
Kepulangan Elvan membuka kembali pintu keceriaan dan kegembiraan buat keluarga Edgar. Tawa dan canda tak lagi sepi di rumah besar itu. Ring basket hampir tiap hari terayun. Suara musik dari studio bisa kapan saja mengalun merdu. Erika dan Tirta tak pernah lelah menangkup tangan di hadapan Ilahi bersyukur atas kasih dan setia-Nya yang tiada tara.
Rencana yang tertunda dari Azka dan Adista dibicarakan lagi. Akhirnya Azka dan Adista tidak membuat acara pertunangan. Langsung pernikahan saja. Karena Adista tidak mempunyai orang tua lagi, Tirta dan Erika meminta orang tua Melati, Sekar dan Gilang menjadi wali buat Adista. Ibu Adista adalah anak tunggal yang ditinggal ayahnya sejak kecil entah ke mana. Ibunya meninggal beberapa tahun lalu. Ibu berasal dari kota lain dan tidak pernah berkomunikasi lagi dengan keluarganya di sana. Boleh dikata Adista sudah sebatang kara.
Ketika Adista menceritakan kisah hidupnya membuat Azka bersyukur Tuhan mempertemukan dengan gadis imut itu. Betapa berat hidup yang dilalui Adista, tanpa ayah sejak usia belum genap empat tahun. Ibunya harus berjuang seorang diri merawat dan membesarkannya dengan terus berharap suaminya akan pulang. Ayah Adista memang bekerja di pelayaran, jarang pulang sejak Adista usia dua tahun. Tapi kemudian dia pergi tanpa kembali. Buat Azka, dia masih lebih beruntung dari Adista. Sekalipun keluarganya juga berasal dari orang sederhana, namun dia merasakan kasih sayang yang utuh dari papa mama, memiliki dua adik yang begitu dia sayangi.
Karena itu keinginan Azka membuat Adista bahagia. Gadis itu tidak akan pernah merasa sendiri lagi. Tidak perlu merasa rendah diri karena keadaannya yang serba minim. Adista harus selalu tersenyum di sisinya. Azka ingin memberikan apa yang Adista selama ini harapkan namun baginya begitu jauh direngkuh.
"Kita berangkat." Azka mengulurkan tangan pada Adista. Mereka akan foto prewed hari itu sekaligus pas baju pengantin. Adista nampak gugup. Walaupun sudah dua tahun lebih bersama Azka kadang rasanya belum terbiasa dengan cara hidup keluarga berkelas begini.
Dalam perjalanan mereka bicara tentang rencana ke depan setelah menikah. "Kita akan tinggal di rumah kita, Dis. Rumah papa memang besar tapi aku mau kita memiliki keluarga kita sendiri. Kita harus mandiri," kata Azka.
"Iya, Kak. Apa Om dan Tante tidak keberatan kakak pindah?" tanya Adista.
"Mama yang awalnya ga mau. Dia ingin rumah tetap ramai. Aku kasih penjelasan laa... Dan mama ngerti, kok. Lagian kita masih di Malang juga. Tiap hari juga nanti bisa tengok mama," jawab Azka.
"Lalu Elvan? Farel?" tanya Adista lagi.
__ADS_1
"Karena peristiwa hilangnya Elvan, Mama tidak melepas Elvan kuliah di luar Malang. Mama ga mau dia jauh. Elvan mengalah. Dia paham hati Mama." ujar Azka. "Sejak dia pulang Mama kadang masih minta tidur di kamar Elvan. Sampai Farel iri dan pernah mereka tidur bertiga di kamar Elvan. Papa yang cemberut, haaa...haa..." Azka tertawa ingat peristiwa itu.
Adista ikut melebarkan senyumnya. Hati Adista juga penuh syukur. Semua duka dan sakit yang bertubi-tubi karena harus berjuang keras dalam hidup terbayar sudah ketika Azka, bosnya itu meminta Adista jadi kekasihnya. Kalau ada peribahasa 'bagai pungguk merindukan bulan' bagi Adista itu bisa terjadi padanya, dia berhasil menjadi pungguk yang dapat meraih bulan. Dalam bayangannya adalah sesuatu yang diluar akal Azka bisa memandangnya.
Ia ingat ibunya pernah berkata, "Dis, hidup kita memang banyak susah. Tapi tetap lakukan yang paling baik yang kamu bisa. Ingat, selalu ada satu hari lagi yang bisa kita harapkan membuat hidup kita lebih baik. Tuhan tidak pernah tidur. Dia memperhatikan hamba-Nya yang tidak mau menyerah. Tinggal tunggu waktu, Tuhan akan tunjukkan kerja keras dan kesungguhan itu tidak akan sia-sia."
Ya... semua itu dia dapat sekarang. Meski ibu sudah tidak bersamanya lagi. Tapi Adista yakin jika ibu di sini, dia akan sangat bahagia melihat Adista sekarang.
Semua persiapan hampir selesai. Erika begitu bersemangat mengatur apa yang diperlukan untuk pernikahan anak sulungnya itu. Pemberkatan pernikahan dilakukan jam 3 sore dan langsung dilanjutkan resepsi malamnya. Acara digelar di salah satu hotel besar di Malang, dilakukan out door. Erika puas rasanya melihat persiapan yang berjalan lancar.
Hari H, wajah ceria seluruh keluarga makin nampak. Tirta terus tersenyum dan sesekali menggoda putranya itu. Erika tak henti-henti menceramahi Adista bagaimana nanti kalau sudah jadi antri Azka. Apa saja yang dia suka dan tidak. Kebiasaan apa saja yang harus dimaklumi dan lain-lain, sementara mereka di-make up. Adista hanya senyum-senyum dan mengangguk. Dia mengerti kecemasan seorang ibu ketika harus melepas putranya yang biasa segala sesuatu dia yang urus.
Erika dan Tirta duduk berdampingan. Melati dan Elvan duduk berdampingan. Sekar dan Gilang duduk berdampingan. Farel duduk bersama adik-adik Melati. Mereka sudah kenal dan jadi akrab sekarang. Rasa haru makin meluber membuat mata-mata menitikkan air mata ketika janji pernikahan diucapkan. Di hadapan Tuhan, keluarga dan jemaat, keduanya berjanji akan setia dalam segala keadaan, baik buruk, sehat sakit, kaya miskin, hingga maut memisahkan.
Sementara janji diucapkan Azka dan Adista, Tirta dan Erika bertatapan, Gilang dan Sekar pun sama. Janji itu yang dulu mereka ucapkan juga. Waktu membuktikan mereka sampai saat ini masih tetap bertaut pada janji itu. Hati penuh syukur Tuhan beri kekuatan melalui segala rintangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
"Selamat ya, Kak... kompak terus dan happy always..." Elvan memeluk Azka memberi selamat selesai pemberkatan pernikahan. Senyum Azka merekah, jelas sekali dia bahagia.
__ADS_1
"Ikut senang dan bahagia, Kak. Kak Adista cantik sekali." Melati memeluk dan cipika cipiki sama Adista.
"Iya, terima kasih." Adista tersenyum.
"Jangan lupa nanti malam," sahut Azka.
"Apaan?" ujar Elvan.
"Duet maut kamu dan Melati." Azka menepuk pundak Elvan.
"Ah, iya... tenang saja." Elvan melebarkan senyumnya. Dia menoleh pada Melati yang juga tersenyum.
Azka memang minta Adiknya itu dan Melati menyanyikan satu lagu spesial untuk dia dan Adista waktu acara resepsi. Elvan dan Melati dengan senang hati menerima permintaan itu. Mereka sudah berlatih beberapa kali menyiapkannya.
*
*
__ADS_1
❤ Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang ❤