Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 61 - Aku Sangat Cinta Kamu


__ADS_3

Fara makin girang karena dia berhasil membuat Lily bertambah sewot tiap kali bicara soal Elvan. So, semangat juang tak boleh kendur. Pada saatnya apa yang kita usahakan dengan sepenuh hati pasti akan membuahkan hasil, itu keyakinan Fara.


"Doakan lancar ya, Ly.. kita mau tampil lagi weekend ini," kata Fara dengan mata berbinar.


"Hmmm..." ujar Lily cuek.


"Kamu kenapa? Lagi boring?" Fara pura-pura ga tau kalau Lily lagi jengkel dengannya.


"Ra, kamu tambah akur sama Kak Elvan?" tidak menjawab pertanyaan Fara malah bertanya.


"Iyalah... kita kan barengan terus. Dia tuh baik banget sama aku. Jagain aku banget, Ly," jawab Fara.


"Kamu bukan jatuh cinta sama Kak Elvan, kan?" akhirnya Lily ga bisa tahan dirinya.


Hmm, dia makin curiga, yaa... Fara tersenyum. "Ly, gimana, ya... Elvan care abis sama aku. Apa-apa aku dibantu. Terus, apa aku bisa bertahan ga baper, ga GR kalau digituin..." ujar Fara.


"Tapi, Ra... Kak Elvan pacar kakakku. Kamu harus bisa dong batasi diri." Lily menarik nafas panjang, menahan emosinya.


"Aku ga ada maksud apa-apa, Ly. Kalau Elvan suka dekat aku, apa aku mesti suruh pergi?" tandas Fara.


"Udah, ah... aku duluan. Mau latihan ini," kata Fara lagi. "Kalau penasaran cek IG aja." Fara pergi meninggalkan Lily yang makin panas kepalanya.


Lily ambil HP di ranselnya dan lihat IG. Punya Elvan masih sama seperti beberapa minggu lalu. Tuh cowok emang paling jarang mainan di dunia maya. Itu postingan pas dia jalan sama Melati yang terakhir. Lalu Lily beralih stalker IG Fara. Oohhh... foto mereka berdua diposting Fara. Seperti di kafe gitu suasananya. Dan captionnya 'with you... what will happen let it be...' Apa maksudnya?


Sebaiknya dia kasih tau kakaknya atau lebih baik tanya Elvan saja? Duh, bingung dan serba salah. Tapi dia ga bisa diam saja. Ini sesuatu yang buruk bisa terjadi. Ya, paling mungkin minta penjelasan Elvan. Karena dia bisa ketemu sama cowok itu. Lily harus cari waktu untuk minta mengajak Elvan bicara.


Dan Fara, dia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk acara weekend saat band tampil. Dia sengaja pilih pakaian yang agak terbuka yang bisa menonjolkan aset yang dia andalkan. Dengan begitu Elvan akan lebih memperhatikan dia.


Kaos ketat tanpa lengan, dengan hot pan, dilengkapi dengan sepatu boots putih tinggi. Warna bajunya ngejreng, hijau terang dipadu orange. Cocok saja sih dengan kulitnya yang putih. Dia mau paling kelihatan dan Elvan tidak akan tidak menoleh padanya. Puas melihat penampilannya, dia tersenyum sendiri di depan kaca besar di kamarnya dan bergegas berangkat ke lokasi.


Sampai di sana anggota band sudah datang termasuk Elvan. Begitu melihat Fara muncul, teman bandnya langsung menatap gadis itu. Ada yang bengong. Ada yang bersuit. Elvan ikut memperhatikan Fara. Dia rasa aneh kenapa anak ini jadi norak gitu, ya... Elvan cuma menggeleng lalu kembali memelototin keyboard di depannya. Fara menghampiri teman-temannya sambil tersenyum riang.


"Hai, sorry ya telat. Uda siap-siap, nih?" tanya Fara. Matanya lebih banyak menengok Elvan. Ih, kok dia cuma sekilas doang liatnya, batin Fara sebel. Tapi dia berusaha tetap gembira saja.


"Iya. Kamu coba gitarmu sana. Kondisikan biar mantap," kata Tio. Fara beranjak mengambil gitar dan mulai dia pastikan kondisi bagus.


"Elvan, makin jadi, tuh. Ga kasihan?" Tio menyikut Elvan yang di depannya.


"Apa? Kasihan kenapa? Siapa?" Elvan menoleh. Dia tidak dengar jelas kata-kata Tio.


"Uda kode keras, Elvan. Kamu kedip dikit tu cewek semua semua pasti dia kasih dah, buat kamu." Tio masih ngotot manasin Elvan.

__ADS_1


"Maksudnya?" Elvan belum nyambung juga.


"Itu Fara," tegas Tio.


"Ooh..." Elvan memandang Tio. Serius melihat temannya itu. "Jadi kamu mau aku mainin dia? Itu anak orang, Man. Sembarangan." Elvan cuma geleng aja.


Tio ngakak. Menurutnya Elvan terlalu naif. Sok alim. Lihat aja nanti lama-lama juga rontok imannya.


Tak lama acara mulai. Band mereka lagi-lagi sukses tampil memukau. Tio sebagai vokal utama memang suaranya mantap dan gaya panggungnya asyik. Acara jadi meriah dengan penampilan mereka. Selesai semua kegiatan hari itu sudah lewat jam 9 malam.


Elvan merasa lelah sekali dan ingin cepat pulang. Dia sudah naik di motor dan siap berangkat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Bareng, ya..." Ternyata Fara. Dia langsung naik di boncengan.


"Aku ga bawa helm lebih. Bahaya. Kamu naik taksi online aja. Atau minta dijemput sopir kamu," kata Elvan.


"Ga mau. Maunya sama kamu, kan tinggal berangkat." Fara malah memeluk pinggang Elvan.


"Kenapa kamu ini?" ujar Elvan.


"Apa kamu ga ngerti? Atau pura-pura ga tau? Aku suka kamu, Elvan. Sudah lama sekali. Sejak masih SMA. Sejak aku kenal kamu." Fara mendekatkan wajahnya ke Elvan dari belakang.


"Turun dulu, Fara. Kita harus bicara," kata Elvan.


"Kita hanya berteman. Dan akan tetap begitu." Elvan memandang Fara. Gadis itu juga memandang Elvan. "Aku ga ada hati buat kamu. Dan aku sudah punya Melati."


"Itu karena kamu terlalu mengungkung dirimu. Kenapa tidak beri kesempatan yang lain di hatimu? Seyakin apa kamu bahwa Melati memang yang paling tepat buat kamu? Dia jauh dan ga bisa perhatikan kamu. Sedang aku selalu ada dengan kamu," jawab Fara.


"Aku memang cinta Melati. Aku nyaman dengan dia dan hubungan kami baik-baik. Aku tidak perlu membuka kesempatan buat yang lain," jelas Elvan.


"Elvan, aku sangat cinta sama kamu. Kasih aku kesempatan untuk tunjukkan. Dan nanti kamu nilai mana yang lebih pas buat kamu. Aku atau Melati." Fara mendekat ke arah Elvan dan menarik tangannya.


Elvan melepasnya. "Hubungan cinta bukan seperti orang coba baju, Fara. Bisa dicoba bergantian di waktu yang sama. Kamu cantik dan pintar. Ada banyak pria yang suka kamu dan pantas juga buat kamu."


"Tapi aku suka kamu, Elvan. Hatiku memilih kamu." Fara kembali mendekatkan tubuhnya ke Elvan dan mencoba memeluknya.


"Fara!" sentak Elvan. "Jangan berbuat seperti ini. Hargai dirimu sendiri." Elvan sedikit mendorong tubuh Fara. Fara kaget dengan sikap Elvan. Ternyata cowok ini benar-benar seperti karang.


"Dan hatiku memilih Melati. Tancapkan itu di kepalamu," lanjut Elvan.


Elvan cepat mengeluarkan HP lalu memesan taksi online. Fara masih berusaha membujuknya tapi Elvan tidak begitu memperhatikan kata-kata Fara lagi.

__ADS_1


Beberapa menit yang dipesan datang. Elvan mendekati mobil warna putih itu bicara dengan sopir. Fara yang ngoceh langsung diam melihat Elvan. Elvan membuka pintu, lalu menarik Fara dan mendorong Fara masuk ke dalam mobil.


"Elvan! Kamu ngapain? Heii..." Fara mau protes. Tapi Elvan meminta sopir jalan.


Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Fara mulai nekad. Dia harus ambil sikap atau bisa terjebak. Elvan kembali ke motornya dan pulang.


Dan tiga hari kemudian, Lily meminta waktu bertemu Elvan. Mereka janjian pulang bareng. Elvan mengajak Lily makan di sebuah restoran kecil yang mereka lewati sambil pulang.


"Ada apa? Tumben ngajak ketemu," kata Elvan. "Kamu ada masalah di kampus?"


Lily menarik nafas dalam. Dia memandang Elvan. "Susah bicara sebenarnya, Kak. Cuma ga mungkin aku tunda lagi." Lily berkata pelan. Dia takut salah ngomong.


"Ngomong aja ga apa." Elvan balik melihat Lily yang nampak gelisah. Dia ga tahu ada apa dengan Lily. Apa lagi jatuh cinta?


"Kakak sayang Kak Melati ga, sih?" tanya Lily.


Elvan kaget dengan pertanyaan itu. "Kok tiba-tiba kamu tanya itu? Aku sangat sayang Melati. Kamu tahu sekali soal itu," kata Elvan. Dia minta penjelasan pada Lily soal yang dia tanyakan.


Lily membuka HP-nya buka IG Fara. Di situ ada foto Elvan berdua dengan Fara.


Elvan menggeleng keras. Dia garuk kepalanya dengan jengkel. "Dia bilang apa sama kamu? Kalian kan sekelas."


"Kak Elvan dekat banget sama dia. Perhatian banget sama dia. Bisa jadi dia baper dan suka kakak." Lily berkata dengan cemberut. "Aku marah tahu. Kak Elvan akan bikin Kak Melati sakit kalau kayak gini."


"Lily, memang Fara suka aku. Tapi aku ga suka dia. Hatiku cuma buat Melati," tegas Elvan. "Aku tahu dia suka aku. Tapi aku ga pernah kasih hati. Kalau dia bilang aku care banget, dia ngarang."


"Tapi buat apa, Kak, dia bohong?" tanya Lily setengah tidak percaya.


"Ya aku ga tau, Ly. Serius aku ga dekat sama dia. Di foto itu juga dia yang ambil fotonya. Suka tiba-tiba dia ngajak foto. Mana aku ngerti malah diposting kayak gitu," tandas Elvan. Dari suaranya terdengar kesal.


"Kak, kalau Kakak beneran ga ada apa-apa sama dia ambil sikap dong, Kak," sahut Lily.


"Pasti. Aku mau keluar dari kegiatan band," kata Elvan.


"Kakak yakin?" tanya Lily.


"Hmm... aku ikut band kan karena hobi. Lalu diminta bantu melatih. Sebenarnya ga ikutan juga ada ada masalah," jelas Elvan. Dia menarik nafas dalam-dalam.


"Kak, jangan buat kakakku sakit, ya," pinta Lily.


"Iya. Kamu harus yakin sama aku." Elvan tersenyum. Mencoba meyakinkan calon adik iparnya itu.

__ADS_1


Lily hanya diam. Dia berharap Elvan bisa menepati janjinya. Ada rasa kuatir di hati Lily. Jika masih berlanjut, dia harus bicara dengan kakaknya. Dia harus memperingatkan kakaknya ada bahaya mendekat di hubungannya dengan Elvan.


__ADS_2