
Beberapa hari setelah itu, Azka boleh pulang. Tirta dan Erika menjemputnya di tempat penahanannya. Semua sudah selesai. Nama baik Azka boleh dibilang pulih. Tinggal dia harus segera bertemu dengan para pendana untuk pengembangan usahanya yang selama ini merasa tertipu karena penyalahgunaan keuangan. Semua urusan akan segera dia tuntaskan.
Wajah Erika dan Tirta terlihat sangat gembira. Apalagi Azka, semua beban yang seberat bukit rasanya susah dilempar jauh ke dasar laut. Sepanjang jalan pulang dia tersenyum sambil berbicara dengan orang tuanya itu.
Tiba di rumah pas jam makan siang. Erika sudah meminta Bi Wanti masak yang agak istimewa menyambut kepulangan Azka. Elvan dan Farel sibuk membantu Bi Wanti. Mereka juga sudah kangen sekali sama kakak sulung mereka. Selama dia ditahan papa dan mama tidak mengijinkan mereka menjenguk.
"Akhirnya sampai. Kangen rumah... kangen kamarku..." kata Azka. Senyumnya lebar.
"Rumah sepi tahu karena kamu ga ada." Erika menyadari langkah Azka. Tirta berjalan di belakang mereka.
"Mamamu benar. Adik-adikmu juga jadi pendiam semua. Padahal biasanya kalau bercanda rumah kayak goyang saja," gurau Tirta.
Baru saja mereka masuk rumah, Mateo datang. Dia tadi juga ke kantor polisi tapi pergi lebih dulu. Katanya mau bawa kejutan buat Azka. Dan sekarang dia sudah sampai juga.
Dari dalam rumah Elvan, Farel, dan Bi Wanti menyambut Azka.
"Kak Azka..." Kedua adiknya berhamburan memeluknya erat. Ya, mereka pasti kangen sama kakak besarnya itu.
"Kak Azka kurusan, yaa..." kata Elvan. Dia perhatikan wajah kakaknya. Sudah ga sekeren dulu. Mana bisa dia jaga penampilan dengan situasi kemarin. Dia ga depresi saja sudah bagus.
"Kak Azka makan yang banyak yaa, biar cepat gemuk lagi," sahut Farel.
"Bukan gemuk, Rel. Proporsional," tandas Elvan.
Azka tertawa. "Tenang saja. Nanti kita habiskan makanan buatan Bi Wanti. Lalu kita buat jadwal main basket dan berenang bareng lagi. Okey?"
Azka memeluk Bi Wanti. Wanita yang sudah hampir 60 tahun itu menangis. Bi Wanti memang sangat sayang keluarga Edgar. Dia sudah bekerja di rumah ini sejak Azka masih kelas 3 SD. Jadi sudah seperti keluarganya sendiri.
"Eh, kok nangis... Bibi harusnya senyum, dong..." Azka mengusap pipi Bi Wanti.
"Iya, Mas. Maaf, terlalu senang ini," kata Bi Wanti, sambil berusaha tersenyum.
"Halo, Semua... Wah, lagi kangen-kangenan." Suara Mateo dari arah pintu depan.
Mereka memandang ke arah pintu. Di sana Mateo tersenyum lebar. Di sisinya berdiri seorang gadis mungil, wajahnya tirus. Rambutnya berponi lurus, panjang sampai punggungnya. Rupanya itu kejutan Mateo.
"Adista?" Azka menatap gadis itu. Adista tersenyum malu-malu sambil mengangguk.
Adista adalah gadis cleaning service yang sudah menjadi malaikat penyelamat Azka. Azka mendekatinya. Mateo mengajak Adista masuk. Ada rasa canggung kelihatan dari sikap Adista. Karena dia ada di lingkungan keluarga orang yang pernah jadi bosnya. Dan ini aneh rasanya.
"Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya." Azka menyalami Adista dengan erat dan tulus.
"Sama-sama, Pak," ujar Adista pelan.
Azka merasa dadanya penuh. Tidak menyangka gadis imut dan sederhana ini yang menolongnya. Tanpa bisa ditahannya dia memeluk Adista. Air mata sudah menggenang di matanya. Adista gelagapan. Dia kaget Azka memeluknya tiba-tiba.
Tirta, Erika, Mateo, Elvan, Farel, dan Bi Wanti hanya memperhatikan keduanya. Beberapa saat Azka masih menangis di pundak Adista. Bahkan gadis itu juga nampak sedikit gemetar. Dia menahan diri agar tidak ikut menangis. Tapi jelas pelupuk matanya basah.
"Maaf... aku hanya ingin berterimakasih," kata Azka. Dia lepaskan Adista.
__ADS_1
"Iya, Pak." Gadis itu menunduk malu. Wajahnya merona.
"Baiklah. Pasti semua sudah lapar. Ayo, kita langsung saja ya, makan siang bersama." Tirta memecah suasana canggung yang mengharukan itu.
Mereka segera ke ruang makan. Sebelum memulai makan, Tirta memimpin doa ucapan syukur pada Tuhan untuk semua yang sudah terlewati. Dan segera mereka memulai makan siang dengan rasa gembira yang besar. Mereka terus bicara dan bercerita sambil menikmati masakan Bi Wanti yang memang maknyusss...
Sesekali Azka menatap Adista. Gadis itu hampir tidak berani mengangkat wajahnya. Dia benar-benar polos dan lugu. Dia seperti takut melakukan kesalahan di hadapan orang-orang ini.
Elvan juga sesekali melihat ke arah Adista. Entah apa yang dia pikirkan, tapi Elvan merasa Adista gadis yang baik dan sederhana. Dia seorang yang tulus dan tidak banyak maunya. Melihat dari penampilannya dia selama ini hidup terlalu sederhana. Pasti dia mengalami masa-masa sulit yang panjang.
Selesai makan, Elvan dan Farel memilih bermain di gazebo taman samping. Tirta, Azka, dan Mateo masuk ruang kerja. Sedang Erika dan Bi Wanti masih berbenah di dapur. Adista ikut di sana. Erika dan Bi Wanti yang ramah membuat Adista merasa lebih nyaman. Pelan rasa kikuknya mulai menguap.
"Kami sangat berterimakasih padamu, Adis. Tuhan memakai kamu menjadi kunci jawaban masalah Azka," kata Erika.
"Iya, Nyonya. Saya juga tidak mengira ternyata apa yang saya pikirkan tentang Pak Tanto benar. Dia bukan orang baik. Padahal Pak Azka sangat percaya dengannya." Adista menjelaskan. Suaranya kedengaran lebih tenang.
"Jangan panggil nyonya, Adis. Panggil saja Tante. Aku ga terbiasa dipanggil nyonya. Aku ga suka," ujar Erika. Senyumnya mengembang bagus menghiasi bibir tipisnya.
"Baik. Iya... Tante," ujar Adista.
"Adis..." Itu suara Azka.
Adista menoleh ke belakangnya. Azka di sana memandangnya. "Bisa bicara sebentar?" pinta Azka.
"Baik, Pak," sahut Adista. "Maaf, Tante, Bi, Saya permisi." Lalu Adista mengikuti Azka ke ruang tengah.
"Jadi kamu selama ini bekerja di mana?" Azka memulai pembicaraan.
"Saya belum bekerja pasti, Pak. Yang lalu bantu di laundry tidak jauh dari kafe Bapak. Itu juga kalau laundry sangat rame baru saya dipanggil," jawab Adista.
"Kamu mau bekerja dengan saya lagi?" tanya Azka.
"Iya, Pak. Kalau memang masih ada lowongan," jawab Adista. Matanya takut-takut memandang Azka.
"Saya sudah tanyakan ke Ferdian, selama kamu bekerja dulu kamu salah satu yang sangat rajin. Kerjamu bagus, tepat waktu, dan disiplin," kata Azka. "Tapi sayang lowongan untuk cleaning service sudah tidak ada."
Adista menatap Azka. "Saya, eh... maaf, saya mau bekerja di bagian apa saja, Pak. Yang penting ada kerja yang tetap," katanya meminta belas kasihan.
"Saya butuh untuk admin kantor. Masih perlu satu tenaga lagi," ujar Azka.
"Admin, Pak?" Adista menegaskan pekerjaan yang ditawarkan.
"Betul. Kamu lulus SMK jurusan sekretaris. Sepertinya sudah ada dasar untuk pekerjaan ini," jelas Azka.
"Saya? Bapak yakin?" tanya Adista seperti tidak percaya.
"Hanya itu kesempatannya. Bagaimana?" kata Azka.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik-baiknya. Terima kasih." Adista melipat kedua tangannya di dada dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Sama-sama, Adis." Azka tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Kamu tinggal di mana? Maksudku sebelum dengan Om Mateo." tanya Azka lagi.
"Kos tidak jauh dari kafe, Pak. Dulu juga saya tinggal di sana. Hanya beda kamar." jawab Adista.
"Oke." Azka manggut-manggut. HP Azka berbunyi. Dia mengangkatnya. "Sebentar, yaa..." katanya pada Adista dan sedikit menjauh.
Adista memperhatikan majikannya itu. Masih muda, 23 tahun, tapi kelihatan sangat berwibawa dan matang. Sejak kerja di kafe Azka dulu, Adista memang menaruh kagum pada Azka. Baik, ramah, pekerja keras, tapi juga tegas. Adista tahu, dari siapa Azka seperti itu. Dia mirip sekali dengan Tirta, papanya.
Adista sedikit melongo memandang Azka. Mengagumi juga ketampanannya dan posturnya yang tinggi dan gagah. Meski Elvan sedikit lebih tinggi darinya. Benar-benar perfect ala Adista.
Azka menutup telpon. Dia menoleh pada Adista yang nampak terpana memandangnya. Azka mendekatinya. Kali ini tidak duduk, dia berdiri di depan Adista. Azka tersenyum melihat Adista.
"Polos sekali gadis ini," batinnya.
"Besok kamu sudah bisa mulai kerja," ujar Azka.
"Ya, Pak. Terima kasih." Lagi-lagi Adista menganggukkan kepala.
"Hmmm... Adis, berapa umurmu?" tanya Azka.
"Tahun ini 20, Pak," jawab Adista tegas.
"Oke." Azka tersenyum lagi. Benar-benar ganteng di mata Adista.
Tirta dan Mateo keluar dari ruang kerja. Mateo mendekati Adista dan Azka. "Aku harus pergi sekarang," kata Mateo.
"Om langsung pulang?" tanya Azka.
"Itulah. Masih ada urusan sebenarnya. Tapi mau bagaimana? Aku harus bawa Adista berputar-putar ini," jawab Mateo.
"Biar saya antar, Om," kata Azka.
"Kamu ga mau istirahat?" tanya Mateo.
"Saya tidak lelah kok. Malah semangat ini." Azka tersenyum lebar.
"Terserah saja kalau begitu." Mateo mengangkat bahunya.
"Saya antar dia ambil barang di rumah Om, lalu saya antar dia pulang dan saya lanjut ke kafe," jelas Azka.
"Ya atur saja sudah." Kali ini Tirta menjawab. "Papa juga harus ke kantor. Ada meeting sore ini. Maunya sih ga berangkat. Tapi ga bisa ditunda."
"Baiklah. Kita bubar sekarang dengan urusan masing-masing," kata Mateo.
Mereka pun berangkat dengan mobil masing-masing. Mateo paling duluan. Lalu Tirta. Dan terakhir Azka dan Adista, setelah dia ganti baju dan pamit pada mamanya.
Sedang Elvan, masih asyik dengan Farel di gazebo.
__ADS_1