
Kata orang cinta itu tidak bisa dipaksa
Kata orang juga cinta itu datang karena seringnya bersama
Kata orang lagi cinta itu datang karena keputusan hati
Menurutmu, bagaimana cinta bisa datang?
*
*
Jam empat sore, keluarga Adinata sudah berangkat menuju salah satu mall di kota Malang. Mereka ingin menghabiskan waktu untuk makan bersama sebelum ayah akan kembali ke Jakarta untuk bekerja. Ibu sudah sehat. Hanya belum mulai bekerja. Ibu masih ambil waktu istirahat beberapa hari lagi agar benar-benar pulih dan bisa beraktivitas maksimal.
Jati dan Damar yang paling semangat. Mereka minta main di zona main anak-anak. Ayah juga semangat mendampingi mereka bermain. Kalau Melati dan Lily lebih suka pergi ke toko buku atau toko aksesoris yang menjual pernak-pernik lucu. Tidak selalu membeli, tapi suka saja melihat benda-benda imut dan lucu yang dipajang di toko-toko itu.
"Kalian tidak pergi jalan-jalan?" Ibu yang duduk di kursi panjang dekat patung Bumblebee yang besar bicara pada Melati.
"Ibu nanti jadi sendirian," kata Melati. Dia masih duduk di sebelah Ibu. Lily sudah berdiri agak jauh dari mereka memperhatikan beberapa anak yang main lempar bola basket.
"Tidak apa. Ibu masih bisa lihat Ayah dan adik-adikmu dari sini," ujar Ibu.
"Ya, baiklah," sahut Melati.
"Selamat sore." Ada yang menyapa mereka. Ibu dan Melati menoleh.
"Sore..." balas ibu. Dipandangnya pemuda di depannya itu. Siapa ya, ibu merasa tidak kenal. Lalu ibu menoleh ke arah Melati.
"Hai, El," sapa Melati.
"Tante, saya Elvan." Elvan mengalami ibu.
"Oo... teman Melati?" ujar ibu dan menyambut tangan Elvan.
"Adik kelas, Bu. Elvan kelas 11," jelas Melati.
"Oo..." Lagi-lagi ibu membulatkan mulutnya. "Kebetulan bisa ketemu di sini, yaa..." Ibu tersenyum.
"Iya, Tante. Saya temani adik saya, dia minta jalan-jalan." Elvan menunjuk seorang cowok yang hampir seusia Damar. Dia sedang main bombom car.
"Hmm... itu... iyaa..." Ibu manggut-manggut. Mereka memperhatikan cowok yang ditunjuk Elvan.
"Kalau mau jalan bareng silakan saja. Mumpung ketemu di sini. Nungguin Ibu nanti kalian bosan," kata ibu.
"Ehh..." Melati agak kaget mendengar kata-kata ibu. Dia jadi gugup.
"Tidak apa, Tante, kalau saya ajak Melati jalan?" ujar Elvan.
"Boleh saja. Sejam lagi paling baru adik-adik Melati selesai main." Ibu tersenyum lagi. Ibu mengamati Melati dan Elvan bergantian.
"Iya deh. Nanti aku balik ya, Bu..." Akhirnya Melati mengiyakan.
"Bersenang-senanglah. Jangan jauh-jauh saja, ya..." pesan ibu.
"Terima kasih, Tante. Kami jalan dulu." Elvan mengangguk. Lalu dia dan Melati berjalan menjauh dari ibu.
Di tengah hiruk pikuk suara mesin permainan dan lagu yang diputar, tidak nyaman sekali rasanya. Melati jadi kikuk berjalan berdua dengan Elvan.
__ADS_1
"Duduk di situ saja, yuk..." Elvan menunjuk kursi di sebelah pojok area bermain ini. Melati mengangguk. Keduanya duduk berdampingan di kursi panjang itu.
"Nggak nyangka, secepat ini dapat kesempatan berdua," kata Elvan. Senyumnya mengembang.
"Hmmm... kebetulan saja." Melati balas tersenyum.
"Kamu percaya tidak, bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan?" tanya Elvan. Matanya memperhatikan Melati. Matanya bulat berbinar, dengan rambut panjang di bawah bahu, hitam kemerahan, lurus, dan tidak terlalu tebal, tapi halus dan lembut.
"Yaa... percaya, sih..." jawab Melati, agak ragu.
"Berarti percaya kalau sore ini waktu kita bicara serius? Tidak sengaja nampaknya, tapi justru ibu kamu yang memberi kita waktu bisa bersama sekarang," tandas Elvan.
Iya juga. Kenapa ibu malah menyuruh Melati jalan dengan Elvan? Bukannya tadi mau jalan-jalan sama Lily?
"Hee... hhee..." Melati tertawa kecil. Kedengaran canggung.
"Apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Elvan.
Deg!!
"Apa?" Melati pura-pura tidak paham pertanyaan itu.
"Soal yang aku bilang tadi di sekolah," lanjut Elvan.
Melati meremas celananya di bagian lutut. Aduh, gimana ini?
"Kamu beneran suka aku?" Melati balik tanya.
"Hmmm..." Pendek Elvan menjawab.
"Kok bisa?" tanya Melati lagi.
"Setiap sesuatu yang kita alami atau lakukan pasti ada alasan dan tujuannya kurasa," ujar Melati.
"Kamu benar," jawab Elvan. "Kamu baik. Kamu manis, banget malah. Kamu pintar. Dan aku mau punya pendamping yang seperti itu."
"Standart sekali, tahu. Semua orang juga pasti begitu," kata Melati.
"Ya... aku mau jawab apa? Aku katakan apa adanya yang aku rasakan." Elvan mengusap rambutnya. "Standart yang sudah bagus ga apa kan, kita ikuti."
Melati tersenyum. Melihat cowok di sebelahnya ini. Kalau dekat begini tambah jelas gantengnya.
"Jadi?" Elvan meminta jawaban.
"Aku tidak bisa," ucap Melati pelan, tapi tegas.
"Sudah dipikir baik-baik?" tanya Elvan.
"El, ini masalah hati, kan? Maksudku..."
"Aku tahu," potong Elvan. "Kamu tidak jatuh cinta padaku. Tidak bisa menjalani hubungan tanpa rasa cinta."
Melati mengangguk sambil menunduk.
"Maaf..." ujar Melati pelan.
"Kenapa minta maaf? Kamu punya hak menolakku. Padahal aku seganteng ini, yaa... hhee..." sahut Elvan. Tawanya terlihat santai.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Melati.
"Menurutmu? Aku harus menangis galau? Meratapi nasib karena cinta ditolak? Lalu gantung diri di pohon taoge? Itu di novel yang begitu, Mel." Elvan tertawa makin lebar.
Melati yang bingung. Ini cowok santai sekali. Padahal dia sudah merasa bersalah.
"Perjuangan belum berakhir, Mel," lanjut Elvan. "Kamu belum ada pacar sekarang. Aku ga mudah menyerah, kok. Hee... hhee..."
Melati ikut tertawa.
"Kita lihat saja bagaimana waktu akan membuka jalan. Akhirnya bagaimana hati ini bisa bertemu hatimu." Tenang sekali Elvan mengatakannya.
Apa arti kata-kata Elvan? Melati tidak tahu harus bilang apa mendengar ini. Tapi hatinya kok jadi ga karuan dengar kata-kata Elvan barusan.
"Hai Kak..." Lily muncul di depan mereka.
"Iya, Ly?" Melati menyahut.
"Kak Elvan, yaa.." Wajah Lily nampak cerah sekali melihat Elvan di situ.
"Ya, Ly. Kayaknya aku terkenal juga, ya... anak SMP saja tahu haa... haa..." Elvan tertawa.
"Pasti, Kak. Kakak sekeren ini... idola banyak temanku, loo..." Dengan semangat Lily berucap.
"Wah... bisa sombong dikit, Ly..." Lagi Elvan tertawa lebar.
"Kok Kak Elvan tahu namaku?" Lily bertanya sambil menggoyangkan kedua lengannya mengikuti irama lagu yang sedang mengalun.
"Tadi Melati panggil Ly... gitu..." sahut Elvan santai.
"Haaa... haaa... iyaaa..." Ganti Lily yang ngakak. Elvan juga tertawa lepas.
Ternyata Elvan tidak sekalem kelihatannya. Ada sisi lain yang Melati baru tahu. Tak urung dia ikut ngakak dengan reaksi Elvan bicara dengan Lily.
"Ada apa, Ly?" Melati mengalihkan pembicaraan mereka.
"Adik-adik sudah selesai mainnya. Kita mau makan dulu," kata Lily.
"Ohh... Oke." Melati langsung berdiri. Elvan mengikuti langkah Lily dan Melati. Mereka kembali ke tempat ibu. Ayah, Damar, dan Jati juga sudah di sana.
"Ini Kak Elvan, cowok keren di SMA." Lily langsung mengenalkan Elvan.
"Elvan, Om." Elvan menyalami ayah.
"Panggil Om Gilang." Ayah menyambut ramah.
"Elvan mau makan bareng?" ujar ibu.
"Terima kasih, Tante. Saya sebentar antar adik pergi les. Minta maaf tidak bisa ikut," tolak Elvan sopan.
"Baiklah. Kami duluan, ya..." kata ayah.
"Iya, Om, Tante. Silakan." Elvan mengangguk. Ayah dan ibu berjalan mendahului. Damar, Lily, dan Jati mengikuti di belakangnya.
"See you, Mel," ucap Elvan. Senyum tipisnya mengembang.
Melati melambai dan segera mengejar adik-adiknya.
__ADS_1
Hari yang menyenangkan, tidak terduga.