
Waktu terus berlalu. Sudah masuk sepuluh bulan Elvan tinggal dengan Pak Karno dan Bu Nanik. Dewi makin sering pulang. Dia terus mendekati Elvan. Dia bawakan oleh-oleh baju baru, sandal, makanan ringan, dan juga jaket buat Elvan. Bu Nanik benar, Dewi memang suka dia. Dan semakin menjadi waktu Bapak mengajak mereka berdua bicara.
"Seperti yang Bapak bilang waktu itu sama kamu, Gus. Bapak akan nikahkan kalian berdua. Kamu dan Dewi. Jadi selama Dewi di rumah kenali dia baik-baik. Biar kalian bisa saling paham satu sama lain," kata Bapak.
"Iya, Mas. Biar nanti Mas Bagus ga kaget punya istri cerewet tapi gemesin kayak aku." Dewi menyenggol lengan Elvan.
"Wi, jaga sikapmu. Anak perempuan kok ndak tahu sopan," sergah Pak Karno.
"Ih... kan Mas Bagus calon suami aku," sahut Dewi manja.
"Terus kapan kamu mau keluar dari kerjaan kamu?" tanya Pak Karno.
"Masih proses, Pak. Sebulan atau dua bulan lagi, yaa..." kata Dewi.
"Kamu ini yang mau kawin, tapi mundur terus," ujar Pak Karno.
"Masih ada acara gede, Pak, di sana. Mau ada artis datang dua kali. Rugi kalau aku ga ikutan," kata Dewi. "Sambil nunggu aku kan bisa mulai urus surat nikahnya. Persiapan buat pestanya."
"Itu gampang. Nikah saja ndak usah pesta. Yang penting sah depan penghulu." Pak Karno mulai sebel dengan anaknya itu.
"Ya... kok ga pesta sih, Pak... Aku ini kerjanya ngurus orang nikah, lha giliran aku nikah, cuma ijab kabul aja? Iih... Bapak..." Dewi cemberut.
Elvan tidak tahu mau ngomong apa. Bapak dan anak ini jelas tidak sepakat, kecuali sama maunya, Dewi nikah sama Elvan.
"Sudah. Pokoknya kamu cepat berhenti kerja baru Bapak urus semua," geram Pak Karno.
"Ah... ga tau, ah..." Dewi pergi keluar rumah. Entah ke mana dia.
"Anak tambah besar tambah susah diatur," gerutu Pak Karno, lalu pergi ke belakang rumah.
Elvan yang dari tadi hanya diam melihat bapak dan anak itu ribut, cuma menggeleng. Lalu dia menyalakan TV. Dia tidak terlalu suka nonton TV, tapi kali ini dia lebih baik alihkan pikirannya pada hal lain. Pusing juga mendengar mereka ribut.
__ADS_1
Elvan menatap layar TV. Ternyata sinetron yang tayang. Dia tidak suka nonton sinetron, coba ada tanding basket. Pas dia mau ganti channel, Bu Nanik masuk.
"Eh, biarin TV-nya. Itu cerita lagi seru." Bu Nanik meletakkan keranjang sayuran dan duduk di sebelah Elvan.
Di layar nampak sepasang kekasih sedang berbicara mesra. Mereka saling menatap, yang cowok meraih tangan si cewek.
*** "Kamu hanya sayang aku, kan? Janji, ya. Jangan pernah kamu pergi. Kamu tetap di sisiku, ya..."
*** "Iya... aku janji."
Elvan melihat Bu Nanik. Lucu sekali, sudah setua ini dia kelihatan semangat nonton adegan anak muda. Elvan tersenyum tipis.
*** "Kamu tau, hatiku sudah aku taruh di hatimu. Dan hatimu juga buat aku. Jangan pernah pergi dengan yang lain..."
*** "Aku tidak akan pergi. Aku akan jaga hati ini buat kamu. Apapun yang terjadi, sampai kapanpun... percayalah..."
"Ooh...." Bu Nanik memegang kedua pipinya.
Ya Tuhan!!! Dia ingat semuanya sekarang...
Hari itu dia terjatuh waktu cari kayu di hutan dengan Azka. Dia dan keluarganya sedang camping bersama. Ya.. dia ingat semuanya!!!
Dia menoleh pada Bu Nanik. Wanita itu masih terpana menatap layar TV.
"Ya... iklan..." ujarnya kecewa.
"Bu..." panggil Elvan.
Bu Nanik menoleh. "Ada apa, Gus? Ibu mau ke belakang sebentar."
Elvan mendekati Bu Nanik. "Namaku Elvan," katanya pelan.
__ADS_1
"Apa?" Bu Nanik memastikan dia mendengar Elvan menyebutkan namanya.
Elvan mengangguk. "Elvan Alcandra Edgar. Itu namaku, Bu. Gadis yang aku lihat di mimpiku itu kekasihku, namanya Melati."
Bu Nanik terbelalak. Dia menutup mulutnya takut berteriak. Lalu dia mendongak, mengusap wajah Elvan. Dia menangis.
"Kamu ingat?" tanya Bu Nanik. Masih memegang kedua pipi Elvan.
Elvan mengangguk. "Ingat semua."
Bu Nanik mengajak Elvan duduk. Dia menaruh jari telunjuknya di mulutnya. Dia mengelap pipinya yang basah karena air mata haru.
"Jangan sampai Bapak tahu," kata Bu Nanik. "Kamu pura-pura saja masih ndak ingat apa-apa. Kalau Bapak tahu bisa gawat."
Elvan tidak paham. Bu Nanik melanjutkan, "Bapak tidak akan melepaskan kamu. Jadi kita buat rencana saja supaya kamu bisa pergi. Nanti kamu cerita sama Ibu tentang dirimu. Tapi kita cari waktu yang pas dulu."
"Iya, Bu," ujar Elvan.
"Ibu ke dapur dulu." Bu Nanik meninggalkan Elvan. Rasanya tidak percaya semua ini. Akhirnya dia bisa sadar siapa dirinya. Dengan sangat baik.
Elvan masuk ke kamar. Dia duduk di pinggir ranjang. Dia menunduk dalam-dalam. Air matanya menetes. Bahunya berguncang karena menangis. Masih tidak percaya rasanya dia harus mengalami semua ini.
Muncul semua di kepalanya tentang rumahnya, orang tuanya, adik dan kakaknya. Apakah mereka baik-baik? Papa, apakah papa tetap sehat? Lalu dia ingat sekolahnya dan rencananya kuliah, mengejar cita-citanya. Melati. Apa yang terjadi dengan kamu?
"Apakah kamu masih menungguku?" gumam Elvan. "Apakah kamu memenuhi permintaanku menjaga hatimu buatku?"
Lelah menangis, Elvan membaringkan tubuhnya. Tapi pikirannya berlarian ke sana sini. Ingat segala macam tentang hidupnya. Bagaimana dia mulai suka Melati saat di sekolah. Bagaimana dia memperhatikan gadis itu. Cerdas, ramah, dan cantik. Hingga dia tak bisa lagi tertarik pada gadis manapun.
"Mel.. aku sangat kangen sama kamu... Apa kamu juga merindukan aku? Aku ingin segera bertemu dan memeluk kamu lagi," bisik hati Elvan.
Lalu muncul wajah cantik mamanya. Yang sangat sayang dan perhatian. Yang sering dia ganggu sampai kesal, tapi tak bisa beneran marah.
__ADS_1
"Mama.. aku juga kangen mama..." ucapnya lirih, dan akhirnya dia tertidur.