
Ketika sudah berjanji, satu yang harus dilakukan menepatinya
Ketika sudah percaya, satu yang harus ditanamkan jangan pernah meragukan
Biarkan saja waktu...
Biarkan saja sekitar...
Mungkin akan meruntuhkan kuatmu untuk bertahan pada janji
Mungkin akan meremukkan tegarmu untuk bertaut pada rasa percaya
Tetaplah di tempatmu... jangan bergeming...
*
*
Tahun terakhir Melati di masa perkuliahan. Semangatnya tak surut, karena tak lama semua keletihan akademik akan selesai. Pergulatan untuk mendapat gelar tuntas. Dan memandang masa depan yang menanti begitu luas membuatnya terus memaksa diri untuk tidak lelah dengan segala yang ada di sekitarnya.
Ayah sudah benar-benar tinggal di Malang. Usahanya memang tidak langsung jadi besar dan membuahkan hasil yang luar biasa, tapi ada perkembangan yang memacu semangat ayah terus berjuang. Usianya memang tidak mudah waktu mulai, tapi keberhasilan toh tidak ditentukan oleh usia.
Sementara Elvan sembari kuliah terus magang di kantor papanya. Juga di kegiatan musik, dia malah diminta bantu mengajar anggota yang lain. Kesibukan makin berkejaran, bergulung-gulung minta didulukan. Harus pintar atur waktu. Dan karena itu program awalnya untuk mengunjungi Melati setiap bulan ga bisa terealisasi. Karena weekend atau hari besar pas tanggal merah ada saja jadwal tim musik kampus diminta isi acara di berbagai tempat.
Kesempatan ini Fara gunakan untuk menarik perhatian Elvan. Dia selalu saja nempel dan lengket ke cowok itu. Sebenarnya Elvan risih. Tapi gimana mau melarang dia mendekat, yang cewek di kegiatan musik ini hanya tiga orang. Yang paling rajin datang dan ikut acara ya Fara ini. Terpaksa Elvan harus sabar ngadepin Fara.
"Elvan, tuh cewek naksir kamu. Gila banget kelakuan, nempelin kamu kayak perangko tiap ada kesempatan," kata Tio teman band Elvan.
"Ya gimana. Kita ga bisa minta orang stop suka sama kita. Cuekin aja," sahut Elvan santai.
__ADS_1
"Kamu ga ada rasa-rasa apa sama dia?" kata Tio lagi. "Sekali kali turuti maunya, jalan ke mana."
"Rasa apa? Stoberi? Aku sudah punya cewek, Tio." tandas Elvan.
"Kan pacarmu jauh. Napa kalau asyik-asyik dikit di sini. Fara juga ga bakalan nolak. Dia juga tahu kan kamu punya cewek?" Tio masih mencoba membujuk Elvan.
"Hati orang tu jangan dibuat mainan. Aku ini biar gini cowok konservatif," ujar Elvan.
"Konservatif.... sok jadul... haa..." Tio ngakak.
"Kenapa ga kamu aja yang ngajak Fara jalan?" Elvan balik tanya.
"Ya, dia nolak terus. Uda berapa kali aku ajak. Aku kayak semut di matanya, kamu singa yang gagah," timpal Tio.
"Semut juga kalau nggigit bikin orang menjerit. Gigitanmu aja kurang tajam," ucap Elvan.
"Kak... foto dulu, yukk..." Fara mendekat ke Elvan dan Tio. Mereka foto bertiga. Beberapa kali. Fara memasang pose centil dan sok akrabnya pada Elvan. Elvan cuma nyengir dan acungkan jari bentuk V.
Tak lama setelah itu mereka pamitan akan meninggalkan tempat. Elvan sudah bersiap pulang waktu terdengar Fara memanggilnya.
"Elvan, pulang anterin, dong..." kata Fara sambil mendekat.
"Tadi kamu berangkat sendiri, kan? Kenapa pakai antar-antaran segala," ujar Elvan cuek.
"Kamu tuh ya, ga peka sama cewek. Tadi aku pergi pakai taksi online. Itu masih sore. Sekarang uda malam. Kamu tega biarin cewek pulang sendiri malam-malam." Fara mulai pasang jurus caper, deh.
Elvan melihat jam di tangan kanannya. Emang susah lewat jam 10 malam. "Ya udah. Ayo," kata Elvan. Dia melanjutkan langkahnya cepat-cepat.
"Yess..." Fara tersenyum girang sambil mengepalkan tangan kanannya di depan dadanya. Dia bergegas mengejar Elvan.
__ADS_1
"Jalannya cepat banget, sih," gerutu Fara pelan. Dia agak kesulitan juga mengejar langkah Elvan apalagi dia pakai heels agak tinggi. Karena buru-buru kakinya terpelecok.
"Auuhhh!!!" jerit Fara. Mendengar teriakan itu Elvan menoleh. Dilihatnya Fara terjatuh di lantai. Padahal parkiran sudah dekat.
"Kenapa? Ngapain duduk di situ?" Elvan menatap Fara.
"Aah... Elvan. Kakiku keseleo ini... Kamu tuh jalan kayak lari. Ihh..." Fara jengkel juga dengan Elvan.
Elvan pun balik dan mendekati Fara. Dia bantu gadis itu bangun. Dia masih kesakitan dan kesulitan berjalan. Nampaknya beneran keseleo dia.
"Sakit... buat napak sakit..." Fara meringis. Dia pegangin pergelangan kaki kanannya. Akhirnya Elvan membantu Fara berjalan. Dia papah menuju ke mobil.
"Lain kali ga usah pake heels segala. Bikin repot sendiri," kata Elvan. Dia bantu Fara masuk ke mobil. Lalu dia segera masuk dan menjalankan kendaraannya menuju rumah Fara.
Peristiwa itu membawa berkah buat Fara. Dia merasa makin terbuka jalan lebih dekat Elvan.
"Kenapa senyum sendiri? Lihat apaan?" Lily yang baru masuk kelas mendekati Fara. Dia duduk di sebelah cewek itu. Jurus selanjutnya siap diluncurkan.
"Lihat ini... fotonya keren-keren." Fara menunjukkan foto-foto dia dengan band waktu ada acara. Dan beberapa foto dia dengan Elvan. Berbagai cara dia lakukan supaya akhirnya bisa dapat gambar berdua dengan Elvan yang bagus, yang pas kalau bikin cewek cemburu.
Lily memperhatikan foto-foto itu. Keceriaan band mereka di berbagai acara bersama. Nampak beberapa foto terlihat Elvan dan Fara begitu dekat.
"Kamu dekat banget ya, sama Kak Elvan?" ujar Lily masih memandang foto-foto itu. Kok Lily merasa ada rasa mesra ya di beberapa foto itu. Meski wajah Elvan cenderung datar.
"Hmm iya, sih... Dia baik banget tahu ga. Kan akhir-akhir ini kita sering keluar tuh acara band. Dia perhatiaaannnn sekali..." Dengan semangat Fara cerita. "Apalagi waktu aku keseleo tuh, dia panik gitu, Ly. Sampai mapah aku ya, ke mobil. Maunya dia gendong aku yang ga enak. Malu la dilihat orang..." Fara bercerita sambil melihat ekspresi Lily.
Wajah Lily berubah agak kecut. Yee.... kena deh! Dalam hati Fara bersorak. Pertarungan dimulai. Mari kita mainkan.
Pas, dosen masuk dan segera keduanya mengarahkan pandangan ke depan. Selama kuliah hati Lily jadi kurang tenang memikirkan Fara dan Elvan. Apa ada sesuatu sama mereka? Selama ini Elvan ga pernah aneh-aneh. Lily tahu dia sayang banget sama kakaknya. Apa hatinya mulai teralih? Karena belakangan keduanya makin jarang ketemu. Apa Lily harus percaya dengan Elvan atau justru dugaannya benar?
__ADS_1
Fara senyum girang melihat wajah Lily tadi. Dia yakin rencananya membuat hubungan Elvan dan Melati berantakan pasti berhasil. Dia hanya harus sabar. Sedikit lagi. Terus maju dan mantapkan langkah!!