Hati Putih Melati

Hati Putih Melati
Chapter 106 - Masih Takut


__ADS_3

Pagi datang diiringi matahari yang bersinar cerah. Sang surya seakan tahu ada dua hati yang sedang membara menikmati cinta yang telah dipersatukan.


Karena lelah, hampir jam 8 pagi Melati baru membuka matanya. Elvan masih terlelap di sisinya dengan tangan memeluk pinggang Melati. Entah bagaimana Melati sudah berbalik membelakangi Elvan.


Melati tersenyum. Dipegangnya tangan Elvan yang melingkar di pinggangnya. Ternyata nyaman sekali ada yang memeluk saat tidur.


Tiba-tiba Elvan bergerak. Dia makin merapatkan tubuhnya ke punggung Melati. Melati merasakan Elvan mencium bahunya.


"Mas..." panggil Melati pelan.


"Pagi, Sayang... istriku..." bisik Elvan.


Melati tersenyum. "Bangun, yuk..."


"Masih mau begini..." Elvan mencium bahu Melati lagi.


"Udah jam 8, Mas..." ucap Melati setelah melihat ke jam dinding di kamar itu.


"Biarin.. Hadap sini, mau liat muka kamu kalau bangun tidur..."


"Ga mau... bau jigong, malu..."


"Ga apa.. tetap cinta..." Elvan memaksa Melati membalikkan badan dengan menarik lengannya. Melati pun merubah posisinya menghadap Elvan.


Wajah itu, masih tetap saja ganteng. Rambut sedikit acak-acakan, tetap saja keren. Buat Elvan, Melati juga tetap saja cantik dengan mata sedikit sayu dan malu-malu. Rambutnya tetap halus dan lembut. Elvan menyentuhnya lembut.


"Nyenyak tidurmu?" tanya Elvan. Tangannya masih main rambut.


"Iya. Lumayan lelah juga, ya... Cukup sekali deh, nikah... banyak tragedi... aku ga mau makin spot jantung karena kejadian penuh kejutan," kata Melati.


"Hmm... emang ada cita-cita nikah dua kali? Ini saja belum goal. Gawang masih dijaga rapat," ucap Elvan.


"Iihh..." Melati manyun. "Bukan gitu kali..."


"Hee... hee..." Elvan tertawa kecil. "Apa mau sekarang?


"Hah?" Melati melotot.


Elvan tiba-tiba mencium keningnya dengan cepat turun ke hidungnya, lalu ke pipinya... Dan Melati otomatis menutup bibirnya dengan tangan.


Elvan tertawa. Lucu melihat Melati gelagapan begitu.


"Sayang, kamu takut?" tanya Elvan.


"Abis dapat serangan tiba-tiba gitu..."


"Haaa... serangan fajar..."


Melati duduk. "Bangun, ya..." Pintanya. Elvan meluruskan badannya. Sekarang terlentang.


"Kamu ga tau, Mel... penderitaan pria kalau menahan kayak gini," ucap Elvan lirih.


"Hmmm? Apa sakit?" tanya Melati. Ditatapnya wajah Elvan.


"Sakit.. Kamu ga kasihan aku..."

__ADS_1


Krruuukkkk... kkrruucuukkk....


Perut Melati berbunyi. Elvan menoleh ke istrinya.


"Lapar?" tanya Elvan.


"Aku biasa sarapan pagi," kata Melati memelas.


Elvan duduk. Dia mendekat ke Melati dan mengecup bibirnya sekilas. "Mandi dulu, deh. Aku pesan makanan, minta diantar sini aja."


"Iya." Melati tersenyum.


"Jam 10 kita check out. Nanti Hasan antar kita ke bandara."


"Nah, kan... ga sampai dua jam lagi itu." Melati turun dari kasur dan menuju kamar mandi.


"Aku ikut mandi sekalian, ya..." ujar Elvan.


"Ga mau..." Melati menutup pintu dan menguncinya.


Elvan tertawa. Ternyata menyenangkan punya istri. Ada yang bisa digodain terus.


Selesai Melati mandi ganti Elvan yang masuk dan membersihkan dirinya. Tidak lama makanan datang. Kemudian mereka menikmati sarapan. Sambil sesekali Elvan terus menggoda Melati yang berkali-kali jadi tersipu.


Habis sarapan mereka membereskan barang-barang. Sebelum pergi kamar harus rapi, dan ga boleh ada barang tertinggal. Begitu kata Melati.


"Mas ngajak aku ke New Zealand apa pernah ke sana?" tanya Melati.


"Ya. Aku masih SMP waktu itu," jawab Elvan. "Sebenarnya kakekku itu campuran. Ayahnya Indonesia, ibunya dari New Zealand. Kalau mau diurut ada keluarga di sana. Cuma uda agak jauh, ga begitu kenal lagi."


"Di sana masih banyak tempat yang alami banget. Karena penduduknya ga banyak jadi asri sekali. Makanya pingin datang lagi. Bagusnya sekarang pergi sama kamu."


Melati manggut-manggut sambil tersenyum.


Tok tok tok tok!!


Pintu diketuk. Elvan membuka pintu. Hasan di sana.


"Aha... pengantin baru... Bagaimana, sudah siap?" katanya sambil masuk dalam kamar.


"Yup. Tinggal berangkat saja," kata Elvan.


"Hai, Mel... Gimana Elvan? Ganas ga?" tanya Hasan.


"Apanya?" ujar Melati. Dia pura-pura sibuk dengan tasnya. Dia tahu arah bicara Hasan tapi dia rasa ga enak, malu kali.


"Dia jaga aku banget tahu, San. Keperjakaanku masih dijaga ketat," sahut Elvan.


Hasan ngakak mendengarnya.


"Apaan, sih... ayo ah, jalan." Melati makin malu saja dengan candaan para pria itu. Dia angkat tasnya dan keluar kamar. Dia tarik kopernya.


Elvan dan Hasan menyusul Melati. Elvan menarik kopernya dan Hasan mengejar Melati membantu membawa koper Melati.


Perjalanan ke Juanda memakan waktu hampir dua jam. Jadi di bandara sambil menunggu penerbangan mereka makan siang. Hasan balik setelah mereka makan siang. Tinggallah Elvan dan Melati berdua.

__ADS_1


Lagi nunggu, HP Melati bergetar. Dia lihat, Lily vidcall.


"Di mana, Kak?"


"Di bandara. Nunggu, nih..."


"Capek ga?"


"Udah nggak, sih. Lumayan tidur nyenyak semalam."


"Kirain ga tidur." Lily tertawa.


"Anak kecil ngomong aneh-aneh..." timpal Melati.


"Ngomong apa? Sensi amat... mana Kak Elvan?"


Melati mendekat ke Elvan biar bisa lihat Lily.


"Hai, Kakakku yang ganteng dan keren... Selamat happy happy, yaa... Jangan buat kakakku nangis."


"Yang ada dia buat aku merana, Ly..." kata Elvan.


"Hah??"


"Ga usah didengar, tuh..." sahut Melati.


"Ya, Kak Mel jangan galak laa... Kak Elvan kan cinta banget sama kamu. Bahagiakan dia dong... hee... hee..."


"Hei... makin jadi, ya... nih anak..." Melati melotot.


"Haa.... haa..." Lily makin keras tertawa. "Ya udah... save flight. Jangan lupa bawa oleh-oleh. Ga usah bawa hobbit, aku ga suka. Bye... "


"Nah, aneh-aneh bicaranya," tukas Melati.


Vidcall selesai.


"Perhatian banget ya, Lily," ujar Elvan.


"Gayanya saja cuek anak itu. Tapi dia empati banget sama orang lain."


"Jadi ingat waktu Fara lagi caper ke aku, Lily dua kali ngajak aku ngobrol. Marah, nangis, karena ga mau aku jahat sama kamu."


"Ya... Lily memang begitu. Makanya aku juga mau dia dapat pria sebaik Mas." Melati memegang tangan Elvan.


"Kalau baik pantas dapat hadiah, lo..." ujar Elvan. Dia mengeratkan genggaman tangan Melati.


"Hmmm... hadiah apa?"


"Dirimu..." bisik Elvan.


Melati bersemu merah. Melati tidak berani memandang Elvan. Tapi dia kuatkan tangan mereka yang sudah bertaut.


Dalam hati Melati meyakinkan diri dia akan serahkan semua. Ya, tidak perlu ditunda lagi. Apa yang dia takutkan? Yang Elvan lakukan adalah menyatakan cintanya, menyatukan jiwa raga mereka. Sekarang atau nanti Elvan adalah suaminya. Dia berhak atas tubuh istrinya. Dan Elvan juga harusnya membahagiakan istrinya dengan hubungan terdalam itu.


Sejam kemudian mereka sudah di dalam pesawat. Ini kali pertama Melati naik pesawat dengan penerbangan jangka waktu cukup lama. Tapi dia menikmati semua ini dengan wajah ceria.

__ADS_1


__ADS_2