Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 101 - This is the Day


__ADS_3

Melati menatap dirinya di cermin besar. Senyumnya mengembang. Hari ini, ya, hari ini... Dia akan menautkan diri sepenuhnya pada Elvan. Dia akan mengucapkan janji setia untuk kekasihnya yang sangat dia sayangi.


Gaun putih tulang melekat pas di tubuhnya. Kerudung transparan sudah terpasang di kepalanya dengan mahkota kecil bertahta permata indah. Make up tipis ciri khasnya, tetap saja membuat dia kelihatan berbeda.


"Kamu sudah siap, Sayang?" Sekar mendekati Melati.


"Iya, Bu," jawabnya tetap lurus menatap ke cermin.


"Anak Ibu cantik sekali." Sekar memandang Melati dan mengelus pipinya. Melati tersenyum.


" Kamu benar-benar siap, Mel?" tanya Sekar.


"Iya, Bu. Sejak aku memilih Elvan dan berkata iya untuk jadi kekasihnya, hatiku yakin. Kasihku buatnya tidak pernah surut," jawab Melati.


"Elvan pria yang baik. Tuhan mengirim seseorang yang akan terus menjagamu," kata Sekar.


"Aku sangat bersyukur untuk itu, Bu." Melati tersenyum.


"Apa yang kamu rasakan, Mel?" Sekar masih memandangi putri sulungnya itu.


"Deg degan, Bu... entahlah... aku takut jika ada sesuatu yang berjalan tidak seperti rencana," kata Melati.


"Wajar saja pikiran itu. Kita serahkan semua pada Tuhan. Dia sudah menuntun kalian sejauh ini. Percayalah semua akan baik-baik saja." Sekar menggenggam tangan Melati. Tangannya dingin sekali.


"Kita keluar, yaa... Ayah dan adik-adikmu menunggu di depan," ajak Sekar.


"Iya, Bu." Melati mengangguk.


Tetap menggenggam tangan Melati, Sekar menuntun Melati keluar kamar. Di ruang depan keluarga Adinata Gilang, Lily, Damar, dan Jati sudah siap. Mereka menunggu Melati untuk berangkat ke gedung yang disiapkan untuk pernikahan.


"Wah... Kakak cantik..." kata Jati gembira. Lily dan Damar juga tersenyum lebar. Melati tersenyum lebar.


Gilang maju beberapa langkah dan memeluk Melati. "Anak Ayah... Selamat, ya..." Gilang mengecup kening Melati.


"Ayah... kan masih belum..." kata Melati.


"Tinggal dua jam lagi, to... sebentar lagi anak Ayah jadi Nyonya Edgar, nih..." Gilang tersenyum.


"Tetap anak Ayah dan Ibu. Jiwa Adinata tetap ga berubah, Yah..." Melati tersenyum.


"Ayah tahu..." Lagi Gilang mengecup kening Melati. "Kita berangkat, ya..."


Mereka meninggalkan rumah, masuk ke dalam kendaraan yang siap mengantar mereka.


Elvan akan menunggu di tempat acara dilangsungkan dengan keluarga Edgar. Di gedung itu akan berlangsung pemberkatan nikah dan sekaligus resepsi. Anak-anak dari Rumah Garuda dan Yayasan Kasih Lidya juga semua akan hadir selain keluarga. Mereka menyiapkan penampilan spesial buat Elvan dan Melati. Mereka ingin memberikan tanda kasih untuk kedua kakak yang mereka sayangi itu.


*


Di kediaman keluarga Edgar.


"Sudah siap, El?" Erika masuk kamar Elvan. Elvan sedang memasang dasinya. Lalu dia ambil jas yang tersampir di sandaran kursi. Dia pegang di tangannya.


"Eh, jasnya dipakai, El," ujar Erika.


"Nanti di sana saja, Ma. Panas " kata Elvan.

__ADS_1


"Kamu nanti jangan galak sama Melati, ya... Dia gadis yang lembut. Perlakukan juga dengan lembut. Jangan buat dia repot kalau di rumah. Yang bisa kamu kerjakan ga usah nyuruh terus. Istri jangan sampai merasa jadi pembantu. Ngerti, El?" Mulai nasihat ala kuliah 3 SKS keluar.


"Iya..." jawab Elvan pendek.


"Bangun pagi, jangan tunggu dibangunin. Justru kamu harus bantu dia siapkan apa-apa. Bagus sekali kalau kalian berdoa sama-sama sebelum memulai hari," kata Erika lagi.


"Iya, Ma..." jawab Elvan lagi.


"Hmmm... ganteng banget anak Mama ini..." Erika memegang kedua pipi Elvan sambil tersenyum. Elvan cuma nyengir.


"Bagaimana mempelai kita? Bisa berangkat sekarang?" Tirta muncul di pintu kamar Elvan.


"Ya, sudah, Pa," jawab Elvan.


"Hmmm... jadi ingat waktu Papa mau menikahi mamamu. Deg degan ga karuan jantung Papa. Takut tiba-tiba mamamu berubah pikiran. Lalu ga datang ke acara," ujar Tirta.


"Kenapa?" tanya Elvan.


"Papamu ini orang biasa. Ya.. yang mungkin anak sekarang sebut rakyat jelata. Sedang mamamu anak orang berduit. Hidupnya ga pernah susah. Pikiran Papa, bisa jadi Mama takut menderita di samping Papa, dia milih batal. Kan bisa?"


"Memang Mama kepikiran mau batalin pernikahan dengan Papa?" tanya Elvan.


"Nggak laa... Mama tahu hidup dengan Papa semua akan berbeda. Tapi pasti Mama akan kuat, karena papamu pria tangguh." Erika memandang suaminya dengan tatapan cinta yang besar.


"Terima kasih, Pa, Ma... teladan cinta kalian menginspirasi aku. Doakan aku dan Melati bisa punya cinta kuat seperti Mama dan Papa," kata Elvan.


"Iya, pasti." Tirta memeluk Elvan. "Good luck."


"Ayo... jangan kita terlambat. Kamu harus duluan sampai di sana, El." Erika mengajak mereka berangkat.


"Wah, mantap, Bro... Siap melepaskan masa lajang, yaa..." sambut Hasan.


"Iya, dong... masa kalah sama kamu. Kamu dikit lagi jadi Bapak," ujar Elvan. Hasan memang sudah menikah beberapa bulan sebelum gabung dengan Rumah Garuda. Dan istrinya sedang mengandung saat ini.


"Oke, kita berangkat?" kata Hasan.


"Ya... I am ready." Elvan tersenyum.


Tirta, Erika, Bi Wanti, dan Farel sudah masuk mobil. Elvan dan Hasan juga. Farel berjalan di depan mereka. Beberapa menit kemudian Elvan ingat HP-nya tertinggal.


"San, HP-ku ketinggalan. Balik, ya... Ga mungkin aku tinggal. Aku simpan sambutanku di HP," kata Elvan.


"Oke, Bos. Siap..." Hasan pun berputar balik. "Efek grogi ka?"


"Entahlah... tegang juga ternyata. Aku berusaha setenang mungkin. Tapi masa saja sedikit nervous," jawab Elvan.


"Begitulah... aku sudah pernah, he... hee..." Hasan terkekeh. "Tapi tenang saja... Semua akan baik-baik saja. Cuma..."


"Cuma apa?" tanya Elvan.


"Lebih tegang waktu berdua di kamar... haaa... haa..." Hasan malah ngakak.


"Dasar..." Elvan tergelak.


Mereka sampai di rumah keluarga Edgar. Elvan cepat-cepat masuk ke rumah dan mengambil HPnya. Ya, benar, tertinggal di meja di kamar.

__ADS_1


Pas dia baru keluar rumah, HP berbunyi. Tirta telpon.


"Kenapa balik?" tanya Tirta. Rupanya tadi dia sempat lihat mobil Elvan putar balik.


"HP tertinggal, Pa. Ada yang penting jadi harus aku ambil," jawab Elvan.


"Ya sudah. Agak cepat, ya... jangan telat," kata Tirta.


"Ya, Pa. Ini mau langsung meluncur." Elvan masuk mobil dan Hasan segera menjalankan mobilnya.


Waktu Elvan tidak banyak. Dua puluh menit dia harus sampai di tempat. Padahal jalanan cukup ramai karena hari Sabtu. Hasan berusaha secepatnya agar pengantin pria ini tidak terlambat.


"Sabar, yaa.. ga usah tegang... ga apa..." Hasan mencoba menenangkan Elvan.


"Huuhh..." Elvan meggembungkan pipinya. Dia mulai gelisah.


Brakkk!!!!


Terdengar suara keras sekali di depan mereka. Dengan sigap Hasan mengerem mobilnya.


"San!" teriak Elvan kaget.


"Uffhhh..." Hasan juga kaget.


"Kenapa?" tanya Elvan.


Mereka melihat di depan mereka ada kecelakaan. Jalan langsung macet.


Elvan turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi. Orang-orang juga mulai berdatangan melihat kecelakaan yang terjadi.


Sebuah mobil rupanya tabrakan dengan sebuah motor. Korbannya seorang wanita muda dan anak kecil kira-kira 8 tahun. Sepertinya ibu dan anaknya. Mobil yang menabrak ringsek karena banting stir menghindari tabrakan yang lebih parah. Ibu tertindih motor dan si anak terlempar kira-kira empat meter jauhnya.


Darah keluar dari tubuh anak itu. Dia tidak bergerak. Ibunya menjerit memanggil anaknya di tengah rasa sakit, karena dia masih ada di bawah motornya.


"Mas, bantu bawa ke rumah sakit, ya... Ini darurat..." Seorang bapak bicara setengah berteriak pada Elvan. Dia sedang melihat kondisi anak itu.


"Saya..." Elvan agak bingung.


"Kalau terlambat dia bisa mati," kata bapak itu.


"Ya, baik," jawab Elvan cepat.


Bapak itu mengangkat si anak dan mengikuti Elvan. Elvan membuka pintu mobil sebelah tengah, dia masuk dan menerima anak kecil itu dari tangan si bapak.


"Elvan, ini kenapa?" tanya Hasan kaget.


"Darurat, San," kata Elvan. "Pak, ibunya bagaimana?" Elvan masih mikir ibu anak kecil itu.


"Aku akan urus. Bawa ke rumah sakit umum. Itu yang terdekat," kata Bapak itu.


"Baik, Pak," ujar Elvan. "Jalan, San. Ke rumah sakit umum."


"Elvan... kamu mau menikah ini... Semua nunggu kamu..." Hasan masih bingung dengan yang terjadi.


"Anak ini bisa mati dalam waktu beberapa menit, San. Aku tidak bisa diam saja. Sudah jalan. Dan telpon Kak Azka kasih tau yang terjadi. Cepat!" kata Elvan.

__ADS_1


"Okey... you are the boss!" Antara bingung dan panik, Hasan ikut juga kata Elvan.


__ADS_2