
Hari ini perjalanan baru dimulai. Melati dan Ranita berangkat ke Depok. Perjuangan sebagai mahasiswa akan segera dimulai. Hatinya campur aduk antara senang, semangat yang membara, rasa takut karena baru pertama jauh dari rumah, dan homesick yang pasti akan ia alami nanti.
Orang tua Ranita menemaninya sampai ke apartemen yang disewa untuk Ranita dan Melati. Ayah Melati juga datang menyambut di bandara kedatangan dan ikut mengantar hingga ke apartemen.
Ibu Melati tidak mungkin mengantar karena tidak bisa meninggalkan adik-adiknya yang sudah masuk sekolah lagi. Dan ibu juga pasti mengajar lagi. Tapi Melati tahu hati ibu menyertainya, juga doa-doanya.
Ayah janji akan sering nengok Melati dan Ranita. Papa Ranita juga janji setiap beberapa bulan akan datang. Setelah segala sesuatu sudah siap, ayah kembali ke Jakarta. Papa mama Ranita lanjut perjalanan ke Palembang. Mereka akan menengok Arnita di sana.
Inilah akhirnya, Melati di sebuah apartemen cukup mewah. Memulai langkah awal menuju cita-citanya. Apartemen ini tidak begitu luas, dengan dua kamar di dalamnya. Melati membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk dan nyaman. Ranita juga sedang di kamarnya, bersebelahan dengan kamar yang Melati tempati.
Melati mengambil HP-nya. Membuka galeri dan mencari foto keluarganya. Dia berhenti pada foto ayah dan ibu. Dalam foto itu keduanya tersenyum.
"Setelah ini kamu harus bisa mandiri secara penuh dengan hidupmu, Mel. Ayah dan ibu tidak bisa memberi banyak bekal uang buatmu. Hanya seperlunya. Sementara kamu tinggal dengan Ranita, anak orang berada. Satu sisi ini keuntunganmu. Tidak perlu membayar sewa kos, tapi kamu bisa tinggal di tempat yang nyaman dan bersih, juga aman. Di sisi lain, kamu harus bisa menempatkan diri. Karena ada tanggung jawab besar yang ditaruh di pundakmu oleh orang tua Ranita," pesan ayah.
"Apapun nanti yang akan terjadi kamu harus tetap di sisi Ranita. Bersikaplah lembut dan sabar supaya dia tenang, bersikaplah tegas ketika dia mulai melangkah ke arah yang salah. Jangan takut dia membencimu asalkan kamu membawa dia tetap di jalur yang benar. Untukmu, fokuslah pada tujuanmu. Jaga diri baik-baik. Ingat, sekalipun ayah dan ibu jauh, Tuhan selalu mengawasimu dan menyertai kamu. Jadi kamu harus yakin dengan pertolongan-Nya dan hati-hati jangan sembarangan membawa hidupmu." Lagi pesan ayah.
Melati mengusap matanya. Entahlah tiba-tiba saja dia menangis.
"Kamu anak pertama keluarga ini. Kamu sudah jadi kebanggaan dan teladan buat adik-adikmu. Trimakasih, Melati." Melati juga ingat pesan ibunya. "Nama kamu Melati Diandra Adinata. Nama itu membawa makna yang dalam. Melati lambang bunga yang putih bersih dan suci. Ayah ibu berharap seperti itu hatimu menghadapi hidup. Dan, setelah ini kamu tinggal di apartemen karena kebaikan hati keluarga Ranita. Meski memang mereka juga ingin bantuanmu."
"Bersikaplah dewasa dan mawas diri. Yang rajin di sana. Ranita adalah putri orang mampu, yang mungkin tidak biasa mengurus rumah. Bantu semaksimal mungkin di sana. Jaga apartemen selalu bersih dan rapi. Sediakan makanan untuk kalian. Jangan sampai telat dan makan sembarangan. Karena kalau sakit tidak ada ibu di sana."
"Kamu seorang wanita. Jaga kesucianmu. Ibu tahu ada Elvan yang sayang kamu. Tapi seperti yang kamu bilang, kamu tidak menerimanya. Nanti mungkin ada lelaki lain yang akan datang. Berhati-hatilah. Hal terindah seorang wanita adalah mahkotanya terjaga hingga pada saat jodohmu datang dan pantas mengambilnya. Tentu dalam koridor yang benar, sebuah pernikahan."
Melati menarik nafas dalam. Pesan ibu dan ayah akan dia simpan dalam di hatinya. Dia harus bisa melakukan yang terbaik. Untuk orang tuanya, untuk adik-adiknya dan tentu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Drrrttt..... Getar dari HP-nya. Melati melihatnya.
Adik Kecil
- Hai... Apa kabar, Mel?
Elvan. Ada rasa sejuk meraup dadanya menerima chat Elvan.
Melati
- 😔
Drrrttt.... dddrrrttt.... telpon? Vidcall Elvan. Melati menyapu layar HP nya. Muncul wajah tampan itu. Ini pertama kali mereka melakukan vidcall.
"Haii... kenapa?" Elvan tersenyum.
"Kangen rumah apa kangen aku?" Elvan terkekeh. Melati tersenyum kecut. Entah kenapa dia ingin cowok itu di dekatnya. Terakhir bersamanya malam itu membuat Melati sadar ada cinta yang besar menantinya. Dan dalam hatinya ada rasa aman di dalamnya.
"Kuliah belum juga mulai. Ayo, Melati... kamu bisa..." Elvan mengepalkan tangannya.
Melati tertawa kecil. Tepat sekali Elvan menelponnya. Cowok itu membuat hatinya merasa lebih baik.
"Waktu akan berjalan cepat, Mel. Apalagi kalau kamu sudah sibuk. Jadi tenang saja, yaa..." hibur Elvan. "Aku juga ga akan melirik yang lain. Jangan kuatir."
"Ngaco kamu..." Senyum Melati merekah lagi. Bisa saja cowok ini membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Ranita mana?" tanya Elvan.
"Di kamarnya. Mungkin istirahat," jawab Melati.
"Oke. Aku harus pergi antar Farel. Udah dulu, ya..." ujar Elvan.
"Iya." Melati tersenyum.
"Semangat, Melati..." Lalu Elvan mematikan panggilan.
Pikiran Melati terbawa lagi pada malam terakhir mereka bertemu. Elvan begitu tampan, nampak sangat dewasa untuk ukuran anak SMA. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Melati pun mempertanyakan hatinya. Apakah dia tidak tertarik dengan cowok itu? Atau dia hanya tidak mau tertarik dengannya?
Ketika Elvan menariknya dan memeluknya, menatapnya begitu dekat, entah kenapa tubuh Melati tidak berontak. Terkejut tapi tidak ada perlawanan. Bahkan dia masih ingat hangat kecupan Elvan di keningnya. Walau sekilas, tapi mampu membuat hatinya meletup tak karuan. Apakah sebenarnya justru dia mulai jatuh hati pada Elvan? Lalu kenapa dia masih menjaga hatinya untuk membalas cinta tulus Elvan?
Karena mereka sekarang jauh? Dan bisa saja Elvan akan beralih hati jika ada gadis lain di dekatnya? Atau bahkan bisa saja dia yang jatuh hati pada orang lain nanti dan takut melukai Elvan? Pikiran Melati jadi campur aduk.
"Mel..." Ranita masuk kamar Melati. "Lapar." Gadis itu duduk di sebelah Melati. Melati yang tiduran langsung duduk. Dilihatnya jam di dinding, sudah setengah enam sore.
"Duh, sampai sudah jam segini. Ayo, aku masak dulu." Melati mengajak Ranita ke dapur. Keduanya ke dapur, Melati pun segera sibuk dengan telur dan sayur serta bumbu-bumbu lainnya.
Ranita mengamati Melati memasak. "Kamu enak ya bisa masak," kata Ranita.
"Masak sederhana aja. Nih, cuma dadar telur sama sup," ujar Melati. Dia masukkan sayur ke air mendidih.
"Aku ga pernah belajar masak. Habis ada bibi yang siapin semua. Apa-apa tinggal bilang. Mama juga ga mau aku sampai kerepotan kalau perlu apa-apa," cerita Ranita. "Sekarang baru aku sadar, hal-hal seperti itu penting kita tahu."
__ADS_1
"Tenang saja, nanti aku ajarin. Biar kamu siap jadi istri dan ibu. Hee..." Melati tertawa simpul.
Ranita ikut tertawa. Tak lama masakan siap dan mereka pun menyantapnya dengan lahap. Sambil makan sambil mengatur apa-apa yang mereka akan lakukan untuk memulai kuliah nanti.