Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 59 - Aku Tetap Anak Bapak dan Ibu


__ADS_3

Elvan makin mendekati Bu Nanik yang masih menatapnya dengan wajah bingung.


"Ibu, benar lupa aku?" tanya Elvan.


Tersentak Bu Nanik begitu Elvan berdiri hanya jarak satu meter dengannya. Seketika tangannya menutup kedua mulutnya. Matanya membelalak kaget dan diikuti matanya langsung berkaca-kaca.


"Kamu Bagus?" Bu Nanik berkata pelan. Tangannya pindah meraih wajah Elvan. Dia sentuh pipi Elvan. Kepalanya menengadah memandang Elvan yang ujung matanya juga sudah basah. Elvan menunduk membiarkan Bu Nanik menyentuh wajahnya.


"Iya, Bu. Bagus. Aku Bagus," kata Elvan. Bu Nanik langsung memeluk Elvan di pinggangnya. Dia menangis sejadi-jadinya. Akhirnya dia bertemu lagi dengan anak yang baik ini.


Selama Elvan di rumahnya memang tumbuh rasa sayang yang dalam kepada Elvan. Bagaimana tidak? Dia hilang ingatan, tidak tahu dirinya. Begitu penurut selama tinggal dengannya. Menjadi teman bu Nanik ngobrol waktu suaminya tidak ada. Membantunya mengerjakan pekerjaan apapun tanpa mengeluh, walaupun di awal bu Nanik tahu Elvan tidak biasa dengan pekerjaan itu.


Dia sangat rindu Bagus. Dia sangat rindu Elvan. Sering dia masih memikirkannya. Bagaimana Elvan sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bahagia berkumpul keluarganya lagi?


Hari ini kerinduan itu terjawab sudah. Elvan datang menemuinya. Dia tidak melupakannya seperti yang dia janjikan. Tangis Bu Nanik seperti tidak bisa berhenti. Badannya sampai lemas karena terus menangis. Elvan membimbingnya masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.


Melati, Farel, hanya bisa terharu dan menangis. Erika, dia paham sekarang mengapa Elvan ngotot ingin datang lagi ke rumah ini. Erika bisa melihat cinta yang besar untuk putranya di sini. Sebagai seorang ibu, dia paham sekali perasaan Bu Nanik. Tak urung dia ikut menangis. Tirta setegar apapun hatinya juga tersentuh. Dia tidak menangis, tapi leher dan dadanya terasa penuh dan sesak.


Belum selesai luapan rindu Bu Nanik, belum juga habis air matanya untuk Elvan, Pak Karno datang. Dengan kayu di punggungnya yang kekar. Dia heran ada mobil berhenti di depan rumahnya. Jarang sekali orang datang bertamu apalagi yang bawa mobil. Apa teman Dewi? Pikirnya.


Dia langsung meletakkan kayu di samping rumah. Waktu mendekat pintu depan dia mendengar suara isakan dan tangisan. Apa yang terjadi di dalam? Dia cepat masuk. Ada Dewi di dekat pintu. Dewi juga menangis.


"Ada apa ini, Wi?" tanya Pak Karno. "Siapa mereka?"


Mendengar suara berat itu, Elvan melepas pelukannya dari Bu Nanik dan berdiri menghampiri Pak Karno.


Pak Karno sangat terkejut. Sangat, sangat terkejut melihat Elvan di depannya. Dia tidak bergerak. Hanya menatap lurus ke arah Elvan.

__ADS_1


"Pak, ini aku, Bagus," kata Elvan. Dia meraih tangan kanan Pak Karno dan mencium telapak tangannya tanda hormat.


Pak Karno merasa tubuhnya kaku. Lidahnya tercekat. Sama sekali tak terpikir jika satu kali anak ini akan datang kembali ke rumahnya.


"Pak... maafkan aku pergi tanpa pamit. Aku datang ingin langsung berterimakasih kepada Bapak untuk kebaikan Bapak dan Ibu selama aku di sini," kata Elvan.


Tiba-tiba Pak Karno meraih Elvan dalam dekapannya. Tanpa suara lelaki tua itu menangis. Dia dekap erat Elvan seakan mau dia tumpahkan segala rasa rindu. Rasa marah dan rasa sesal. Dia tahu dia bersalah pada anak ini. Dia egois ingin memiliki Elvan sendiri hanya karena tidak rela Jaka pergi.


Kembali suasana haru menyeruak di ruangan sederhana itu. Sampai beberapa saat, Elvan berkata di telinga Pak Karno.


"Orang tuaku ikut datang, Pak," kata Elvan.


Pak Karno melepas pelukannya. Lalu dia menyalami Tirta, Erika, Melati dan Farel. Elvan memperkenalkan mereka.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak kepada putra kedua kami. Mohon maaf selama sekian lama putra kami merepotkan Bapak dan Ibu di sini." Tirta mengawali percakapan.


Mereka mengambil tempat duduk masing-masing dan mulai perbincangan. Suasana haru mulai terurai. Dewi membantu Bu Nanik menyediakan minuman dan pisang goreng. Sangat sederhana, tapi kehangatan terasa di rumah ini.


Erika mengambil bingkisan di mobil dibantu Melati dan Farel. Erika dan Tirta memang ingin memberi tanda kasih untuk mereka. Elvan yang membantu memilih agar sesuai kebutuhan di rumah ini. Peralatan dapur baru, pakaian buat Pak Karno dan Bu Nanik, juga tas buat Dewi.


Tidak lama suara tangis dan isakan lenyap berganti dengan canda dan tawa gembira. Pak Karno, dan Bu Nanik bicara dengan Tirta dan Erika. Sedang Elvan ngobrol dengan Dewi, Melati dan Farel.


Anak-anak muda itu pindah ke belakang rumah sambil melihat ternak. Farel penasaran gimana kakaknya itu bisa ngurus ternak-ternak itu. Padahal di rumah yang dia urusin cuma keyboard dan gitar.


"Pantesan Mas Elvan, biar ga ingat apa-apa ga bisa beralih hati. Orang Mbak Melati cantik begini," gurau Dewi.


Melati dan Elvan tertawa.

__ADS_1


"Padahal aku sudah rencana waktu itu kalau abis nikah Mas Elvan mau aku ajak kabur ke Surabaya, lalu aku pamerkan ke teman-teman aku punya suami ganteng dan keren abis," kata Dewi lagi.


Tawa mereka meledak lagi.


"Sayang, ya... keburu Elvan ingat dirinya. Kalau nggak mungkin aku yang patah hati, deh," timpal Melati.


"Ternyata terselamatkan karena sinetron," sahut Dewi. Kembali tawa mereka terdengar lepas dan penuh sukacita.


Menjelang sore, Bu Nanik menyiapkan makan malam untuk mereka. Dia masak masakan andalannya, Pecel. Dengan bahan-bahan yang diambil dari kebun sendiri. Semua menikmati dengan senang. Seusai itu keluarga Edgar pamitan. Mereka tidak bisa menginap.


"Pak, Bu, aku tetap anak bapak dan ibu. Jangan sedih lagi. Aku akan baik-baik. Kapan-kapan aku main ke sini lagi," pamit Elvan.


Pak Karno dan Bu Nanik berat melepasnya. Tapi mereka tidak mungkin meminta Elvan tinggal. Setidaknya mereka tahu, di hati Elvan ada ruang untuk mereka. Elvan memeluk Pak Karno dan Bu Nanik kemudian masuk ke dalam mobil. Yang lain juga pamitan dan menyusul Elvan.


Mobil itu meninggalkan rumah Pak Karno. Rumah kembali sepi. Tapi tidak ada gundah dan rasa sesal. Yang ada sekarang rasa syukur dan kelegaan.


Tirta mengajak mereka menginap di salah satu Cottage di sekitar Bromo. Dia berencana mengajak keluarganya melihat sunrise dari Semeru yang tak jauh dari Bromo.


Saat pagi datang, meski cuaca begitu dingin mereka keluar dan menyaksikan cantiknya mentari merekahkan langit dan menyembul menunjukkan diri. Memberitahu penghuni alam bahwa hari baru dimulai.


Puas memandang sunrise, berfoto dengan suasana pagi yang indah, mereka meneruskan perjalanan pulang.


"El, terima kasih ya, sudah paksa Mama untuk ke sini," kata Mama waktu mereka sudah jalan pulang.


"Iya, Ma." Elvan tersenyum sambil terus menyetir.


Elvan tidak bertanya lagi. Dia tahu apa yang mama dan papanya lihat di rumah Pak Karno adalah jawaban untuk apa yang mungkin mereka ragukan tentang kasih dan kebaikan kedua orang tua itu.

__ADS_1


__ADS_2