
Bondan dengan wajah cemas memandang Elvan dan Melati. Hampir tidak berani melihat bapaknya. Tas sekolahnya tergantung di pundak. Seragamnya lusuh, sepatunya butut. Keringat masih sesekali menetes di dahi dan lehernya.
"Bondan..." Melati berdiri dan memegang lengan Bondan mengajaknya duduk. Anak kecil itu duduk di sisi Melati dan menunduk dalam-dalam.
Harun memandang lurus ke arah Bondan. Dia tidak bisa melihat wajahnya, karena Bondan terus menunduk.
"Bondan..." panggil Harun.
Bondan melipat kedua tangannya dan menggenggam erat, tidak berani mengangkat wajahnya.
"Bondan..." Panggilan lebih keras. Bondan makin menunduk dan makin kuat meremas kedua tangannya yang terus terkatup.
"Kamu dengar Bapak panggil kamu?!" sentak Harun.
"Iya..." lirih Bondan menjawab.
"Lihat sini!" Harun berdiri. Wajahnya mulai tegang.
Bondan memaksa dirinya memandang bapaknya. Jelas dia ketakutan. Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Dia tahan sebisanya atau dia akan kena pukul.
Harun menatap dalam ke arah Bondan. Rasa marah bercampur dengan iba bergelut di hati Harun. Jelas anaknya itu takut melihatnya. Wajahnya yang hitam karena terlalu sering kepanasan, badannya yang kurus kering karena jarang makan, pakaiannya kumal karena dia cuci sendiri sebisanya. Tiba-tiba hati Harun seperti tercabik-cabik.
Perkataan Elvan berputar di kepalanya. "Apakah anak bahagia dengan orang tuanya?" Ya... mana mungkin Bondan bahagia. Dia bahkan hidup dalam ketakutan. Dia tidak pernah bermain dengan anak seusianya. Dia tidak pernah senyum apalagi tertawa.
"Apa kamu ingin ikut mereka?" Suara Harun melunak.
Bondan yang masih berusaha melihat bapaknya itu kembali menunduk. Ya, dia mau ikut Melati dan Elvan. Di Rumah Garuda dia menemukan kasih berlimpah. Dia bisa menjadi dirinya secara penuh, tanpa takut. Dia diterima apa adanya. Dia ingin ada di sana.
"Bilang sama Bapak, kamu mau ikut mereka?" tanya Harun lagi. Suaranya tegas, tapi terdengar tidak marah.
Tanpa berani melihat pada Bapaknya Bondan mengangguk pelan. Harun jatuh terduduk. Dia mengepalkan tangannya. Habis sudah, lengkap sudah. Dia pria gagal. Bahkan anaknya sekarang menolaknya.
"Bawa dia pergi," ujar Harun lirih.
Melati dan Elvan saling pandang lalu melihat Harun.
"Bawa dia keluar!" sentak Harun.
Seketika Bondan memegang lengan Melati mencari perlindungan.
"Mel, ajak Bondan keluar. Dia pasti lapar. Belikan dia makanan," bisik Elvan.
Melati menatap Elvan, pandangannya berarti pertanyaan apa dia tidak ikut keluar? Elvan menggeleng.
"I will be fine. Just go..." bisik Elvan lagi. Elvan menyerahkan kunci mobil pada Melati.
__ADS_1
Melati menggandeng Bondan dan mengajaknya keluar. Mereka menuju mobil yang di parkir agak jauh dari rumah. Melati membawa Bondan ke sebuah depot yang tidak begitu jauh dan membelikannya makanan di sana.
Sementara di rumah Harun...
Begitu Bondan dan Melati keluar rumah, Harun menangis. Dia dekap mulutnya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya mengepal keras dan memukul meja kayu berkali-kali.
Rasa iba mengalir di hati Elvan. Dia hanya diam memandang Harun yang meluapkan emosinya. Sampai lelaki itu kemudian mulai tenang. Tangisannya mulai reda.
"Kau pasti merasa menang, ya... Seorang bapak ditolak anaknya dan memilih pergi dengan orang yang baru dia kenal.... Aku laki-laki tidak berguna..." kata Harun. Dia mencoba tersenyum, sinis.
"Pak Harun, apa yang kita lakukan sekarang bukan soal menang dan kalah. Kita sedang bicara tentang hidup seorang anak. Anak yang Tuhan anugerahkan untuk keluarga Bapak. Kita mau isi hidupnya dengan cara bagaimana?" Elvan memandang Harun.
Harun masih sesekali mengusap matanya. Jelas hatinya kacau, galau, dan ada sesal tersirat di sana.
"Menjaga istri dan anakku saja aku tidak mampu. Apa gunanya semua ini?" Harun menggeleng keras. Lagi dia tersenyum sinis.
"Sampai kapanpun Bondan adalah anak Bapak. Bagaimanapun dia harus menghargai Bapak sebagai orang tuanya." Elvan masih memperhatikan lelaki yang telah berani menunjukkan sisi rapuhnya itu. "Kalau kami bawa dia, maaf, kami melihat Bapak tidak memberi yang dia perlukan. Dan kami ada kesempatan memberikan itu padanya."
"Aku pengangguran, pemabuk, penjudi, tidak pantas menjadi seorang ayah." Perkataan Harun makin lemah. "Kalau kamu tahu, semua dimulai ketika bosku yang kaya raya itu memecatku. Sebuah fitnahan dari teman kerjaku, membalikkan semua keadaan. Tidak ada lagi tempat yang bisa aku datangi untuk bekerja. Aku lelah dengan semuanya. Aku lelah berurusan dengan orang berduit yang tak punya hati. Hanya menjadikan pegawainya budak untuk memperkaya diri. Puas mereka jika bisa melihat orang kecil seperti aku ini terpuruk."
Mendengar itu Elvan mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan Harun. Dari ucapannya Elvan tahu Harun bukan orang tak berpendidikan. Tapi kekecewaannya dengan hidup yang membuat dia memilih hidup begini.
"Kehidupan akan jadi baik atau tidak karena pilihan kita. Situasi sulit kadang tidak bisa kita kontrol. Pilihannya kita mau makin kuat dan mengatasinya, atau menyerah dan tak perduli akan jadi apa," kata Elvan.
"Bapak masih punya kesempatan untuk bangkit. Buktikan pada Bondan dia punya seorang ayah yang bisa dia banggakan. Saya yakin, Bondan punya bakat besar di musik, pasti lahir dari orang tua yang juga memiliki bakat yang sama," lanjut Elvan.
"Aku serahkan Bondan pada kalian. Aku tahu aku tidak pantas jadi ayahnya," kata Harun pelan.
Elvan berdiri dan mengulurkan tangan pada Harun. Harun mengangkat kepalanya melihat Elvan.
"Terima kasih, Pak. Saya berjanji akan membantu Bondan agar dapat mengejar cita-citanya." Tangan Elvan masih terulur.
Harun berdiri dan menyambut uluran tangan Elvan.
"Pergilah..." ujar Harun.
"Sebaiknya saya tunggu Bondan..."
"Aku tidak mau bertemu dengannya. Nanti kalau aku siap, aku akan cari dia." Harun memandang Elvan.
"Baik, Pak. Sampai jumpa. Rumah Garuda akan selalu terbuka untuk Bapak." Elvan melepas tangannya dan meninggalkan rumah itu.
Harun kembali terduduk. Dia diam, tak bergerak. Galau dan sesal bernyanyi sendu dalam hatinya.
Sementara Melati dan Bondan...
__ADS_1
"Kamu takut sama bapak kamu?" tanya Melati.
"Kadang, eh... sering..." jawab Bondan.
"Setelah ini kamu tidak sama-sama bapakmu lagi. Apa kamu senang?" Melati melihat Bondan. Rasa takutnya sudah mulai hilang.
"Aku senang di Rumah Garuda. Tapi, aku juga kasihan Bapak, Kak. Bapak sering nangis ingat Ibu. Dia marah karena Ibu pergi dan ninggalin kami. Nanti kalau dia sendiri bagaimana? Apa Bapak ga akan tambah sering nangis?" Bondan berkata pilu.
"Kita bisa jenguk Bapak kan sekali waktu. Tidak apa-apa," kata Melati.
Bondan mengangguk. Dia melanjutkan menghabiskan ayam goreng di depannya. Melati dan Bondan terus berbicara. Melati ingin Bondan mengeluarkan semua rasa luka di hatinya. Dengan bicara pada orang lain dia akan lebih lega. Rasa sakit yang terpendam akan berkurang.
Melati menatap Bondan, lega. Harun tidak memaksa untuk menahan Bondan. Jadi mereka tidak perlu berurusan dengan kepolisian.
Drrrttt... HP Melati bergetar. Elvan telpon.
"Ya, halo..." kata Melati.
"Kamu di mana, Mel?"
"Di depot Asih. Sudah selesai makan, sih. Apa aku ke sana?" tanya Melati.
"Jemput aku saja. Aku sudah jalan ke depan gang."
"Ya, baik. Sebentar ya.." Melati menutup telpon.
Dia ajak Bondan menjemput Elvan dan lanjut ke Rumah Garuda. Tepatnya Yayasan Kasih Lidya. Mereka mengajak Bondan menemui Lidya dan Hadi. Kedua orang tua itu senang sekali melihat Bondan. Mereka antar Bondan ke kamar asrama dan menyuruhnya istirahat. Anak-anak bersorak girang karena Bondan sekarang akan tinggal dengan mereka.
Elvan menceritakan semuanya pada Lidya dan Harun. Juga pada Melati bahwa Harun tidak akan mencari Bondan sampai dia siap.
"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya bisa diselesaikan dengan baik," kata Lidya.
"Kurasa Harun seorang pria yang baik awalnya. Sayang, kegagalan membuatnya marah dengan keadaan dan membuat hidupnya kacau," ujar Hadi.
"Benar, Pak. Saya kira itu yang terjadi." Elvan mengangguk.
"Mas, apa kita tidak bisa lakukan sesuatu buat Pak Harun?" tanya Melati.
Elvan menoleh pada Melati. Melati melanjutkan, "Apakah Pak Harun tidak akan kesulitan mendapat pekerjaan setelah sekian tahun tidak bekerja? Selain itu juga umurnya sudah cukup banyak. Akan lebih sulit bersaing dengan yang muda dan punya pendidikan lebih baik."
Elvan tersenyum. "Hatimu memang putih, Mel." gumamnya.
"Ya, Mas?" Melati merasa Elvan bicara, tapi dia tidak tangkap jelas.
"Biar aku pikirkan, " kata Elvan.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas." Melati menyunggingkan senyumnya. Dia tahu Elvan pasti akan bertindak.