Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 31 - Nama Kontak Jelek


__ADS_3

Liburan hampir berakhir. Tirta sudah sehat. Tetapi belum bisa beraktivitas penuh. Seperti janjinya Elvan sudah mulai ke kantor papanya. Dia belajar apa saja soal bisnis yang dikerjakan papanya. Mereka punya beberapa toko ATK. Juga toko mainan anak. Elvan awalnya merasa canggung tapi sedikit-sedikit dia mulai menikmatinya.


Papa dan mamanya tidak memaksa dia untuk ikut terjun ke kantor. Mereka memang memberi kebebasan anaknya untuk memilih jalan sesuai dengan passion mereka. Ketika Elvan meminta sendiri membantu di kantor, papanya mengijinkan. Hanya untuk melihat keseriusannya dan apakah akhirnya Elvan menemukan jalannya di sana.


Sedang Melati, dia menikmati hari-hari terakhir di rumah sebelum akan memulai lagi kesibukan kuliah. Dengan ibu dan adik-adiknya mereka pergi nonton dan makan bersama. Waktu-waktu seperti ini yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Melihat adiknya tertawa, melihat ibunya gembira bersama mereka.


"Aku pamit, Bu. Doakan selalu, ya..." Melati mencium pipi ibu dan pamitan berangkat.


"Hati-hati di sana. Kalau habis uang saku, hubungi Ibu," kata ibunya.


"Tenang saja. Aku masih ada simpanan sedikit. Yang Ibu bawakan ini sudah cukup," ucap Melati.


"Ibu lupa, kamu kan sudah jadi penyanyi ibukota," tandas Ibu. "Haa... hhaa..."


"Ibu bisa aja." Melati ikut tertawa. Rejeki takkan ke mana kata orang. Bergabung dengan band dan jurnalistik memang ada penghasilan meski tidak selalu dan tidak begitu besar. Jadi Melati sudah bisa dapat uang saku sendiri.


Melati berangkat diantar Elvan ke stasiun. Elvan sebenarnya mau membelikan Melati tiket pesawat, tapi Melati menolaknya. Dia tidak mau merepotkan Elvan. Mereka baru pacaran kok, tidak perlu sampai sejauh itu biayain keperluannya. Kali ini Elvan mengalah.


"Ingat aku terus. Ga boleh lirik-lirik cowok lain. Aku setia orangnya, jangan diduakan," pesan Elvan.


"Iyaa... Aku tahu..." ujar Melati. "Hati-hati sama Fara."


"Hah???" Elvan menatap Melati. Lalu dia tertawa. Melati jadi malu.


"Masih cemburu, nih..." goda Elvan.


Melati tersenyum malu.


Kereta datang, Melati masuk ke gerbong. Perjalanan dimulai.


Melati sampai di apartemen. Ranita sudah datang lebih dulu. Begitu Melati masuk apartemen Ranita langsung menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Dan Melati tidak bisa menutup-nutupi apapun dari sahabatnya itu.


Berkali-kali Ranita terbelalak, menatap tak percaya, tertawa ngakak sampai menangis juga. Gara-gara cerita Melati tentang liburan yang dia lewati kemarin.


"Ahhh... coba aku ikut pulang ke Malang, ya... pasti aku bisa gangguin kamu abis, deh... Biar kalian tambah romantis, gitu," katanya selesai Melati bercerita.


"Justru aku bersyukur kamu ga pulang Malang. Sedikit aman situasi, haa... haa..." Melati tertawa.


"Tunggu saja nanti aku pasti dapat kesempatan ya, buat bully kamu sama Elvan," kata Ranita.


"Lalu, Kak Arni bagaimana?" Ganti Melati menanyakan liburan Ranita.


"Iihh... anak Kak Rani gemesin , tahu ga... Lucunya... Aku ga nyangka bisa punya keponakan cute gitu..." Ranita cerita penuh semangat.


"Kak Arni bantu kakek ngurus restoran kakek. Jadi dia ada kegiatan rutin selain merawat anaknya. Dan dia juga ga mau cuma numpang sama kakek. Dia bilang dia sudah ada anak, harus bertanggung jawab dengan hidup anaknya. Kakek menuruti Kak Arni. Kak Arni digaji sama kakek," lanjut Ranita.


"Wah, senang dengar ini. Mudah-mudahan Kak Arni terus semangat, ya..." timpal Melati.


"Sedihnya sih, nanti kalau si imut uda gede dan tanya bapaknya. Gimana coba ngejelasinnya," ujar Ranita. Ada nada sedih di suaranya.


"Uda laa... ga usah dipikir sekarang. Kita ga tau hari esok. Siapa tahu nanti Kak Arni ketemu pria baik mau terima dia apa adanya. Mereka nikah dan bahagia," hibur Melati.


"Itu harapannya, Mel. Tapi ga mudah ada pria mau terima seorang wanita punya anak tanpa pernikahan. Wanita dengan seorang anak haram." Ranita mendesah.


Melati menatap Ranita. Dia tahu sahabatnya itu sangat menyayangi kakaknya. Masih teramat sakit mengingat apa yang dialami Arnita.


"Ran, kamu percaya kalau setiap kehidupan itu Tuhan yang punya? Dia pasti merencanakan yang baik buat ciptaan-Nya. Kalaupun manusia salah memilih jalan hidup, kamu percaya tidak Tuhan bisa mengubah keadaan buruk menjadi baik?" kata Melati.


Ranita mendengar sungguh-sungguh kata-kata Melati. "Kenapa perkataan kamu selalu bisa menusuk hatiku sih, Mel... dalam... banget..." Ranita mengusap matanya yang berarir.

__ADS_1


"Semua diserahkan saja sama Tuhan. Dan tunggu waktu Tuhan membuat semua jadi indah." Melati memeluk Ranita. Lalu mengacak rambutnya.


"Iya... tapi jangan rambut jadi korban juga kali..." Ranita cemberut. Melati cuma ngakak.


Hari-hari sibuk kembali dimulai. Kuliah, kerja tugas, latihan band, dan jurnalistik. Juga sebisa mungkin tidak absen ibadah di gereja hari Minggu. Semua itu seperti berkejaran membuat Melati tak bisa berhenti. Tapi dia menikmati saja yang dia lalui.


Seperti semester lalu, kalau sudah sibuk jarang kontak dengan Elvan. Apalagi Elvan harus fokus ujian nasional dan persiapan kuliah. Melati maklum saja situasinya. Tapi dia kangen juga dapat kejutan dari cowok itu. Yang membuat harinya dag dig dug dan berdebaran, hee...


Sore itu baru pulang kuliah. Melati dan Ranita ambil waktu istirahat sebentar.


"Aku mandi, yaa..." kata Melati. Dia beranjak mau masuk ke kamar mandi.


HP-nya berbunyi. Ranita yang masih di ruang depan melihatnya. Tukang Kejut?? Siapa lagi tuh? Nama kontaknya aneh-aneh, deh...


"Mel... telpon!" Ranita berteriak.


"Angkat, deh..." balas Melati dari kamar mandi.


"Ya, halo..." Ranita Terima telpon.


"Sore, Mbak. Maaf, ini nomor Melati, kan?" Terdengar suara cowok di sana.


"Iya... ini Ranita," sahut Ranita.


"Hei, Ran... Melati ada?"


"Kamu Elvan?" ujar Ranita heran.


"Ya... ini Elvan. Mana Melati?"


Ranita malah tertawa keras-keras. "Melati harum mewangi... bunga nan suci... Tukang Kejut telpon!!" teriak Ranita. Lagi-lagi dia ngakak sampai menangis.


"Rani, ada apa?" Elvan bingung Ranita tertawa seperti itu.


"Ga tau. Emang apaan?" tanya Elvan balik.


"Tu... kang... ke... jut... haa... haa..." Ranita tertawa lagi.


"Apa??!!" Elvan sontak berteriak. "Kenapa jelek sekali??"


"Ranita..." Melati tiba-tiba merebut HP-nya. Rupanya dia tadi baru gosok gigi dan buang air kecil. Belum sempat ganti baju, mendengar suara heboh Ranita dia langsung keluar.


"El..." panggil Melati. Dia sudah taruh HP di telinganya.


"Hai... kenapa namaku jelek sekali?" ujar Elvan.


"Maaf... Abis kamu selalu saja membuat aku terkejut," ujar Melati. Dia rasa nggak enak ketahuan juga nih.


"Dia nggak mau ngakuin kamu pacarnya, tuh... soalnya ada yang naksir di sini..." celetuk Ranita di dekat telinga Melati.


"Rani..." Melati ngambek. Ranita makin jadi deh usilnya.


"Bener ada yang naksir?"


"Ya biarin aja. Yang penting aku ga perduli," sahut Melati.


"Aku mau bicara sama Ranita. Kasih HP-nya..." kata Elvan.


"Bicara apa?" ujar Melati bingung.

__ADS_1


"Uda kasih aja. Cepetan..." desak Elvan.


"Ran... dia mau ngomong..." Cemberut tapi Melati kasih juga HP-nya ke Ranita.


"Kenapa, Ganteng?" ujar Ranita. Ranita loudspeker panggilan Elvan.


"Tolong aku ya, ganti kontak namaku di HP kekasih hatiku ini dengan Elvan Cintaku. Pake love di belakangnya," kata Elvan.


Ranita lagi-lagi tertawa mendengarnya. "Oke. Siap!!"


"Kalau sudah, screenshot, kirim ke WA-ku. Aku musti pastikan uda ganti yang benar," kata Elvan lagi.


"Ihh... apaan sih, lebay, deh..." sahut Melati. Masih cemberut dia.


"Beres. Laksanakan." Ranita mematikan panggilan. Dia cari kontak Elvan. Diganti dengan 'Elvan Cintaku โค' Lalu dia screenshot dan kirim ke WA Elvan.


Ranita tertawa lagi. "Haa... Mela... Mela... kamu tega, ya, kasih nama pacar begitu... Emang kamu ga sayang dia apa..."


"Kamu sama saja kayak Elvan. Usil," ujar Melati.


Drttt... HP Melati bergetar.


Elvan Cintaku โค


- nah, gitu baru keren ๐Ÿ˜


Melati


- Apanya keren? ๐Ÿ˜Ÿ


Elvan Cintaku โค


- ga boleh diganti lagi ๐Ÿคจ


Melati


- iya ๐Ÿ˜ฃ


Elvan Cintaku โค


- ๐Ÿ˜๐Ÿ˜โค


"Ihhh..." gumam Melati.


Ranita menyahut, "Mel, bagus dong punya pacar romantis, daripada dicuekin. Sama aja kayak jomblo jadinya."


"Udah ah, mandi dulu." Masih ngambek Melati masuk kamar mandi. Melanjutkan mandinya yang tertunda.


"Dibilangin juga. Yee..." sahut Ranita.


Di kamar mandi Melati merasa geli dan lucu sendiri. Ternyata Elvan memang romantis. Kalau namanya di kontak Elvan apa ya kira-kira? Melati kekasihku? Melati sayang? Melati pujaanku? Ih... geli... Melati tertawa sendiri membayangkannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Thank you so much buat yang uda baca yaa... jangan lupa komen dan like-nya yaa... ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


__ADS_2