
"Menurut kamu, ini rekayasa Fara?" kata Tio akhirnya.
"Iya, itu yang aku pikirkan," ujar Elvan.
"Ah, ga masuk akal. Mana mungkin dia sejahat itu," kata Tio.
Elvan pun bercerita tentang sikap Fara padanya selama ini. Fara bahkan mengancam Elvan, bagaimanapun dia akan bisa dapatkan Elvan. Tio hampir tak percaya dengar semua itu.
"Gila, Bro... ga kukira ternyata dia ganas juga," ucap Tio.
"Itulah kenapa aku keluar dari tim. Dia alasan utamaku. Aku ga mau ambil resiko buat masa depanku meladeni cewek kayak dia," tandas Elvan.
"Aaahh... aku jadi merasa bersalah, El. Aku terus mendesakmu balik ke tim." Tio menepuk bahu Elvan. Perasaannya jadi ga enak sekali. "Tapi ga ada yang tau kan kalau ada kejadian malam itu. Entah benar atau tidak. Sudah hindari saja dia, lupakan."
Elvan mengeluarkan HP dari saku jaketnya. Dia buka foto-foto yang Fara kirimkan. Dan ditunjukkan pada Tio. Tio melotot sedang mulutnya ternganga.
"Kamu lihat ini, apa yang kamu pikir?" tanya Elvan.
"Ihh... hot, Man..." jawab Tio.
"Gimana aku ga kalut, Ti? Dia bikin foto ini. Padahal aku cuma merem. Aku ga tau apa-apa. Ga ada yang aku ingat. Mana orang percaya yang aku pikirkan. Dia gadis baik, manis, manja, itu yang terlihat, kan?" Elvan menyimpan lagi HP-nya.
"Oh, my God..." Tio mengacak rambutnya. "Horrable..."
"Aku ga tau sampai sejauh mana aku bisa terus mengelak. Kalau dia pake foto itu, semua orang akan bilang kami sudah, ahhh..." Elvan menyentakkan kakinya.
"El... I am really sorry..." ujar Tio. Dia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
"Kamu cuma mau band terus maju. Aku paham itu. Siapa yang tahu akan kayak gini jadinya," tandas Elvan.
"Lalu, rencana kamu apa?" tanya Tio.
"Aku ga tau gimana membuktikan bahwa kami tidak melakukan hal gila itu. Cuma satu yang aku bisa terus katakan, aku tidak ingat. Misal aku beralasan soal minuman, bukan ga mungkin aku dibilang mengada-ada." Elvan mendesah.
"Berat, El..." Tio berkata lirih.
"Doaku Tuhan buat keajaiban. Itu saja." Elvan menunduk. Hari mulai gelap.
Hari-hari berikutnya Elvan harus kucing-kucingan lagi dengan Fara. Dia malas balas chat atau telponnya. Entah sampai kapan akan begini. Dan ini sudah mulai minggu ujian.
Dan Fara jadi jengkel. Stag lagi. Gimana bisa Elvan terus berkelit. Harus buat cara apalagi? Fara memandang ke seluruh kelas. Dia lihat Lily duduk di bangku agak depan. Fara tersenyum. Ide baru muncul di kepalanya.
__ADS_1
Usai ujian hari itu, Fara mendekati Lily yang sedang bersiap mau keluar kelas.
"Ly..." panggil Fara.
Lily menoleh sekilas. Dia balik merapikan tasnya. Lily sudah ogah dekat dengan Fara lagi sejak tahu gimana cewek ini.
"Ada yang kamu harus tahu soal aku dan Elvan," kata Fara. Kelas sudah sepi.
"Apaan?" ujar Lily malas.
"Aku dan Elvan..." Fara menggantung kalimatnya.
"Hmmm..." Lily masih ga tertarik.
Fara mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan foto Elvan dan dirinya di kamar hotel itu. Lily langsung meluruskan posisinya dan memastikan apa yang dilihatnya. Wajah Lily langsung berubah marah dan terkejut.
"Kalian...." Lily ga mampu melanjutkan perkataannya.
Fara mengangguk. Tanpa berkata apa-apa Lily meninggalkan Fara dengan emosi sudah naik sampai di ubun-ubun. Dia sudah peringatkan Elvan. Ternyata kenyataan malah lebih parah. Tidak bisa dibiarkan. Sudah cukup Elvan mempermainkan kakaknya.
Fara bertepuk tangan senang. "Ayo, Ly... mainkan..." katanya sambil tersenyum.
Sampai di luar kelas sambil berjalan cepat dia menelpon Elvan. Cowok itu ternyata ujian pagi saja dan sudah ga tidak ada di kampus. Lily minta langsung ketemuan di salah satu kafe. Lily pasang muka galak saat Elvan masuk dan mendekatinya. Elvan sedikit banyak bisa menduga apa yang akan Lily bicarakan.
"Kak Elvan pasti tau kenapa aku minta ketemu," ujar Lily ketus. Dia melipat kedua tangannya di dada.
Elvan mengangguk.
"Jadi benar kakak dan Fara...." Lily tajam menatao Elvan.
"Tidak," sahut Elvan. "Aku tidak melakukan hal konyol itu, Ly. Itu ga mungkin."
"Buktinya ada, Kak. Itu bukan editan aku yakin," kata Lily.
"Ly, aku juga sangat kacau karena ini. Aku masih berpikir keras bagaimana bisa membalikkan bukti bahwa semua itu ga benar. Tapi aku masih blank." Elvan menjawab tanpa ada semangat.
"Aku bingung, Kak... Aku gimana mau percaya sama kakak. Kalian sekamar, sedekat itu, Kakak bahkan ga pakai baju. Kalau ga buat aneh-aneh ngapain coba?" Lily jelas dongkol dengan semua ini.
"Aku akan cerita. Aku tidak tahu kamu bisa percaya atau tidak. Tapi biar aku ceritakan dulu semuanya," kata Elvan.
Dengan setenang mungkin Elvan bercerita kejadian hari-hari sebelum di hotel, malam itu, hingga sesudahnya. Lily mendengar baik-baik semuanya.
__ADS_1
Dia diam tidak berkomentar apapun. Elvan juga diam. Sesekali terdengar desahan. Rasa luka dan marah yang terasa.
"Aku ga tau, Kak. Aku ga tau," kata Lily pelan. "Yang aku tahu, Kak Mela sangat sayang Kak Elvan. Waktu kalian jadian, aku sangat senang, bersyukur. Kakakku dapat laki-laki luar biasa. Dia pasti akan bahagia. Tapi..." Lily hanya menggeleng.
"Ly, percaya sama aku, Ly. Aku tidak buat apapun," ucap Elvan dengan nada pilu. "Tetap percaya padaku."
"Aku mau..." ujar Lily. "Tapi... entahlah..."
Jam 5 sore Lily sampai rumah. Dengan lesu dia masuk kamar. Misal ibu dan ayah tahu, mereka bilang apa nanti. Akan baik jika dia bilang, atau biarkan saja? Lily menelungkupkan wajah di atas bantal. Dia menangis. Apa dia harus bilang kakaknya juga? Melati sedang berjuang untuk tugas akhirnya. Jika dia tahu ini maka bisa buyar nanti konsentrasi belajarnya.
"Tuhan.... aku harus bagaimana?" batin Lily.
Ting. Suara HP Lily. Lily lihat. Chat dari Melati. Air mata Lily menetes lagi.
Melati
- Gimana ujian, Ly?
Lily
- lancar, kak. Kakak jadi maju sidang kapan?
Melati
- Tiga hari lagi. Doakan ya
Lily
- pasti, kak
kakak baik-baik ya. harus kuat.
Melati
- Ih... kenapa?
Lily
- Ga. aku kangen
Sambil menangis Lily balas chat Melati.
__ADS_1
"Seandainya kamu tau, Kak... pasti kamu hancur..." Lily terisak.
Dengan hati galau, bingung dan marah, Lily berbaring, tak lama dia tertidur.