Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 38 - Sampai Kapanpun Jaga Hatimu untukku


__ADS_3

Setahun sudah Melati menjadi mahasiswa. Dua semester luar biasa dia lewati. Hasil studinya memuaskan. Ranita juga tidak terlalu payah sekalipun dia hampir terpuruk di semester kedua.


Adik-adik Melati dan datang berlibur ke Jakarta. Selama satu minggu berkeliling sampai puas. Mereka begitu excited menjelajah ibukota. Jalan-jalan ke Monas, Kota Tua, Ancol, Taman Mini, dan Blok M, serta beberapa tempat lain. Akhirnya kesampean keinginan Jati untuk liburan ke Jakarta. Ayah menemani mereka juga meski lebih banyak di sore hari.


Kebersamaan yang tak akan Melati lupakan. Moment yang jarang dia dapatkan. Melihat adiknya saling menggoda, bermain bersama, dan tertawa gembira. Apalagi melihat ibu dan ayah berjalan bergandengan tangan, senang sekali. Melati tahu, ayah dan ibu pasti sering saling merindukan karena terus berjauhan. Dia lebih mengerti setelah punya kekasih dengan menjalani LDR.


Karena libur lumayan panjang, Melati ikut pulang ke Malang. Dia berencana setidaknya dua minggu di sana. Ranita juga pulang kali ini. Dia kangen rumah katanya. Dan serunya Alfaro ikut liburan ke Malang. Katanya dia kangen kota asalnya itu. Sekarang dia sudah dewasa orang tuanya bisa melepasnya ke mana saja. Selama di Malang Alfaro tinggal dengan adik papanya.


Melati sangat rindu Elvan. Debaran jantungnya makin sering saja setiap kali mengingat cowok itu. Elvan sudah meninggalkan masa SMA-nya dan dia ternyata masuk kuliah di UI juga. Lumayan dia dapat tiga terbaik di sekolah waktu lulus kemarin.


"Aku ga mau jauh-jauh dari kekasihku ini. Yang makin hari makin cantik saja," goda Elvan. Hari itu mereka pergi jalan-jalan. Rencananya mau ke area Kota Batu. Sudah janjian juga sama Ranita dan Alfaro.


"Mulai deh, jahilnya..." Melati manyun.


"Lha, emang kenyataan, kok." Elvan tertawa. "Masa kita jauhan terus? Kalau dekat kan bisa sering ngajak kencan."


"Kamu bisa aja, yaa..." Melati tersenyum lebar.


"Jadi Alfaro serius dekati Ranita sekarang? Sampai ikut liburan ke sini?" Elvan mengganti topik pembicaraan mereka.


"Aku sih, merasa begitu, ya..." jawab Melati sambil merapatkan jaket tipisnya. Mereka sedang menuju rumah Ranita menjemput gadis itu dan Alfaro yang sudah menunggu.


Bagaimanapun Melati menceritakan pada Elvan tentang Alfaro dan apa saja yang terjadi dengan hubungan mereka dan juga Ranita. Termasuk peristiwa dengan Arthur. Melati tidak ingin menutupi apapun. Mula-mula Elvan terkejut, bahkan sempat marah karena Melati tidak menghubunginya waktu kejadian. Tetapi setelah Melati menjelaskan semuanya Elvan bisa mengerti.


"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu saat kamu perlu. Untunglah Alfaro baik pada kalian," kata Elvan. Dia meyakinkan dirinya bahwa Alfaro tidak akan mendekati Melati. Dan juga meyakinkan dirinya bahwa kekasihnya tidak akan tergoda pada Alfaro. Dia tahu Melati pernah suka cowok itu.


"Setelah ini kita akan selalu bersama, kan? Kuliahnya aja satu kampus. Pasti tiap hari ketemu." Melati memandang Elvan yang terus menatap jalan, menyetir.


"Iya..." Elvan tersenyum dan menoleh sekilas pada Melati lalu fokus lagi ke jalanan.


Beberapa menit berikutnya mereka sampai di rumah Ranita. Di teras Ranita dan Alfaro sudah menunggu. Elvan dan Melati turun menemui keduanya.


"Hai... apa kabar, Ran?" sapa Elvan. Dia kasih tos pada Ranita.

__ADS_1


"Masih sama, suka tertawa dan usil sama Melati," jawab Ranita sambil tergelak. "Heiii... kamu makin tinggi, El?" Ranita memperhatikan Elvan lalu menjajari cowok itu. "Iya loo... naik berapa senti?"


"Haa.. haa..." Elvan tertawa. "Aku ga pernah ukur tinggi. Tapi iya juga sih, sepertinya tambah beberapa senti." Elvan mendekati Melati dan memeluknya dari belakang. "Beneran, Melati jadi lebih kecil."


"Apaan, sih..." Melati mendorong tubuh Elvan sambil tersenyum lebar. Melati menyadari itu, Elvan tambah tinggi lagi, dia makin mendongak saja kalau bicara dekatnya.


"Hai, masih ingat aku?" Alfaro menyapa Elvan.


"Tentu. Apa kabar, Bro?" Elvan menjabat tangan Alfaro ramah.


"Baik sekali." Alfaro tersenyum. "Ternyata kamu yang bisa menggoyahkan iman Melati dari dunia perjombloan. Aku acungkan jempol. Dua." Alfaro mengangkat dua jempolnya ke arah Elvan. Elvan tertawa. Melati dan Ranita sudah ikut melebarkan bibir.


"Thank you ya, Al, kamu sudah jagain mereka berdua ini," ujar Elvan.


"Waduh, Melati cerita apa, nih? Bukan yang jelek-jelek, kan?" Alfaro menggaruk kepalanya.


"Pokoknya Alfaro pria yang bisa diandalkan," kata Elvan.


"Udah ah, kita jalan. Ntar kesiangan," timpal Ranita.


Mereka masuk ke mobil Elvan dan segera berangkat. Tujuan mereka pertama ke Selecta. Di sana taman bunganya bagus buat spot foto. Ranita yang minta ke sana biar bisa bikin banyak foto keren katanya. Benar juga, sih... Elvan yang kurang doyan foto sampai bolak balik ikut bergaya di kamera dengan Melati.


Melihat kemesraan Melati dan Elvan, Alfaro sadar hati Melati sudah bersih dari kenangan dirinya. Dia perhatikan bagaimana Elvan memperlakukan Melati. Jelas dari tatapan matanya dia sangat sayang Melati. Seperti terbersit dia akan menjaganya sedemikian agar tidak terluka.


Alfaro lalu melihat Ranita. Semakin dia dekat gadis itu, semakin rindunya pada Atika terobati. Senyumnya yang lepas, celotehannya yang jujur dan gayanya yang ceria membuat Alfaro selalu tersenyum. Entahlah, perasaan ingin menjaga Ranita pun makin menguat di dadanya. Apa dia sudah benar mulai menyukai Ranita? Ranita sendiri tidak canggung dengannya. Dia sering bersikap manja dan minta perhatiannya. Alfaro suka menanggapinya. Karena menurutnya tidak berlebihan.


Meninggalkan Selecta mereka menuju ke Museum Angkut. Kedua cowok itu semakin girang. Bagaimana tidak? Dari awal masuk area sampai akhir disuguhi ratusan model kendaraan yang unik, keren, tertera dari tahun kapan dan bahkan ada yang diberi info sejarahnya. Belum lagi penataan eksterior dan interiornya yang begitu cantik. Sekalipun para gadis itu mungkin kurang paham soal mobil dan kendaraan lainnya, mereka akan menikmati lokasi ini untuk berfoto hampir di setiap meter yang mereka lalui.


"Eh, kita foto di sana, yuk... di depan gedung itu, pas yang di zebra cross-nya... lucu kan, kayak mau nyeberang jalan," ajak Ranita. Ketiga temannya itu nurut aja. Asyik juga bergaya depan kamera seru-seruan begini.


Puas di Museum Angkut, mereka menuju ke Paralayang. Hari sudah mulai gelap saat mereka naik. Tempatnya memang di bukit yang lebih tinggi. Lebih dingin. Tapi pemandangan Kota Batu dengan kerlap kerlip lampu di kejauhan begitu cantik.


Mereka duduk di kursi yang disiapkan untuk pengunjung. Sekalian mereka pesan jagung bakar dan minuman hangat. Sambil menunggu pesanan makanan, Melati berdiri di dekat pagar, menghadap ke Kota Batu. Tidak bosan dia menatap kerlap kerlip di sana. Sementara langit bersih, cantik, dengan bulan terang sekalipun bukan purnama dan bintang bertebaran di sekitarnya.

__ADS_1


Elvan ada di sisinya. Ikut menatap ke arah yang Melati perhatikan.


"Jadi ingat waktu di rumahmu malam itu," kata Melati.


"Hmm?" Elvan belum mengerti arah pembicaraan Melati. Dia tetap memandang lurus ke arah kota.


"Langit cerah, suasana remang. Teduh," jelas Melati.


"Hmmm..." gumam Elvan.


"Kamu jadi pergi ke Semeru dengan Om Tirta?" tanya Melati.


"Jadi. Lusa kami pergi. Sekeluarga kami berangkat. Sudah lama juga ga pergi ke alam terbuka dengan Papa Mama," jawab Elvan.


"Tapi ga jadi naik gunung. Hanya camping di area camping ground di sana," lanjut Elvan. "Kondisi Papa nggak mungkin. Takut kesehatannya terganggu."


Tentu saja. Tirta sudah pernah kena serangan, jadi kegiatan yang ekstrim pasti tidak disarankan, harus hati-hati jaga kondisi.


"Pasti seru, ya..." ujar Melati.


"Melati, aku ingin kamu jawab jujur." Tiba-tiba Elvan berkata dengan nada serius. Melati menoleh memandangnya. Dia mendongak menatap mata coklat Elvan.


"Apa kamu sudah sayang padaku?" tanya cowok itu. Kalimatnya begitu tenang dia ucapkan. Tapi membuat jantung Melati berdegup seketika begitu cepat. Kenapa dia masih bertanya?


"Aku sangat sayang kamu. Aku berterimakasih kamu mau di sisiku dan mengijinkan aku mengisi hatimu. Aku ingin kamu mengatakan perasaanmu." Lembut sekali Elvan berkata.


Kenapa dia jadi seromantis ini? Melati masih canggung dengan situasi macam begini!!


Mata Elvan menatap dalam wajah Melati. Melati mencoba tidak mengalihkan pandangannya meski hatinya semakin bergejolak.


"Aku... aku sayang kamu," ujar Melati pelan. "Maaf, bukan hal yang mudah aku bisa ngomong ini. Aku sayang kamu. Sungguh." Rasanya begitu sulit mengeluarkan kalimat itu. Tapi perkataan itu dari hatinya. Ya, dia sudah jatuh hati pada Elvan Alcandra Edgar.


Elvan masih menatapnya. Dia lihat mata hitam Melati yang indah. Dia jujur. Melati memang sudah sayang padanya. Raut wajahnya terlihat malu. Suasana remang-remang, Elvan tidak bisa melihat jelas wajahnya yang pasti sudah merah dan telinganya panas.

__ADS_1


Elvan memeluk Melati. Dia mengecup puncak kepala kekasihnya itu. "Aku memberikan hatiku hanya padamu. Jagalah hatimu untukku. Sampai kapanpun. Apapun yang terjadi jangan menoleh kepada siapapun. Karena aku akan melakukan hal yang sama."


Melati membalas pelukan Elvan dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Elvan. Melati mengangguk mendengar itu. Hatinya terasa nyaman sekali.


__ADS_2