Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 71 - Pembuktian Elvan


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah tidak secepat yang Elvan kira. Weekend area Kota Batu pasti padat jalanan. Elvan dan Hasan sudah berusaha secepatnya untuk kembali ke Malang. Sayang, karena agak macet, jam setengah 5 lewat Elvan baru sampai rumah.


Elvan cepat-cepat masuk rumah. "Ma, Pa... aku pulang!" Elvan mencari orang tuanya. Tapi rumah sepi.


Waktu dia nengok ke taman samping ada Farel di sana. Dengan Adista dan ponakannya.


"Rel, Mama dan Papa sudah pergi?" tanya Elvan.


"Kak!!" Farel langsung meloncat menghampiri Elvan. "Dari mana? Semua panik karena Kakak pergi. Mereka sudah berangkat."


"Aku susul ke sana. Mereka harus tahu kebenarannya," kata Elvan.


"Kebenaran?" ulang Farel.


"Ya, aku tidak melakukan perbuatan mesum itu," jawab Elvan.


"Aku ikut," ujar Farel, dia menoleh pada Adista. Dia asyik main dengan putrinya yang mulai merangkak.


"Pergilah. Kakak di rumah saja dengan Ilona." Adista tahu Farel minta ijin padanya mau ikut Elvan.


Elvan lari ke kamar dan mengambil laptopnya. Dia minta Farel memegangnya. Kemudian segera Elvan dan Farel keluar rumah. Hasan masih di depan.


"Kita ke rumah Fara, San. Ayo," kata Elvan.


"Siap, Komandan," sahut Hasan dengan semangat.


Dan kedua motor itu kembali menyusuri jalan yang padat. Elvan kelihatan tidak sabar ingin sampai di sana. Dia terus mencari cela di antara kendaraan yang memenuhi jalan untuk bisa menyalip dan melaju lebih cepat.


Jam 5 lewat 40 menit, Elvan tiba di tujuan. Mereka masuk ke halaman rumah mewah dengan gerbang yang sangat megah dan gagah. Elvan dan Hasan memarkir motornya di halaman. Ketiganya ke teras dan bersiap masuk. Terdengar dari dalam rumah suara teriakan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa terima penghinaan ini. Setelah putriku dinodai, tidak dianggap, dilihat seperti pelacur, lalu kalian mau mempermalukan aku dengan kabar anak kalian kabur?" Itu suara laki-laki. Pasti papa Fara marah besar.


"Tirta, dari keluarga Edgar yang terhormat, hari ini aku tahu seberapa hinanya dirimu. Bukan saja membesarkan seorang anak tak tahu diri, tapi juga menjatuhkan martabat keluargamu. Aku tinggal melanjutkan saja kisah ini agar semua orang tahu keluarga macam apa Edgar itu!" Suara itu makin keras.


Elvan bergegas masuk ke dalam. Rupanya acara diadakan di ruang tengah keluarga yang memang cukup luas. Tirta, Erika, dan Azka berdiri berjajar. Tak jauh di depan mereka ada Alexander Cornelius. Agak di belakang berdiri istrinya berdampingan dengan Fara yang sudah berdandan sangat cantik, dengan gaun yang indah. Di sebelah kanan ada Kelvin dan Vina. Wajah marah, tegang, kecewa dan penuh emosi nampak menghiasi ruangan yang didekorasi cantik.


"Selamat sore. Saya sudah di sini." Elvan memecah kesunyian setelah Cornelius selesai meluapkan emosinya dan suasana begitu tegang.


Semua mata menoleh pada Elvan. Dia berdiri dengan kaos oblong warna hitam dan jeans biru belel. Ada tas laptop di tangannya. Jelas dia datang bukan seperti seorang pria yang sedang menghadiri acara pertunangannya. Di sebelah kiri ada Farel yang menatap tajam, di kanannya ada seorang pemuda yang mereka tidak kenal.


"Elvan..." kata Fara. Wajah tegangnya berubah menjadi lebih cerah. Tadi dia sangat marah karena Elvan tidak muncul bersama keluarganya.


Tirta, Erika, dan Azka terbelalak. Senang dan kaget melihat Elvan yang muncul tiba-tiba. Ada kelegaan besar di hati Tirta. Ternyata Elvan tidak seburuk yang dia kira.


"Saya tidak akan lari, Om. Saya anak keluarga Edgar. Saya diajarkan menjaga nama baik keluarga. Dan itu pasti saya lakukan," kata Elvan tegas. Dia maju beberapa langkah sejajar dengan ayahnya.


Farel dan Hasan ikut maju tetapi berhenti beberapa langkah di belakangnya.


"Elvan, kamu mau apa?" Azka mendekati adiknya dan berbisik padanya. Di pikirannya dia takut Elvan berbuat yang aneh-aneh.


"Tenang, Kak. Aku tahu apa yang aku lakukan." Elvan balas berbisik. Azka kembali mundur.


Fara melihat Elvan penuh tanya. Hadiah? Selama ini cowok itu ga perduli dengannya, tapi sekarang datang dengan video sebagai hadiah. Apa dia membuat lagu untuknya? Apa dia mulai berubah hati mau sayang dia?


"Bolehkah saya mengajukan permintaan lagi? Silakan Om Cornelius, Papa, Mama, Tante Ratih dan Fara duduk dulu. Baru saya akan putar videonya," kata Elvan. "Ini tidak akan lama. Hanya beberapa menit."


Masih dengan kebingungan mereka manut. Mereka duduk di sofa yang besar di depan meja di tengah ruangan itu. Mereka menghadap ke laptop yang sudah Elvan siapkan.


Begitu mereka duduk, Elvan meng-klik play. Lalu dia mundur kembali ke posisinya dengan Hasan dan Farel. Azka ikut berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


Baru sekian detik mereka menatap laptop, wajah mereka berubah. Elvan sangat menikmati ini. Wajah mama dan papanya yang awalnya merasa malu sekarang mulai cerah. Wajah Cornelius dan istri yang awalnya marah kini terpana dan berubah merah karena malu. Sedang Fara dia kelihatan panik.


Yang mereka lihat bukan video romantis tanda kasih sayang, tetapi video kejadian antara Fara dan Elvan di hotel malam itu. Azka, Kelvin, Vina, dan Farel yang tidak ikut lihat makin penasaran.


"Hentikan!!" sentak Cornelius.


Elvan langsung maju dan menghentikan video itu.


"Kamu jangan membodohi saya dengan video itu. Kamu pikir aku tidak tahu itu akal-akalan kamu saja. Kamu mau membalikkan posisi menjadikan Fara yang jahat!?" bentak Cornelius.


Elvan cuma gelang kepala. "Om, saya hanya menunjukkan apa yang sebenarnya. Tidak lebih. Video ini saya ambil langsung dari lokasi, hotel kami menginap malam itu."


Lalu Elvan mendekati Hasan. "Hasan adalah karyawan di hotel itu. Malam itu dia yang memapah saya masuk ke kamar. Jadi yang ada di video tadi adalah Hasan."


"Benar. Saya akan mengatakan apa yang saya tahu waktu malam Elvan mabuk di sana," kata Hasan.


Cornelius mengepalkan tangannya kesal. Dia balik memandang Fara.


"Katakan pada Papa, apa yang kau lakukan ini?" tatapan tajam sekarang menusuk dalam mata Fara.


Gadis itu langsung pucat. "Maa..." Dia menoleh pada mamanya.


"Jika itu benar, Mama bisa bantu apa?" kata mamanya. Suaranya datar. Ada masa sesal dan malu di sana.


Tirta dan Erika berdiri. Mereka memilih berdiri bersama anak-anaknya.


"Saya kira sebaiknya acara kita dibatalkan. Mungkin lebih perlu keluarga Cornelius berbicara serius tentang ini. Saya minta maaf, selaku kepala keluarga Edgar, karena membuat tidak nyaman dan menyinggung martabat keluarga Cornelius." Tirta maju dan menyalami Cornelius.


Lelaki setengah baya itu tertunduk. Dia tidak membalas uluran tangan Tirta. Tirta menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Aku pamit, Alex," kata Tirta. Dia membalikkan badan dan mengajak keluarganya keluar. Elvan cepat membereskan laptopnya lalu menyusul keluarganya.


Terdengar dari teras teriakan Cornelius, "Fara!!! Anak kurang ajar!!!!"


__ADS_2