
Sampai rumah Melati kembali meluapkan sedihnya. Kali ini di dada ibunya. Rasanya masih tidak percaya. Elvan, dia hilang entah ke mana. Orang yang sungguh sayang padanya, yang kepadanya hatinya dia ikatkan.
"Ibu... aku sayang dia, Bu... Aku sayang Elvan..." kata Melati di tengah tangisnya. Ibu yang juga ikut menangis hanya bisa mengelus kepala putrinya itu. Sekar tidak tahu harus berkata apa. Ini pasti sangat berat buat Melati. Buat keluarga Edgar.
"Terus berdoa, berdoa dan berserah." Hanya itu yang ibu katakan.
Puas menangis di dada ibu, Melati masuk ke kamarnya. Dia duduk bersandar di dinding kamar di atas ranjang. Dia buka HP-nya. Dia scroll semua chat yang ada di WA-nya dengan Elvan. Air matanya kembali mengalir. Menangis hingga matanya bengkak.
Dia buka galeri dan melihat foto-fotonya dengan Elvan. Pose lucu, gembira, dan semua gaya yang Elvan buat di kamera membuat Melati makin hancur.
"Jaga hatimu untukku, sampai kapanpun." Permintaan Elvan. Melati merasa tubuhnya sudah lemas. Hatinya pilu sungguh pilu.
"Kenapa kamu katakan itu, El? Apa kau merasa kalau kamu akan pergi? Kamu minta aku jaga hatiku hanya untukmu. Itu berarti kamu akan kembali, kan?" bisik Melati sambil menatap foto Elvan yang tersenyum lucu, tampan sekali.
"Iya, aku janji, hatiku hanya buat kamu. Aku janji. Hatiku hanya untuk kamu. Tapi kamu pulang, ya... Aku pastikan hatiku mati rasa buat yang lain, El. Kamu pulang, yaa..." bahu Melati berguncang-guncang.
Melati mengambil tasnya, melepas gantungan kunci yang Elvan berikan. "El, ke manapun aku pergi gantungan ini aku bawa. Ini pemberian pertama darimu, yang membuat aku berpikir kamu benar suka denganku. Ada namamu dan namaku di sana dibungkus dengan lingkaran kasih. Kamu adalah kunci hatiku." Melati mendekap gantungan kunci itu sambil terus menangis.
Dari luar kamar, Lily dan Damar mengintip kakaknya. Hati mereka ikut sakit. Tak tahu mau menghibur bagaimana. Lily menutup pintu.
"Kasihan, Kak..." ucap Damar. Keduanya ikut menangis.
Ranita muncul. "Mana Melati?" tanya Ranita pada Lily dan Damar. Lily menunjuk kamar sambil menghapus air matanya.
Ranita tadi WA ke Melati dan Melati sudah kasih tahu apa yang terjadi. Secepat kilat Ranita langsung ke rumah Melati.
"Mel..." Ranita masuk kamar.
"Rani..." Melati masih belum bisa berhenti menangis. Ranita langsung memeluknya. Tidak bicara apa-apa. Hanya memeluk sahabatnya itu. Dia juga menangis.
*****
__ADS_1
Seminggu kemudian, Melati sudah kembali ke Depok. Ranita akhirnya balik bareng Melati. Dia tidak tega membiarkan Melati kembali sendirian. Dia tidak boleh dibiarkan sendiri dengan situasi ini.
Melati menyibukkan diri dengan berlama-lama di perpustakaan. Dia tidak ingin tenggelam dalam rasa kehilangan. Dia harus terus menatap ke depan. Jika nanti Elvan kembali dia tunjukkan pada kekasihnya itu, dia tegar menghadapi semua. Dia setia dengan hatinya.
Alfaro menatap Melati yang sibuk dengan buku-buku di meja itu. Melati sudah berbeda. Dia jarang tersenyum. Sebisa mungkin dia bersikap wajar, tapi sorot matanya tetap menyiratkan luka.
"Sampai kapan kamu akan begini, Mel? Mungkin saja Elvan sudah meninggal. Apakah kamu akan terus menunggunya? Aku ingin jadi orang yang menghapus dukamu itu. Seandainya kamu menoleh sedikit saja. Aku di sini, Mel," kata hati Alfaro.
Entah kenapa hidup mempermainkan hatinya. Dia putus dari Delia, berharap bisa meraih hati Melati. Ternyata gadis itu telah menautkan hatinya pada Elvan. Dengan berat hati Alfaro melepaskan asa untuk merengkuh cinta Melati. Dia membuka diri pada Ranita, dia berusaha. Belum benar-benar hatinya terbalut kasih yang baru, Elvan pergi. Tidaklah ini seperti satu kesempatan yang tertunda?
Tapi Melati sungguh menutup pintu hati untuk yang lain. Hanya kekasihnya yang hilang itu yang disimpannya. Apa Alfaro harus lebih sabar menunggu? Lalu Ranita?
"Al, apa kamu sibuk hari ini?" tanya Ranita waktu mereka berangkat ke kampus bersama. Melati sudah lebih dulu ke kampus hari itu.
"Tidak terlalu. Kenapa?" tanya Alfaro balik.
"Aku mau ngomong sesuatu." Ranita melipat tangannya di dada.
"Jam 1 aku selesai siang ini. Kalau kamu bisa, kita ketemu nanti?" ujar Alfaro.
Usai kuliah keduanya bertemu di kantin, di tempat biasa mereka makan bersama jika di kampus.
"Baik hari ini?" sapa Alfaro begitu Ranita duduk di kursi di depannya.
"Lancar, sih... Kamu gimana?" balas Ranita.
"Ada tugas tambahan. Dosennya seperti kurang puas melihat mahasiswa sampai jarang tidur," ujar Alfaro.
Ranita tertawa kecil.
"Al, aku tidak tega melihat Melati. Dia masih sangat sedih. Aku tidak tahu sampai kapan akan begini," kata Ranita.
__ADS_1
"Ini memang berat buat dia, Rani," timpal Alfaro.
"Yang kupikirkan mungkin hatinya akan terobati jika dia mendapat cinta yang baru dan tulus," lanjut Ranita.
Alfaro memandang Ranita.
"Bisakah kamu kembali padanya?" pinta Ranita.
"Kamu bilang apa?" Alfaro merasa salah mendengar.
"Melati pernah suka kamu dan aku tahu kamu juga sama. Mungkin kamu orang yang tepat untuk mengobati hatinya," jelas Ranita.
Alfaro tak percaya mendengar ini. "Kamu tidak sedang mabuk, kan?"
"Hai... aku sehat. Aku sudah memikirkan ini serius," kata Ranita. "Jangan pikirkan aku, aku tidak akan apa-apa. Dia lebih butuh kamu dari aku."
Kenapa ada gadis seperti Ranita? Bukan dia takut kehilangan pacar selingkuh dengan sahabatnya, ini malah dia minta pacarnya pergi mencintai sahabatnya. Alfaro tertawa menyeringai.
"Aku kok merasa seperti sedang diminta melakukan poligami, ya..." Alfaro tertawa kecil. Walaupun dalam hati ada bagian dirinya yang bersorak. Yaa... kalaupun dia mengejar Melati dia tidak bersalah. Pacarnya meminta dia melakukan ini.
"Al..." panggil Ranita.
Alfaro menatap Ranita. "Apa kamu memang tidak sungguh menyukaiku? Apa kamu terima hubungan ini hanya untuk rasa aman? Atau karena tidak bisa menolak gara-gara aku menolongmu malam itu?"
Ranita menggenggam tangan Alfaro. Dia membalas tatapan kekasihnya itu. "Lihat aku, Al. Lihat mataku. Apa di mata ini tidak ada sayang buat kamu? Jujur, aku memang merasa aman denganmu. Aku juga sangat ingin membalas kebaikanmu dengan terus di sisimu. Tentu saja aku tidak mau kehilangan kamu."
Mata Alfaro tidak lepas dari Ranita. Gadis itu makin erat menggenggam tangannya. "Tapi Melati, dia juga pantas bahagia. Aku kehilangan sahabatku karena Elvan tidak ada lagi. Aku berharap dengan kamu, dia akan kembali seperti dulu. Dan aku, aku akan tetap sayang kamu. Sebelum kamu dan Melati benar-benar menjalin hubungan yang serius, aku tidak akan berpaling."
Tidak tahu harus berkata apa. Alfaro menyentuh poni Ranita lembut. Ternyata Ranita juga memiliki hati sebaik ini. Apa dia tega menyakiti hatinya? Tapi satu sisi yang Ranita katakan benar. Jika Melati menemukan cintanya yang baru, dia mungkin akan kembali seperti dulu.
"Aku mohon, Al," kata Ranita.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi jika sampai akhir semester tidak ada kemajuan apapun, aku tidak akan melanjutkannya." Alfaro akhirnya setuju.
"Terima kasih, Sayang..." ucap Ranita pelan. Senyumnya tipis di bibirnya. Tapi di hati Ranita ada rasa ngilu. Dia sudah berhasil mencintai Alfaro. Dia tahu melepaskannya akan sangat sakit.