
Setengah jam kemudian Azka datang dengan Erika. Keduanya juga kelihatan panik.
"Bagaimana, El?" tanya Erika pada Elvan yang masih duduk di tempat yang sama.
"Ma, Kak Azka." Elvan bangun menghampiri Erika dan Azka. "Masih ditangani dokter. Jadi hanya bisa menunggu." jelas Elvan.
"Tante... Kak..." Melati berdiri, menyapa Erika dan Azka.
"Ya, Mel..." Erika membalas sapaan Melati. Azka mengangguk ke arah Melati.
"Papa terlalu letih. Hampir dua minggu lembur terus karena ada sedikit masalah di kantor. Pasti fisik dan emosinya terkuras." Erika bicara sambil mengusap ujung matanya.
"Nanti biar aku bantu di kantor Papa, Ma. Pekerjaanku tidak seberat Papa. Jadi urusanku bisa aku tunda," kata Azka.
"Papamu orang yang kuat. Percayalah, dia akan lewati ini." ucap Erika. Dia menguatkan anak-anaknya dan juga hatinya sendiri. Dia juga belum siap kehilangan Tirta. Pria hebat yang mengubahnya melihat hidup dengan cara berbeda.
Pintu IGD dibuka. "Keluarga Bapak Edgar?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruangan itu.
"Saya istrinya, Dok." Erika langsung mendekati dokter itu.
"Saya dr. Prima. Pak Edgar sudah kami tangani. Kondisi sudah stabil. Tapi perlu rawat inap beberapa hari untuk memastikan kondisinya akan terus membaik," kata dokter.
"Puji Tuhan..." Erika lega sekali mendengarnya.
"Silakan jika ingin melihat ke dalam. Kami akan pindahkan ke ruang perawatan dua jam ke depan." lanjut dr. Prima menjelaskan.
"Sekali lagi, terima kasih." Erika menyalami dr. Prima. Begitu dokter pergi, Erika masuk ke dalam ruangan dengan Azka. Hanya bisa berdua-berdua menjenguk di dalam.
Elvan dan Melati ikut lega dengan apa yang dokter katakan. Tuhan sangat baik pada papa. Dia masih diberi kekuatan melewati ini.
Tak lama Erika dan Azka ke luar.
"Kamu masuklah, El. Mama mau beli sesuatu buat papa. Nanti setelah itu kamu bisa pulang istirahat. Mama yang akan jaga papa di sini," kata Erika.
Elvan mengajak Melati masuk ke dalam. Tirta berbaring lemah. Masih ada alat bantu yang dipasang di dadanya. Wajahnya masih kelihatan pucat. Tapi dia tersenyum melihat Elvan dan Melati masuk.
"Hei... Melati juga di sini?" kata Tirta.
"Iya, Om." Melati mengangguk.
"Papa bagaimana rasanya?" tanya Elvan.
"Ga enak la, El. Namanya juga sakit." Masih bisa bercanda juga Tirta.
Elvan tersenyum kecut. "Pa, cepat sehat, ya... Papa uda janji mau ajak aku naik gunung kalau aku lulus SMA." Elvan berkata sambil memperhatikan papanya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Tenang saja, Bro. Pasti jadi," ujar Tirta. "Mel, Elvan ini mudah galau. Bantu dia biar jadi pria tangguh, ya..." Tirta menoleh pada Melati.
Melati tersenyum. "Iya, Om." Sambil melihat Elvan.
__ADS_1
"Ah, Papa ini... aku kan kayak Papa. Pria sejati, pasti kuat, laa..." sahut Elvan.
Tirta tersenyum lebar. Lalu dia memejamkan matanya.
"Papa mengantuk?" tanya Elvan.
"Pasti karena obat," jawab Tirta tetap merem.
"Kalau gitu Papa tidur dulu," kata Elvan. Dia mengajak Melati keluar ruangan.
"Papa tidur, Kak." Elvan menghampiri kakaknya. Ada Adista di sana.
"Hai, El," sapa Adista. Dia kelihatan lebih dewasa dengan baju kantorannya. "Ini..." Adista menunjuk Melati.
"Ini Melati." Elvan mengenalkan Melati pada Adista.
"Adista." Adista menjabat tangan Melati.
"Calon kakak ipar," ujar Elvan. Berbisik pada Melati.
"Halo, Kak..." Melati tersenyum.
"Kamu ini... bisa juga bercanda ya, situasi begini," sahut Adista. Melati dan Elvan melebarkan bibirnya.
Azka memang sudah menembak Adista yang langsung menerimanya. Adista sudah menyukai dan mengagumi Azka sejak lama. Seperti mimpi jadi kenyataan.
"Ini sudah lengkap, Dis. Kita berangkat sekarang?" tanya Azka.
"Papa sudah tidur. Biar istirahat saja." Azka mengajak Adista berangkat. Azka memang ada janji meeting dengan klien. Karena harus ke rumah sakit, dia minta Adista bawa berkas dan langsung menuju tempat janjian meeting-nya.
Tak lama Erika kembali. "Sudah lihat Papa?" tanya Erika pada Elvan dan Melati.
"Sudah, Ma. Papa tidur sekarang," jawab Elvan.
"Kamu sudah makan?" tanya Erika lagi.
"Ga kepikir, Ma. Panik aja tadi langsung ke sini dari sekolah." Elvan menjelaskan.
"Pulang sana, makan dan istirahat." Erika mengelus pundak Elvan.
"Baik.. Mama ga apa sendirian?" ujar Elvan.
"Ga apa. Pergilah," kata Erika.
Elvan dan Melati meninggalkan rumah sakit. Elvan ke sekolah selalu dengan motor. Dan pasti bawa helm dua, karena sering ada temannya yang nebeng. Elvan membawa Melati makan di tempat favoritnya. Dia suka ikan bakar. Melati belum begitu lapar jadi dia hanya pesan salad buah dan minum lemon tea ice.
Begitu selesai makan, sementara akan meninggalkan resto, hujan deras turun. Keduanya kembali duduk. Memang musim hujan walau tidak tiap hari turun hujan. Terpaksa mereka menunggu hujan reda, Elvan lupa bawa jas hujan.
"Kira-kira berapa lama Om Tirta akan dirawat?" tanya Melati. Dia melihat Elvan yang memperhatikan jalanan yang masih diguyur hujan.
__ADS_1
"Kalau cepat mungkin tiga hari sudah bisa pulang." jawab Elvan, dia menoleh ke arah Melati.
"Mudah-mudahan segera pulih, ya..." Melati tersenyum.
"Ada yang kupikirkan soal kondisi Papa. Itu berhubungan dengan rencana kuliah nanti," ujar Elvan.
Melati mendengarkan. Dia menunggu Elvan menjelaskan maksud pembicaraannya.
"Awalnya aku ingin menekuni musik. Kamu tahu kan, aku suka sekali main musik, meskipun sejauh ini hanya untuk hobi. Tapi aku ingin mendalaminya saat kuliah dan menjadikan profesi masa depan." Elvan mulai menjelaskan rencananya.
"Melihat Papa di dalam ruangan tadi, tiba-tiba aku sadar, usia Papa bisa saja tidak akan lama. Bukan berarti aku ingin papa cepat meninggal. Aku tahu Tuhan yang punya batas umur setiap orang. Tapi dengan sakitnya ini, Papa harus lebih banyak istirahat aja, tidak boleh terlalu lelah. Sementara perusahaan dituntut terus berkembang." Elvan menarik nafas panjang.
"Aku akan ambil kuliah bisnis, aku harus bantu Papa. Kak Azka sudah punya bisnisnya sendiri. Dia tidak akan bisa full terlibat di kantor Papa. Mau tidak mau aku harus membantu."
"Kamu yakin?" tanya Melati.
"Ya, Mel..." Elvan menatap Melati. "Papa berjuang dari keadaan yang minim, kami tinggal di rumah kecil, Mama harus jualan kue untuk mencukupkan kebutuhan. Dan sekarang semua sudah berkembang sangat besar. Ada banyak orang yang bergantung pada pekerjaan di perusahaan papa. Aku tidak boleh egois. Mereka harus tetap bisa hidup layak."
Melati tidak menyangka Elvan punya pikiran begitu jauh. Dia makin kagum dengan kekasihnya ini.
"Musik adalah hobiku. Selama ini aku menikmatinya. Kurasa aku masih bisa bermusik disela pekerjaan nanti," lanjut Elvan.
"Apapun keputusanmu kamu sudah memilihnya. Pasti kamu sudah mempertimbangkan ini dan itu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik," kata Melati.
"Pacarku ini memang manis sekali, yaa..." Elvan tersenyum lebar. Dia mengangkat alisnya beberapa kali. Melati tersipu.
"Mel..." Panggil Elvan.
"Hmm..." Ganti Melati sedang menatap jalanan. Hujan mulai sedikit reda.
"Kamu sudah suka aku, kan?" tanya Elvan.
Uuppsss!!! Mendengar itu wajah Melati memerah. Dia tidak siap dengan pertanyaan itu. Kenapa, sih, Elvan selalu saja membuat Melati terkejut???
"Ehh..." Melati bingung mau jawab. Jujur sebener hatinya berteriak, iyaaa.... Tapi dia malu sekali.
"Ga usah dijawab kalau ga mau." Elvan tersenyum tipis.
"Aku... iya... ehh..." Aduh Melati merasa bodoh sekali. Kenapa begitu susah tinggal bilang sudah suka. Iihh...
Elvan makin lebar tersenyum. "Sudah mulai tergoda sama aku, ya..."
"Apa, sih..." Melati mencubit lengan Elvan.
"Oiihh... sakit..." ujar Elvan setengah berteriak. Kaget juga Melati mencubit tiba-tiba.
Melati tertawa kecil.
"Makasih... uda mau jadi pacarku," bisik Elvan.
__ADS_1
"Udah, ah... kita pulang," kata Melati. Dia rasa awkward sekali jadinya. Hujan juga sudah reda. Mending cepat pulang saja dari pada hari makin ga karuan.
Mereka pun meninggalkan resto itu.