Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 29 - Ada Apa dengan Hatiku?


__ADS_3

Melati masuk ke kamarnya. Rasanya seperti belum menapak bumi dengan rangkaian kejutan hari ini. Belum habis lelah dari perjalanan jauh, dia dikejutkan kedatangan cowok ganteng yang mengajaknya pergi ke suatu tempat tanpa kasih tahu ke mana. Ternyata dia dibawa ke kafe untuk merayakan ultah spesialnya ke-17. Lebih kaget lagi dia dikenalkan sebagai kekasihnya pada orang tuanya. Disusul pemandangan gelayutan manja cewek cantik yang centil yang membuatnya cemburu.


Cemburu? Apa dia cemburu melihat Fara dengan Elvan? Apa bukan karena dia merasa ditipu Elvan saja? Tapi dia benar-benar tidak suka sikap manja Fara pada Elvan.


"Ya Tuhan... ada apa dengan hatiku? Apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya? Kenapa aku begitu marah melihatnya dengan gadis lain? Aku juga tidak menolak waktu dia bilang aku kekasihnya. Tuhan, aku kenapa?" Melati bingung dengan perasaannya sendiri.


Dia bergulingan di kasur mencoba merasa nyaman. Walau sebenarnya kasurnya baik-baik saja, hatinya yang berantakan.


Ddrrrtt... Melati duduk, mengambil HP-nya di atas meja belajar. Adik Kecil.


Adik Kecil


- sleep tight. good night. ☺☺


Melati tersenyum. Baru kali ini dia dapat ucapan selamat tidur dan selamat malam. Apa karena sekarang Melati adalah kekasihnya?


Melati


- ☺


Masih memandangi layar HP-nya, Melati tersenyum sendiri. Nama kontak Adik Kecil. Ga cocok banget, ya. Memang Elvan itu adik kelasnya dan lebih muda darinya. Tapi cowok itu sudah dewasa pikirannya. Ganti apa ya namanya?


Semua kejadian selama dengan Elvan bermunculan di kepalanya. Mereka tidak begitu sharing chat, telpon atau ketemuan. Yang Melati ingat selalu saja ada kejutan dari cowok itu. Membuat Melati merasa aneh, bingung tapi hatinya jadi tak karuan. Melati mengetik mengganti nama kontak Elvan, 'Tukang Kejut'. Melati terkikik sendiri.


Melati menaruh lagi HP-nya. Kembali merebahkan tubuhnya. Wajah Elvan muncul di pikirannya, tersenyum tenang dan membuatnya meletup tak bisa ditahan. Ya, debaran di jantung Melati makin rajin datang setiap dia berurusan dengan Elvan. Setelah beberapa saat kantuk menyerang dan Melati pun terlelap.


Hari-hari berikutnya Melati habiskan berkutat dengan berita dan artikel-artikel yang dia baca. Lumayan buat referensi dan ide tulisannya untuk kegiatan jurnalistik nanti. Adik-adiknya masih ujian akhir semester jadi tidak bisa pergi jalan-jalan.


Siang itu Melati membantu ibu menyiapkan makanan siang di dapur. Adik-adiknya baru datang dari sekolah, ujian hari terakhir. Minggu depan sudah libur tinggal tunggu terima raport.

__ADS_1


"Kak, aku kapan diajak jalan-jalan ke Jakarta?" Jati yang sedang makan cookies dan minum susu bertanya pada Melati. Melati memang cerita kalau pernah jalan-jalan sama papa di Jakarta. Waktu weekend dan papa sedang tidak padat jadwal kerjanya.


"Nanti la, pas libur panjang. Biar puas jalan-jalannya," jawab Melati. Dia memindahkan ikan ke piring lebar muda ditaruh di meja makan.


"Itu musti bilang ayah dulu. Ayah pasti siapkan semuanya kalau kita mau ke sana," sahut Ibu.


"Asyikk..." Jati bertepuk tangan gembira. Lalu dia menghabiskan susu coklatnya. "Aku nonton TV dulu," katanya terus keluar dapur.


Ibu memasukkan sayur ke panci di atas kompor. "Mel, apa kabar Elvan?"


"Baru selesai ujian juga seperti adik-adik, Bu," jawab Melati. Dia merapikan meja makan.


"Kamu tahu, waktu pertama Ibu melihat dia di area bermain hari itu, Ibu lihat dia memang ada hati sama kamu. Dan dia tulus," kata Ibu.


"Maksud Ibu apa dia pria yang tepat jadi pendamping Melati?" tanya Melati.


Ibu duduk di kursi memandang putrinya itu. "Ibu pernah bilang, jodoh itu misteri Tuhan. Kita tidak pernah tahu siapa yang nantinya jadi pasangan kita. Tapi pada saatnya Tuhan akan mengarahkan hati kita untuk menemukannya."


Ibu benar. Bagaimanapun Elvan kekasihnya sekarang. Melati tidak pernah mengatakan iya pada Elvan, tapi dia tidak menolak ketika dikenalkan sebagai kekasihnya pada orang tuanya. Dia harus menjaga hati dan hubungannya dengan Elvan.


"Panggil adik-adikmu. Semua sudah siap," kata Ibu membuyarkan lamunan Melati. Dia pun pergi memanggil Lily, Damar, dan Jati.


Makan bersama begini selalu menyenangkan. Menikmati masakan ibu yang sederhana juga sesuatu buat Melati. Ibu memang tidak terlalu suka masak, tapi dia tetap saja menyiapkan semua dengan cinta untuk anak-anaknya.


Baru selesai membereskan dapur, HP Melati bergetar beberapa kali. Diambilnya HP di atas meja. Tukang Kejut telpon.


"Hai, El... " sapa Melati.


"Mel, Papa..." Suara Elvan seperti tercekat.

__ADS_1


"Om Tirta kenapa, El?" tanya Melati.


"Papa masuk rumah sakit, " jawab Elvan. Terdengar suaranya bergetar.


"Kamu ga bercanda, kan?" sahut Melati cepat.


"Mel, Papa kena serangan jantung. Aku ga akan bercanda untuk hal seperti ini," kata Elvan.


"Di rumah sakit mana?" tanya Melati. Dia jadi ikut panik.


Elvan memberitahu lokasinya. Melati langsung bersiap, pamit ibu untuk jenguk Tirta ke rumah sakit. Dengan ojek online Melati bergegas ke sana. Elvan tadi juga masih di sekolah. Dia baru akan pulang waktu dapat kabar jadi langsung putar arah ke rumah sakit.


Sampai rumah sakit Melati langsung ke ruang IGD. Elvan ada di depan ruang IGD. Wajahnya kelihatan tegang. Di sebelahnya ada seorang wanita dewasa berpakaian rapi, pakaian orang kantoran.


"Elvan..." panggil Melati. Hatinya berdebaran tidak karuan waktu Elvan menoleh memandangnya.


"Mel..." kata Elvan lirih. Biasanya dia tersenyum. Kali ini wajahnya datar, sedikit panik malah.


"Elvan, di kantor masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Tante harus kembali." Wanita di sebelah Elvan berkata pada Elvan. Ekspresi wajahnya sama tegang seperti Elvan.


"Iya, Tante Bertha. Terima kasih banyak," kata Elvan. Wanita itu menepuk bahu Elvan lalu meninggalkan tempat itu.


Melati memperhatikannya. "Tante Bertha sekretaris Papa," ujar Elvan. Dia duduk di bangku panjang di depan ruang IGD. "Tante Bertha yang memberi kabar tadi. Kak Azka juga masih ada meeting di kantornya. Sebentar dia akan kemari. Mama masih perjalanan dari Surabaya."


Melati ikut duduk di sebelah Elvan. Dia tahu Elvan sangat gelisah.


"Aku sangat panik. Papa jarang sakit. Sekali sakit langsung kena jantung," lanjut Elvan. "Jujur, aku takut, Mel." Elvan menatap Melati.


Melati menelan ludahnya. Dia bisa mengerti ketakutan Elvan. Ini bukan main-main. "Dokter pasti akan lakukan yang terbaik, El. Kita doakan Om Tirta segera baik," kata Melati pelan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah ada di sini." Elvan merasa lebih tenang.


Melati mengangguk. Dia lihat wajah Elvan. Senyumnya yang sering muncul itu lenyap sama sekali.


__ADS_2