Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 16 - Pertolongan Tak Terduga


__ADS_3

Taman samping rumah keluarga Edgar memang ditata cantik dan rapi. Ada gazebo kecil di tengahnya. Tempat favorit Elvan jika sedang waktu senggang. Seperti siang itu dia duduk di sana sambil membawa gitarnya. Bermain gitar dan bernyanyi sendiri, menikmati kebebasan setelah urusan sekolah selesai. Besok waktu terima raport lalu libur panjang.


"Mela lagi ngapain, ya..." gumamnya. Dia letakkan gitar dan mengambil HP-nya. Dia cari kontak WA Bunga Hatiku.


Elvan


- Hai, Mel ☺


Masuk. Centang dua.


Elvan main gitarnya lagi. Tanpa bernyanyi. Sesekali Elvan melirik ke HP-nya.


"Belum balas. Lagi sibuk apa dia jam begini?" heran karena tidak ada balasan juga.


Elvan


- Lagi sibuk?


Masuk. Centang dua...


Biru. Ah, dia sudah baca. Elvan tersenyum.


Bunga Hatiku


- tidur πŸ™ƒπŸ™ƒ


Elvan


- Sorry πŸ˜…


Bunga Hatiku


- ga apa kali. Kamu lagi apa?


Elvan


- main gitar


Bunga hatiku


- di rumah?


Elvan


- yup


Bunga Hatiku


- anak rumahan 😌😌


Elvan


- malas aja keluar. kamu mau jalan?


Bunga Hatiku


- hah?


Elvan

__ADS_1


- jalan sama aku


Dibaca, tapi ga dibalas. Apa salah, yaa? Kenapa lagi tiba-tiba ngajak jalan?


Bunga Hatiku


- kapan?


Ahaaaa... Elvan tersenyum. Lebar. Hatinya dag dig dug jadinya.


Elvan


- besok sore


Hanya dibaca. "Ayo dong... bisa..." bisik Elvan.


Elvan


- kalau sibuk ga apa juga kok


Aduh, kenapa mengharap batal?


Bunga Hatiku


- ok. ketemu di mana?


Elvan


- aku jemput aja


Bunga Hatiku


Elvan


- okelah. Mall Olympic Garden, pintu depan. Jam 4.


Bunga Hatiku


- oke


Elvan


- see you tomorrow


Bunga Hatiku


- β˜ΊπŸ‘Œ


Selesai. Elvan mengangkat kedua tangannya senang. Tidak disangka Melati mau jalan berdua dengannya. Great!!!


"Tuhan... Terima kasih... Kau benar-benar dengar doa kami." Itu suara Erika.


Elvan mendengar nada kelegaan dari kata-kata mama.


"Ya. Tuhan menjawab tepat waktu. Pertolongan datang tidak terduga. " Itu suara Tirta.


Pasti soal Kak Azka. Elvan masuk ke rumah lewat pintu samping. Dia bawa gitarnya. Dia lihat mama dan papa berpelukan. Mama nampak menangis dalam dekapan papa.


Tirta melihat Elvan. Dia melepas pelukannya dari istrinya itu. "Kemarilah, El," kata Tirta. Dia menarik tangan Erika lembut mengajaknya duduk di ruang tengah.

__ADS_1


Elvan duduk di kursi depan papa mamanya. Dia letakkan gitar di kursi sebelahnya.


"Keajaiban datang untuk kakakmu." Tirta memulai percakapan mereka. "Papa dan mama sudah pasrah dengan keadaan. Karena semua bukti sudah mengarah pada Azka, dia mengambil uang perusahaan dengan bukti jelas. Padahal semua itu palsu. Tapi tidak ada cara yang bisa menyanggahnya." Tirta mulai menjelaskan.


"Segala cara sudah papa coba, begitu pun Om Mateo. Tapi hanya sedikit sekali membantu, meringankan beberapa bulan hukuman paling. Siapa yang menduga, seorang cleaning service perempuan menjadi malaikat penolong kakakmu. Beberapa kali dia memergoki Tanto di kantor kakakmu. Dia merasa curiga sehingga dia mengambil gambarnya. Bahkan pembicaraannya ditelpon juga dia rekam satu kali. Baru tadi malam gadis itu berani menemui Mateo."


"Kenapa baru sekarang?" tanya Elvan heran. "Kalau dia memang merekam dan menyimpan foto kejadian seharusnya dia segera memberitahu kakak."


"Dia belum yakin kecurigaannya benar. Sekalipun ada bukti rekaman suara. Karena pembicaraan ditelpon bisa saja tidak seperti yang sebenarnya. Dia juga takut tidak dipercaya jika mengatakan yang dia curigai." Tirta memberi penjelasan lebih lanjut.


"Sebelum peristiwa kakakmu ditangkap, gadis itu mengundurkan diri karena ibunya sakit dan pulang ke desanya. Jadi dia putus hubungan dengan tempat kerjanya. Dia hanya fokus kepada ibunya. Ternyata ibunya akhirnya meninggal. Dia memutuskan kembali mencari kerja di kota. Tidak berharap bekerja lagi di kafe kakakmu. Tapi entah kenapa dia ingin mencoba mencari peruntungannya. Ketika dia datang ke kafe, teman-temannya memberitahu apa yang terjadi." Tirta menarik nafas dalam.


"Pintarnya dia tidak bercerita kepada siapapun apa yang dia tahu. Dia segera menghubungi Mateo. Maka, sekarang sudah jelas, kakakmu tidak bersalah. Polisi bergerak menangkap Tanto. Memang masih didalami lagi. Jika terbukti Tanto dalang semuanya, maka dalam beberapa hari kakakmu akan bisa pulang." Tirta mengakhiri ceritanya.


"Tuhan, Engkau baik," batin Elvan. Dia benar-benar lega mendengar semua ini.


"Dan gadis itu sementara diamankan Mateo. Dikuatirkan masih ada pihak lain yang terlibat dan akan membahayakan dirinya. Tapi papa yakin semua ini akan segera selesai. Keadaan akan normal kembali." Papa tersenyum. "Aku sayangkan Azka tidak memasang CCTV di kantornya. Dia selalu saja percaya kepada teman-temannya. Setelah ini aku akan paksa dia pasang CCTV, segera."


Dia merangkul, Erika, wanita yang sangat dicintainya. Dia kecup puncak kepalanya. Erika membalas pelukan suaminya lembut. Matanya masih sesekali basah. Rasa syukur diiringi haru terlihat dari tatapannya.


Elvan hanya memandangi kedua orang tuanya. Dia ikut lega. Semua akan berakhir. Dia selalu bangga dengan papa mamanya. Dalam segala keadaan yang mereka lewati selalu bergandengan tangan. Mesra dan saling mendukung setiap waktu.


Elvan yakin orang tuanya pasti pernah berselisih paham, hanya mereka tidak pernah menunjukkan sedang bertengkar di depan anak-anaknya. Elvan ingin ketika punya keluarga sendiri bisa seperti papa mamanya. Saling sayang, saling menghargai, dan saling percaya. Tentu saja dalam pikirannya muncul wajah cantik Melati.


Di sisi lain kota ini...


Melati memegang kedua pipinya yang memerah dan terasa panas. Dia masih tidak percaya Elvan mengajaknya jalan berdua. Dan dia menerimanya! Tapi dia juga tidak ada alasan menolak. Apa yang akan terjadi besok?


Masih di depan kaca di kamarnya. Melati memandangi wajahnya. Apa yang Elvan suka darinya? Dia memang tergolong cantik, tapi ga cantik-cantik amat. Tingginya standar, hanya 150 sekian senti. Tidak bisa disangkal bentuk tubuhnya memang lumayan bagus, proposional. Kalau Elvan mau ada banyak cewek lain yang lebih semua-semua darinya.


"Besok dia ngajak ngapain, ya? Cuma duduk dan ngobrol? Makan, lalu pulang?" Melati mulai membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan Elvan.


"Kenapa aku jadi ribet sendiri? Ini kan cuma jalan sama teman. Ini bukan kencan, Melati..." Dia bergumam sendiri.


Ddrttt... HP bergetar. Melati mengangkat telpon, dari Ranita.


"Melati putih indah mewangi...." Suara Ranita terdengar ceria di telinga Melati. "Besok aku mau nonton. Temani, yaa..."


"Nonton? Di mana? Jam berapa?" tanya Melati. Duh, besok dia udah ada janji.


"Malang Town Square ya. Filmnya jam 2 siang..? Mau, yaa..." bujuk Ranita.


"Besok ga bisa. Pergi sendiri saja laa..." jawab Melati.


"Kita kan sudah ga ujian. Ga ngapa-ngapain juga. Jangan bilang kamu mau nge-date!" sentak Ranita.


Deg!!


Apa Ranita tahu? Selama ini dia tutup mulut rapat-rapat soal Elvan.


"Hah??" Melati menjawab kaget.


"Hahhaa...." Suara tawa Ranita meledak. "Bercanda, Anak Cantik. Ya udah, deh... aku ajak Vera sama Risa aja."


"Oke. Maaf, yaa... Lain kali aku temani," ujar Melati.


"Siippp..." Ranita nyahut enteng. "Bye, Mela..."


"Bye..." Melati tersenyum. Lega. Ranita memutuskan telpon.

__ADS_1


Melati pindah ke ranjangnya. Berbaring dan lagi membayangkan Elvan. Tampan, dengan senyum menawan.


__ADS_2