Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 12 - Perjalanan Tiada Tara


__ADS_3

Pagi menyeruak membuka tirai hari baru. Anak-anak itu sudah berhamburan menyiapkan diri untuk perjalanan mereka. Semua berusaha jangan telat apalagi ketinggalan acara yang ditunggu-tunggu.


Melati sudah bersiap, dia merapikan perlengkapan yang perlu dibawanya dalam ransel. Lalu dia mengambil sepatunya, berjongkok memakainya. Ranita yang baru selesai mandi juga merapikan barangnya.


"Gantungan kunci baru?" Ranita memperhatikan gantungan kunci yang tergantung di ransel Melati.


"Oo... itu iya..." sahut Melati. Aduh, jangan salah jawab.


"Bagus sekali. Unik yaa... beli di mana?" Ranita memegangnya dan memperhatikan detilnya.


Melati cepat-cepat berdiri dan mendekati Ranita. "Ini hadiah, kok," ujar Melati. "Sorry, ada yang lupa." Melati pura-pura cek sesuatu dalam tas ransel itu. Dia takut Ranita membaca inisial yang tersamar di sana.


"Hadiah? Ayahmu?" tanya Ranita, sekarang dia memakai sepatunya.


"Hmm..." Melati tidak mau menjawab jelas. Takut bohong, tapi kalau jujur, takut masalah baru. "Ihh... maaf Ranita, aku terpaksa..." batin Melati.


"Ayo, aku sudah siap," kata Melati.


"Yukk..." Ranita juga sudah selesai. Mereka keluar kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan.


Selepas makan pagi, rombongan mulai meninggalkan lokasi hotel dan menuju ke tempat-tempat wisata sesuai rencana. Ada tour guide yang memandu perjalanan mereka di setiap bus yang mereka tumpangi. Tour guide menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan Lombok. Apa keistimewaan tempat-tempat yang mereka lalui. Sejarah bangunan penting yang juga terlihat pada sepanjang perjalanan.


Pembangunan nampak nyata di daerah ini. Jalan-jalan baru, ikon kota yang dibangun, kubah pelangi, masjid-masjid kokoh yang melengkapi pulau 1000 masjid bertebaran indah di sana sini. Melati dan teman-temannya menikmati semua yang mereka temui.


Hari itu mereka ke Narmada Park, lalu ke Narmada Botanic Garden. Tempat yang cantik dan asyik buat bergaya di depan kamera. Anak zaman now tidak akan melewatkan kesempatan bisa berfoto ria dengan spot-spot yang indah dan menarik.

__ADS_1


"Lihat, bunganya cantik-cantik... ada labirin kecil juga. Ahh... itu pintu ke mana saja doraemon!! Hei, pondok imut lihat... Rumah Jepang ada, rumah pohon juga..." seruan kegembiraan bersahutan di sana sini.


Sungguh menyenangkan bisa menikmati kebersamaan ini. Tak henti-henti suara tawa mereka.


Perjalanan berlanjut ke Desa Sade. Desa suku Sasak asli. Mereka disambut tarian perang tradisional, bahkan boleh mencoba ikut perang-perangan juga. Lalu mereka berkeliling desa yang benar-benar dipelihara keasliannya. Dari bangunan, cara berpakaian, dan cara hidup masyarakatnya.


Pemandu di desa ini menceritakan budaya masyarakat yang mewajibkan anak perempuan untuk belajar memintal. Jika tidak bisa memintal mereka tidak pantas untuk menikah. Dan jika ada pemuda yang naksir seorang gadis, sedang hubungan tidak disetujui keluarga, maka si pemuda akan menculik si gadis. Dengan cara itu maka keluarga tidak bisa menolak memberikan anak gadisnya pada pria itu.


"Sana, belajar memintal dulu, biar bisa menikah," gurau Vera pada teman-temannya yang perempuan.


"Kamu yang harus belajar duluan, Ve. Kan kamu yang sudah pacaran." Si Leon nyeletuk. Vera terkekeh.


"Nah, kalau Danu nih pingin menculik sapa ya, biar bisa nikah?" Lagi terdengar candaan mereka. Makin riuh mereka menimpali candaan itu.


Perjalanan lanjut menuju pantai. Ini yang mereka tunggu-tunggu. Pantai Mandalika, Pantai Tanjung An, Merese Hill... Tempat-tempat yang luar biasa cantik. Bukan hanya puas dengan indah alamnya, tapi juga puas dengan berfoto, lalu berenang di pantai yang landai. Bermain pasir, berjemur, bermain kejar-kejaran, bahkan hanya sekedar duduk di pondok-pondok di pinggir sambil minum degan langsung dari buahnya, nikmat dan menyenangkan semuanya.


Sore mereka kembali ke hotel. Begitu sampai di hotel, baru terasa letih dan lelah dengan perjalanan luar biasa hari itu. Itu sebabnya tak lama setelah makan malam, semuanya kembali ke kamar masing-masing, segera membersihkan diri dan berangkat tidur.


Sambil tiduran, Melati menunggu sesuatu. Suara getaran HP. Tapi tidak ada. Beberapa kali dia lirik, HP-nya itu, seperti lebih dulu tidur darinya. Akhirnya karena lelah, Melati tertidur, menyusul Ranita yang sudah lebih dulu menjelajahi alam mimpi.


Hari kedua mereka menyeberang ke Gili Trawangan. Tapi lebih dulu mereka sampai ke bukit Pusuk, hutan alami dengan banyak kera. Kera-kera di sana sudah jinak, biasa dengan kedatangan manusia. Para pengunjung bisa memberi mereka makan kacang dan snack lainnya. Lucu memang.


Gili Trawangan, dijaga sangat alami. Menyebrang ke sana dengan speedboat. Tapi begitu sampai di tempat, jangan harap ketemu kendaraan bermotor di sana. Daerah itu steril dari asap kendaraan bermotor. Hanya kendaraan tradisional yang beroperasi, karena masyarakat tidak ingin daerah mereka terkontaminasi dengan polusi udara.


Anak-anak itu benar-benar puas menikmati semua yang ada. Aktivitas yang ada dan makanan yang disajikan, wooww... sayang mereka tidak menginap di sana. Setelah puas sepanjang hari, mereka kembali ke hotel. Dan malam hari, mereka menutup seluruh rangkaian kegiatan dengan api unggun.

__ADS_1


Mereka mengelilingi api unggun di pinggir pantai. Nyanyian terdengar riuh dan gembira. Permainan juga dilakukan untuk menambah suasana menyenangkan.


*Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang


Sekarang sedang nyanyi sedang nyanyi sekarang


Nyanyi apa, nyanyi apa nyanyi apa sekarang


Sekarang nyanyi lagu nyanyi lagu sekarang*


Bersahutan kelompok cewek dan cowok menyanyi. Yang terlambat membalas akan ambil kartu hukuman. Entah joget, entah berpuisi, entah menirukan tokoh dan selebriti, macam-macam hukumannya. Malam terakhir sungguh penuh suka namun mengharukan.


Penutup dilakukan undian nama murid yang akan memberi ucapan kenangan untuk angkatan mereka ini. Tiga nama yang muncul. Deni, Marina, dan Arman. Masing-masing menyampaikan kesan mereka dan juga pesan buat teman-temannya.


"Masa SMA paling berkesan. Paling konyol, paling menyebalkan, paling menegangkan, paling ingin dilalukan, tapi paling tidak ingin dilupakan," kata Arman.


"Huhuhhhh...." gemuruh teman-teman menyambut perkataan Arman.


"Perpisahan tak bisa dielakkan. Tapi, cinta di antara kita akan masih tetap bertahan. Setelah ini, yang ada adalah episode baru, perjuangan untuk masa depan. Kalau kalian ada tantangan, jangan menyerah. Sekali lagi, jangan menyerah, Kawan..." Arman menahan kalimatnya. Suasana jadi sunyi. Mulai ada yang mengusap matanya, ada yang menunduk dalam-dalam.


"Jangan menyerah... panggil namaku tiga kali... aku akan datang... dan aku akan menangis bersama kalian... kalau tidak bisa datang, aku vidcall aja.. nangis di depan kamera sama-sama..." lanjutnya.


Kontan tawa meledak kembali. Arman memang paling bisa. Suasana haru campur lucu menutup pertemuan terakhir itu. Lalu mereka saling bersalaman, berpelukan, sesuai gender pastinya dan saling memaafkan, saling menguatkan.


Melati merasa bahagia mengalir di hatinya. Kelas ini luar biasa. Dia menyelesaikan sekolah di SMA dengan kenangan perjalanan luar biasa, perjalanan tiada tara.

__ADS_1


__ADS_2