
Sabtu pagi, Melati sudah bersiap akan pergi dengan Elvan. Cowok itu bilang akan mengajaknya ke suatu tempat yang akan menentukan rencana mereka ke depan. Dengan mengenakan kaos tosca dengan outer hitam, celana jeans hitam, sepatu kets, Melati menunggu Elvan di ruang depan.
Tepat waktu, jam 9 kurang 2 menit Elvan datang. Cakep sekali dengan kaos putih, jaket hitam, celana jeans biru. Sepatu merah maron kesayangannya pasti tak ketinggalan. Mereka pamit pada ibu dan memulai perjalanan mereka hati itu.
Kali ini Elvan bawa mobil. Tumben. Elvan ke mana-mana lebih suka bawa motor. Katanya lebih cepat kalau pas jalanan padat. Di dalam mobil sementara Elvan menyetir Melati melihat ke bagian belakang. Ada banyak tas kertas cantik di dalam kardus agak besar. Apa itu?
"Kenapa ada tas-tas itu, Mas?" tanya Melati.
Elvan tersenyum, masih rasa lucu dengan panggilan itu. "Itu bingkisan yang nanti kita bagi," jawab Elvan.
"Kita mau ke mana, sih?" tanya Melati lagi.
"Ke sebuah yayasan anak," kata Elvan.
"Yasayan anak?" Melati mengulang meminta penjelasan.
"Ya. Mulai tahun lalu, perusahaan Papa membantu yayasan anak ini dengan menjadi sponsor tetap. Memang bukan sponsor satu-satunya. Dan setidaknya dua kali setahun kami mengadakan acara bersama anak-anak itu untuk memberi tanda kasih dan perhatian," jelas Elvan.
"Panti asuhan?" tanya Melati memastikan.
"Kurang lebih seperti itu. Tetapi anak-anak ini ada yang masih mempunyai orang tua, tetapi orang tua tidak mampu membiayai sekolah mereka. Jadi mereka dibawa tinggal di yayasan untuk bisa belajar mandiri dan terus bersekolah sampai setidaknya jenjang SMA," jawab Elvan.
"Lalu, hubungannya dengan rencana kita masuk industri musik?" tanya Melati lagi.
"Sebentar lagi sampai. Kamu akan tahu." Lagi-lagi jawaban Elvan menggantung.
Benar saja, tidak sampai lima menit mereka tiba di sebuah lokasi yang cukup luas. Halamannya besar, dengan beberapa bangunan besar juga di sana. Nampak bagian depan seperti lobby agak luas yang digunakan menerima tamu. Ada beberapa mobil dan motor terparkir di sana.
Begitu turun dari mobil dua orang pemuda mendekat ke mobil Elvan.
"Halo, Kakak. Apa kabar?" sapa seorang yang berambut keriting. Kelihatan dia berasal dari daerah Indonesia Timur. Mungkin Kupang atau Sumba.
"Kakak, lama tidak berkunjung, yaa... Makin sibuk pasti." Yang seorang ikut menyapa. Dia kelihatan muda. Kulitnya putih dengan rambut lurus. Mungkin dari Kalimantan.
Melati tersenyum sambil memandangi mereka.
"Hai... kalian ada acara hari ini, kan? Karena aku tidak sibuk, aku datang la..." Elvan tersenyum ramah membalas sapaan mereka.
"Pagi, Kakak Nona..." sapa yang rambut keriting.
"Kenalkan. Ini Melati." Elvan mengenalkan mereka. "Mel, ini Hosea dan ini David."
__ADS_1
"Halo..." Melati menyalami mereka.
"Kakak Nona nama Melati. Memang cantik seperti bunga melati jua," kata Hosea.
Melati tersenyum lebar.
"Ini pacarnya Kak Elvan ka?" tanya David.
"Tul sekali. Kelihatanx yaa... memang jodoh," sahut Elvan sambil melirik Melati.
"Iya... mantap, Kakak..." Keduanya mengacungkan jempol.
Melati dan Elvan tertawa.
"Bantu bawa kardus ke dalam, ya," kata Elvan. Mereka masing-masing mengangkat satu kardus dan dibawa ke ruang besar, seperti ruang pertemuan di belakang gedung lobby tadi.
Di sana anak-anak mulai masuk dalam ruangan. Lalu ada tamu-tamu juga yang datang duduk di kursi yang disiapkan. Ada panggung yang dihiasi dengan manis dan lucu. Melati mengikuti Elvan dan kedua pemuda tadi meletakkan kardus di pojok ruangan dekat pintu keluar.
"Nak Elvan, apa kabar?" sapa seorang wanita setengah baya. Dia menyalami Elvan setelah Elvan menaruh kardus di meja.
"Baik, Bu. Bu Lidya apa kabar?" balas Elvan ramah.
"Selalu penuh semangat. Apalagi lihat anak-anak mau gelar talenta hari ini." Lidya tersenyum ramah.
Lidya yang juga mengurus yayasan ini.
"Di sana itu, mengatur anak-anak. Sedikit lagi acara mulai." Lidya menunjuk seorang laki-laki yang sibuk dengan anak-anak tak jauh dari panggung.
"Mbak manis ini siapa?" tanya Lidya. Dia perhatikan Melati.
"Ah, iya... Melati, Bu." Elvan mengenalkan. Melati dan Lidya salaman.
"Pacarnya, Nak Elvan?" tanya Lidya sambil masih melihat Melati.
Melati tersenyum.
"Cocok, Nak. Hee... hee..." Lidya tertawa lirih. "Ayo, silakan duduk. Acara segera mulai," kata Lidya. Lalu mengantar Elvan dan Melati duduk.
Tak lama acara dimulai. Ini acara rutin pagelaran kesenian anak-anak yayasan. Mereka menampilkan atraksi macam-macam. Menyanyi, menari, drama, puisi, musik, yang semua dikemas dengan satu tema besar ditampilkan seperti sebuah kantata yang bagus sekali. Anak yang ikut dari usia SD sampai SMA. Kira-kira mereka berjumlah 30 anak.
Selama acara Melati takjub. Anak-anak ini penuh semangat menampilkan setiap atraksi. Ekspresi dan akting mereka luar biasa. Hosea dan David ternyata ikut main band mengiringi beberapa lagu dinyanyikan.
__ADS_1
Satu jam acara berlangsung. Setelah itu tamu dipersilakan menikmati snack dan minuman yang disediakan.
"Kamu lihat anak-anak tadi? Mereka anak-anak sederhana, Mel. Dari keluarga tidak mampu. Tapi punya potensi besar. Setiap tahun dua kali mereka buat acara ini untuk menarik donatur." Elvan bicara sementara mereka duduk sambil makan snack.
"Lalu?" Melati ingin Elvan meneruskan kisahnya.
"Mereka bisa jadi berkat bagi lebih banyak orang. Dan bisa lebih banyak anak yang bergabung dengan mereka. Hanya mereka perlu dibina dan difasilitasi," kata Elvan.
Melati masih menunggu dan mendengarkan.
"Kita akan bina mereka. Dengan kecanggihan dunia digital, mereka bisa dengan cepat dikenal dan menjadi motivasi buat banyak anak lainnya," kata Elvan lagi.
Melati tidak berkedip. Jadi ini maksud Elvan? Dia ingin menekuni dunia industri musik dengan menolong anak-anak ini?
"Aku tahu kamu mungkin heran dengan yang aku katakan. Lalu untuk dirimu sendiri bagaimana?" ujar Elvan. "Aku sudah punya beberapa lagu yang kamu bisa nyanyikan. Aku buatkan single buat kamu. Aransemen juga sudah hampir tuntas. Nanti kita cari waktu untuk kamu belajar di studio di rumah."
"Nah, dalam lagu-lagumu sekali waktu aku mau anak-anak ini ikut di sana. Kenalkan mereka pada dunia luas," lanjut Elvan.
Melati termenung. Dia ingat masa kecilnya. Satu kali pernah ingin ikut tampil di acara pagelaran seni peringatan kemerdekaan, tetapi dia disisihkan oleh pelatih karena Melati tidak datang membawa uang les ketika latihan. Waktu itu hatinya sangat sedih dan merasa tidak berharga. Apa karena dia tidak ada uang dia harus memendam keinginannya tampil di acara? Dia harus dibedakan dari yang lain? Peristiwa itu juga yang membuat Melati ingin buktikan dia punya potensi besar dan bisa berhasil satu hari nanti.
Melati tersenyum. Elvan bukan hanya ingin mewujudkan cita-cita Melati tapi banyak anak lainnya yang mungkin takut bermimpi karena kondisinya. Ya, anak-anak itu seperti dirinya waktu itu.
"Is it a different dream for you?" ujar Elvan.
Melati melihat Elvan. "I think it is not." Melati menggeleng. "Aku memang memimpikan diriku ada di panggung besar dan megah. Orang akan mengenal lagu-laguku dan terinspirasi. Itu dipicu masa kecilku..." Dan Melati pun bercerita pada Elvan.
"Itulah sebabnya hatiku mudah luka melihat anak-anak yang tidak mendapat kesempatan yang seharusnya dia bisa dapatkan. Kalau di perempatan jalan, melihat anak-anak itu, kasihan mereka, berjuang seberat itu. Padahal ada sesuatu yang bisa saja akan membuat mereka jadi orang berguna untuk banyak orang. Selalu yang muncul apa yang bisa kubuat?" kata Melati lagi.
"Terima kasih, kamu bukakan mataku. Aku menggapai mimpi bukan hanya buatku. Tapi mereka juga." Melati tersenyum.
"Let's do it together. Oke?" Elvan memencet hidung Melati pelan. Melati menarik wajahnya mundur. Di ruangan itu masih begitu banyak orang. Elvan memang suka gemes padanya.
*
*
*
*
*
__ADS_1
❤kasih komen, like, vote yaa... biar tambah semangat... thank you 😊❤🙏