
Elvan terbangun. Dia mengusap matanya dan duduk, melihat sekeliling. Dia bingung, ini di mana? Jelas sebuah kamar. Di hotel? Hei, kenapa dia tidak pakai baju? Ini kamar siapa? Dia lihat seluruh kamar, kosong. Dia lihat bajunya tergeletak di kursi sebelah ranjang. Dia turun dan mengambil kaos dan jaketnya. Dia kenakan seperti kemarin. Sambil terus berpikir apa yang terjadi tadi malam? Seharusnya dia sudah pulang.
Masih terasa agak pusing, tapi sudah jauh lebih baik. Dia lihat jam di tangannya. Jam setengah 6. Pagi? Ah, ya, berarti dia tertidur di hotel ini. Aduh, hari ini dia sudah janji antar mamanya ke acara kondangan. Karena papa masih di Bali. Harus cepat pulang, nih. Jangan sampai telat, mama bisa ngomel. Karena acara pernikahannya jam 9.
Elvan ke kamar mandi membersihkan wajahnya. Lalu ia segera keluar dari kamar dan bergegas menuju parkiran mengambil motornya. Beberapa menit berikut Elvan sudah menyusuri jalanan menuju rumah.
Fara masuk ke kamar. Dia kaget Elvan sudah tidak ada di sana. Tadi dia keluar mengambil minuman hangat. Karena pas bangun dia rasa haus dan kedinginan.
"Ah, harusnya dia masih di sini. Pas bangun, aku di sebelahnya. Dia kaget, aku nangis-nangis. Dia bertanya kenapa? Tinggal bilang aku sudah ternoda, sama kamu. Dan minta tanggung jawab. Iih... kok malah dia pergi, sih..." Fara kesal.
Ya sudah, dia harus cari cowok itu dan kasih tahu kejadian semalam ala dirinya. Elvan pasti tak akan berkutik lagi. Sayang, nomornya masih diblokir sama Elvan. Mau ga mau dia harus menemuinya. Harus, secepatnya.
Maka begitu balik ke Malang, Fara mencari Elvan ke rumahnya. Tapi cowok itu ga ada. Hmm... lagi pergi sama mamanya. Berarti besok di kampus. Harus bisa ketemu.
Fara sudah menunggu Elvan tak jauh dari depan kelas cowok itu. Dia tahu hari ini Elvan kelar kuliah jam 2 siang. Begitu Elvan keluar dia lari menghampiri Elvan.
"Elvan..." katanya. Dia pasang wajah suram.
"Kenapa?" ujar Elvan. Dia tidak berhenti terus berjalan menuju ke perpustakaan. Dia mau balikin buku sebelum pulang.
"Ada yang serius aku mau bilang. Kamu harus dengar." Fara berjalan di sebelah Elvan.
"Soal apa?" tanya Elvan datar.
"Malam waktu kita di hotel itu." Fara menarik tangan Elvan memaksanya berhenti.
"Malam di hotel apa?" tanya Elvan bingung.
__ADS_1
"Kamu ga ingat? Kamu jahat. Kamu pergi gitu aja waktu pagi. Kamu tega sama aku." Fara pasang muka makin memelas.
"Kamu bicara apa, sih?" Elvan jadi bingung.
"Masa kamu ga ingat sama sekali?" Fara mulai nangis.
"Emang ada apa? Kok kamu malah nangis." Elvan makin ga paham kelakuan Fara.
"Kita... kita sudah... gitu... Kita..."
"Gitu apa?" Elvan menatap Fara. Dia mencoba ingat-ingat lagi. Yang dia ingat, dia pusing mau muntah. Lalu dia hampir jatuh dan dituntun Fara. Selebihnya dia tidak ingat. Dituntun Fara? Elvan membelalakkan matanya. Lalu pagi hari dia sudah bangun dengan tubuh tanpa pakaian? Jangan-jangan...
"Iya... Kita sudah tidur bareng, El... kamu jahat...." Fara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Aku sama sekali ga ingat apa-apa. Kamu pasti bohong, Fara. Tidak mungkin," kata Elvan. Dia langsung panik.
"Kamu gila... menyentuh kamu saja nggak," bantah Elvan.
Fara membuka HP dan menunjukkan foto mereka yang hot itu. Dia pilih yang kelihatan sangat dekat dan parno.
Elvan terpana melihat foto-foto itu! Jadi, malam itu... Tapi kenapa dia tidak ingat?? Ah... kenapa jadi begini???
"Elvan... gimana sekarang?" tanya Fara.
"Aku harus berpikir dulu. Aku masih bingung dengan semua ini," kata Elvan lalu dia cepat meninggalkan Fara.
Begitu Elvan hilang dari pandangan matanya Fara meloncat kegirangan. Tak lama lagi cowok itu akan bertekuk lutut di kakinya.
__ADS_1
Elvan benar-benar panik. Rasanya seperti ditempeleng dan ditendang, lalu terlempar dari atas gedung yang tinggi. Ga mungkin. Semuanya ga mungkin. Elvan pulang dan langsung masuk kamarnya. Dia pukul-pukul kepalanya.
Kenapa jadi begini? Dia sudah mencoba lari dari Fara. Terus menghindari dan tidak perduli. Tapi sekarang, malah bencana ini yang ada di depan matanya.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Tuhan, apa benar aku sudah segila itu?" bisik Elvan.
Sekeras apapun dia coba ingat, dia tidak bisa ingat jika dia melakukan sesuatu pada gadis itu. Dia belum pernah mencium bibir kekasihnya. Paling dia hanya cium pipi dan keningnya. Sekarang dia dihadapkan kenyataan dia menodai Fara. Tidak masuk akal!!
"Elvan, tenang... Tenang..." Elvan menarik nafas panjang beberapa kali. Dia ambil minum dari botol minumnya yang ada di ranselnya.
Elvan mulai memikirkan lagi kejadian itu. Seandainya dia tidak mau nuruti perkataan Tio. Memang seharusnya dia tidak pergi dengan band malam itu. Ahh... benar-benar kacau...
"Sebentar, sebelum aku pusing, aku merasa aneh dengan minuman yang Fara berikan. Ga sampai setengah jam aku langsung sakit kepala luar biasa. Sedang teman-teman baik baik saja. Jangan bilang ada yang salah dengan minuman itu." Elvan mulai meruntut kejadian malam itu.
"Di kamar, waktu aku bangun, aku memang tidak pakai baju. Tapi celanaku masih terpakai dengan benar. Bahkan ikat pinggang masih di tempatnya tak berubah." Kata Elvan. "Apa mungkin abis aneh-aneh pakai celana lagi? Pas aku bangun juga Fara tidak ada di sana. Jadi... aduh, aku bingung sekali..."
Dia putuskan hubungi Fara. Dia aktifkan lagi nomor Fara. Dia chat minta dikirim foto mereka waktu di kamar itu. Fara tentu saja sangat kegirangan. Elvan pasti kalang kabut sekarang.
Fara
- Elvan, jangan tinggalin aku ya.. setelah malam itu kita kan sudah jadi satu..
Elvan mencibir membaca tulisan itu. Dia tidak balas dan fokus memperhatikan foto-foto yang dikirim Fara. Betul mereka sangat dekat. Gadis itu bersandar di dadanya. Tapi Elvan, dirinya tertidur. Dia merem dan kelihatan pulas. Sedang Fara, dia tersenyum.
Bukankah ini aneh? Lagian ngapain coba melakukan perbuatan asusila gini difoto? Apa dia menjebaknya? Apa Fara segila itu hanya karena suka padanya? Ini masalah harga dirinya sebagai seorang wanita. Elvan tak habis pikir. Dia tidak tahu mana yang benar dari semua spekulasi yang muncul di kepalanya.
Ya, yang dia yakin dia tidak melakukan apa-apa. Dia sama sekali tidak ingat.
__ADS_1