Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 53 - Di Stasiun TV


__ADS_3

Kembali ke kampus, kembali sibuk. Urusan kuliah, tugas ke perpustakaan dan juga di kegiatan jurnalistik. Pergi pagi pulang sudah gelap hampir tiap hari. Melati tetap semangat. Dia tahu semakin hari cita-cita yang dia impikan akan terwujud.


Tawaran menyanyi juga cukup sering datang. Seperti yang lalu, Melati selektif memilih. Bagaimanapun juga dia tidak ingin sampai ada mata kuliah yang jeblok apalagi harus mengulang.


Hubungan Ranita dan Alfaro makin kuat. Mereka benar-benar sudah klik, dapat chemistry-nya kata orang. Orang tua Ranita awalnya berat mengijinkan Ranita pacaran, kuatir kejadian Arnita terulang.


Semester ini kegiatan jurnalistik bukan lagi dalam hal tulis menulis artikel atau mencari berita, tetapi akan terjun dalam pembuatan acara berita atau show di televisi. Kebetulan bertepatan dengan tugas praktek dari mata kuliah yang diikuti Melati. Mahasiswa dibagi ke beberapa tempat untuk bisa belajar bagaimana membuat program acara di televisi.


"Mel, kita bertiga ditugaskan di Sunny TV. Aku, kamu, dan Rino." Sherly teman sekelas Melati.


"Ya, aku sudah baca pembagian kelompoknya. Mulai minggu depan kita akan bertugas di sana," kata Melati.


"Ada surat pengantar dari kampus nanti. Pas awal katanya orientasi tempat dan pekerjaan di sana bagaimana. Baru kita akan ditempatkan di mana saja sesuai arahan mentor di sana," tambah Sherly.


"Rino!" Sherly memanggil Rino yang baru masuk kelas. Cowok hitam manis itu mendekat.


"Ahaayyy.... dapat teman setim cewek-cewek cantik dan berkualitas. Demen nih, gue..." kata Rino. Dia duduk di depan kedua temannya itu.


"Kamu seneng, kita?" Sherly nonjok jidat Rino pelan.


"Ooihhh... kenapa? Gue juga bisa diandelin lo... ntar deh, buktiin," sahut Rino.


"Mau diandelin gimana? Absen aja suka nitip," tukas Sherly.


Rino nyengir, Melati cuma tertawa.


Melati bersemangat menanti hari-hari praktek di Sunny TV. Dari dulu dia penasaran seperti apa prosesnya sebuah tayangan di TV dikerjakan. Dari pemilihan topik, persiapan di belakang layar, sampai akhirnya layak ditayangkan.

__ADS_1


Senin minggu berikutnya jam 11 siang ketiga mahasiswa itu sudah berada di kantor Sunny TV. Dengan surat pengantar dari kampus mereka memperkenalkan diri. Mereka bertemu dengan pimpinan bagian kepegawaian. Pak Daniel namanya. Orangnya tampak berwibawa dan tegas. Tidak terlihat galak, tapi juga tidak banyak senyum.


"Kalian nanti akan dibimbing mentor selama di sini. Krista, salah satu yang terbaik di sini. Jadi kami tidak main-main dengan tugas dan pekerjaan. Sekalipun kalian masih praktek dengan memberi mentor yang terbaik, kami juga mau kalian belajar dengan sebaik mungkin. Jangan asal memenuhi tuntutan dari kampus," jelas Pak Daniel.


"Baik, Pak," kata Melati, Rino, dan Sherly.


Krista seorang wanita kira-kira 25 tahun. Nampak tegas dan agak galak. Tetapi kelihatan dia seorang yang cerdas dan cekatan. Dia berdiri tidak jauh dari Pak Daniel.


"Setelah ini kalian langsung ada dalam bimbing Krista. Segala yang berurusan dengan pekerjaan selama kalian praktek, kalian hubungi Krista," kata Pak Daniel menutup penjelasannya.


"Kalau begitu saya langsung bawa mereka ke ruangan saya, Pak. Saya perlu memberikan penjelasan lebih detil tentang job description mereka selama di sini. Sekaligus mengantar mereka mengenal lingkungan Sunny TV." Krista berkata sambil memberi hormat pada pada Pak Daniel dengan anggukan kepala.


"Oke. Pastikan semua clear. Saya ditunggu meeting." Pak Daniel meninggalkan mereka.


"Ayo, kita ke ruangan saya," ajak Krista.


Kemudian Krista membawa mereka berkeliling kantor besar itu. Ruang kantor yang luas, studio, ruang meeting, ruang editing, ruang wardrobe dan berbagai peralatan ditunjukkan kepada mereka. Sekalian mereka dikenalkan pada karyawan di akhir itu. Ada rasa tegang dan canggung. Tapi juga ada rasa penasaran bagaimana jika sudah mulai kerja.


"Oke. Hari ini cukup sampai sini dulu. Kalian silakan datang sesuai jadwal yang sudah kita sepakati. Pastikan kalian tidak terlambat dan tahu apa yang harus dilakukan," kata Krista.


"Trimakasih, Mbak." Melati mengangguk. Sherly dan Rino juga.


Maka praktek atau sebut saja magang ketiga mahasiswa itu dimulai. Masuk dari satu kantor ke kantor lain, dari satu studio ke studio lain. Untuk penjajakan satu minggu mereka akan diminta melakukan apa saja hal-hal yang kecil sambil mengenal cara kerja setiap bagian di TV itu. Begitulah, kalau anak magang dianggap belum tahu apa-apa.


Perputaran kerja di stasiun TV ternyata sangat cepat. Semua harus kerja cekatan, tepat, detil, dan bagus. No room no time for error. Melati dan kedua temannya begitu pontang panting mengikuti ritmenya. Padahal mereka kerja hanya setengah hari, dari jam 1 siang seusai kuliah hingga jam 7 malam maksimal. Padahal kalau kerja di stasiun TV orang seperti ga kenal waktu. Bisa begadang berhari-hari apalagi kalau acara live dan tayang tiap hari. Makanya kru untuk satu acara saja bisa banyak sekali.


Untungnya weekend ini mereka dikasih libur. Dan Melati mengiyakan waktu ayah mengajaknya jalan-jalan. Sudah hampir sebulan juga ga ketemu ayah. Ranita kali ini ga ikutan. Kadang waktu ayah mengunjungi mereka, Ranita ikut. Ranita harus melakukan observasi ke Bogor untuk tugas kuliahnya dan Alfaro mengantarnya.

__ADS_1


Ayah dan Melati pergi makan siang bareng. Mereka ke salah satu mall dan makan di food court di sana. Kesukaan mereka sama, ayam bakar. Maka keduanya memesan makanan favoritnya itu.


"Jadi, tambah padat ya karena magang?" tanya Ayah sembari mereka makan.


"Iya, Yah. Tapi aku excited banget. Hampir tidak hari ketemu artis di sana. Ada saja yang datang untuk talkshow, narasumber di acara infotaiment atau news. Seru, Yah," jawab Melati.


"Gimana rasanya sering ketemu artis?" Ayah memandang Melati lalu meneguk air mineral di depannya.


"Ada yang ramah, ada yang cuek. Ada yang cerewet banyak maunya, ada yang baik banget. Gitu la, Yah. Kami yang melayani mereka harus paham karakter masing-masing, biar ga salah meladeni." Melati bercerita dengan semangat.


Ayah dengan sabar mendengar Melati bercerita. Sesekali ayah berkomentar atau bertanya. Dan Melati menjawab dengan riang.


"Lalu, kerjaan ayah gimana?" Akhirnya Melati ganti tanya ke ayahnya.


"Ayah ada rencana usaha di Malang. Sudah lama Ayah kerja jauh. Lebih 6 tahun. Ayah sedang mengatur bagaimana biar bisa kumpul dengan ibu dan adik-adikmu," jawab Ayah.


"Oya?? Ah, senang sekali mendengarnya. Kira-kira kapan, Yah?" Melati menatap ayah dengan penasaran.


"Kalau cepat tiga bulan lagi, Nak." Ayah menyendok nasinya yang terakhir.


"Tidak lama lagi berarti. Bagaimana akhirnya Ayah putuskan balik Malang?" Melati mengambil minumannya, lalu meneguknya.


Ayah menyandarkan badan ke sandaran kursi. "Kamu ingat waktu Azka dan Adista menikah? Beberapa kali Ayah bicara dengan Pak Tirta. Dan bicara soal pekerjaan juga. Akhirnya kami adakan kerjasama. Ini mulai diatur. Doakan saja semua lancar," jelas ayah.


"Aku lega sekali, Ayah nanti kumpul lagi sama keluarga." Melati tersenyum.


"Iya, Nak." Ayah ikut tersenyum.

__ADS_1


Kebersamaan dalam keluarga tak bisa digantikan. Ada waktu-waktu yang tak mungkin diulang melihat tawa canda atau saat luka dan lara. Saling mendukung, saling percaya, saling memberi, semua terjalin mengeratkan kasih.


__ADS_2