Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 62 - Aku Kangen Kamu


__ADS_3

Sebulan lebih, hampir dua bulan malah, Melati tidak bertemu Elvan. Kangen sekali rasanya. Dia terbiasa setiap bulan Elvan mengunjunginya ke Depok. Tapi akhir-akhir ini Elvan memang sangat sibuk. Melati juga sama. Melati sudah di semester terakhir. Sudah maju skripsi dan setengah jalan. Tinggal satu langkah semua selesai.


Melati yang baru saja mandi sore mengambil HP dan membuka WA kontak Elvan.


Melati


- Hai, El. Sibuk ka? ☺☺


Beberapa menit kemudian ada balasan.


Elvan Cintaku ❤


- Hai, sayangku, bunga cintaku... 😃😃


Aku baru sampai rumah.


Melati


- Dari kantor?


Elvan Cintaku ❤


- Yup


Melati


- Pekerjaan lancar?


Elvan


- Ya. Dan akan lebih sibuk.


Melati


- Oo. Lalu, band gimana?


Elvan Cintaku ❤


- Aku keluar. Terlalu padat jadwalku. Aku ga mau kewalahan di akhir semester.


Melati

__ADS_1


- Serius? 🙄


Bukan ada sesuatu?


Elvan Cintaku ❤


- Oke, aku harus bicara ya, aku ga mau ada salah paham


Dan Elvan vidcall Melati.


"Hmm... aku kangen kamu. Kangen banget. Pingin meluk lama," kata Elvan begitu melihat wajah Melati.


Melati tertawa. "Aku juga kangen," kata Melati. "Terus mau cerita apa?"


"Kamu ingat Fara?" tanya Elvan. "Dia masih berusaha mendekati aku. Makanya aku ga mau timbul masalah. Lebih baik aku keluar. Aku fokus kuliah dan kerja saja."


"Apa segitunya?" tanya Melati balik.


"Kita ini berjauhan, Mel. Tidak mudah menjaga hubungan dengan waktu bersama yang jarang ada. Aku ga mau ambil resiko. Aku ga mau kita jadi ga baik ke depannya." Elvan menjelaskan alasannya.


"El, terima kasih sudah mau jujur sama aku." Melati tersenyum.


"Kalau selesai kuliah kamu balik Malang, ya... kita nikah," kata Elvan.


"Biar saja. Kita kan sama cinta. Apa yang salah?" Elvan ikut tertawa.


"Kamu kuliahnya yang rajin, biar cepat selesai," ujar Melati.


"Iya, Sayangku...." Elvan kembali tersenyum lebar.


"Udahan dulu, ya... aku belum masak. Bentar lagi Ranita pulang. Kasihan kalau dia datang belum ada makanan," kata Melati.


"Oke. Jangan lupa, ya... apapun yang terjadi, aku di hatimu. Jangan percaya yang lain, percaya aku saja," ujar Elvan, santai tapi serius.


"Iya..." Melati tersenyum dan telpon selesai.


Melati melanjutkan aktivitasnya. Sedang Elvan, dia termenung di kamar. Dia ingat teman-teman di bandung kaget dia keluar. Bahkan Tio marah padanya.


"Kamu jangan bercanda, El. Masih ada jadwal kita ngisi acara di kota mewakili kampus. Kita perlu kamu. Ini ga main-main." Tio emosi.


"Maaf, mau bagaimana lagi? Aku sudah keteteran sekarang. Aku lagi mengembangkan usaha di kantor. Dan itu cukup menyita waktuku, Ti," tegas Elvan.

__ADS_1


Tio mengetuk-etuk meja dengan jarinya. Dia berusaha tidak berteriak pada Elvan.


"Setidaknya selesaikan semester ini. Jangan berhenti di tengah jalan kayak gini," ujar Tio. Suaranya masih terdengar marah. "Mudah cari orang lain. Tapi yang kemampuannya sejajar kamu ga gampang. Pikir lagi, El."


Dia tak habis pikir kenapa Elvan tiba-tiba begini. Anak ini biasanya akan tuntaskan tanggung jawab ga mogok tengah jalan gini.


Dan beberapa hari Tio terus membujuk Elvan. Elvan tak bergeming. Keputusannya sudah bulat. Dia bisa mengembangkan sisi musiknya dengan kemampuan yang dia punya. Bahkan dia rencana buka usaha studio dan toko musik. Makanya tanpa gabung band dia masih bisa bermusik.


Baru saja Elvan memarkir motornya. Tio sudah mendekatinya. Elvan tahu tidak ada lain lagi maunya si Tio, pasti minta Elvan ga keluar tim.


"El, sudah kamu pikirin, kan? Ayo, bantu kami laa.." Tio tak basa basi langsung ngomong apa maunya.


Elvan berjalan menuju kelasnya. Dia tidak mau menjawab.


"Elvan." Tio menjajari langkah Elvan. "Kita sudah berteman lama, kan? Please, bantu kami. Sampai akhir semester saja. Sementara kami cari lagi yang bisa gantikan kamu." Tio terus saja merayu.


"Ti, hargai keputusanku, dong. Aku punya sasaran sendiri, target sendiri. Jadi aku tidak mau itu terganggu hal yang lain." Akhirnya Elvan bicara juga.


"Buat aku ga masuk akal saja. Kita lagi semangat nih, kerja sama-sama dengan band. Ga ada angin ga ada hujan kamu tiba-tiba minta off. El, aku ga bisa terima," desak Tio.


"Sudahlah, Ti. Kalian bisa, kok. Sebelum aku ada tim juga jalan. Kamu sudah lebih dulu di tim ini," jelas Elvan.


"Oke, itu benar. Tapi sejak kamu masuk banyak perubahan besar di tim. Dan untuk sampai di kondisi ini, posisi ini ga mudah. Tim masih perlu kamu untuk pertahankan pencapaian," tukas Tio.


"Lagian yang lain ga masalah kenapa kamu yang kalang kabut." Elvan belok ke kiri ambil jalan cepat ke kelasnya.


"Kamu ga tahu saja. Mereka juga pada bingung. Aku yang dikejar-kejar biar ngomong sama kamu," kata Tio.


"Sudah ga bisa balik, Ti. Semua sudah aku pertimbangkan dengan matang." Elvan masih teguh pada keputusannya.


"Oke deh. Oke." Tio mulai melemah. Dia berpikir keras gimana mengikat Elvan biar bisa main lagi. "Ah, dua minggu lagi kita ada acara besar di Club Bunga. Kamu main terakhir kali ya. Buat perpisahan, anggap saja begitu." Tiba-tiba muncul ide Tio.


Elvan berhenti. Dia sudah di depan kelasnya. Tio berdiri di depannya. Elvan memikirkan yang Tio katakan.


"Please, di acara itu ada artis dari Jakarta datang. Tim ga akan siap tanpa kamu. Selama ini kamu yang banyak buat aransemen lagu yang kita bawakan." Tio mencoba membujuk lagi.


Elvan memandang Tio. Masih belum lega pandangannya. "Oke. Terakhir kali. Setelah itu awas kalau kamu ganggu aku lagi."


"Yesss...." Tio langsung mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya berubah cerah. "Deal, Man?" Tio membuka tangannya mengajak Elvan salaman.


"Ya. Deal." Elvan menyambut tangan Tio. Walau rasa enggan jelas tergambar di wajahnya.

__ADS_1


"Aku tunggu nanti jam 2 kita latihan," kata Tio. Dia tepuk pundak Elvan lalu meninggalkan Elvan.


Elvan masuk ke kelasnya yang segera akan mulai.


__ADS_2