
Rumah Garuda sibuk sekali. Beberapa hari ini semua anggota baik pelatih maupun murid semua kelihatan ribet. Gimana tidak, mereka akan mulai pagelaran di Malang Town Square, Matos, tinggal hitungan hari. Latihan dipastikan fix dan oke semua yang akan ditampilkan. Kostum yang akan dipakai, peralatan dan property lainnya sudah harus siap dua hari sebelum hari H.
Elvan dan Melati mondar mandir kantor dan Rumah Garuda. Tapi mereka sangat semangat. Ini pagelaran perdana mereka akan tampil di depan umum. Anak-anak juga senang campur tegang. Bondan akhirnya akan tampil sesuai rencana. Dia akan main ukulele untuk tiga lagu perjuangan dan menyanyi lagu Tanah Air ber-trio dengan Fandi dan Jodi.
Tim dance dengan tari tradisional dipadu tari modern siap. Tim musik dengan semua kelengkapan ok. Tim vokal dan paduan suara juga mantap. Tinggal tunggu hari pelaksanaan saja.
Sisi lain, Elvan juga semangat, karena akhirnya tiba hari wisuda. Dengan hasil luar biasa skripsinya, maka dia didaulat memberi sambutan mewakili para wisudawan. Melati, dan keluarganya datang. Keluarga Edgar juga hadir lengkap. Apalagi Lily juga wisuda hari yang sama. Kebahagiaan ganda mereka rasakan.
Setelah pemberian gelar, maka Elvan tampil ke depan di podium memberikan sambutan. Dengan gagah, tampan, dan penuh percaya diri Elvan maju menyampaikan ucapannya. Ucapan syukur kepada Tuhan, terimakasih kepada para dosen dan pembimbing, seluruh jajaran pimpinan universitas, terima kasih kepada keluarga dan teman-teman, serta kata selamat untuk semua wisudawan.
"Jika setiap kami mampu berdiri hari ini, disaksikan keluarga, handai taulan dan orang-orang terkasih, adalah hari bersejarah yang tak akan terlupakan. Karya kami yang sudah mulai ditorehkan, kiranya akan terus berkembang bagai rajawali yang dengan sayapnya yang kuat terbang ke angkasa menembus badai.
"Masa depan pasti ada, tantangan juga siap menghadang. Tapi apa yang sudah didapat selama proses pendidikan akan menjadi dasar melangkah dengan yakin, hingga harapan akan jadi nyata.
"Rumah Garuda adalah cita-cita saya, harapan saya, masa depan saya. Saya tidak bisa sendiri mewujudkan semua itu. Ada banyak tangan, hati, waktu, yang dicurahkan. Terima kasih untuk semua dukungan. Ini menjadi penyemangat bagi saya untuk mendampingi generasi penerus bangsa yang satu kali kelak akan berdiri menjadi kebanggaan negri ini. Terima kasih."
Tepuk tangan meriah menyambut Elvan. Erika sampai menitikkan air mata menyaksikan putranya berdiri di depan. Bangga luar biasa mengalir di hatinya. Tirta, senyumnya seperti tak pernah berhenti. Putranya yang hari-harinya penuh drama itu telah tuntas pada satu babak hidupnya. Dan dia akan siap memasuki babak yang lain, yang mungkin juga penuh drama entah apa itu.
Melati hanya mampu menatap lurus ke wajah Elvan. Pria yang begitu dicintainya bukan hanya berhasil menjadi sarjana, dia berhasil menjadi penerus perusahaan dan mampu mengerjakan visi besar dalam dirinya.
"Kita foto di sana, ya... itu backgroundnya oke. Semua ikut, yuk..." Biasa Lily sibuk mengatur acara foto bersama. Tapi semua nurut aja diatur dengan gaya lucu-lucu. Dan terakhir Lily minta foto dengan lompatan tinggi. Elvan, Melati, Azka, Farel, Damar, Jati, Terrence, dan dirinya melompat sama-sama. Kata Lily pelepasan kegirangan. Ya, terserah apa namanya. Intinya Lily mau semua lompat sama-sama.
__ADS_1
"Selamat, ya... Lily, Elvan..." Fara datang mengalami Elvan dan Lily.
"Thank you. Selamat buat kamu juga," balas Lily dengan senyum cerah. Elvan juga tersenyum.
"Iya..." Fara tersenyum. "Mel..." Fara menyalami Melati.
"Selamat ya, buat wisuda kamu. Rencana ke depan gimana, nih?" tanya Melati.
"Aku ada kerjaan di Singapura. Tiga bulan di sana. Mungkin bisa lebih. Doakan semua lancar," kata Fara ceria.
"Good luck kalau gitu." Melati tersenyum.
"Baik-baik di sana..." timpal Elvan.
Setelah pertemuan di Gramedia sore itu, hubungan Elvan, Melati, dan Fara, bahkan Lily jadi membaik. Sekalipun tidak mudah buat Fara melupakan Elvan, dia tidak lagi mengejar Elvan. Dia tahu Elvan akan tetap di tempatnya, mencintai Melati sepenuh hati.
Tepat esok harinya, Rumah Garuda membuka Pagelaran Hari Merdeka. Opening dibuka dengan lagu Indonesia Raya oleh paduan suara. Diikuti instrumen lagu Bendera diiringi dance mix tradisional dan modern, sesuai aransemen musik. Terus berlanjut dengan atraksi lainnya. Penonton penuh. Mereka berdiri mengelilingi panggung. Banyak yang berdecak kagum, mereka mengabadikan momen itu, dengan foto, video. Bahkan ada yang mereka post di sosial media.
Harun, dia tampak berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang menonton. Delvin yang tetap jadi teman baiknya mengajaknya datang. Awalnya Harun ragu. Elvan memang yang memintanya. Tapi dia memutuskan datang akhirnya. Hatinya begitu girang saat melihat Bondan. Haru dan rindu beradu di dalam dadanya. Dia menelan ludah beberapa kali, menarik nafas dalam, di antara rasa penuh dan sesak di dadanya.
Bondan sangat berbeda sekarang. Dia ganteng, kulitnya lebih bersih, dan badannya sudah tak begitu kurus. Mungkin karena dia bahagia, makan dengan benar, jadi cepat naik berat badannya.
__ADS_1
Acara ditutup dengan lagu 'Tanah Air'. Bondan ikut tampil trio menyanyikan lagu itu. Air mata Harun sudah menetes sekarang. Anaknya itu kini bermain ukulele dan bernyanyi di tempat yang indah, bukan perempatan jalan atau rumah-rumah orang demi receh. Tapi dia bernyanyi menyampaikan pesan yang besar, setiap anak itu berharga, setiap anak punya kelebihan, dan setiap anak diberi hidup karena ada tujuan pada hidupnya.
Usai acara, Elvan membawa Bondan untuk bertemu Harun. Ketika melihat Harun, Bondan berdiri, mematung. Awalnya dia tidak begitu mengenalinya. Karena Harun datang dengan penampilan yang berbeda sekali dari yang biasanya Bondan lihat. Kalau yang Bondan tahu, bapaknya itu kelihatan lusuh, acak-acakan, sekarang rapi dan bersih. Dia kelihatan keren dan ganteng.
"Bondan..." Hampir tercekat di kerongkongan Harun ketika menyebut nama anaknya.
"Bapak..." ucap Bondan.
"Ya..." Harun mencoba tersenyum. Bondan menatapnya. Benarkah ini bapaknya yang selama ini dia takuti? Wajahnya tidak lagi sangar dan galak. Berbeda sekali.
Harun melebarkan kedua tangannya, meminta Bondan datang padanya. Bondan menoleh pada Elvan dan Melati yang berdiri di sisinya. Elvan mengangguk. Lalu Bondan lari menghambur ke pelukan Harun. Harun mendekap anaknya itu erat. Dia menangis, Bondan menangis. Melati dan Elvan tak pelak juga menitikkan air mata.
Pelukan hangat Harun adalah permintaan maaf yang dalam pada anaknya itu. Juga caranya melepas rindu pada Bondan, anak yang dia sayang, tapi yang pernah dia sia-siakan. Bondan tak menyangka melihat bapaknya hari itu. Dia masih sering memikirkan apa bapak baik-baik? Siapa yang kasih uang kalau bapak mau judi atau beli minum? Apa bapak makin sering nangis ingat ibu? Itu yang sering muncul di pikirannya.
"Bondan..." Harun melepas pelukannya dan memandang anaknya itu. Wajahnya penuh air mata.
"Kamu hebat," kata Harun.
"Uhhuukkk... uuhukkk...." Bondan menangis lagi. "Bapak baik-baik? Uuuhhukkk..." tanya Bondan.
"Iya. Lihat, bapak rapi, kan? Bapak sudah bekerja sekarang. Kamu jangan sedih. Bapak sudah punya uang untuk makan. Bapak tidak mabuk lagi, tidak judi lagi. Bapak mau jadi bapak yang baik buat kamu," kata Harun. Bondan menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Harun. Rasanya tidak percaya mendengar itu. Harun kembali memeluk Bondan dengan rasa sayang yang sangat dalam.
__ADS_1
"Tuhan, terima kasih," bisik hati Melati menyaksikan pertemuan mengharukan itu. Elvan meraih tangan Melati dan menggenggamnya erat. Hatinya juga meluap penuh syukur.