
Elvan baru bangun tidur saat Azka datang dan langsung masuk kamarnya. Wajahnya kelihatan sangat tegang. Dia menutup pintu dan duduk dengan kaku menghadap Elvan yang duduk di pinggir kasur.
"Elvan, kamu itu laki-laki. Jadilah lelaki sejati. Papa tidak pernah ajarkan kita jadi pengecut. Lari dari masalah dan tidak mau tahu." Azka memulai pembicaraan dengan Elvan.
"Kak Azka, bicara apa?" tanya Elvan bingung.
"Ada apa antara kamu dan Fara?" tanya Azka. Suaranya mulai meninggi.
Elvan kaget sekali. Azka tahu? Celaka. Ga lama papa mama akan tahu. Dia masih belum menemukan jalan untuk menyelesaikan ini.
"Aku tidak lakukan apa-apa, Kak. Aku tidak ingat apapun. Aku salah minum malam itu. Aku ga tau apa itu yang disebut mabuk," kata Elvan.
"Anak kurang ajar!" Azka menempeleng adiknya. Elvan kaget luar biasa. Seumur hidup Azka selalu menjaganya. Tapi hari ini dia belum sempat menjelaskan semua, Azka sudah kalap. Elvan memegang pipinya yang sakit dan panas.
"Berani berbuat berani bertanggung jawab!" sentak Azka.
Elvan terdiam. Habis. Hancur. Itu yang muncul di pikirannya. Azka ikut diam. Dia juga tak tahu harus bicara apa. Dia tidak mengira adiknya bisa sebejat ini. Dia marah dan malu.
Tadi saat di kafe, Kelvin menemuinya. Fara ketahuan sudah melakukan hubungan seks dengan Elvan. Dia punya buktinya lagi. Kelvin minta Azka sebagai kakak mendesak Elvan bertanggung jawab. Karena Elvan tidak perduli pada Fara. Padahal gadis itu sangat terluka.
"Aku ga larang Kakak marah. Pukul lagi biar puas. Tapi itu artinya Kak Azka tidak kenal aku. Aku adikmu, Kak. Kamu yang jaga aku dari kecil. Aku tidak lupa semua yang Papa Mama dan Kakak selalu pesan sama aku," kata Elvan. "Kehormatan pria ketika dia bisa menghargai dan menjaga wanita. Lakukan hal yang pantas, tepat, dan bijak untuk membuktikan kamu pantas dicintai seorang wanita."
"Tolong dengarkan aku," pinta Elvan. Azka masih diam. Lalu lagi, Elvan ceritakan semuanya. Semakin dia cerita semakin sakit hatinya, semakin luka jiwanya. Bagaimana dia bisa lepas dari semua ini?
Azka menatap Elvan tak percaya. Dia antara yakin Elvan benar jujur, atau dia hanya ingin tidak terlalu disalahkan.
Elvan mengambil HP-nya. Dia tunjukkan pada Azka. "Lihat baik-baik, Kak. Aku hanya tidur. Fara yang mendekat padaku. Dia tersenyum, dengan posisi ini. Betul, senyum kecil, tapi sorot matanya bukan sedang cemas atau takut atau menyesal telah berbuat tindakan amoral. Lalu, buat apa selfi setelah melakukan hubungan kayak gini?"
Azka menatap Elvan. Perlahan dia mulai membuka hatinya untuk percaya. Apa yang Elvan katakan sangat mungkin. Tapi bagaimana membuktikan jika Elvan yang benar.
__ADS_1
"Tahu apa yang aku pikir? Minta Fara melakukan tes keperawanan. Lalu ini yang muncul, jika ternyata dia sudah pernah berhubungan dengan orang lain, dia akan dengan senang hati melakukannya. Semisal belum, dia akan cari alasan menghindar dengan alasan harga dirinya sebagai wanita dipermalukan. Coba ada tes keperjakaan aku sudah lakukan, Kak," ujar Elvan.
Azka memandang Elvan.
"Kakak harus percaya padaku. Please..." kata Elvan memelas.
Azka menarik nafas dalam. Dia mendekati Elvan dan merangkulnya. "Maaf, El. Maaf." Pelan Azka berkata.
Tidak disangka Elvan harus mengalami situasi serumit ini. Hatinya ikut pedih.
Pintu kamar Elvan dibuka. Papa ada di sana.
"Elvan Alcandra Edgar." kata Tirta. Jika papa memanggil dengan nama lengkap ini pasti ada hal serius terjadi. Elvan dan Azka tahu, pasti papa sudah dapat berita soal Elvan dan Fara. Elvan langsung merasa takut. Azka juga makin tegang.
"Ikut papa. Kamu juga Azka," kata Tirta. Keduanya berdiri dan mengikuti Tirta ke ruang kerja. Di sana sudah ada Erika.
Setelah semua duduk, Tirta menatap Elvan tajam.
"Aku baru dapat telpon dari orang tua Fara, Alexander Cornelius bahwa putrinya itu telah dinodai seorang pria, dan dia adalah Elvan Alcandra Edgar, putraku," kata Tirta dengan tegas dan nada marah. Tapi jelas dia menahan emosinya.
"Apa?!" Erika langsung bangun dan kembali jatuh. Dia pingsan. Semua kaget.
"Ma!!" teriak Elvan dan Azka. Azka mengangkat tubuh mamanya dan membaringkannya di sofa. Azka menemani mamanya, mencoba menyadarkannya.
"Elvan, bersyukurlah kalau Tuhan kasih kekuatan papa untuk menghadapi ini. Masih tak percaya jika papa akan menemukan situasi ini. Papa gagal mendidik kamu," kata Tirta. Ada nada marah dan kecewa tersirat dari perkataan Tirta. Tapi dia berusaha menahan perasaan itu.
Elvan menelan ludahnya. "Ya Tuhan, beri aku juga kekuatan untuk menyatakan kebenaran. Tolong agar papa mau mendengarkan aku," batinnya.
"Cornelius meminta ini diselesaikan secara kekeluargaan atau dia akan membuka ini ke publik," lanjut Tirta. "Kita keluarga terhormat yang tahu menempatkan diri. Justru di posisi kita bersalah, kita buktikan kita berani bertanggung jawab atas kesalahan itu dan mau memperbaikinya."
__ADS_1
"Pa, boleh aku mengatakan sesuatu?" Elvan meskipun sedikit deg degan dia mencoba bicara.
"Katakan." Tirta menatap Elvan.
"Pa, aku tidak melakukannya," kata Elvan.
Tirta mengerutkan dahinya. "Apa kau bilang?"
"Jika aku katakan semuanya Papa juga belum tentu percaya. Tapi Papa kumohon dengar aku, aku tidak pernah melakukannya, Pa," kata Elvan lagi. "Aku memang tidak punya bukti untuk menunjukkan aku berkata jujur. Justru Fara yang punya bukti jika kejadian itu sepertinya benar-benar ada." Sedikit gemetar mengatakan ini.
"Dengan kata lain kamu tidak mengakui ini. Dan mau mengatakan Fara menjebak kamu?" Suara Tirta mulai berubah. Wajahnya yang beristirahat tenang dari tadi langsung memerah. "Papa sangat kecewa dengan kamu Elvan. Papa tidak menyangka kamu sangat pengecut. Menimpakan kesalahan pada pihak yang lemah."
"Pa..." Azka ingin mengatakan sesuatu.
"Jika kamu ingin membela seorang pecundang lebih baik tutup mulutmu, Azka," ujar Tirta.
"Papa akan atur semuanya. Jangan keluarga ini makin malu di hadapan mereka. Cornelius bisa saja benar melakukan ancamannya," kata Tirta. "Dalam waktu dekat acara pertunangan kamu dengan Fara akan segera dilangsungkan."
"Elvan..." Erika membuka matanya. "Elvan..." Erika duduk di sofa itu.
Elvan bergegas mendekati Erika. Dia berjongkok di sisi sofa.
"Kenapa bisa begini, El?" Erika berkata pilu. Air matanya mengalir.
"Ma..." Elvan memegang kedua tangan mamanya. "Aku sayang Mama, sayang Papa. Aku ga kayak gitu..." gumamnya.
Erika mengelus pipi Elvan. Wajahnya basah dengan air mata.
"Apa kamu tidak ingat Melati?" tanya Erika. "Bagaimana kamu melepaskan emas yang begitu murni, El?"
__ADS_1
"Percaya aku, Ma. Aku ga kayak gitu." Elvan menangis sesenggukan. Erika mendekap Elvan. Elvan pasrah. Tidak ada jalan lain sepertinya.
Tirta menatap kedua putranya itu, lalu pada Erika wanita yang sangat dia cintai. Kenapa cobaan seberat ini harus terjadi pada keluarganya? Tapi sebagai kepala keluarga dia harus menjaga martabat keluarga yang sudah terguling karena tindakan Elvan.