
Dalam waktu dua bulan Melati dan Red Sky manggung empat kali. Dua kali di acara kampus dan dua kali undangan pernikahan. Karena band mereka bagus banyak tawaran ngisi acara. Cuma Arthur sebagai koordinator selektif, tidak asal terima job. Sebab, mesti memperhatikan performa tim. Supaya bisa maksimal harus cukup latihan. Selain itu personil kan semua masih kuliah. Jadi jangan sampai kegiatan band jadi alasan tugas kuliah keteter.
Selama dua bulan itu juga Alfaro mencoba mendekati Melati. Tapi Melati terus menghindar. Dia tidak mau memberi harapan apa-apa. Dia tidak ingin melukai Elvan yang begitu sayang padanya. Dia sudah berjanji pada diri sendiri akan menjaga hubungannya dengan Elvan dan menjaga hatinya untuk Elvan. Sedikit banyak Melati bisa merasa Alfaro masih mengharapkan dirinya.
Hari itu, sehabis manggung Alfaro mendekati Melati. Dia membujuk untuk mengantar Melati pulang.
"Sudah malam, Mel. Hampir jam 10, aku antar ya. Kita sejalan juga arahnya," bujuk Alfaro.
"Tidak apa aku sendiri. Sudah biasa, kok," tolak Melati. "Kamu pulang saja."
"Mel, kamu sama sekali tidak beri aku kesempatan untuk membuktikan aku serius dengan ucapanku." Alfaro justru membuka pembicaraan lebih jauh. Ternyata dugaan Melati benar.
Melati menunduk. Tidak bisa seperti ini terus. Dia harus katakan yang sebenarnya.
"Al, aku benar tidak bisa buka hatiku lagi. Kita cukup berteman saja," ujar Melati. "Aku sudah punya pacar. Hatiku sudah milik orang lain."
Alfaro menatap Melati. "Kamu sedang tidak bercanda, kan? Aku tidak pernah melihatmu dengan cowok. Kalau punya pacar, ga mungkin dia biarkan kamu sendiri begini."
"Dia di Malang, Al," jelas Melati.
Alfaro menatap Melati. Dia mencari kesungguhan di wajah gadis itu. Dia tahu Melati tidak mungkin bohong. Melati juga bukan cewek yang dengan gampang menunjukkan perasaan kepada orang lain. Makanya tidak terlihat dia sudah punya kekasih.
"Oo... I see..." ujar Alfaro. Suaranya merendah. "Aku hanya ingin mengantarmu pulang."
"Kamu tidak perlu repot, Al. Aku baik-baik saja." Melati mengatakan dengan tegas. Dia tidak ingin berlama-lama dengan Alfaro.
"Bagaimana kalau aku antar kamu sebagai teman?" tanya Alfaro. Melati memandang Alfaro. "Aku paham, urusan cinta itu masalah hati. Dan hatimu sudah untuk orang lain. Tapi sebagai teman, apa salah aku baik padamu. Apa salah sebagai teman aku ingin menjaga temanku?"
Melati memperhatikan Alfaro. Tidak salah, sih... Apa yang dia takutkan? Alfaro adalah pemuda yang baik. Dia tidak akan macam-macam, kan?
"Oke. Kali ini saja, ya..." kata Melati akhirnya.
Alfaro tersenyum. Dia lega. Berhasil juga dia membujuk Melati. Lalu Melati pun mengikuti Alfaro, masuk ke mobil cowok itu. Alfaro mengantar Melati pulang.
Dalam hati Alfaro terus bergulung pertanyaan tentang pacar Melati. Siapa dia? Sudah bekerja ka? Berapa lama mereka sudah pacaran? Alfaro ingat Tony pernah berkata, "Kejar cewek itu jangan tanggung-tanggung. Harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Biar sudah punya pacar, sebelum dia duduk bersama di pelaminan masih bisa belok hatinya. Yang sudah nikah aja, bisa ninggalin suaminya."
__ADS_1
Alfaro tersenyum. Sesulit apa sih membelokkan hati Melati? Dia harus tahu siapa pacar Melati. Dan usaha meraih cinta tidak boleh kendur. Tapi caranya harus sangat halus. Jangan sampai Melati merasa dia sedang ditarik untuk luluh pada hati yang lain.
Sejak itu hubungan Melati dan Alfaro lebih baik. Melati tidak terlalu membatasi dirinya karena dia memegang perkataan Alfaro, mereka adalah teman. Latihan bersama dan manggung bareng masih berjalan. Lalu datang juga tawaran job pribadi buat Melati, menyanyi di acara-acara pernikahan, ulang tahun, bahkan acara formal kampus atau beberapa instansi yang terkait dengan kampus. Melati tetap selektif memilih, agar tidak mengganggu kuliahnya. Dia sebisa mungkin juga cari teman yang dia kenal untuk pergi bersama.
Sesekali Ranita menemani. Tapi akhir-akhir ini dia juga jarang ada waktu. Katanya tugas makin banyak. Ranita sering pulang malam karena mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Ya, dia sudah punya tiga teman dekat yang sefakultas dengannya. Ranita juga makin lengket dengan Teddy. Melati selalu mengingatkan Ranita agar bisa hati-hati jaga hubungan dengan Teddy.
Malam itu Melati dapat job menyanyi di pernikahan kakak salah satu mahasiswa dari fakultas lain. Ada satu teman juga yang diminta menjadi singer di acara itu. Dia anggota paduan suara kampus. Dari jam tiga sore Melati sudah bersiap. Nampaknya keluarga mempelai tergolong orang berkelas karena acara diadakan begitu mewah dan megah di salah satu hotel berbintang di sekitar Depok.
Benar saja tamunya melimpah sejak resepsi dimulai jam 6 sore. Melati mulai terbiasa dengan acara seperti ini. Sambil duduk di counter untuk singer dan pemain musik Melati memperhatikan sekeliling. Ada beberapa teman kuliah yang dia kenal datang. Ada dosen dan staf kampus juga. Dia juga melihat Alfaro dan Arthur di sana. Mereka tersenyum dan melambai ke arahnya. Sudah hampir setengah 9 tamu masih terus saja berdatangan, meski sudah tak sebanyak tadi.
Akhirnya selesai sudah acara. Melati mengambil waktu makan malam dengan singer lainnya dan pemain musik. Alfaro sudah tidak kelihatan, tapi Arthur masih ada. Dia duduk dan minum dengan beberapa temannya. Agak terkejut juga Melati melihatnya. Ternyata Bang Arthur suka minum-minum juga. Sehabis makan, Melati memberi selamat kepada mempelai lalu berpamitan. Jam sudah mendekati setengah 10 malam.
Melati ke toilet gedung ini mengganti bajunya dengan kaos hitam dan celana jeans hitam. Dia bawa jaket tipis warna kuning terang. Bergegas Melati meninggalkan gedung itu.
"Hei, Mel..." ada yang memanggilnya.
Melati menoleh. Arthur ternyata.
"Mau pulang?" Dia mendekati Melati. Dia sedikit sempoyongan.
"Iya, Bang. Sudah selesai acara. Sudah malam juga," kata Melati.
"Ga apa, Bang. Aku bisa sendiri," tolak Melati.
"Hei, tidak baik anak gadis jalan sendiri malam-malam," ujar Arthur. "Ayo, sama Abang. Apa kamu takut?" Arthur menarik tangan Melati.
Melati kaget sekali. Radar Melati langsung seperti bergaung di kepalanya. Ini tanda bahaya.
"Bang, jangan..." Melati menarik balik tangannya. Dia berusaha segera pergi.
"Jadi cewek jangan munafik. Sok jual mahal. Kamu ga bisa menolak! Laki-laki itu lebih kuat, tahu?!" Arthur justru mendekap Melati tiba-tiba. Sontak Melati berontak. Tapi Arthur lebih kuat. Dia mendekatkan wajahnya pada Melati dan mencoba menciumnya. Melayu menunduk dalam-dalam sehingga mulut Arthur mengenai rambutnya.
"Tuhan, tolong..." teriak Melati dalam hati. Dia sudah gemetar. Tubuhnya terasa terkulai. Tapi dia tidak boleh menyerah. Dia harus bisa lepas dari Arthur. Arthur masih berusaha mendekap dan menciumnya.
Entah kekuatan dari mana, Melati menendang kaki Arthur dengan lututnya sekeras mungkin. Arthur terkejut dan berteriak kesakitan. Rupanya kena bagian vitalnya. Dekapan Arthur melemah dan Melati berhasil melepaskan diri. Dia berlari sekencangnya dari situ. Melati tidak menoleh sama sekali.
__ADS_1
"Tuhan, tolong... tolong aku..." Tak henti Melati berdoa.
Melati melihat taksi Blue Bird lewat. Dia stop dan taksi itu berhenti. Dia masuk dan mengatakan tujuannya. Di dalam taksi Melati menangis terisak-isak. Seluruh tubuhnya masih gemetar. Sopir taksi itu memperhatikannya.
"Neng, apa baek-baek?" tanya sopir taksi itu dengan nada khas Betawi.
"Iya, Pak. Maaf..." kata Melati pelan.
"Bertengkar sama pacar, ya..." kata sopir taksi itu lagi. Melati tidak menjawab. "Sudah ga usah terlalu dipikir. Diemin aja dulu. Ntar juga baek lagi. Kalo emang die masih aneh-aneh, tinggalin uda. Neng cantik, masih banyak laki yang lebih baek."
"Iya, Pak." Melati menjawab pendek.
Sampai di apartemen masih gelap. Berarti Ranita belum pulang. Melati langsung mandi dan membersihkan dirinya. Rasa takutnya perlahan hilang. Selesai mandi Melati membuat teh hangat dia tambah jeruk nipis biar menenangkan. Lalu dia masuk kamar dan mencoba tidur.
"Terima kasih, Tuhan... Kau masih melindungiku," doa Melati. Sulit sekali untuk tidur. Wajah Arthur, dekapan yang tiba-tiba seperti ada di depan matanya.
HP-nya berbunyi. Ini sudah setengah 12 malam. Dari Elvan.
Elvan Cintaku ❤
- Sleep tight. My heart is with you. God bless you. Good night.
Melati
- ☺ Miss you
Melati langsung menangis lagi.
"El, aku ga bisa jaga diriku. Aku takut..." bisiknya pelan. Sambil terisak akhirnya Melati tertidur.
.
.
.
__ADS_1
.
Thank you so much yang sudah baca... kasih masukan dan like yaa... biar lebih oke ceritanya 🙏☺☺