Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 46 - Aku Hanya Ingin Kamu Bahagia


__ADS_3

Melati menatap Alfaro dan Ranita bergantian. Dia tak percaya apa yang baru dia dengar.


"Kenapa kamu diam? Jelaskan apa arti semua ini?" Melati semakin tak sabar dengan kedua temannya itu.


"Mel... ini ideku." Akhirnya Ranita membuka mulutnya. "Aku... aku kehilangan kamu, Mel... sahabatku yang kuat, tegar, dan berani menghadapi semuanya dengan tawa. Aku... hanya ingin kamu bahagia..."


Melati meremas tangannya mendengar itu. Dia masih menatap lurus ke arah Alfaro dan Ranita.


"Aku tahu Alfaro pasti bisa membuat kamu bahagia. Dia sangat baik selama ini. Dan kalian juga pernah... saling suka... jadi..."


"Jadi kamu korbankan hatimu? Kamu korbankan hubunganmu dengan Alfaro?" Melati menatap Ranita makin tajam. "Apa yang kamu pikirkan? Apa aku sejahat itu, bahagia sementara kamu merelakan kekasihmu? Kamu kira aku bisa bahagia dengan cara itu, Rani?"


Ranita tidak berani menjawab. Baru kali ini Melati benar-benar marah padanya.


"Cinta itu bukan permainan. Hati ini bukan bisa ditarik sana sini segampang itu. Kamu tahu aku Ran, dengan sangat baik. Harusnya kamu paham apa yang aku rasakan..."


"Mel..." Alfaro menyela.


"Dengarkan aku. Aku sudah berjanji untuk menjaga hatiku buat Elvan. Sampai kapanpun hatiku akan tetap untuknya. Dia memintaku melakukannya karena itu, aku tahu dia pasti pulang," kata Melati tegas. "Hentikan rencana aneh kalian. Jangan pernah meminta kekasihmu melakukan hal konyol seperti ini." Melati meninggalkan mereka dan langsung masuk ke kamarnya.


Ranita terdiam. Dia tak tahu harus bagaimana.


Alfaro mendekatinya. "Berakhir sudah. Jadi?" Dia tatap Ranita yang masih tak bergerak, memandang lurus dengan mata nanar.


"Aku salahkah, Al? Aku ingin Melati kembali seperti dulu. Itu saja," kata Ranita.


"Tidak salah. Tapi kita sudah jelas mendengar dia memilih menunggu. Hatinya sudah tidak bisa pindah lagi. Sama seperti hatiku." Alfaro meraih tangan Ranita.


Ranita menoleh. "Maksudmu?"


"Aku senang Melati beberapa waktu ini sudah lebih banyak tersenyum bahkan sesekali tertawa. Dia tidak pernah menolak kalau aku ajak jalan atau aku bantu dia apa saja. Kadang dia juga datang padaku. Tapi, aku tidak merasa hal lebih selain senang. Aku tidak ada hati untuk ingin memilikinya lagi," kata Alfaro.


"Malahan, hatiku sedih melihatmu. Kamu memaksa dirimu tertawa padahal kamu luka. Aku sangat rindu kamu, Ran. Aku justru sadari sekarang aku jatuh cinta padamu. Entah mulai kapan." Alfaro mengeratkan genggaman tangannya.


"Jangan minta aku melakukan hal konyol lagi, ya..." Alfaro memencet hidung Ranita.


Ranita tersenyum. Tapi ujung matanya basah. "Aku juga sangat sedih dan takut kehilangan kamu, Al. Aku sayang sekali sama kamu," ujarnya lirih.

__ADS_1


Alfaro menarik Ranita ke pelukannya. Lama dia ingin melakukan ini. Memberi rasa aman dan nyaman lagi padanya.


"Maafkan aku..." Ranita membalas pelukan Alfaro.


Di kamar Melati duduk di kursi belajarnya. Dia masih sangat marah. Bagaimana mungkin dua orang itu merencanakan hal sebodoh itu. Tapi dia tahu, sebenarnya itu karena kasih mereka yang besar untuknya. Mereka tidak mau dia terus tenggelam dalam kesedihan.


"Aku hanya ingin kamu bahagia..." Itu yang Ranita katakan. Benar. Melati tidak seperti dulu. Itulah kenapa Ranita mencari cara membuat Melati kembali menjalani hidup dengan gembira.


Melati mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mendesah. Dia tidak boleh begini terus. Kalau keputusannya menunggu Elvan, berarti dia yakin Elvan baik-baik dan akan pulang. Lalu untuk apa dia bersedih lagi? Ya... dia harus bahagia menanti kekasihnya pulang!!


*


Di rumah Pak Karno...


"Gus, sini dulu duduk sama Bapak." Pak Karno memanggil Elvan yang baru selesai memberi makan ayam. Kegiatan rutin pagi dan sore.


"Baik, Pak." Elvan mendekati Pak Karno.


"Gimana kamu selama di sini? Kamu senang apa tidak di rumah Bapak?" tanya Pak Karno.


"Bapak juga sangat senang punya anak ganteng begini," kata Pak Karno. "Gini lo, Gus. Kamu kan sudah dewasa. Bapak mikir masa depan kamu." Elvan mendengarkan baik-baik kata-kata Pak Karno.


"Bapak sama .ibu ini sudah tambah tua. Nanti kamu yang akan meneruskan semua yang Bapak punya. Nah, kamu itu perlu pendamping yang akan merawat kamu, menyiapkan kebutuhan kamu. Bapak ada rencana akan menikahkan kamu."


"Bagaimana, Pak? Menikah?" Elvan kaget sekali mendengar kata-kata itu.


"Iya, Gus. Dewi kan sudah waktunya nikah. Daripada dia ketemu laki-laki ndak jelas, lebih baik nikah sama kamu, yo? Kamu anak baik, rajin, cepat belajar. Dia pasti bahagia hidup sama kamu," kata Pak Karno.


"Dewi? Dewi kan kerja di kota, Pak?" tanya Elvan.


"Nanti dia akan berhenti kerja. Ikut kamu, suaminya," sahut Pak Karno.


"Tapi, aku tidak cinta sama Dewi, Pak. Yang aku tahu orang menikah itu karena saling mencintai." Elvan berusaha menolak.


"Cinta itu bisa tumbuh karena sering sama-sama. Kayak Bapak dan Ibu ini dulu ya, nikah bukan karena cinta. Tapi kami bisa hidup sama-sama sampai tua," jelas Pak Karno.


"Tapi, Pak... aku..."

__ADS_1


"Sudah, kamu manut saja sama Bapak. Bapak ingin yang terbaik buat kamu. Bapak pingin kamu bahagia," sela Pak Karno. "Sekarang lanjut sana kerjaanmu. Sebentar Bapak mau ke sawah."


"Pak, boleh aku ikut ke sawah?" pinta Elvan.


"Jangan dulu. Nanti kalau kamu sudah nikah baru Bapak kasih ijin." Pak Karno berdiri dan meninggalkan rumah.


Elvan terdiam. Kok aneh, mau ke sawah saja tunggu nikah. Apa ada aturannya begitu di desa ini?


"Gus, ayo sarapan dulu. Kamu dari tadi kerja terus, pasti lapar." Bu Nanik memanggil Elvan.


"Iya, Bu." Elvan mengikuti Bu Nanik. Pagi ini Bu Nanik masak sayur asem dengan tempe goreng dan ikan asin. Elvan makan dengan lahap. Masakan Bu Nanik memang enak meski sangat sederhana.


"Ibu dengar apa yang Bapak bilang tadi sama kamu," kata Bu Nanik.


Elvan memandang Bu Nanik. "Ibu tahu kamu tidak mau kan nikah sama Dewi?"


"Iya, Bu. Aku ga ada pikiran mau nikah. Aku saja masih bingung dengan diriku," kata Elvan.


"Ibu harus kasih tau kamu sesuatu. Tapi jangan sampai Bapak tahu, ya..." tiba-tiba Bu Nanik mengatakan sesuatu yang membuat Elvan menghentikan tangannya yang hampir menyendok makanannya.


"Bapak dan Ibu pernah kehilangan anak laki-laki. Jaka namanya, kakaknya Dewi. Dia meninggal tertimpa pohon di hutan tidak jauh dari tempat Bapak menemukan kamu. Makanya waktu Bapak bawa kamu pulang, dia merasa Gusti Allah mengirim kamu sebagai gantinya Jaka. Dia merasa anaknya pulang kembali," cerita Bu Nanik.


"Ibu..." Elvan menatap tak percaya mendengar yang Bu Nanik katakan.


"Iya, Gus. Makanya Bapak ndak mau kamu pergi dari rumah ini. Bapak ndak mau kamu ketemu orang lain. Karena hari-hari awal kamu di sini ada yang cari kamu. Ibu tahu, tapi Ibu diam. Ibu takut Bapak marah. Ibu terus berharap kamu ingat dirimu sehingga kamu bisa tahu mau pulang ke mana," kata Bu Nanik lagi.


"Kamu pasti dari kota. Sedang pergi ke daerah sini karena mau liburan. Di sebelah hutan sana memang ada tempat orang suka kemah. Kalau musim liburan banyak orang datang."


"Sekarang, Ibu ga bisa diam lagi. Ini sudah tambah ndak benar. Dewi memang suka kamu, Gus. Dia yang minta ke Bapak pingin nikah sama kamu. Dan Bapak setuju asal Dewi mau berhenti kerja dan tinggal di sini," lanjut Bu Dewi.


"Ibu.. terima kasih mau mengatakan semua itu sama aku," ujar Elvan.


"Tolong jangan marah sama Bapak, ya..." Ibu mengelus pundak Elvan. "Dia hanya ingin punya anak laki-laki. Dia hanya kangen Jaka."


Elvan mengangguk. Dia makin berpikir keras bagaimana caranya dia bisa pergi dari rumah ini. Mencari hidupnya yang sebenarnya. Tapi ke mana? Kalau melihat dirinya dan kehidupan keluarga Pak Karno, hidupnya sebelumnya pasti sangat berbeda.


Kenapa dia tidak bisa ingat lebih jelas lagi, yaa... masih saja sama. Hanya wajah gadis itu dengan senyum manis. Ah...

__ADS_1


__ADS_2