
Farel kelihatan panik ketika menelpon ke sebuah rumah sakit. "Pasien kritis?" tanyanya dengan suara agak gemetar.
"Apakah itu benar kakakmu?" tanya Tirta. Nada suaranya juga jelas sangat cemas.
"Boleh tahu nama pasien? Keluarga kami bernama Elvan dan Hasan," kata Farel. "Ha?... Bukan. Hasan, bukan Husein...Oh... baik, terima kasih..." Farel menutup telpon. Dia menggeleng.
"Itu bukan Kak Elvan atau Kak Hasan." Farel melihat Tirta.
"Coba saja terus, telpon ke rumah sakit lain...." ucap Tirta lirih.
Azka juga tidak mendapat hasil. Ada kecelakaan atas nama Alvin, bukan Elvan. Di tempat lain ditemukan nama Husna bukan Hasan.
"Di mana mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik hati Melati.
Sementara Elvan dan Hasan masih di rumah sakit. Gadis kecil tadi segera ditangani medis. Karena Elvan dan Hasan yang mengantar mereka dimintai keterangan.
Kemeja putih Elvan sudah terkena darah di dada dan perut karena menggendong anak kecil tadi.
"Dokter, apa kami bisa tinggal sekarang?" tanya Elvan.
"Mohon tunggu sebentar sampai ada pihak kepolisian yang datang." Dokter wanita itu menjawab.
"Aduh... saya buru-buru, Dok. Saya sudah terlambat," ujar Elvan.
"Dokter, kita perlu darah AB. Stok terakhir baru dipakai sejam yang lalu. Kalau tunggu diantar dari rumah sakit lain takut tidak teratasi. Bagaimana ini?" Seorang perawat mendekati dokter yang sedang bicara dengan Elvan.
"Kita harus cepat dapatkan pendonor. Gadis itu hampir tidak bertahan," kata dokter ikut cemas.
"Dokter, mungkin bisa ambil darah saya. Golongan darah saya AB." Hasan ikut bicara.
"Ooo, syukurlah. Sus, cepat ajak mas ini sekarang," kata dokter itu.
"Mari, Mas. Ikut saya." Perawat itu berjalan meninggalkan tempat itu. Cepat-cepat Hasan mengikutinya.
"Nanti setelah selesai donor darah, Mas bisa tinggalkan tempat," pesan dokter itu. "Apa ada pertemuan penting sekali?" Dokter itu memandangi Elvan.
"Hari ini hari pernikahan saya. Pengantin saya sudah menunggu..." ujar Elvan pasrah.
__ADS_1
"Oohh..." Dokter itu terperangah. Dia tak menyangka pemuda di depannya ini memilih ke rumah sakit ketimbang pergi ke acara istimewanya.
"Tunggu sebentar lagi ya, Mas..." ujar dokter itu, sedikit merasa iba pada Elvan.
HP Elvan berbunyi. Melati. Cepat Elvan angkat.
"Hai, Mel..."
"Mas, di mana? Bagaimana keadaanmu? Kami cemas sekali..." Terdengar Melati menangis.
"Aku tidak apa-apa. Tapi ini..." titt *****... HP Elvan drop, putus.
"Ya ampun... aku bahkan lupa belum charge HP-ku." Elvan makin gerah rasanya. Dia lihat badannya. Kemeja yang dia pakai sudah tidak karuan. bercak merah darah mulai mengering dan menghitam.
Elvan memilih duduk di depan ruangan, menunggu Hasan.
"Putus..." kata Melati.
"Elvan bilang apa?" tanya Erika.
"Dia baik-baik, tapi.... hanya itu. Telpon putus. Bahkan aku belum sempat tanya dia di mana..." Air mata Melati sudah meleleh.
"Kenapa anak baik itu selalu saja kena masalah?" kata Bu Nanik.
"Berdoa saja, Bu. Aku ndak tega dengan semua ini. Mereka keluarga orang baik. Apa yang Tuhan mau, kok ada saja halangannya?" ujar Pak Karno.
"Ayah, Om Tirta... aku permisi dulu..." Melati bangun dari duduknya dan cepat menuju ruang sebelah. Dia sudah tidak bisa menahan sedihnya.
Di sana, Melati menelungkupkan wajahnya di meja rias. Ranita mengejarnya.
"Mel..." kata Ranita. Dia sentuh lembut pundak Melati.
Sekar yang juga mengikuti hanya berhenti di pintu. Dia berikan ruang Ranita menemani putrinya. Lily yang juga ikut, menempel di punggungnya. Sekar mengajak Lily masuk dan duduk di kursi agak jauh dari Melati dan Ranita.
"Rani..." Melati mengangkat wajahnya dan berbalik memeluk Ranita. Tangisnya pecah sekarang. Dia tumpahkan semua perasaan yang campur aduk di dadanya.
"Kenapa begitu sulit kami bersatu? Selalu saja ada situasi rumit yang menghadang. Kenapa, Rani?" Melati memeluk Ranita erat.
__ADS_1
"Hei... Sahabatku yang kuat... Bungaku yang harum mewangi... Kamu bisa lewati ini..." ujar Ranita. Matanya juga basah tapi dia harus bisa kuatkan Melati.
"Apa yang kamu rasa? Hmm? Ingat saat Elvan hilang dulu, aku bahkan pesimis kalau cowok idola di SMA kita itu masih hidup. Adik kelas populer yang cinta sahabatku ini mungkin memang sudah dipanggil pulang sama pencipta-Nya. Tapi kamu terus saja yakin dia pasti kembali..." Ranita mengusap mata Melati yang basah.
"Apa yang kamu yakini? Sekarang?" Ranita memandang mata Melati yang sembab.
Melati mencoba menenangkan hatinya. Dia balik menatap Ranita.
"Dia bilang dia baik-baik saja," kata Melati pelan.
"Kalau waktu itu kamu tidak tahu apa yang terjadi padanya dan yakin dia baik-baik saja... sekarang Elvan bahkan mengatakan dia baik-baik saja..."
Melati memeluk Ranita. "Aku harus percaya dia baik-baik dan... dia pasti datang..." Tangisan Melati lirih terdengar.
"Kalau begitu apa yang harus kamu lakukan?" Ranita melepas pelukan Melati dan memegang kedua bahu sahabatnya itu dan mencoba tersenyum.
"Bersiap... tidak boleh sedih..." Melati menunduk. Bahunya berguncang hebat. Ranita membiarkannya menangis lagi. Sampai beberapa waktu, Melati akhirnya bisa tenang. Make up di wajahnya berantakan.
"Kita rapikan wajahmu, ya..." kata Ranita. Melati mengangguk. "Kita memang hanya bisa menunggu. Tapi, menunggu dengan siap.. bukan kalut."
Melati lagi mengangguk. Dia menguatkan hatinya lagi. Elvan pasti datang. Dan dia harus siap bagaimanapun nanti kondisi Elvan.
Penata rias Melati yang sedari tadi hanya duduk di pojok memperhatikan dengan hati pilu mendekat.
"Maaf, Mbak. Saya bantu," katanya.
Mulai wajah Melati dibersihkan lalu di-make up ulang. Melati berusaha tidak menangis. Jika di rumah tadi dia tersenyum di depan kaca, kali ini hanya wajah datar dengan tatapan nanar yang muncul di sana.
Dengan pelan dan hati yang ikut carut marut penata rias pengantin itu memoles wajah cantik Melati yang begitu sayu dan kuyuh. Dia tahu sebagus apapun make up yang dia buat tak bisa sepenuhnya menutupi kepedihan pengantin di depannya ini.
Belum pernah dia mengalami situasi menyedihkan seperti ini ketika mendandani seorang pengantin. Sampai lebih setengah jam kemudian, selesai.
"Sudah rapi. Cantik," katanya pelan.
Melati menatap wajahnya. Benar, cantik. Tapi tak ada senyum di sana. Matanya menunjukkan kesedihan yang dalam.
Melati menutup wajahnya dengan cadar transparan. Dia siap sekarang. Tapi entah, sampai kapan dia harus menunggu...
__ADS_1
Melati diam. Ranita diam. Sekar, Lily yang dari tadi juga menyaksikan semua itu, diam. Penata rias Melati justru kini yang menitikkan air mata.
"Mas, aku sudah siap. Apapun yang terjadi, bagaimanapun dirimu nanti... aku siap. Aku akan menerimamu dan mencintai kamu sepenuhnya. Mas... aku menunggu..." bisik hati Melati.