Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 84 - Congrats for you!!


__ADS_3

Hampir jam 4 sore, Melati dan Elvan tiba di rumah Garuda. Mobil masuk ke halaman dan di parkir di sana. Melati dan Elvan turun dari mobil.


Baru saja melangkah menuju ke ruang belajar anak-anak, ada yang memanggilnya.


"Kak..."


Melati dan Elvan menoleh. Bondan ternyata.


"Haiii..." Senyum Melati melebar. Senang sekali melihat Bondan datang. Dan hari ini dia rapi. Terlihat sudah mandi dengan pakaian bersih meski bukan pakaian yang bagus. Rambutnya juga tertata.


"Bisa datang hari ini? Cakep lagi." Melati tersenyum girang.


Elvan yang di sebelah Melati juga tersenyum. "Bondan siap belajar?" tanya Elvan.


"Iya, Kak." Bondan tersenyum tipis dan mengangguk.


"Bagaimana orang tuamu? Apa mereka senang kalau kamu ke sini?" Sambil berjalan ke ruangan Melati bertanya.


"Eh... iya," jawab Bondan pelan.


"Sekali waktu ajak ayah ibumu, jadi mereka bisa tahu apa yang anak-anak belajar di sini," kata Elvan.


"Iya..." Bondan mengangguk.


Melati dan Elvan lega sekali. Bondan akhirnya bisa datang seminggu dua kali. Itu karena dia harus ngatur waktu dengan bekerja, mengamen kalau pulang sekolah.


Bondan memang punya bakat musik yang besar. Ternyata dia mudah belajar musik apa saja. Setelah mencoba beberapa kali gitar, dia pindah main drum dan dengan cepat juga dia belajar. Lalu dia coba main keyboard dan tidak mengalami kesulitan yang berarti.


Teman-temannya di kelas musik sangat senang dengannya. Karena setelah kenal, Bondan anaknya lucu juga. Sering bercanda dan tertawa lepas.


Sayang, untuk penampilan pertama Bondan masih belum bisa ikut. Karena dia terlambat ikut berlatih di awal persiapan dan sudah ditetapkan anak-anak yang akan ikut tampil nanti.


Hari yang ditunggu datang. Pernikahan Ranita dan Alfaro. Anak-anak sudah siap mengisi lagu spesial untuk sahabat Melati itu. Mereka akan mengisi beberapa lagi tentang kasih dan cinta. Salah satu adalah lagu 'Tentang Kita' yang memang favorit Ranita juga.


Satu jam sebelum acara Melati dan Elvan sudah membawa anak-anak di hall besar di salah satu hotel mewah di Malang. Anak-anak itu takjub dengan keindahan ruang yang didekorasi dengan indah. Pasukan warna merah maron dan putih mendominasi ruangan.

__ADS_1


"Kak, grogi ini. Kalau aku salah menyanyi bagaimana?" tanya Lira pada Melati.


"Makanya kita datang lebih awal, bisa coba dulu. Biasakan diri dengan ruangan ini. Tidak apa, kan nyanyi bersama, pasti bisa," kata Melati sambil. mengelus pundak Lira.


"Hhmmm, iyaa..." Senyum Lira tersungging. Tapi kelihatan nervous juga.


Ya, ini kali pertama mereka tampil di luar yayasan. Pasti beda sekali suasananya. Tamu-tamu yang datang juga lebih bervariasi. Dari anak kecil hingga orang tua. Dari berbagai kalangan hadir, karena orang tua Ranita cukup berada, relasinya pun luas.


Melati dan Elvan, dibantu Farel, Hasan, dan dua Bu Lidya serta Pak Hadi mengatur posisi anak-anak di bawah panggung pelaminan. Mereka memberi semangat bahwa mereka pasti bisa tampil maksimal. Sebagian anak-anak kelihatan gugup, tapi mereka bersemangat.


Sebenarnya Melati ingin Bondan ikut sekalipun tidak tampil. Tapi dia bilang harus kerja. Melati tidak bisa memaksa. Satu yang Melati masih rasa agak janggal, Bondan selalu menghindar jika bicara tentang keluarganya. Sepertinya harus ambil waktu khusus mengenal Bondan lebih dekat.


Akhirnya acara dimulai. Melati dipenuhi rasa haru melihat sahabatnya itu kini bersanding dengan pria yang baik, yang memahami dirinya dan selalu ingin melindunginya. Dari tatapan Alfaro, Melati tahu Alfaro telah jatuh cinta pada Ranita. Matanya menatap Ranita dengan rasa sayang yang dalam. Tak pelak air mata menetes di pipi Melati.


"Hari spesial ini, kita akan dihibur dengan persembahan istimewa dari anak-anak muda luar biasa. Mereka diminta secara khusus oleh mempelai untuk ikut memeriahkan hari bahagia Ranita dan Alfaro. Mari kita sambut, Garuda Kecil, dari Pusat Pelatihan Anak, Rumah Garuda!" MC mempersilakan anak-anak tampil.


Melati dan Elvan tak urung ikut deg degan. Mereka berdoa semua akan berjalan lancar sesuai latihan. Sekalipun dengan grogi dan rasa sedikit takut, anak-anak itu berusaha memberikan penampilan terbaiknya. Di awal memang nampak gugup, khususnya Lira yang berduet dengan David, menyanyi lagu 'Tentang Kita'. Tapi mereka mampu tampil rapi, bagus, dan mendapat applause luar biasa dari yang hadir.


"Great job, Kids!!" Elvan mengacungkan kedua jempolnya ke arah anak-anak begitu mereka selsai melantunkan lagu terakhir.


"Congrats, ya... for you both... you look amazing..." Melati memeluk dan cipika cipiki sama Ranita.


"Al, selamat, yaa... terima kasih sudah jaga Ranita." Ganti Melati menyalami Alfaro.


"Ya... aku yang terima kasih. Kamu mendorongku mendekat pada gadis luar biasa seperti Ranita. Aku takkan lupa malam menegangkan itu, malam jalan terbuka aku menemukan belahan jiwaku," kata Alfaro sambil tersenyum lebar.


"Tuhan buat semua baik pada akhirnya. Thank you..." Melati tersenyum lega.


Elvan yang di belakang Melati ikut memberi selamat Ranita dan Alfaro. Lalu keduanya menghampiri anak-anak.


"Kalian luar biasa ya, hari ini... Selamat buat semuanya..." kata Elvan.


"Lega, Kak... tadi tanganku dingin sekali. Mulutku sampai gemetar rasanya," kata Lira.


"Tapi tetap bagus, kok," timpal David memuji Lira.

__ADS_1


"Berarti, kita siap untuk momen yang lebih besar, yaa..." kata Evan lagi.


"Siap, Kak!!" sahut mereka semangat.


"Mantapp... sekarang, ayo makan...." ujar Elvan.


Sambil menikmati makan bersama, Elvan duduk di sisi Melati.


"Puas ya, lihat anak-anak tadi," kata Melati.


"Benar. Aku senang sekali hari ini. Yang berikut pasti bisa lebih bagus." Elvan tersenyum. Masih ingat jelas di pikirannya tampilan spesial tadi.


"Kita nikah nanti mereka juga mesti tampil yang lebih heboh," lanjut Elvan.


Melati hanya tersenyum simpul.


"Kita juga nyanyi laa... berdua..." ujar Elvan.


"Boleh. Siapa takut?" sahut Melati.


Usai acara mereka antar anak-anak kembali ke Rumah Garuda. Dari sana mereka pulang ke rumah masing-masing. Dan anak yayasan balik ke kamar masing-masing.


Hari itu diakhiri dengan rasa sukacita yang penuh. Melati, Elvan, Hasan, Farel, Lidya, Hadi dan anak-anak masih merasa luapan kegembiraan acara pernikahan Ranita dan Alfaro. Ini langkah awal mereka menunjukkan pada banyak orang bahwa anak-anak istimewa ini ada. Anak-anak yang mungkin lahir bukan karena cinta, anak-anak yang mungkin hadir di bumi tanpa diinginkan, anak-anak yang bahkan ingin dibuang karena dianggap tidak berguna, mereka ada.


"Berikutnya, aku akan siapkan acara yang berbeda. Tunggu saja, akan lebih seru..." Elvan tersenyum.


"Boleh mereka ikut di single kedua?" kata Melati.


"Kamu yakin?" tanya Elvan.


"Ya... kurasa lagunya juga pas buat mereka." Melati berkata dengan semangat.


"Well, konsepnya berarti musti sedikit dirubah. Okelah, aku pikirkan dulu," ujar Elvan.


"Kalau pakai konsepku?" Melati menatap mata indah Elvan.

__ADS_1


"Why not? Coba kasih tau apa yang kebayang sama kamu?" tanya Elvan.


Lau mereka berdiskusi tentang rencana buat anak-anak dan single kedua Melati.


__ADS_2