh dia. Apa yang terjadi padaku dan dia memang kesalahan. Tapi dia juga tidak bermaksud, kan? Biar aku saja yang pergi. Carilah vokalis lain. Dengan prestasi Red Sky, pasti gampang mendapatkan vokalis lagi."


"Mel..." panggil Alfaro.


"Sudah, ya... aku ada yang harus aku kerjakan." Melati menutup telpon.


Dia cari kontak Elvan.


Melati


- Hai, El. Maaf, HP di tas. Baru cek.


Elvan Cintaku ❤

__ADS_1


- Hai.. 😊😊 Emang calon wanita karir yang luar biasa. makanya sibuk terus....


Melati


- ngarang... 😁


Elvan Cintaku ❤


- kamu baik-baik, kan?


Melati


- iya


Dan Elvan vidcall.


"Hai... kamu abis nangis, Mel?" tanya Elvan karena lihat wajah sembab Melati.


"Hee..." ujar Melati.


"Kenapa?" Elvan langsung terlihat kuatir.


Melati mengatakan dia keluar dari band. Alasannya mau fokus studi. Dengan tugas yang banyak tidak bisa lagi mengikuti ritme tim. Apalagi dia jadi petugas perpustakaan sekarang. Dia pilih nyanyi solo saja jika ada kesempatan. Dengan begitu dia lebih bebas atur jadwalnya.


"Oke... bukan karena yang lain, Mel?" Elvan masih mengorek. Dia merasa belum lega beneran mendengar penjelasan Melati.


"Bukan..." ujar Melati mencoba meyakinkan.


"Apa ada cowok nakal sama kamu?" Duh, kenapa pikiran itu muncul di kepalanya, sih...


"Kalau itu ga usah kuatir. Aku bisa atasi. Aku juga ga mudah beralih hati, kok." Melati tersenyum.


"Oke, deh.. baik-baik selalu... salam buat Ranita, ya... bye..." Elvan mengakhiri vidcall.


Melati menaruh HP dan menuju dapur. Ranita hampir rampung menyiapkan makanan buat mereka. Beberapa menit kemudian mereka sudah menikmati mie instant bersama. Galau dan sedih ternyata bisa diredakan dengan makanan yang orang bilang tidak sehat itu.


"Kenapa kamu sudah pulang? Biasanya sore baru datang. Kadang malam juga," kata Melati.


"Sakit kepala. Abis kuliah langsung pulang tidur," ujar Ranita.


"Kamu memang kurang tidur. Akhir-akhir ini sering pulang larut sekali. Apa ga bisa pulang lebih awal? Urusan dilanjutkan besoknya gitu? Ntar malah sakit lebih repot." Melati mulai menasihati sahabatnya itu.


"Namanya juga kerja barengan, Mel. Ga enak la kalau aku duluan," sahut Ranita. "Lagian aktivitas orang di sini kan beda sama di Malang. Buat mereka tengah malam itu wajar saja keluar."


"Iya tahu. Tapi kan kita harus jaga diri, jaga kondisi," tukas Melati.


"Hmm, mulai, jiwa mama mama muncul, nih..." Ranita tertawa.


"Awas kalau ga nurut, aku laporin papa kamu." Melati malah bergurau.


"Papa Elvan?? Iih... takut..." Ranita langsung ngakak. Dan jidatnya kena tonjok Melati.

__ADS_1


__ADS_2