
Melati baru selesai mandi dan berganti pakaian. Dia cek HP ada notif masuk. WA. Adik Kecil. Sudah beberapa hari ga ada chat dari Elvan.
Adik Kecil
- Hai, Mel ☺☺
Melati
- Haii...
Adik Kecil
- Lagi apa?
Melati
-Abis mandi.
Adik Kecil
- Di rumah mau ada acara, bisa datang ga?
Melati
- Acara? Kapan?
Adik Kecil
- Ultah pernikahan mama papa. Lusa. sekalian syukuran buat Kak Azka. Dia sudah pulang dan sudah mulai kerja lagi.
Ih, sudah panjang jawabnya. Melati tersenyum. Datang ga, yaa... Ini pasti acara lumayan gede. Horang Kaya gitu...
Adik Kecil
- bisa yaa... nanti aku jemput 😟😟😖
Heee.. emot-nya!
Melati
- hmm ya.. ok deh...
Adik Kecil
- 😃😃👍👍🙏🙏🙏
Melati
- ☺☺
Kok jadi main emoticon yaa...
Adik Kecil
- yang cantik yaa 😅
Melati
- hee...
Maksudnya? Mesti pakai gaun? High heels? Aduh, Melati ga terlalu suka dandan formal banget gitu. Lagian dia juga hanya ada tiga biji gaun. Itu juga sudah lama. Yang paling baru sudah lebih setengah tahun belinya.
Melati menaruh HP. Dia menyisir rambut dan memakai pelembab. Tanpa bedak. Kalau di rumah memang dia jarang pakai bedak.
Pintu kamarnya terbuka. Melati menoleh.
"Duh... segarnya yang baru mandi. Keramas lagi." Ranita masuk kamarnya.
"Tumben datang ga kasih kabar," kata Melati.
"Iya, tiba-tiba aja pingin ke sini. Tadi dari beli gaun," ujar Ranita. Dia duduk di kursi belajar Melati.
"Oo... Bentar aku bawa handuk ke belakang dulu." Melati keluar kamar.
Ranita suka kamar mungil Melati. Kecil tapi nyaman dan rapi. Bisa berdua dengan adiknya lagi.
Ddrrtt... HP Melati bergetar. Spontan Ranita nengok. Muncul di layar, kontak Adik Kecil. Terbaca di situ, 'datang jangan telat, yaa...'
__ADS_1
Siapa Adik Kecil? Ranita pikir itu Jati. Karena pernah dia lihat kontak itu di HP Melati. Tapi kan Jati di rumah? Lalu kok minta datang? Datang ke mana?
Melati masuk kamar lagi. Dia duduk di pinggir ranjang. Ranita ambil HP Melati dan memberikannya.
"Ada chat WA. Dari Adik Kecil," kata Ranita.
"Hah??" Melati cepat cek chat di WA. Aduh, cilaka, nih...
"Mela, Adik Kecil itu siapa?" tanya Ranita. Melati ga berani noleh ke arah Ranita.
"Hmm..." jawab pura-pura santai.
"Mela, kita kan sahabat. Rasa sodara lagi. Kenapa kamu ga cerita? Kamu ga percaya aku?" ujar Ranita. "Aku pikir itu nomor Jati."
Melati menarik nafas dalam. Mungkin sudah saatnya dia cerita apa adanya pada Ranita. Entah bagaimana nanti tanggapannya. Mau marah, terserah. Toh, dia tidak ada hubungan khusus. Kesepakatannya dengan Elvan adalah teman.
"Oke.. Aku akan cerita, tapi aku ga mau ini jadi masalah buat kita, Ran," kata Melati.
"Emang kenapa, sih? Makin penasaran tau..." Ranita jadi ga sabar.
"Itu nomor Elvan," kata Melati.
"Elvan? Elvan Alcandra Edgar?" Ranita setengah berteriak. Matanya melotot karena kaget. Ranita bahkan hafal nama lengkap cowok keren itu.
"Iya," Melati mengangguk.
"Kalian ada something?" Ranita makin tidak sabar.
"Ehh... tenang, Ran. Aku jelasin dulu," kata Melati.
"Oke. Oke..." Ranita meluruskan posisi duduknya. Dia menarik nafas panjang dan menunggu dengan sedikit tegang.
Melati memandang Ranita. "Elvan bilang suka aku. Dia..."
"Dia nembak kamu, Mel?" Ranita memotong kalimat Melati. "Kapan?"
"Kamu ingat yang hari ultah Vera? Kita lagi di kantin makan es krim?" ujar Melati.
"Emang dia ada di kantin hari itu?" Ranita coba mengingat. Dia tidak merasa bertemu cowok itu.
"Waktu kamu ke toilet. Ingat? Dia datang dan mengatakan suka padaku," jelas Melati.
Melati menggeleng. Ranita meyakinkan pandangannya. "Kamu tolak?"
"Aku kan ga jatuh cinta sama dia. Lagian dia masih kecil, adik kelas," ujar Melati. "Dan, aku ga mau bersaing denganmu. Kamu kan naksir dia, Ran. Jangan karena cowok persahabatan kita rusak."
Ranita menatap Melati. Tiba-tiba dia tertawa keras. Sampai Melati menutup mulutnya.
"Aduhh... aduh..." Ranita masih menahan tawanya. Air matanya sampai ke luar. "Melati putih harum mewangi, bungaku yang cantik... Aduh... Aku tuh, suka sekedar karena dia ganteng dan baik. Aku juga ga jatuh cinta sama dia. Mel, kamu kayak ga kenal aku saja... "
Melati memandang Ranita. Dia bingung sahabatnya ini malah mentertawakannya. "Tapi kalian masih suka kontak?"
"Ga sering, kok," jawab Melati.
"Ooo... ingat, itu gantungan kunci dari Elvan, kan?" lanjut Ranita. Gantungan kunci hitam yang bagus yang selalu nyantol di tas Melati. Melati mengangguk. "Ahh... Mel, so sweet..."
Melati hanya tersenyum.
"Lalu kalian sudah bicara apa saja? Sudah ngapain saja?" Wah, jadi diinterogasi, nih...
"Jalan bareng. Sekali," kata Melati jujur.
"Serius?" Ranita makin ga percaya rasanya. Melati menyembunyikan itu semua darinya.
Lalu Melati pun cerita peristiwa ajaib yang terjadi hari itu dia dilabrak cewek salah orang. Ranita lagi-lagi ngakak sampai menangis.
"Aduh, Mela... asyik sekali kalian, yaa..." Ranita masih tertawa.
"Serius kamu ga ada hati sama dia sedikitpun? Kamu ga mau coba buka hati?" ujar Ranita kemudian setelah tawanya mereda.
"Aku mau fokus studi dulu. Lagian setelah ini aku kan pergi. Kita ga tau nanti dia akan berubah hati atau tidak," kata Melati.
"Ya, sih... kalau LDR itu ga mudah memang. Serahkan saja semua pada waktu," tambah Ranita.
"Hei... sebenarnya aku ke sini minta ditemani ke acara keluarga Elvan," sambung Ranita.
"Ultah pernikahan papa mamanya, kan?" kata Melati.
__ADS_1
"Jangan bilang dia chat minta kamu datang," ujar Ranita.
"Iya, dia minta aku datang." Melati mengiyakan.
"Ah, Mel... gemes tau nggak?" Ranita tersenyum lebar. "Ga disangka cowok populer itu suka sahabat aku ini." Ranita mencubit kedua pipi Melati.
"Ihh... sakit tau, Ran." Melati menarik kedua tangan Ranita.
"Berarti lusa aku jemput saja, yaa.. kita pergi bareng," kata Ranita.
"Kamu diundang juga sama Elvan?" tanya Melati.
"Nggak laa... Orang tuaku kenal sama ortu Elvan, pernah ada kerjasama juga dalam bisnis. Mama mau ikut datang. Makanya aku pingin kamu temani. Ternyata, eh ternyata, tamu istimewa tuan rumah. Calon mantu..." Ranita tertawa lagi.
"Apaan, sih..." Melati memukul lengan Ranita.
"Aduh, balas, yaa..." sahut Ranita.
Ddrrtt...
"Eh, bunyi lagi tuh, HP." Ranita menunjuk HP Melati.
Melati mengambilnya dan melihat notif yang masuk.
Adik Kecil
- Sibuk?
Melati
- Ada tamu
Adik Kecil
- Oo..
Melati
- sorry lama balas jadi
Adik kecil
- it is ok. Aku jemput jam 5 ya
Melati
- aku bareng Ranita
"Hei... kok bareng aku. Kenapa ga bilang dia mau jemput?" kata Ranita yang ikut baca chat.
"Uda ga apa. Ga enak juga dia harus repot ke sini. Kan dia tuan rumah. Ntar di sana juga ketemu," tukas Melati.
"Ya beda kali, Mel. Kalau dia jemput kan ada romantis-romantisnya gitu," tandas Ranita.
"Bisa aja, yaa..." Melati terkekeh.
"Ya udah laa... terserah kamu." Ranita tengkurap di kasur.
Chat masuk.
Adik Kecil
- Ooo Ranita ya... oke deh...
Melati
- ga apa, kan?
Adik Kecil
- ga apa
"Sudah? Gitu aja?" Ranita memperhatikan chat Melati.
"Udah. Mau jawab apa lagi?" Melati menaruh HP nya.
"Aduhhh... chatting kalian ini kok dingin gitu, ya... sepotong-sepotong ngomongnya kayak takut salah. Diakhiri bye kek, see yaa, atau good night. Beneran sebel..." gerutu Ranita.
__ADS_1
Melati ganti yang tertawa kali ini.