
Turun dari kapal rombongan menuju ke hotel untuk beristirahat. Karena sampai sudah menjelang sore, mereka tidak berencana ke mana-mana. Apalagi hotel tempat mereka di daerah Senggigi langsung berhadapan dengan pantai di bagian belakangnya. Anak-anak itu menikmati istirahat sepenuhnya.
Setelah mandi dan menunggu waktu makan malam, Melati duduk di teras kamar hotel sambil memandangi pantai yang indah. Lagi, menatap langit yang mulai memerah. Sunset. Tidak pernah bosan rasanya. Sungguh cantik, menakjubkan. Sepertinya itu kata yang paling tepat.
HP Melati yang ada di meja di sebelahnya bergetar. Dia angkat, vidcall dari ibu.
"Ibu..." ujarnya gembira.
"Haii... Kakak, gimana? Senang? Sudah sampai kan? Sudah ke mana saja?" Di HP-nya bukan hanya nampak wajah ibu, tapi semua adik kesayangannya itu nongol.
Melati tertawa senang melihat mereka. Menikmati indahnya alam tidak ingat orang rumah. Begitu melihat wajah mereka kangen juga ternyata. Di ujung mata Melati sudah basah karena air mata.
Sambil tersenyum lebar dia membalas semua pertanyaan ibu dan adik-adiknya. Ada saja yang ditanyakan. Begitu perhatiannya mereka padanya. Gimana nanti kalau dia benar-benar jauh dari keluarga, yaa...
Setelah lebih 10 menit akhirnya telpon selesai juga. Ranita keluar dari kamar.
"Ibu telpon?" tanya Ranita.
"Semua telpon. Kamu tau laa adikku, ributnya gimana," kata Melati. Dia taruh HP dan kembali melihat ke arah pantai. Makin tenggelam matahari ke batas air dan awan. Tetap cantik.
"Senang ya, punya banyak saudara." Ranita ikut suasana senja indah itu.
"Ribut iya kali..." Melati tertawa kecil.
"Aku hanya berdua Kak Arni. Kak Arni sudah pergi ke Palembang. Sekarang aku sendirian," ujar Ranita. "Kami dulu sangat dekat. Semua yang kami alami, kami saling cerita. Kak Arni selalu bisa jadi tempat sampahku dan sabar mendengar apa saja dariku. Sampai dia punya pacar itu. Semakin lama dia makin jarang di rumah. Kami jadi jarang komunikasi."
Melati hanya mendengar saja. Dia tidak tahu harus menimpali apa. Jadi dia tunggu Ranita melanjutkan ceritanya.
"Beberapa hari sebelum dia berangkat, kami sempat bicara banyak sekali. Dia bilang, jangan ulangi kesalahan yang sudah dia lakukan. Dia minta aku jaga diri baik-baik. Cinta itu indah tapi tetap kita harus pakai pikiran menjalaninya. Jangan menuruti emosi dan kesenangan semata." Ranita menarik nafas dalam.
"Dia juga bilang, cintanya untuk pacarnya sudah habis. Sejak pria itu mencampakkannya. Yang paling membuat dia sakit, laki-laki itu bilang dia tidak yakin bayi di perut Kak Arni adalah anaknya. Gila, kan? Jahat sekali..." Ranita membetulkan posisi duduknya. Nampak dari wajahnya ada rasa luka juga. Melati hanya memandang wajah sahabat cantiknya itu.
"Dia bilang dia awalnya benci bayi di perutnya. Karena gara-gara bayi itu semua berantakan. Seandainya dia tidak hamil. Seandainya bayi itu tidak ada. Tapi kemudian dia merenungkan, bayi itu tidak pernah minta jadi anaknya. Kalau boleh memilih mungkin dia minta lahir dari rahim perempuan yang menjalani hubungan dengan baik, seorang istri. Dan yang siap menjadi ibu buatnya. Sehingga saat dia lahir nanti tidak akan disebut orang anak haram." Ranita menelan ludahnya.
"Sejak itu Kak Arni mulai belajar mencintai bayinya. Pasti Tuhan punya maksud dengan mengijinkan bayi itu ada dalam dirinya dan sampai akhir nanti akan menjadi bagian hidupnya."
Sepi. Ranita tidak bicara lagi. Melati juga hanya diam.
__ADS_1
"Sorry..." ucap Ranita. Melati menoleh. "Tidak seharusnya aku bicara soal ini. Ini liburan gitu loo..." Ranita tersenyum.
"Ngomong apa..." ujar Melati. "Kapan pun kalau mau cerita, situasi apapun, aku siap dengar. Hmm?" Melati menaikkan dagu dan alisnya.
Ranita bangun dan memeluk Melati. "Thanks a lot for being my best friend. Lucky me to have you here."
"Bukannya takdirku beruntung punya sahabat kamu." Melati membalas pelukan Ranita.
"He... hee... tinggal dibalik saja kan kalimatnya..." Ranita makin erat memeluk Melati.
"Alaammakkk.... Kelamaan jomblo kalian, yaa.. malah bermesraan di sini." Arman muncul. Disusul Danu di belakangnya.
Ranita dan Melati melepaskan pelukannya. Langsung menoleh ke arah dua temannya itu.
"Seperti kalian sudah dapat gandengan saja. Nasib kita kan sama..." tukas Ranita.
"Ayo, sudah jam makan malam." Ajak Danu. "Yang lain sudah pada ke ruang makan."
"Iya... makanya perutku sudah mulai nyanyi," tandas Ranita. Melati berdiri, mengunci pintu kamar. Lalu mereka menuju ruang makan. Dan bergabung dengan yang lain makan malam bersama.
Suasana riuh dan ceria tetap terasa di antara murid-murid itu. Sekalipun nampak wajah lelah, tapi hati yang penuh semangat membuat keletihan itu tidak berarti lagi. Mereka menikmati makan malam sambil terus bercanda. Cerita masa mereka masih duduk di bangku sekolah terus berkumandang, Saling menceritakan kekonyolan. Bahkan dulu yang dirasa bikin malu sekarang menjadi sesuatu yang nampak layak jadi becandaan.
"Idihh... kenapa diingat lagi.. Itu masa paling memalukan aku, aduhhh..." Romi yang merasa nyeletuk.
"Haa... suaranya sampai sekarang aku masih ingat." Arman tertawa sampai sakit perut.
"Tuutttt...." Danu bersuara sambil menutup mulutnya.
"Ooiihhh... sudah ooii..." Romi meninju lengan Danu.
"Haa... haa..." mereka ngakak bareng. Beberapa anak sampai mengeluarkan air mata. Bahkan Romi ikut tertawa.
Kemudian Pak Ardan memberikan pengumuman untuk rute perjalanan mereka besok. Semua memperhatikan dan sangat antuasias. Karena terdengar menarik tempat yang mereka akan kunjungi. Mereka tentu menanti dengan tidak sabar. Makanya begitu bubar segera berhamburan ke kamar masing-masing. Ada yang langsung tidur. Ada yang berbaring, tapi tetap tidak bisa tidur. Ada yang telponan dengan keluarga atau kekasihnya.
Dan Melati sudah bersiap tidur ketika HP-nya bergetar. Melati melihatnya. Adik kecil. Melati tersenyum. Ranita sudah berbaring di ranjangnya dan memakai earphone mendengar lagu pengantar tidur.
Adik Kecil
__ADS_1
- How are you?
Melati
- Fine
Adik kecil
- Capek perjalanan jauh?
Melati
- Gitu deh, tapi senang
Adik Kecil
- Good
Melati
- ☺
Adik Kecil
- Sudah mau tidur?
Melati
- Ya. Besok panjang acara
Adik Kecil
- Ok. Sleep tight
good night.
Melati menutup HP-nya. Dia taruh di meja dan melipat tangan berdoa. Buat ayah dan ibu, adik-adiknya, perjalanannya, dan Elvan. Elvan? Setelah amin dan membaringkan tubuh, dia memikirkan cowok itu. Kenapa sekarang dia bahkan mendoakannya? Bukan untuk hubungan mereka, hanya minta cowok itu baik-baik saja. Hmm... kok seperti orang pedekate, yaa...
__ADS_1
Sudahlah... Tidak usah terlalu dipikir. Dan tak lama kemudian Melati pun lelap dalam tidurnya.