
Melati mengangkat wajahnya melihat Elvan yang berdiri tepat di depannya.
"Kenapa kamu pergi dan tidak bilang?" Melati menatap Elvan dengan pandangan nanar.
"Aku... aku tidak mau mengganggu kamu, Mel..." kata Elvan pelan. Dia menunduk memandang wajah kekasihnya yang hampir menangis itu.
"Sebel..." gumam Melati. "Kenapa kamu ga ngerti?"
"Apa?" Elvan bingung. Dia memang tidak mengerti.
"Aku kangen kamu, Elvan..." Akhirnya Melati menghambur ke pelukan Elvan. Dia menangis sejadi-jadinya di dada kekasihnya itu.
Elvan balas memeluk Melati. Dia juga rindu dekapan sayang Melati. Dia rindu bau harum rambutnya, mengelus rambut panjang yang halus dan indah itu. Sambil mendekap Melati Elvan tersenyum kecil.
"Ternyata kamu sedang ingin aku perhatikan. Ingin manja padaku?" kata hati Elvan. "Ya, memang cukup lama kita terlalu sibuk dengan semua hal. Tidak punya waktu bersama mencurahkan rasa kangen."
"Maaf, Sayang... maafkan aku..." Elvan mencium puncak kepala Melati. Harum rambutnya kembali terasa di penciuman Elvan. Dia menarik nafas panjang. Hatinya benar-benar lega.
Puas menangis, Elvan mengajak Melati duduk. Tapi dia tidak melepaskan tangan gadis itu.
"Sudah ga marah lagi?" ujar Elvan.
Melati menggeleng.
Elvan tersenyum. Tiba-tiba dia cium pipi Melati. "Cup."
Melati kaget dan menoleh pada Elvan. Wajahnya bersemu merah.
"I miss you too," bisik Elvan. Senyumnya mengembang. Senyum yang lama tidak Melati lihat.
"Maaf, kalau aku kekanak-kanakan. Aku..."
"Tidak apa-apa. Aku yang kurang peka. Kita kurang piknik," ujar Elvan sambil tersenyum.
Melati ikut tersenyum. "Ya... mau gimana? Banyak sekali yang harus kita lakukan."
"Kalau papa sudah pulang dari rumah sakit, kita jalan-jalan. Oke?" kata Elvan. Melati mengangguk. Semoga. Melihat situasi ini, sulit rasanya.
Erika berjalan mendekati Elvan dan Melati.
"Ini sudah siang, pergilah makan di kantin," kata Erika.
"Mama juga belum makan," ucap Elvan.
"Belikan roti saja. Kalian pergilah," ujar Erika.
__ADS_1
"Baiklah." Elvan mengajak Melati ke kantin rumah sakit. Erika masuk ke kamar menemani Tirta.
Di kantin sambil makan Elvan dan Melati bicara. Membicarakan beberapa hal yang harus mereka selesaikan.
"Aku tahu kamu cemas soal Bondan. Aku juga sama, Mel. Tapi percayalah aku tidak tinggal diam," kata Elvan.
"Aku juga tidak tega melihat dia harus mengalami banyak hal buruk selama ini. Tapi, Harun tetap ayahnya. Sekalipun dia nampak jahat dia pasti punya rasa sayang pada Bondan," tambah Elvan.
"Apa rencana kamu?" tanya Melati.
"Jika Harun terus melakukan kekerasan pada Bondan, dia bisa kena pidana. Tapi kita perlu bukti. Makanya aku minta orang untuk mengawasi Bondan dan Harun. Setelah itu dapat, kita bisa bawa Bondan ke yayasan. Karena jika Harun ditahan, tidak ada lagi yang bertanggung jawab atas Bondan. Maka tinggal di yayasan salah satu bentuk perlindungan negara untuk anak-anak yang terlantar," jelas Elvan.
"Apakah tidak masalah jika Harun sampai ditahan?" ujar Melati. "Maksudku... ketika dia besar nanti, apakah tidak akan menjadi ingatan buruk bahwa ayahnya pernah menjadi narapidana?"
"Ya... aku juga memikirkan itu. Sebisa mungkin tentu aku juga ingin hal ini diselesaikan baik-baik. Pilihan terakhir kalau memang terpaksa, mau gimana lagi," tandas Elvan.
"Maafkan aku, Mas... kemarin..."
"Maafkan apa?" ulang Elvan. Dia memicingkan matanya.
Melati tersipu. Dia paham maksud Elvan. Karena hatinya baik, dia panggil Elvan 'mas' lagi.
"Maaf... " ujar Melati malu.
"Mel... kalau ga rela panggil mas, ya sudah panggil nama saja. Aku tidak keberatan, kok." Elvan tersenyum. Melati makin tersipu.
"Iya," kata Melati. Dia sudah selesai makan. Minumannya dia teguk sampai habis. Elvan juga telah selesai makan.
Elvan pergi membayar dan membeli roti untuk mamanya. Lalu dia menghampiri Melati yang sudah di pintu kantin.
"Yuk, ke taman sebentar," ajak Elvan.
Mereka meninggalkan kantin dan menuju taman rumah sakit. Ada beberapa lokasi yang dilengkapi taman di rumah sakit ini. Elvan memilih taman yang pojok yang jarang ada orang ke sana. Taman ini kecil saja, tapi tertata tapi. Dengan bunga seruni tiga warna dan juga bunga mawar menjadi taman lebih segar.
"Kenapa ke sini?" tanya Melati. Dia memandang bunga-bunga yang mekar indah. Ada dua kupu-kupu berwarna kuning terbang diantara bunga. Seperti sedang berkejaran di sana.
"Masih ingin peluk kamu." Elvan merapatkan dirinya pada Melati. Sedari tadi hatinya terus saja bergemuruh. Kangen memeluk Melati lama-lama.
"Boleh, ya..." kata Elvan lagi.
Melati mengangguk. Elvan melebarkan tangannya dan memeluk pundak Melati, membawanya ke dadanya. Melati menempelkan kepalanya di dada Elvan, dengan telinganya tepat di jantung Elvan. Tangannya melingkar di pinggang Elvan. Dia suka dipeluk seperti ini. Mendengar degup kencang jantung Elvan dan sesekali kekasihnya itu mencium rambutnya. Juga merasakan harum parfumnya yang khas.
"Peluk aku erat, Mel," kata Elvan.
Melati merapatkan kedua tangannya di pinggang Elvan. Dia pejamkan matanya. Rasanya nyaman sekali.
__ADS_1
"Aku akan wisuda bulan depan. Maukah kamu menikah denganku secepatnya setelah itu?" tanya Elvan.
Melati mengangkat kepalanya dan menatap Elvan. Hatinya makin tak karuan dengan pertanyaan itu. Dia tidak siap. Jujur saja. Ini tiba-tiba. Kejutan lagi dari Elvan.
"Menikah?" ulang Melati.
"Hmm... maaf, aku melamar tanpa cincin, tanpa suasana romantis." Elvan menatap mata cemerlang Melati. "Hanya di taman di pojok sebuah rumah sakit."
Melati membalas menatap mata coklat indah Elvan. Teduh sekali tatapan mata itu.
"Aku hanya berpikir papaku..." Elvan tidak meneruskan kalimatnya. Ya, tiba-tiba juga muncul di pikirannya. Papanya semakin lemah. Dia tidak ingin jika dia belum menikah papanya sudah tidak sama-sama mereka lagi.
Melati menyentuh kedua pipi Elvan. "Om Tirta akan baik-baik, Mas. Dia pasti sehat kembali."
Elvan memegang kedua pundak Melati. "Mel..." panggilan itu. Melati suka suara Elvan menyebut itu.
"Ya... aku bersedia menikah denganmu," bisik Melati.
"Thank you..." Elvan memajukan wajahnya dekat di wajah Melati. Melati memindahkan tangannya kembali memeluk pinggang Elvan. Dia juga suka memeluk Elvan lama-lama.
Elvan mengecup kening Melati. Melati merasakan bibir lembut Elvan di sana. Dia pejamkan matanya. Hatinya berdegup makin kencang.
"I love you, Mel," kata Elvan. Lalu kembali dia kecup kening Melati.
Kedua kupu-kupu kuning itu masih terus saja terbang ke sana kemari di antara bunga-bunga. Seperti tahu, ada dua hati yang membuncah penuh cinta di dekat mereka.
*
*
Janjiku... sampai kapanpun aku akan memelukmu
Apapun yang akan jadi aku akan tetap memelukmu...
Erat... makin erat...
*
*
*
*
*
__ADS_1
❤ thank you yang sudah baca... 😊😊
kasih komen, like, dan vote yaa... 🙏🙏❤