
Ketika melihat masa lalu, bisa jadi hanya ada marah dan sesal
Mulailah lihat masa kini, dan lakukan semua dengan sepenuh hati
Haraplah yang terindah di masa depan, karena Sang Khalik telah menyediakan kisah yang gemilang di ujung masa...
.
.
"Akhirnya.... wisuda!!!" Lily melonjak girang. Ya, dia sudah menyelesaikan skripsinya. Dia akan wisuda bareng Elvan, meski beda jurusan.
"Ya... ga terasa, Ly... selesai sudah masa kuliah jadi teman seangkatan kamu..." ujar Elvan.
"Emang kenapa? Ga pede jadi teman kuliahku? Telat, Kak..." tukas Lily.
Elvan ngakak. Melati yang di sebelahnya ikut tertawa. Sore itu mereka di keluarga Edgar. Sedang melihat video promo untuk pagelaran Hari Merdeka anak Rumah Garuda di Malang Town Square dua minggu lagi. Tepat sehari sebelumnya wisuda Elvan dan Lily akan dilakukan.
Liliy sudah dapat banyak job dari berbagai kota karena gambar-gambarnya keren abis. Jadi dia kerja lepasan saja. Cocok sama dirinya yang suka santai dan ga terikat sesuatu.
Selain itu Elvan memberi tugas Lily untuk mengolah web dan YouTube Melati dan rumah Garuda. Dibantu Damar Lily mengerjakannya dengan smart dan keren.
Single kedua Melati yang bertajuk 'Selalu di Hatiku' juga cepat sekali dikenal. Hanya karena banyak kejadian, keinginan Melati duet dengan Elvan belum kesampaian. Ya, mau gimana lagi? Selalu saja ada kejadian yang tak terduga sehingga planning bisa saja berubah.
"Terima kasih ya, Mas, sudah bantu Pak Harun dapat kerjaan," kata Melati. Hampir seminggu Pak Harun kerja di salah satu kafe milik Azka yang ga terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Elvan melakukannya dengan misi terselubung. Dia tidak mau Harun tahu kalau dia yang menarik Harun kerja di sana. Jadi Elvan minta Delvin sekali lagi mendekati Harun. Kali ini pura-pura jadi pengunjung di tempat tongkrongan Harun. Berkenalan dengan normal, berteman meski ga perlu dekat-dekat, lalu coba tawarkan pekerjaan.
Harun benar-benar berniat memperbaiki hidupnya. Jadi ketika Delvin menawarinya pekerjaan jadi cleaning service di kafe Azka dia mau. Sebelum itu sebenarnya Harun mencoba melamar di tiga tempat, tapi tidak diterima. Padahal dia datang dengan rapi. Dia pakai pakaian yang lumayan bagus seperti orang kantoran. Sayang, memang usianya yang membuat dia tidak diterima. Rata-rata cari yang belum 30 tahun.
Elvan cerita tentang Harun pada Azka. Azka mengerti maksud adiknya. Dia bersedia membantu, tapi tetap tuntutan sebagai karyawan sama seperti yang lain. Dan waktu Harun tiga bulan untuk menunjukkan dia serius dengan pekerjaannya.
"Ya, kita buat peluang. Selanjutnya terserah dia. Kalau dia kerja baik akan terus di sana, kalau tidak, ya gimana. Kak Azka ga mau asal kalau mempekerjakan orang," ujar Elvan.
"Aku paham. Melihat perkembangannya sampai sejauh ini kurasa Pak Harun akan membuktikan dia mau berubah," ucap Melati.
"Mudah-mudahan ini awal yang baik. Pak Harun memulai langkah baru dan tidak akan mundur lagi." Elvan merapikan rambut depannya. Rambutnya sudah agak panjang, sampai belum sempat dia pergi cukur rambut.
Melati memperhatikan Elvan. Dan tersenyum tipis.
"Kenapa? Rambutku udah agak panjang memang," kata Elvan.
"Ga apa, aku suka. Keren." Melati tersenyum.
"Beneran? Boleh aku panjangin rambut?" Elvan melihat Melati.
"Ahh... segini aja, jangan panjang-panjang juga." Melati mengusap rambut Elvan. Rambutnya halus sekali.
"Oke. Nanti mau wisuda saja aku cukur, ya.. biar Bunga Cintaku menikmati rambut panjangku dulu." Elvan tersenyum.
__ADS_1
"Hee..." Melati melebarkan bibirnya.
"Iih... mesra-mesraan di depanku. Bikin ngiri..." ujar Lily. Dia masih asyik edit video sesekali melirik Elvan dan Melati.
"Apa? Anak kecil ga usah ikut," timpal Elvan.
"Aku sudah dewasa, Kak..." sahut Lily.
"Tingkahmu masih kayak anak SMA," tandas Elvan.
"Selamat siang..." Ada yang menyapa mereka.
Elvan, Melati dan Lily menoleh pada yang menyapa.
"Ehhh... nyusul? Ga bilang-bilang.." Lily tersenyum lebar.
"Hai, Terrence," balas Elvan. "Barusan Lily bilang kesepian... nongol... Klik banget, ya..."
"Kak Elvan ya, ngarang..." ujar Lily.
Melati dan Terrence tertawa.
"Sudah sana, kencan dulu. Kerjaan dilanjut besok saja," kata Elvan.
"Tanggung. Dikit lagi, Terrence." Lily melihat ke Terrence yang mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Hmm... aku ga buru-buru, kok," kata Terrence.
"Oke. Ke mana?" tanya Melati.
Elvan tidak menjawab. Dia berdiri dan menuju taman belakang. Melati mengikutinya. Elvan duduk di tempat yang sama, hampir lima tahun lalu.
"Ingat malam itu?" Elvan memandang Melati.
Melati mengangguk.
"Pertama kali aku memberanikan diri memeluk kamu. Dan mencium keningmu." Elvan meraih tangan Melati. "Jantungku seperti mau lepas. Tapi aku melakukannya untuk meyakinkan diriku bahwa kamu mau membuka hatimu. Jika kamu menolak dan marah, mungkin aku akan mundur."
"Mundur? Ga mau lanjut mengejarku?" tanya Melati. Hatinya sudah mulai dag dig dug berat.
"Mundur untuk cari strategi lain." Elvan tersenyum.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak menolakmu. Tidak marah waktu kamu tiba-tiba memeluk dan menciumku. Aku juga bingung dengan diriku. Tapi yang kurasa waktu itu, entahlah, rasa nyaman dan senang karena ada seseorang yang begitu dalam mau sayang sama aku." Melati menatap Elvan.
"Senang mendengarnya." Elvan lagi-lagi tersenyum.
"Mel, serius setelah wisuda aku akan datang dengan Papa Mama ke rumahmu menemui Om Gilang dan Tante Sekar. Aku akan melamarmu dan langsung menetapkan tanggal pernikahan kita. Aku tak mau lama-lama lagi menunggu." Elvan memainkan jemari tangan Melati.
Dada Melati makin berlomba melantunkan degupannya. Tapi, ya, sudah saatnya mereka melangkah lebih jauh. Apalagi yang mereka tunggu?
__ADS_1
"Ya, Mas. Aku nurut aja," kata Melati.
"Setelah menikah, kita tinggal di rumah kita," ucap Elvan.
"Rumah kita?" Melati memandang Elvan. Kekasihnya itu sekarang memainkan rambutnya.
"Ya. Aku tahu Mama pasti ga mau. Tapi bagaimanapun kalau kita sudah keluarga sendiri ya, mesti mandiri secara penuh," jawab Elvan. "Biar bebas, kalau mau ngapa-ngapain kamu ga rasa canggung. Hee..."
"Apaan, sih..." Melati jadi tersipu.
"Aku maunya rumah yang ga gede. Yang penting cukup dan efisien. Kita ini sama-sama sibuk, kalau cari rumah gede ribet ngurusnya," kata Elvan.
"Iya, aku ga masalah, kok. Di mana saja."
"Rumahnya dekat kuburan, pinggir kali. Ga jauh ada jembatan yang kata orang-orang agak angker."
"Hahh?? Kenapa serem gitu?" Melati kaget.
"Katanya di mana saja ga apa." Elvan menatap Melati serius.
"Ya, masak di dekat kuburan sih, Mas..." Melati heran juga.
"Haa.... haa...." Elvan ngakak. Lalu dia pencet hidung Melati. "Aduh, calon istriku ini memang polos banget. Paling gampang dikerjain. Bercanda, Sayang..."
"Aauuhh..." Melati memegangi hidungnya. "Abis udah ngomong serius gitu..."
"Nanti kalau udah nikah bisa gangguin terus kalau di rumah," ujar Elvan.
"Awas saja kalau ntar gila-gilaan sama cewek lain, tapi bilangnya sedang urusan kerja. Jangan mainin aku yang polos ini..." Melati cemberut.
"Haa... haa..." Elvan tertawa lagi. " Lucunya... tau dari dulu sudah aku kerjain la..."
"Emang mau?" Melati masih cemberut.
"Nggak laa... Cuma kamu saja yang di sini. Di hati. Ga bisa pindah, ga bisa move on. Kalau dikeluarin aku bisa mati. Hati ini milik kamu." Elvan merangkul pundak Melati.
Melati menyandarkan kepalanya di bahu Elvan. Nyaman. Aman. Itu yang dia rasa. Elvan mengecup puncak kepala Melati.
Di langit yang gelap, bintang-bintang dan bulan ikut melihat tautan kasih yang manis di antara sepasang kekasih itu...
*
*
*
*
*
__ADS_1
❤ thank you yang sudah baca 🙏🙏😍😍
jangan lupa komen, like, vote yaa... 😀😀❤