Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 23 - Curhat Total


__ADS_3

Weekend. Waktu paling menyenangkan buat Evan. Kesempatan dia melepaskan semua penat setelah lima hari berkutat dengan buku, laptop, soal dan tugas sekolah. Dia janjian weekend ini akan pergi refreshing dengan Farel dan Azka. Biasanya mereka akan habiskan waktu untuk main basket bareng atau berenang. Kadang juga main musik di studio keluarga.


Tapi weekend kali ini Azka mengajak kedua adiknya itu untuk camping di salah satu tempat wisata di Kota Batu, Coban Rondo. Evan dan Farel semangat sekali. Sejak Jumat malam mereka sudah siap-siap. Mereka rencana berangkat Sabtu pagi, nginep semalam saja, balik minggu sore.


"Aduh, kenapa kalian pilih weekend ini perginya? Bisa diundur minggu depan ga?" Erika menggerutu pada anak-anaknya yang sudah menaikkan barang-barang mereka ke bagasi mobil.


"Ga bisa, Ma. Minggu depan aku ada acara besar di kafe. Mesti ngontrol di sana," jawab Azka.


Erika juga suka berpetualang di alam bebas. Sejak anak-anaknya kecil, jika ada waktu mereka suka pergi camping bersama.


"Ya.. mau gimana lagi. Mama juga sudah ada jadwal hari ini, sampai malam lagi. Besok juga papa ada undangan anak temannya nikah, jadi mama mesti temani," kata Erika masih belum lega.


"Kami jalan dulu ya, Ma." Azka memeluk mama. Disusul Elvan dan Farel bergantian memeluk mamanya. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


"Kalian hati-hati. Sudah ga ada yang ketinggalan?" ujar Erika.


"Sudah beres," kata Elvan. "Bye, Maa.."


Azka menjalankan mobilnya meninggalkan rumah. Perjalanan ke Batu memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Tidak begitu macet karena masih pagi. Tapi mulai jam 10 biasanya kalau weekend jalanan makin padat.


Sepanjang jalan mereka berbincang-bincang dan saling bercanda. Ketiganya nampak sangat akrab meski usia mereka terpaut agak jauh. Azka 23 tahun, Elvan 16 tahun, dan Farel 12 tahun.


"Rel, coba tebak binatang apa yang suka nongol di TV?" tanya Azka sementara nyetir sambil memperhatikan jalan.


"Ya... binatang yang di-shooting,"jawab Farel.


"Kurang pas," sanggah Azka.


"Binatang apa, yaa..." Farel tampak berpikir.


"Binatang film," sahut Azka.


"Aihh..." Farel nyengir.


Azka dan Elvan ngakak.


"Kenapa matahari kok nampak jelas kalau siang hari?" tanya Elvan.


"Kan emang jadi penerang siang," jawab Farel.


Azka ngakak lagi. "Farel... kamu ini nge-game jago tapi kalau tebak-tebakan polos amat, yaa..."

__ADS_1


"Hah? Emang aku salah ngomong?" ujar Farel bingung.


Elvan ikut ngakak. "Ga salah. Kamu benar."


"Kalau menurut kakak?" ganti Farel tanya.


"Kalau siang ga kelihatan jelas itu, mata-mata namanya," sahut Azka.


"Aaahhh.... bisa gitu, yaa..." kata Farel lugu.


Lagi kedua kakaknya tertawa lepas mendengar itu.


Jam 9 kurang 10 menit mereka sampai di tujuan. Hawa dingin langsung menyergap kulit mereka begitu turun dari mobil. Segera mereka membongkar bagasi. Pertama Azka dan Elvan mendirikan tenda. Farel membantu sekalian belajar. Tenda mereka cukup besar jadi hanya bawa satu tenda. Setelah tenda siap, mereka merapikan barang bawaan di dalam tenda.


Lalu mereka menyusuri jalan menuju ke air terjunnya. Jalanan di tempat wisata ini sudah ditata rapi. Jadi pengunjung tidak kesulitan menuju lokasi air terjun. Sudah ada beberapa pengunjung lain yang datang. Bahkan yang juga berkemah seperti Elvan dan kedua saudaranya itu.


Mereka mengambil foto di beberapa tempat di sekitar air terjun. Rela basah-basah dan menjadi


kedinginan tapi seru sekali. Setelah puas mereka kembali ke tenda. Mandi lalu makan siang bersama.


"Nanti malam kita makan jagung bakar, ya... Siang gini enaknya yang segar-segar," kata Azka.


Dia pilih beli gado-gado dan minum air jeruk hangat. Elvan pilih kelapa muda tanpa es dan rujak cingur. Sedang Farel suka rawon dan teh hangat. Dengan lahap mereka makan. Habis main di air terjun memang membuat selera makan nambah.


"Kak aku naik flying fox, boleh?" pinta Farel pada Azka.


"Ayo. Kakak juga mau," jawab Azka bersemangat.


Akhirnya ketiganya naik luncuran pakai tali itu. Seru sekali bergelantungan di atas, menyeberang hutan dari atas. Setelah itu mereka juga naik kuda yang memang disediakan untuk pengunjung berkeliling area. Area di tempat wisata ini dijaga keasriannya. Memang di sana sini sudah ada yang dibangun secara modern, tapi tetap saja bagian alaminya masih terasa. Ada juga beberapa villa yang disewakan. Tapi lebih seru camping menurut Elvan. Beda tidur di tenda dengan di villa. Suasana alamnya lebih terasa waktu berbaring di tenda, lebih dekat tanah.


Malamnya sambil makan jagung bakar, Azka dan Elvan ngobrol. Saat-saat begini yang paling menyenangkan buat mereka. Farel sudah asyik dengan gitarnya duduk di depan tenda.


"Kamu masih kontak sama Melati?" tanya Azka.


"Beberapa minggu ini lebih jarang, Kak. Dia sudah sibuk kuliah dan aku juga mulai persiapan ujian akhir," jawab Elvan.


"Kamu yakin Melati bisa kamu taklukkan? Sejauh ini kan dia masih anggap kamu teman. Terus uda jauh gini, susah komunikasi dengannya," kata Azka lagi.


"Aku yakin," ujar Elvan tenang. "Entahlah, aku juga ga tau kenapa aku yakin sekali. Padahal dia belum suka denganku. Tapi dia juga bersikap baik, tidak menolakku. Dia masih mempertimbangkan aku. Tapi pasti dapat, lihat saja."


"Sementara si siapa, Fara? Dia tiap hari menghubungi kamu. Apa kamu ga beralih hati? Dia juga baik, cantik, gitu, deh..." Azka membicarakan salah satu anak teman papa mereka yang memang jatuh cinta sama Elvan.

__ADS_1


"Nggak. Aku malah risih dia chat sering gitu. Tanya uda makan, lagi apa, PR sudah, jangan lupa minum vitamin yaa.. uda kayak mama aja," tandas Elvan.


"Haaa.... haa..." Azka tertawa lebar.


"Kadang malas balas chat-nya. Pingin aku blok aja nomornya," ujar Elvan. Dia menambah mentega di atas jagung bakarnya.


"Sabar laa... Lama-lama dia bosan nanti. Lagian kamu juga mau kuliah keluar kota setelah SMA, kan?" kata Azka.


"Hmm..." Elvan menggigit jagung bakar di tangannya. Nikmat banget rasanya.


"Kak Azka gimana? Makin dekat sama Mbak Vina?" ganti Elvan tanya. Vina salah satu teman kuliah Azka. Mereka sangat akrab dan sepertinya Vina suka Azka. Begitu juga Azka ada rasa tertarik dengan Vina.


"Justru makin jauh," kata Azka. "Aku sudah hampir nembak dia, tapi ternyata aku lihat dia sering berdua dengan Kelvin. Kurasa Kelvin juga suka Vina." Kelvin adalah rekan bisnis Azka.


"Patah hati dong, Kak," ujar Elvan.


"Ada laa... rasa sedih, yaa..." sahut Azka. "Tapi hati ga bisa dipaksa, El."


"Kakak ga coba perjuangkan? Mumpung mereka belum makin jauh." Elvan merapatkan jaketnya. Memang makin malam makin dingin.


"Nggak. Aku ga mau merusak hubungan pertemanan dan bisnis hanya karena cinta," tegas Azka. "Kalau mereka sudah senang kenapa aku datang dan merunyamkan keadaan hanya gara-gara cinta?"


Elvan menatap kakaknya. "Atau karena... Adista?"


Azka memandang adiknya itu. Dia menarik nafas dalam.


"Gadis itu memang beda. Ada yang membuatku seperti ingin menolongnya. Maksudku, iya, dia justru pahlawan buatku waktu masalah yang lalu. Tapi, mendengar kisah hidupnya aku seperti tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ingin sekali aku lakukan apapun agar dia baik-baik saja. Bahkan agar dia bisa mencapai masa depan yang bagus," jelas Azka.


"Karena itu kakak kasih dia pekerjaan yang lebih baik?" tanya Elvan.


"Hm, salah satunya. Selain itu, dia juga anak yang cerdas. Cepat sekali belajar. Aku berencana mendaftarkan dia kuliah untuk melengkapi ketrampilannya," jawab Azka.


"Apa bukan kakak mulai suka Adista?" tanya Elvan lagi.


Azka terdiam. Dia memikirkan semua yang dia alami dengan gadis itu. Sejak dia tahu Adista menjadi jawaban atas situasi porak poranda di bisnisnya, dia sangat memperhatikan gadis itu karena ingin berterimakasih. Tapi sebenarnya dia juga suka melihat Adista yang imut dan lugu. Malu-malu tapi penurut dan pekerja keras.


"Mungkin kamu benar, El. Dan karena itu aku tidak merasa begitu kehilangan Vina saat tau dia sekarang dengan Kelvin." Akhirnya Azka menjawab.


"Aku setuju kakak dengan Adista," ujar Elvan. Azka menatap adiknya. "Ya, Kak. Dia orangnya jujur kan? Dia tidak macam-macam. Dia bekerja untuk mencari hidup yang lebih baik tanpa lelah. Itu nilai plusnya. Lagian dia juga cantik. Alami. Kalau Mbak Vina kan karena dia modis, tahu berdandan."


Azka tersenyum. "Kamu memperhatikan dia juga?"

__ADS_1


"Kurang lebih," ucap Elvan datar.


Malam makin larut. Jagung bakar udah habis. Dingin makin menyergap. Azka mengajak adiknya masuk dalam tenda menyusul Farel yang sudah lebih dulu tidur.


__ADS_2